
Setelah apa yang terjadi di rumah Rega, Latte dan Rega tidak
pernah benar-benar saling bertemu, sesekali hanya berpapasan di sekolah dan
kedua anak remaja itu akan saling tersipu malu.
Ujian Akhir Semester (UAS) datang dengan cepat, memaksa baik Latte
maupun Rea mengesampingkan hal-hal lain selain pelajaran sekolah. Tepat setelah
UAS selesai, tim renjana disibukan oleh latihan untuk Basketball Champion
League (BCL) yang akan di selenggarakan dalam aktu dekat. Berbagai kesibukan
itu tidak memberi waktu dan ruang untuk kedua insan itu memahami apa yang
terjadi diantara mereka. Meninggalkan ketidakjelasan perasaan yang mendebarkan.
Hari minggu tepat setelah UAS selesai, Galuh ditemani Rega
menghadiri Techinical meeting. Techinical
meeting diserenggarakan di gedung olahraga di ibu kota. TM dimulai pukul 10
pagi tetapi sejak pukul 9 gedung olahraga sudah ramai.
Rega mengamati sekitar, beberapa kali ia mendengar
pimbicaraan-pembicaraan disekitarnya yang menyebutkan nama Charletta. Dari ekor
matanya Rega melihat Galuh sedang bercakap-cakap dengan laki-laki paruh baya
berkulit hitam.
“Saya dengar Charletta tetap
akan ikut BCL tahun ini kendati dia sudah kelas 12?” Tanya seorang lelaki paru baya
itu.
Mendengar nama Latte disebutkan Rega segera mengalihkan
pandangannya pada kedua laki-laki itu. Dia menyimak pembicaraan Galuh dan
kenalannya itu.
Galuh tersenyum. “Ya bisa dibilang begitu. Ini akan menjadi tahun
terakhir dia ikut BCL, taun depan gadis itu sudah duduk di bangku Universitas.
Anak-anak tumbuh dengan cepat”
“Wah tahun ini timmu bisa sangat mengejutkan ya. Saya sepertinya
harus berhati-hati.” Ucap laki-laki patuh usia itu, sepertinya dia seorang pelatih
tim dari salah satu SMA.
Galuh tertawa. “Tentu saja. Ini liga terakhir bagi sebagain
pemain, aku rasa mereka akan mengerahkan semua kemampuan.”
Lelaki paruh usia itu ikut tertawa. “Oh saya jadi tidak sabar
melihatnya.” Tepat ketika dia menyelesaikan ucapannya seorang gadis menghampirinya.
Gadis itu memberitahukan sesuatu dengan suara pelan kemudian Bapak pelatih itu
pamit undur diri.
“Latte itu sangat terkenal ya?” tanya Rega ketika kenalan Galuh
sudah tidak terlihat. Mereka mengambil kursi di barisan ketiga dan duduk di
sana.
Galuh mengangguk. “Tentu saja, dia dua kali menjadi MPV saat SMP
dan SMA.”
Rega tersenyum, tatapannya menerawang. Galuh yang mengamati
perubahan wajah Rega menegurnya, “Mikir apa, hayo? Lagi mikir yang jorok-jorok
ya.”
Rega tertawa, “Enggalah. Saya Cuma sedang mengangumi Latte dalam
hati. Ternyata dia sehebat itu ya.”
Galuh tertawa. “Tentu saja. Latte itu akan sangat berbeda dengan
latihan kalau sudah berada di lapangan di tengah pertandingan sungguhan. Bahkan
dia akan berbeda dengan saat latihan gabungan. Itu baru 50 persen Latte, belum
sepenuhnya.”
Galuh tersenyum menggoda
menatap Rega. “Dia jadi terlihat sangat berkilauan dan um, seksi.” Pelatih itu
menepuk-nepuk bahu Rega pelan. “Kamu harus mempersiapkan hati. Takut-takut
nanti kamu jatuh cinta melihatnya.”
Rega mencibir. Bagaimana mungkin dengan tubuh mungil dan wajah
imut itu Latte bisa terlihat seksi? Tapi tidak bisa Rega pungkiri juga, ia
tidak sabar ingin melihatnya.
Setelah Technical meeting selesai, Rega dan Galuh segera kembali ke gymnasium SMA Antaraksa. Di Gymnasium
Tim Renjana seperti biasa melakukan latihan. Selama seminggu terakhir ini, Latte selalu hadir latihan, di
hari sabtu sekalipun.
“Kita sudah dapat jadwal pertandingan, dan SOP untuk
pertandingan.” Beritahu Galuh. Pelatih muda itu mengistirahatkan para pemain di
pinggir lapangan.
“Opening akan digelar hari sabtu, tanggal 11. Kemudian besoknya,
hari minggu tanggal 12 kita akan bertanding melawan SMA XX pukul 4 sore.”
Lanjut Galuh. Galuh menatap pemainnya satu persatu. “Kita hanya punya waktu
latihan kurang dari seminggu. Aku berharap kalian melakukan yang terbaik selama
sisa waktu kita ini untuk meningkatkan skill
perorangan dan skill tim. Selalu jaga
kesehatan dan asupan makan kalian. Sekarang kembali Latihan! Kita akan rebut
gelar juara!”
Sebelum kembali ke lapangan Galuh menyuru tim membuat lingkaran.
Galuh mengulurkan tangannya, melayang di udara. Satu persatu pemain meletakan
tangannya di atas tangan yang lain. Latte menarik tangan Rega meletakan tangga
“Tim Renjana Juara!” Seru Eva, sang kapten lantang yang disahut
seruan heboh dari seluruh pemain sambil mengangkat tangan secara serentak.
Setelah itu mereka kembali melanjutkan latihan.
Latte tidak buru-buru kembali ke lapangan. Dia diam di pinggir
lapangan, menatap langit-langit sambil mengigit bibirnya.
“Tidak lanjut latihan?” tanya Rega.
Latte menoleh, tersenyum. “Lanjut kok, sebentar.”
“Ada masalah?” tanya Rega yang melihat ekspresi wajah Latte. Gadis
itu menggeleng.
“Hanya merasa cemas tapi bersemangat. Dadaku rasanya seperti mau
meledak. Tidak terasa tinggal seminggu lagi pertandingannya. Aku
bertanya-tanya, akan jadi seperti apa permainanku nanti?”
Rega yang lebih tinggi dari Latte dengan mudah menyentuh kepala
gadis itu. “Permainanmu pasti akan hebat, selalu.”
“CIEEE!!”
Rega dan Latte menoleh ke arah sumber suara, di lapangan para
pemain sedang menatap mereka dengan senyum menggoda. Rega seketika menarik
tangannya dari kepala Latte. Dia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat
dan wajahnya terasa panas. Lagi, perasaan ini lagi. Pikirnya.
“latihan bukan mesra-mesraan!.” Ujar Galuh dari belakang mereka.
Pelatih itu tertawa kecil. “Dasar anak muda.”
Latte segera berlari ke lapangan. Dia segera dikerumini para
pemain yang menggodanya.
“Rega, kamu membuat wajah Latte jadi merah tuh!” Beritahu Eva
dengan suara lantang. Hampir berteriak.
Latte panik, segera ia memukul pelan tangan Eva. Menyuruhnya diam
“Eva!”. Pemain yang lain tertawa sementara Latte mencoba mengalihkan perhatian
dengan berpura-pura sibuk mendribbel bola.
Rega memperhatikan Latte dari pinggir lapangan. Wajah gadis itu
memang merona. Terlihat jelas. Rega bertanya-tanya, apakah jantung Latte juga tengah
berdetak sama cepatnya seperti jantungnya saat ini?
***
Selama beberapa hari
menjelang pertandingan tim Rejana berlatih dengan maksimal. Mereka juga
melakukan program makanan sehat resep dari Galuh agar meningkatkan stamina dan
daya tahan tubuh.
Sehari sebelum opening mereka semua di beri waktu libur. BCL tingkat nasional tahun ini di
selenggarakan di Jakarta dengan tiga SMA sebagai perwakilan provinsi yang
sebelumnya menjadi pemenang di tingkat Region yang telah diselenggarakan
sebelumnya. SMA Antaraksa dan Saktiwara merupakan dua dari tiga pemenang dari
provinsi Jawa Barat.
Opening Ceremony akan di selenggarakan Hari Minggu pada pukul 4
sore hingga malam hari. Tim Renaja memutuskan untuk berangkat ke ibu kota
subuh-subuh sekali di hari yang sama. Dari Bandung menuju ibu kota dengan
kendaraan beroda empat dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam.
Galuh menyuru para pemain istirahat total di hari libur itu,
tetapi ia meminta Rega untuk menganalisis permainan tim-tim lain dari
pertandingan yang pernah mereka lakukan. Sejak pagi Rega duduk di depan laptopnya.
Menonton berbagai pertandingan SMA lain sambil menganalis kemampuan dan skill
setiap pemainnya. Menyusunnya menjadi informasi berguna untuk tim Renjana.
Jam di sudut bawah laptopnya menunjukan pukul 18.50 ketika pintu
kamarnya di buka. Ibunya, Resya, wanita berumur pertengahan empat puluhan
memasuki kamarnya. Pakaian ibunya rapi, mengenakan blazer yang berwarna putih,
senada dengan rok selututnya.
Rega menatap ibunya,
tidak biasanya ibunya sudah pulang jam segini. Ibunya adalah seorang pengacara.
Dia selalu sibuk dengan perkerjaannya. Seringkali wanita itu pergi ke luar kota
bahkan luar negeri untuk menyelesaikan kasusnya dan tidak pulang berhari-hari. Hal
yang sama juga terjadi pada ayahnya yang seorang CEO perusahaan multinasional.
Awalnya Rega memang tidak suka, tapi sekarang ia sudah terbiasa dengan
ketidakhadiraan orang tuanya di rumah. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi.
“Ayo makan malam dulu.”
Ajak ibunya. Wanita bersahaja itu memegang bahu Rega. “Ayahmu menunggu di meja
makan.”
Rega menghala nafas. “Apa lagi sekarang?” tanyanya dingin tanpa
mengalihkan pandangannya dari laptop. Rega sudah hafal tabiat ayahnya. Lelaki
paruh baya itu hanya akan makan malam dengannya ketika ada sesuatu yang ingin
disampaikan pada anak semata wayangnya itu.
Resya tersenyum. “Lebih baik kamu dengan langsung dari ayahmu.”
Wanita itu kemudian berjalan menuju pintu. Dia berbalik, menatap punggung
anaknya sebelum menutup pintu, “Kamu lebih baik cepat, Sayang. Kamu tahu kan
ayahmu tidak suka menunggu.”