ELEVEN

ELEVEN
Twenty Nine



Latte manatap langit-langit ruang kesehatan yang berwarna putih bersih. Kedua jemarinya saling bertaut di depan dada. Berdoa dengan sepenuh hatinya. Ia ingin timnya dapat memenangkan pertandingan, namun jika tidak menjadi juara sekalipun setidaknya Latte sungguh berharap semua rekan setimnya akan baik-baik saja. Gadis itu berharap tidak ada lagi yang celaka seperti dirinya maupun Adiba.


Marco yang menyadari keresahan Latte mencoba menenangkan gadis itu.


“Mereka pasti bisa mengatasi tim Tanjung Nusa.” Ucap pemuda itu lembut. “Mereka pemain-pemain yang hebat.”


Latte mengangguk. “Aku hanya cemas mereka akan terluka sepertiku.”


Marco menggeleng. “Mereka akan baik-baik saja. Percaya padaku.”


Latte menatap Marco. Tatapan pemuda itu seolah yakin sekali dengan ucapannya membuat Latte mau tak mau tersenyum. “Bagaimana kamu bisa seyakin itu Marco?”


“Entahlah. Aku hanya merasa seperti itu. Firasatku bilang begitu”


Latte tertawa pelan.


“Hey, firasatku jarang sekali meleset loh!” Tambah Marco buru-buru. “Kalau sampai tim Renjana menang dan baik-baik saja. Kamu harus makan malam denganku. Kamu yang traktir”


Latte manaikan sebelah alisnya. Tersenyum geli. Terkadang mantan kapten basket itu bisa menjadi kekanak-kanakan sekali.


“Baiklah, aku akan mempercayai firasatmu.”


***


Tapat ketika peluit dibunyikan. Tim Renjana segera melaksanakan strategi dari Rega. Inti dari strategi ini adalah memanfaatkan kelincahan dan kecepatan pemain tim Renjana dengan tambahan sedikit trik-trik untuk mengecoh lawan.


Keysha merebut bola dari point guard tim lawan dengan gesit. Gerakannya bahkan tidak di duga oleh point guard SMA Tanjung Nusa itu. Lalu dengan sangat cepat dia mengoper bola pada Adiba. Operan bolanya penuh tenaga khas gadis berambut merah itu, membuat bola melaju cepat ke arah Adiba. Adiba menerima bola. Pergelangan


tangannya terasa nyeri ketika dia memegang bola terlebih lagi operan super Keysha sangat kuat.


Keysha menatap Adiba cemas. Ia tahu tangan gadis itu pasti kembali terasa sakit. Seketika dia menyesal tidak menurunkan tenaga di operannya barusan. “Adiba oper kembali!” Perintah Keysha


Adiba merasa bersalah tapi dia tetap mengoper bola kembali pada Keysha selagi ia memiliki celah. Keysha menerima bola dan berlari maju.


Keysha hampir mencapai lingkaran dalam daerah lawan ketika bola tiba-tiba terlepas dari tangannya dan terlempar ke sisi kanan lapangan. Keysha menoleh, point guard tim Tanjung Nusa menyeringai padanya. “Aku curi lagi bolanya.” Ucapnya.


Bola yang terlempar ke sisi kanan lapangan segera ditangkap Ellena. Gadis jangkung itu dengan cepat mengiring bola. Di tengah lapangan dia di hadang Eva dan Naomi. Tidak seperti biasanya kali ini Ellena mengoper bola pada teman setimnya. Di lima menit terakhir dia memutuskan untuk bermain kerja sama tim.


Bola di oper pada pemain bernomor punggung 14 yang berada tepat di bawah ring. Ring dalam keadaan kosong tanpa penjagaan. Adiba yang berada paling dekat dengan ring segera berlari. Dia mengabaikan rasa sakit di tangannya. Tanganya terulur panjang. Tepat ketika bola melayang, lepas dari tangan pemain Tanjung Nusa


“Keysha!” Adiba menggoper bola pada Keysha tetapi bola segera dicuri oleh pemain nomor 34 yang menghalangi Keysha. Badan pemain nomer 34 SMA Tanjung Nusa itu memang jauh lebih tinggi dan lebih besar dari Keysha.


Postur tubuhnya itu jelas memberi keuntungan. Dengan mudah dia dapat menghalangi pandangan Keysha dan mengambil bola.


Merasa kesal Keysha mencoba merebut bola tetapi gerakannya terlalu keras dan ceroboh hingga ia tidak sadar kalau dia telah melakukan foul. Wasit membunyikan peluit dan memberi lemparan bebas atau free throw untuk tim Tanjung Nusa.


Pemain nomor 34 itu bersiap melakukan free throw di bawah ring. Eva melirik yang terletak di bagian bawah papan skor. Tinggal tersisa satu menit sebelas detik hingga pertandingan berakhir. Jika Tanjung Nusa berhasil mencetak angka dari free throw ini keadaan akan buruk untuk tim mereka. Eva berdoa dalam hati semoga kedua bola meleset.


“Maaf, aku terbawa emosi hingga bermain seperti mereka, kasar.” Bisik Keysha yang menempatkan dirinya berdiri di sisi Eva.


Eva tersenyum. “Pelanggaran seperti itu biasa terjadi, bukan?” Kapten tim itu menepuk bahu Keysha pelan. “Bukan berarti kamu jadi sama dengan mereka.”


Pemain bernomor punggung 34 itu bersiap melakukan lemparan. Lemparan pertama bola meleset dan menabrak dinding. Ellena menjabat tangan pemain tersebut, memberikan bubuk kapur pada telapak tangannya. Pemain SMA Tanjung Nusa memantulkan bola sekali kemudian kembali memasang kuda-kuda, bersiap dalam posisi shooting.


Pemain itu menarik nafas, sementara Eva dan yang lain menahan nafas. Eva dapat mendengar Keysha di sebelahnya berdoa. Gadis itu berkomat-kamit dengan suara berbisik sambil memejamkan mata. Eva tersenyum dan kembali berdoa, semoga yang satu ini pun meleset. Bola terlepas dari tangan pemain nomor 34. Putaran bola terlihat stabil dan melayang dengan jalur yang pasti menuju ring. Eva menghela nafas, dia tahu hasilnya kali


ini. Bola memasuki ring dengan mulus. Skor akhirnya berubah menjadi 43-44. Tim Tanjung Nusa unggul satu poin.


Eva menerima bola dari wasit. Saat ini ia benar-benar harus fokus dan bermain melewati batas kemampuannya. Kapten tim SMA Antaraksa itu mengiring bola hingga ketengah lapangan. Dia tidak bisa meninggalkan ring seperti sebelumnya, dia khawatir tim lawan dapat merebut bola kemudian mencetak angka. Eva menatap sekitar, berniat mengoper bola tetapi semua rekan setimnya dijaga ketat. Ellena berlari ke arahnya dan berdiri di depan gadis itu


dengan kedua tangan terbuka lebar. Menjaga ketat Eva agar tidak bisa lolos.


Waktu terus bergulir. Eva melirik ke calah di sebelah kanannya. Penjangaan Adiba longgar, dengan sigap kapten tim itu mengoper bola pada Adiba yang ditangkap oleh gadis berkulit hitam itu. Adiba merasakan pergelangan tangannya terasa kebas dan rasa sakitnya luar biasa setiap kali pergelangan tangannya digerakan. Adiba tahu kondisi tangannya memburuk dan membuat dia kesulitan mendribble bola.


Adiba menyadri dia tidak dapat mendribble bola dengan benar. Jika dia berlari sambil mendribble seperti ini bola akan sangat mudah dicuri. Sedangkan jika dia tidak mendribble lebih dari tiga detik, ia akan terkena pelanggaran. Adiba merasa sangat frustasi. Ia ingin menangis


“Adiba oper padaku!” Teriak Eva. Adiba menoleh ke arah sumber suara. Eva berdiri di belakangnya. Bebas dari Ellena tetapi dia dapat melihat kapten tim Tanjung Nusa itu berlari mengejar Eva dari balik bahu kapten timnya itu. Tanpa pikir panjang Adiba mengoper bolanya. Rasa sakit di tangannya membuatnya meleset ketika melempar


bola sehingga bola berputar tidak stabil dan berbelok arah dari Eva.


Eva berlari mengejar bola. Ia melompat untuk meraih bola. Ketika bola telah ditangkap, dia segera berlari menuju ring lawan.


Galuh yang berdiri di sisi lapangan mengepalkan tangan. Dia melirik papan timer. Tinggal tersisa lima belas detik. Dalam waktu yang sesempit ini, Eva tidak bisa  mengoper bola dan membuat-buang waktu karena rekan setim lainnya sedang dijaga ketat. Dia harus maju sendiri, mencetak angka.


Ellena berhasil mengejar Eva. Dia berdiri menghadang Eva. “Tidak akan aku biarkan lewat!” Serunya.


Galuh berkali-kali bergantian melihat Eva dan timer. Mereka tidak punya banyak waktu.