
Latte merasakan cengkraman di tangannya semakin kecang. Ia merasakan tubuhnya diguncang-guncang pelan dan ia mendengar suara seseorang, tapi kondisi prikologisnya sekarang membuat dia tidak bisa mengenali suara yang di dengarnya. Ia sedang sangat ketakutan. Pikirannya dipenuhi Berpikir hal-hal buruk yang mungkin terjadi padanya sebentar lagi.
“Latte, ini aku.”
Latte masih memejamkan matanya. Tubuh gadis itu gemetaran. “Jangan. Lepasin saya.” Ucapnya lirih. Hampir menangis.Tangannya disilangkan di depan dada. Membentuk pertahanan diri.
“Ini aku, Rega. Hei.”
Latte akhirnya dapat mengenali suara itu. Gadis itu membuka matanya. Di hadapannya Rega menatapnya cemas. Latte juga dapat melihat laki-laki dengan rambut berantakan dan pakaian lusuh itu berdiri di belakang Rega. Ketika mata mereka bertemu, laki-laki itu menjilat bibirnya sendiri dengan tatapan yang menjijikan.
Latte merasakan lututnya terlalu lemas untuk menompang tubuhnya. Gadis itu jatuh terduduk. Menutup wajahnya dan mulai terisak.
Rega panik. Buru-buru ia berjongkok di hadapan gadis itu. Tubuh Latte bergetar hebat. “Latte ada apa?” tanya Rega. Pemuda itu mengusap pundak gadis itu lembut. Berharap tindakannya dapat menenangkan gadis itu.
“Ada laki-laki hiks, di belakangmu hiks..” Gadis itu berbicara diatara isak tangisnya. Suaranya terdengar parau.
“Aku takut.”
Rega menoleh ke belakang. Ia dapat melihat laki-laki berpenampilan berantakan menatap mereka. Ketika mata Rega bertemu dengan mata laki-laki itu, dia segera berbalik dan melangkah pergi. Rega kembali menoleh pada Latte yang masih menutup wajahnya dengan kedua telapak kanannya.
Rega menyentuh tangan Latte dengan lembut. Perlahan ia membuka kedua tangan gadis itu sehingga wajah Latte dapat ia lihat. Gadis itu masih menunduk menangis. Hidung dan mata gadis itu merah. Rega mengusap lembut air mata Latte.
“Laki-laki itu sudah pergi Latte.” Ucapnya lembut. “Kamu sudah aman sekarang.”
Perkataan Rega belum bisa menenangkan gadis itu. Latte masih menangis sambil terisak-isak. Tubuhnya masih berguncang. Gadis itu mengalami shock. Dia pasti sudah berpikir hal buruk akan terjadi padanya, pikir Rega.
Rega meraih gadis itu. membawanya dalam pelukan. Rega mengusap pelan kepala Latte. Wajah gadis itu tenggelam di dadanya.
“Jangan takut. Aku ada di sini Latte. Kamu percayakan padaku?” Ucap Rega pelan, nyaris berbisik, tapi cukup untuk Latte dapat mendengarnya dengan jelas. Ia juga dapat mendengar detak jantung laki-laki itu. Apa detak jantung laki-laki memang selalu secapat dan senyaring ini? Pikir Latte.
“Wajahku ini dingin loh, menyeramkan. Laki-laki itu saja langsung kabur begitu melihatku. Jadi kamu tidak perlu takut lagi ya.”
Latte tersenyum geli mendengar perkataan Rega. Mungkin laki-laki itu benar, wajahnya memang terkadang terkesan dingin, tapi kenapa pelukannya terasa begitu hangat dan nyaman. Rasanya Latte tidak ingin terlepas dari dekapan pemuda itu. Tapi mendengar gadis itu sudah tidak menangis lagi, Rega melepaskan pelukannya.
Latte menunduk dan menutup wajahnya kembali dengan kedua tangannya. Rega panik, berpikir kalau Latte menangis lagi.
“Kamu nangis lagi?” tanyanya. Gadis itu menggeleng.
“Terus kenapa di tutupin gitu mukanya?”
“Aku malu. Mukaku jelek kalo abis nangis.”
Rega meraih satu tangan gadis itu, menariknya berdiri. Latte masih menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Rega menarik satu lagi tangan gadis itu. Ia menunduk, menyetarakan wajahnya dengan wajah gadis itu sehingga dia dapat melihat wajah Latte dengan sangat jelas.
Rega tersenyum melihat Latte yang malu-malu balas menatapnya.
“Cantik kok.”
Latte melotot, mengira kalau Rega sedang mengejeknya tapi melihat tatapan hangat Rega, Latte merasakan dadanya berdesir. Latte segera berbalik, menyembuyikan wajahnya yang jadi tambah merah. Tangannya menyentuh dadanya. Jantungnya sedang berdetak gila-gilaan.
Rega mengikuti di belakang Latte dengan jantung yang berdetak sama cepatnya dengan jantung gadis itu.
Eva menjadi orang pertama yang melihat Latte berjalan ke arah mereka, Gadis itu memanggil nama Latte, kemudian teman-temannya segera menghampiri gadis itu, membondong gadis itu dengan pertanyaan bertubi-tubi hingga tidak menyadari keberadaan Rega.
“Kamu dari mana saja Latte, kami cari dari tadi.” Ucap Eva. Dahinya berkerut. Dia sedang khawatir.
“Kenapa ditelpon ga diangkat?” Kali ini Adiba yang menyerang Latte dengan pertanyaan. Latte tersenyum geli.
Ternyata teman-temannya bisa seheboh ini. Dia mencoba menenangkan teman-temannya dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.
“Lalu aku bertemu Rega dan pemuda menyeramkan itu pergi.” Ucap Latte mengakhiri ceritanya.
“Rega?” tanya Keysha. “Kok Rega sih kan dia belum bisa menyusul hari ini?”
Latte bergerser, ia memiringkan tubuhnya mempersilahkan Rega menunjukan dirinya. Teman-temannya kembali
histeris melihat Rega. Mereka kali ini membondong Rega dengan berbagai pertanyaan yang berkisar tentang apa yang dia lakukan di Singapura, kenapa baru bisa menyusul sekarang? Kenapa ga memberi kabar lebih dulu kalau mau datang?
Rega tertawa, mencoba menjawab pertanyaan teman-temannya satu demi satu sampai mereka semua puas mendapatkan jawaban.
“Terus saya sudah beri kabar mau datang hari ini pada Pelatih Galuh.” Jawabnya. “Mungkin dia belum menyampaikan kabarnya ke kalian.”
Mereka semua manggut-manggut mengerti.
“Lalu bagaimana kamu bisa bertemu Latte?” Tanya Kesyah.
“Saat tiba di hotel, Coach Galuh bilang kalian pergi ke sini.”
“Kamu pasti hanya menanyakan kemana Latte pergi kan?” Mata Keysha memicing.
Rega terlihat salah tingkah yang membuat Eva, Adiba dan Keysha tertawa sementara Latte menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona.
Mereka kembali ke penginapan sebelum langit berubah menjadi gelap. Di penginapan, Rega segera memesan satu lagi kamar hotel untuk dirinya. Galuh sudah menawarkan untuk berbagi kamar dengannya karena toh pelatih muda itu seorang diri di kamarnya tapi Rega menolak. Rega tidak bisa tidur bila ada orang lain di kamarnya, dia tidak terbiasa.
Rega mendapatkan kamar nomor 227, tepat bersebelahan dengan kamar Galuh.
“Kamarku 221.” Beritahu Latte, saat ikut mengantar Rega menuju kamarnya. Teman-temannya yang lain tidak ikut
mengantar, mereka memutuskan menunggu di restoran di lantai dasar untuk makan malam. Setelah Rega menaruh barang-barangnya di kamar, dia dan Latte akan segera menyusul.
“Aku sekamar dengan Adiba.”
Rega mengangguk, Ia melirik Latte.
Tangan gadis itu masih bergetar. Dia masih ketakutan. Bagaimanapun hal buruk baru saja terjadi padanya.
Rega merah jemari Latte, menggengamnya. “Agar tanganmu tidak gemetaran.” Beritahunya singkat pada Latte
yang menatapnya terkejut. Rega berbicara tanpa menatap Latte. Nada suaranya terdengar cuek tapi Latte dapat melihat telinga pemuda itu memerah.
Latte tersenyum, menggengam balik jemari Rega yang panjang dan besar. Tangannya yang kecil seperti tenggelam oleh genggaman tangan Rega, tapi entah kenapa terasa nyaman. Mereka berpegangan tangan seperti itu hingga sampai di depan pintu kamar nomor 227.