
“Saya sudah mengikuti semua kegiatanmu hari ini, jadi kamu akan
datang kan sabtu
depan?” Tanya Rega ketika mereka sudah berada di dalam mobil dan meninggalkan
lapangan basket tidak terurus itu.
“Saya? Kenapa formal sekali sih. Kita kan teman!” Gadis itu
menatap Rega tajam.
Pemuda itu menaikan sebelah alisnya.
Latte menunjuk dirinya sendiri “Aku” ujarnya, lalu dia menunjuk
Rega, “Kamu.” Gadis itu tersenyum lebar. “Mulai sekarang gunakan dua kata itu
ya?”
Rega menatap gadis itu tajam. “Sabtu nanti kamu harus datang.”
Ucap Rega, tidak menggubris perkataan Latte sebelumnya.
Latte menggeleng, “ga mau.” Ucapnya
suntak membuat Rega melotot.
Gadis itu tertawa, kemudian mengangguk, “datang kok,
tenang saja. Aku kan sudah janji. Aku juga
sudah memberitahu anak-anak sabtu nanti
aku tidak bisa datang, jadi aku akan mengganti mengajari mereka di hari minggunya.”
Rega mengambil ponselnya dari dalam saku lalu memberikannya pada
Latte, “telpon Coach Galuh, bilang kalau kamu pasti akan datang.” Perintahnya pada Latte tanpa mengalihkan
pandangannya dari jalan raya di depan.
Latte tersenyum geli, “harus
banget ya? Kamu tidak percaya kata-kataku?”
“Saya percaya, hanya saja Saya tidak yakin Coach akan percaya kalau bukan kamu sendiri
yang bilang padanya.” Rega menjelaskan.
Latte melotot mendengar Rega yang masih menggunakan ‘saya’ untuk
merunjuk dirinya sendiri. Gadis itu mendengus kesal, namun ia memilih tidak
mempermasalahkannya lebih lanjut. Mungkin pemuda itu lebih nyaman berbicara
formal seperti itu.
Latte mengangguk juga, memilih kontak Galuh dan menekan tombol dialuntuk menelepon pelatih muda itu.
Ketika telpon tersambung, Latte segera menekan tombol speaker, agar Rega juga
dapat mendengar apa yang diucapkan Galuh.
“Assalamualaikum, Rega. Bagaimana, kamu berhasil membujuk Latte?” Tanya Galuh di seberang telepon, to the point.
Latte melirik Rega yang tengah menyetir di sebelahnya. Pemuda itu melirik Latte dan menaikkan sebelah alisnya. Latte tersenyum geli.
“Jadi ini sudah direncanakan?” Tanya Latte pada Galuh.
“Latte?” Pelatih muda itu terdengar terkejut. “Kamu sedang bersama
Rega?”
“Iya, dia sedang menyetir di sebelahku. Kami sedang kencan.”
Rega melotot, berbarengan dengan Galuh yang berseru kaget di
seberang telpon.
“Apa? Kencan?”
Latte tertawa. “Hanya bercanda. Kembali ke topik, Rega sepertinya
berhasil melakukan misinya. Aku akan datang sabtu nanti.”
“Yang benar?” Galuh
terdengar senang sekali, “kamu tidak
bohong kan?”
“Iya tentu saja. Aku janji aku akan datang, jika tidak ada
kejadian mendadak yang tidak diinginkan.”
“Terima kasih.
Terima kasih sekali Latte. Kamu memang acetim yang bisa diandalkan.”
Latte tertawa. Rega melirik ke arah gadis itu, ia ikut tersenyum.
Gadis itu, mudah sekali tertawa. Dia selalu terlihat ceria, pikir Rega.
“Coach, jangan berterima kasih padaku. Berterima kasih lah
pada Rega Sadewa. Manager tim kita yang paling bisa diandalkan.”
Rega tersenyum kecil mendengarnya.
“Aku akan mentraktir kalian besok. “ Ucap Galuh. “Sampaikan ucapan
terima kasihku pada manager ganteng kita.”
Latte melirik Rega. Mulutnya bergerak-gerak tanpa suara, Rega
menangkap Gadis itu berkata, katanya
kamu ganteng.
Rega mendegus geli.
“Coach harus mentarktir
makanan paling enak dan paling mahal.” Ucap Latte bersemangat.
Galuh tertawa. “Tentu saja.” Jawabnya.
Latte mengucapkan salam lalu mematikan sambungan telpon. Gadis itu
menyerahkan smartphone putih itu
kembali pada Rega.
Latte menatap keluar jendela. Langit sudah berubah warna menjadi biru
gelap. Matahari sudah
terbenam sepenuhnya. Latte mencari-cari bintang di langit, tetapi kilauan kecil
itu belum nampak.
“Rega, kamu bilang cita-citamu ingin jadi astronot kan?”
“Heem.” Rega bergumam mengiyakan.
“Berarti kamu suka luar angkasa?”
“Heem.”
“Aku juga!” Gadis itu terdengar antusias. “Aku paling suka rasi
kamu?”
“Canis major.”
Latte mengangguk-angguk, “Rasi bintang tempat Sirius berada.”
Rega mengagguk. Mereka melanjutkan perjalanan dengan diisi
percakapan berbagai topik, meski pembicaraan masih didominasi oleh Latte yang
menceritakan ini dan itu, tetapi gadis itu juga menyadari bahwa Rega sudah
lebih responsif dari sebelumnya. Terkadang pemuda itu balas bertanya, tertawa atau hanya sekedar memberikan
komentar pendek.
Beberapa menit kemudian, mobil Rega
sampai di depan toko kue Charletta’s. Rega melihat motor ninja hitam dan Marco
yang duduk di atasnya terparkir tidak jauh dari toko kue Latte.
”Marco?” tanya Latte, lebih ke dirinya sendiri.
Gadis itu mengucapkan terima kasih pada Rega sebelum melangkah keluar mobil.
Latte langsung disambut oleh Marco. Rega melihat Marco mengatakan sesuatu lalu
mereka berdua memasuki rumah Latte. Namun sebelum Marco ikut masuk ke dalam
rumah Latte, pemuda itu berdiri diambang pintu. Menatap ke arah mobil Rega.
Rega dapet melihat pemuda itu meyeringai.
Beberapa saat kemudian, Rega masih berada di dalam mobilnya yang
tidak beranjak barang sejengkal pun dari depan toko kue. Matanya mengawasi toko
kue tersebut. Masih terlihat jelas di matanya gambaran tangan Latte yang
digenggam Marco barusan.
Rega menggeram. Ia memukul stir kemudi sekali. Rega merasa dadanya
seperti di tekan, seperti ia habis berlari puluhan kilo meter, sesak tapi tidak
terengah-engah.
Marco
itukan dari sebulan lalu mendekati Latte terus.
Kata-kata Adiba di depan gym seketika memenuhi isi kepala Rega.
Membuat Rega merasa kesal ia merasa seperti ingin membanting pintu mobil, atau membunyikan klakson
kencang, atau menarik Latte menjauh dari lelaki itu.
Rega tidak menyukai perasaan ini. Ia tidak menyukai melihat lelaki lain mencoba mendekati Latte. Tapi ia
tidak tahu kenapa. Ia belum tahu kenapa.
***
“Sebentar, aku panggilkan Bunda dulu.” Beritahu Latte saat meletakan
secangkir teh hangat pada Marco yang sedang duduk di sofa di ruang tamu rumah
Latte. Barusan Lelaki itu memberitahu Latte kalau dia ingin memesan kue untuk
ibunya besok.
Saat ini pukul 8 malam, toko kue Latte sudah tutup sejak pukul 5
sore, oleh karena itu Latte menyuruh Marco masuk dan memesan kue langsung pada
Bundanya.
Selepas peninggalan Latte. Marco menyibukan diri dengan mengamati
figura-figura yang tergantung di dinding ruang tamu. Di dalam figura-figura itu
terdapat potret Latte dalam berbagai usia, mulai dari kanak-kanak hingga
dewasa.
“Wajahnya tidak banyak berubah,” komentar Marco pada dirinya
sendiri. “Sedah cantik sejak kecil.”
Di ruang tamu juga terdapat lemari kaca yang memajang berbagai
bentuk penghargaan. Marco memperhatikan dua piagam MVP yang bertuliskan nama
Latte. Gadis itu memperoleh gelar MPV dua tahun berturut-turut waktu SMP.
Tepatnya saat ia duduk di kelas 8 dan 9.
Tidak lama kemudian Latte kembali bersama bundanya. Marco
memberitahu Bunda Latte kue seperti apa
yang ia inginkan. Setelah selesai
berdiskusi dengan Bunda Latte, Marco segera pamit pulang. Latte megantarnya
hingga depan rumah.
“Kamu tahu, aku tidak biasanya memberi kue untuk ibuku, selain di
hari ulang tahunnya.” Beritahu Marco pada Latte. “Kamu tahu kenapa hari ini aku
malah memesan kue di tokomu?”
Gadis itu menaikan sebelah alisnya. “Kenapa?”
Marco menunduk, menatap Latte tepat di kedua mata gadis itu.
“Karena itu hanya alasan, agar aku bisa bertemu denganmu malam ini.”
Latte diam, tidak tahu harus merespon seperti apa.
“Meski kamu telah menolakku sebelumnya, aku hanya ingin kau tahu,
Latte. Aku tidak akan menyerah, Egar atau siapapun itu, aku akan merebut
posisinya di hatimu dan membuatmu benar-benar melupakannya.”
Marco kemudian menyeringai, nada suaranya yang sebelumnya
terdengar serius kini kembali terdengar riang. “Kamu tahu, aku sudah datang ke
sini sejak pukul 4 sore, tapi kamu tidak ada, jadi aku pulang. Tapi aku ingin
sekali bertemu denganmu, jadi aku memutuskan balik lagi dengan embel-embel
ingin memesan kue.” Lelaki itu tertawa pelan.
Latte menatap Marco dengan pandangan yang tidak bisa lelaki itu
mengerti,namun kemudian, gadis itu tersenyum. Senyuman yang menurut Marco,
terlalu manis untuk dilihat.
“Terima kasih, sudah
memesan kue di sini.”