ELEVEN

ELEVEN
Seventeen



Setelah apa yang terjadi di rumah Rega, Latte dan Rega tidak


pernah benar-benar saling bertemu, sesekali hanya berpapasan di sekolah dan


kedua anak remaja itu akan saling tersipu malu.


Ujian Akhir Semester (UAS) datang dengan cepat, memaksa baik Latte


maupun Rea mengesampingkan hal-hal lain selain pelajaran sekolah. Tepat setelah


UAS selesai, tim renjana disibukan oleh latihan untuk Basketball Champion


League (BCL) yang akan di selenggarakan dalam aktu dekat. Berbagai kesibukan


itu tidak memberi waktu dan ruang untuk kedua insan itu memahami apa yang


terjadi diantara mereka. Meninggalkan ketidakjelasan perasaan yang mendebarkan.


Hari minggu tepat setelah UAS selesai, Galuh ditemani Rega


menghadiri Techinical meeting. Techinical


meeting diserenggarakan di gedung olahraga di ibu kota. TM dimulai pukul 10


pagi tetapi sejak pukul 9 gedung olahraga sudah ramai.


Rega mengamati sekitar, beberapa kali ia mendengar


pimbicaraan-pembicaraan disekitarnya yang menyebutkan nama Charletta. Dari ekor


matanya Rega melihat Galuh sedang bercakap-cakap dengan laki-laki paruh baya


berkulit hitam.


 “Saya dengar Charletta tetap


akan ikut BCL tahun ini kendati dia sudah kelas 12?” Tanya seorang lelaki paru baya


itu.


Mendengar nama Latte disebutkan Rega segera mengalihkan


pandangannya pada kedua laki-laki itu. Dia menyimak pembicaraan Galuh dan


kenalannya itu.


Galuh tersenyum. “Ya bisa dibilang begitu. Ini akan menjadi tahun


terakhir dia ikut BCL, taun depan gadis itu sudah duduk di bangku Universitas.


Anak-anak tumbuh dengan cepat”


“Wah tahun ini timmu bisa sangat mengejutkan ya. Saya sepertinya


harus berhati-hati.” Ucap laki-laki patuh usia itu, sepertinya dia seorang pelatih


tim dari salah satu SMA.


Galuh tertawa. “Tentu saja. Ini liga terakhir bagi sebagain


pemain, aku rasa mereka akan mengerahkan semua kemampuan.”


Lelaki paruh usia itu ikut tertawa. “Oh saya jadi tidak sabar


melihatnya.” Tepat ketika dia menyelesaikan ucapannya seorang gadis menghampirinya.


Gadis itu memberitahukan sesuatu dengan suara pelan kemudian Bapak pelatih itu


pamit undur diri.


“Latte itu sangat terkenal ya?” tanya Rega ketika kenalan Galuh


sudah tidak terlihat. Mereka mengambil kursi di barisan ketiga dan duduk di


sana.


Galuh mengangguk. “Tentu saja, dia dua kali menjadi MPV saat SMP


dan SMA.”


Rega tersenyum, tatapannya menerawang. Galuh yang mengamati


perubahan wajah Rega menegurnya, “Mikir apa, hayo? Lagi mikir yang jorok-jorok


ya.”


Rega tertawa, “Enggalah. Saya Cuma sedang mengangumi Latte dalam


hati. Ternyata dia sehebat itu ya.”


Galuh tertawa. “Tentu saja. Latte itu akan sangat berbeda dengan


latihan kalau sudah berada di lapangan di tengah pertandingan sungguhan. Bahkan


dia akan berbeda dengan saat latihan gabungan. Itu baru 50 persen Latte, belum


sepenuhnya.”


 Galuh tersenyum menggoda


menatap Rega. “Dia jadi terlihat sangat berkilauan dan um, seksi.” Pelatih itu


menepuk-nepuk bahu Rega pelan. “Kamu harus mempersiapkan hati. Takut-takut


nanti kamu jatuh cinta melihatnya.”


Rega mencibir. Bagaimana mungkin dengan tubuh mungil dan wajah


imut itu Latte bisa terlihat seksi? Tapi tidak bisa Rega pungkiri juga, ia


tidak sabar ingin melihatnya.


Setelah Technical meeting selesai, Rega dan Galuh segera kembali ke gymnasium SMA Antaraksa. Di Gymnasium


Tim Renjana seperti biasa melakukan latihan. Selama seminggu  terakhir ini, Latte selalu hadir latihan, di


hari sabtu sekalipun.


“Kita sudah dapat jadwal pertandingan, dan SOP untuk


pertandingan.” Beritahu Galuh. Pelatih muda itu mengistirahatkan para pemain di


pinggir lapangan.


“Opening akan digelar hari sabtu, tanggal 11. Kemudian besoknya,


hari minggu tanggal 12 kita akan bertanding melawan SMA XX pukul 4 sore.”


Lanjut Galuh. Galuh menatap pemainnya satu persatu. “Kita hanya punya waktu


latihan kurang dari seminggu. Aku berharap kalian melakukan yang terbaik selama


sisa waktu kita ini untuk meningkatkan skill


perorangan dan skill tim. Selalu jaga


kesehatan dan asupan makan kalian. Sekarang kembali Latihan! Kita akan rebut


gelar juara!”


Sebelum kembali ke lapangan Galuh menyuru tim membuat lingkaran.


Galuh mengulurkan tangannya, melayang di udara. Satu persatu pemain meletakan


tangannya di atas tangan yang lain. Latte menarik tangan Rega meletakan tangga


“Tim Renjana Juara!” Seru Eva, sang kapten lantang yang disahut


seruan heboh dari seluruh pemain sambil mengangkat tangan secara serentak.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan latihan.


Latte tidak buru-buru kembali ke lapangan. Dia diam di pinggir


lapangan, menatap langit-langit sambil mengigit bibirnya.


“Tidak lanjut latihan?” tanya Rega.


Latte menoleh, tersenyum. “Lanjut kok, sebentar.”


“Ada masalah?” tanya Rega yang melihat ekspresi wajah Latte. Gadis


itu menggeleng.


“Hanya merasa cemas tapi bersemangat. Dadaku rasanya seperti mau


meledak. Tidak terasa tinggal seminggu lagi pertandingannya. Aku


bertanya-tanya, akan jadi seperti apa permainanku nanti?”


Rega yang lebih tinggi dari Latte dengan mudah menyentuh kepala


gadis itu. “Permainanmu pasti akan hebat, selalu.”


“CIEEE!!”


Rega dan Latte menoleh ke arah sumber suara, di lapangan para


pemain sedang menatap mereka dengan senyum menggoda. Rega seketika menarik


tangannya dari kepala Latte. Dia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat


dan wajahnya terasa panas. Lagi, perasaan ini lagi. Pikirnya.


“latihan bukan mesra-mesraan!.” Ujar Galuh dari belakang mereka.


Pelatih itu tertawa kecil. “Dasar anak muda.”


Latte segera berlari ke lapangan. Dia segera dikerumini para


pemain yang menggodanya.


“Rega, kamu membuat wajah Latte jadi merah tuh!” Beritahu Eva


dengan suara lantang. Hampir berteriak.


Latte panik, segera ia memukul pelan tangan Eva. Menyuruhnya diam


“Eva!”. Pemain yang lain tertawa sementara Latte mencoba mengalihkan perhatian


dengan berpura-pura sibuk mendribbel bola.


Rega memperhatikan Latte dari pinggir lapangan. Wajah gadis itu


memang merona. Terlihat jelas. Rega bertanya-tanya, apakah jantung Latte juga tengah


berdetak sama cepatnya seperti jantungnya saat ini?


***


 Selama beberapa hari


menjelang pertandingan tim Rejana berlatih dengan maksimal. Mereka juga


melakukan program makanan sehat resep dari Galuh agar meningkatkan stamina dan


daya tahan tubuh.


Sehari sebelum opening mereka semua di beri waktu libur. BCL tingkat nasional tahun ini di


selenggarakan di Jakarta dengan tiga SMA sebagai perwakilan provinsi yang


sebelumnya menjadi pemenang di tingkat Region yang telah diselenggarakan


sebelumnya. SMA Antaraksa dan Saktiwara merupakan dua dari tiga pemenang dari


provinsi Jawa Barat.


Opening Ceremony akan di selenggarakan Hari Minggu pada pukul 4


sore hingga malam hari. Tim Renaja memutuskan untuk berangkat ke ibu kota


subuh-subuh sekali di hari yang sama. Dari Bandung menuju ibu kota dengan


kendaraan beroda empat dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam.


Galuh menyuru para pemain istirahat total di hari libur itu,


tetapi ia meminta Rega untuk menganalisis permainan tim-tim lain dari


pertandingan yang pernah mereka lakukan. Sejak pagi Rega duduk di depan laptopnya.


Menonton berbagai pertandingan SMA lain sambil menganalis kemampuan dan skill


setiap pemainnya. Menyusunnya menjadi informasi berguna untuk tim Renjana.


Jam di sudut bawah laptopnya menunjukan pukul 18.50 ketika pintu


kamarnya di buka. Ibunya, Resya, wanita berumur pertengahan empat puluhan


memasuki kamarnya. Pakaian ibunya rapi, mengenakan blazer yang berwarna putih,


senada dengan rok selututnya.


     Rega menatap ibunya,


tidak biasanya ibunya sudah pulang jam segini. Ibunya adalah seorang pengacara.


Dia selalu sibuk dengan perkerjaannya. Seringkali wanita itu pergi ke luar kota


bahkan luar negeri untuk menyelesaikan kasusnya dan tidak pulang berhari-hari. Hal


yang sama juga terjadi pada ayahnya yang seorang CEO perusahaan multinasional.


Awalnya Rega memang tidak suka, tapi sekarang ia sudah terbiasa dengan


ketidakhadiraan orang tuanya di rumah. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi.


 “Ayo makan malam dulu.”


Ajak ibunya. Wanita bersahaja itu memegang bahu Rega. “Ayahmu menunggu di meja


makan.”


Rega menghala nafas. “Apa lagi sekarang?” tanyanya dingin tanpa


mengalihkan pandangannya dari laptop. Rega sudah hafal tabiat ayahnya. Lelaki


paruh baya itu hanya akan makan malam dengannya ketika ada sesuatu yang ingin


disampaikan pada anak semata wayangnya itu.


Resya tersenyum. “Lebih baik kamu dengan langsung dari ayahmu.”


Wanita itu kemudian berjalan menuju pintu. Dia berbalik, menatap punggung


anaknya sebelum menutup pintu, “Kamu lebih baik cepat, Sayang. Kamu tahu kan


ayahmu tidak suka menunggu.”