
Rega terduduk di tanah. Pemuda itu batuk sekali, mengeluarkan darah. Wajahnya babak belur, seragamnya kotor oleh tanah dan bekas alas sepatu Mike, sebelumnya pemuda itu menendang perut Rega, membuat pemuda itu jatuh tersungkur dan batuk darah.
Rega menatap Mike sengit. Ia benci perbuatan curang Mike yang memilih keroyokan untuk menghajarnya.
Mike menyeringai. "Jangan terlalu marah, Gue melakukan ini hanya karena suruhan seseorang yang merasa terganggu sama Lo."
Rega melotot. Apa yang barusan lelaki gila itu katakan. dia merupakan suruhan seseorang?
"Siapa yang nyuru Lo?"
"Lo ga perlu tahu." Mike berjongkok tepat di hadapan Rega yang masih terduduk. Lelaki itu menyentuh ujung bibir Rega yang tergores namun segera di tepis oleh Rega.
"Yang perlu lo inget, kalau Lo tetap dekat-dekat dengan Charletta, hal ini akan terulang kembali. bahkan mungkin kondisi Lo akan lebih parah dari ini."
Rega seketika mencengkram kerah pemuda di hadapannya. Rega menatap Mike penuh kebencian.
"Siapa yang nyuru Lo?" tanyanya sekali lagi.
Mike tertawa sengit. Lelaki berotot itu menepis kencang tangan Rega dari kerah bajunya. Mike berdiri, menatap Rega merendahkan, lalu kemudian sebelum pergi, satu kalimat yang mengejutkan Rega terucap dari bibir Mike.
"Charletta sendiri yang nyuru gue."
***
Latte sedang merapikan catatan pelajaran fisika ketika Adiba masuk ke kelasnya dengan terburu-buru. Gadis berkulit gelap dan berhijab itu menarik tangan Latte tiba-tiba, membuat Latte tidak sengaja mengambar garis panjang di buku tulisnya dengan pulpen hitam. Latte melotot pada Adiba.
"Ada apa sih, heboh banget." Ucap Latte kesal.
Adiba mengusap peluh di keningnya, barusan ia berlarian menuju kelas Latte dari gerbang depan sekolah.
"Tadi aku Liat Rega datang dengan kondisi babak belur."
Latte seketika berdiri. "Babak belur gimana?" Latte menatap Adiba tidak mengerti. Seseorang seperti Rega tidak mungkin berbuat masalah, apalagi sampai terlibat dalam perkelahian atau tawuran.
"Kamu lihat saja sendiri." Jawab Adiba.
"Rega dimana sekarang?" Tanya Latte.
"UKS."
Setelah mendengar jawaban Adiba, Latte segera berlari menuju UKS di lantai satu. Adiba mengeluh, ia baru berlari dari gerbang sekolah ke kelas Latte di lantai 3, sekarang ia harus berlari lagi mengejar Latte.
***
"Kamu berbelahi ya?" Tanya Nurlia, perawat berusia awal dua puluhan sekaligu penjaga UKS pada Rega kesekian kalinya.
Pemuda yang diajaknya bicara itu menggeleng, "Saya jatuh." Jawaban singkat yang sama selalu keluar dari bibir Rega.
"Kalau begitu ceritakan bagaimana kamu jatuh sampai bisa babak belur seperti ini!." Nurlia mengoleskan perlahan kapas yang telah dilumuri obat merah pada pelipis kiri Rega yang terkelupas. Rega meringis kesakitan ketika luka di dekat matanya itu bersentuhan dengan obat antiseptik.
Nurlia kemudian memasangkan plaster luka pada pelipis Rega yang tergores tersebut, perawat muda itu mengunggu jawaban dari Rega, namun pemuda itu tetap diam.
Nurlia menghela nafas. "Yasudah kalau kamu tidak mau bercerita."
Nurlia menyerahkan selembar plaster luka pada Rega kemudian menunjuk sudut bibirnya sendiri, mengarahkan Rega untuk memasang plaster luka di susut bibir pemuda itu yang tergores.
Setelah itu Nurlia pamit, ada yang harus dia urus di bagian tata usaha. Selain bekerja sebagai perawat, wanita muda itu juga bekerja di bagian administrasi sekolah.
Sepeningalan Nurlia, Rega menatap langit-langit ruang UKS yang berwarna putih. Pikirannya dipenuhi ucapan Mike sebelumnya.
Tidak, Rega tidak percaya apa yang dikatakan lelaki br*ngs*k itu. Latte yang dia kenal tidak mungkin melakukan hal tersebut. Namun ancaman Mike yang menyuruh dia jauh-jauh dari Latte membuat Rega memikirkan satu orang yang diuntungkan bila Latte dan dirinya berjauhan.
Marco.
****
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
Rega tidak menjawab, hanya tersenyum masam.
Malihat luka-luka Rega, membuat gadisbitu berspekulasi "kamu berkelahi?"
"Aku jatuh."
"Bohong."
Rega menatap Latte, "Ya."
Gadis itu membelalakan mata, meski sudah menduganya, Latte tetap terkejut dengan pengakuan Rega. Dia tidak habis pikir, seseorang seperti Rega bisa terlibat dengan perkelahian.
"memangnya kamu bisa berantem?"
Rega menyemburkan tawa, dari sekian banyak pertanyaan yang mungkin keluar dari bibir gadis itu, Latte malah menanyakan hal ini. "kamu tidak percaya?"
Latte bersemu malu, "Habis aku tidak pernah membayangkan seseorang sepertimu terlibat masalah seperti perkelahian."
"Orang sepertiku?" Rega menaikan sebelah alisnya. "Orang sepertiku bagaimana?"
"eh?" Latte menatap Rega tidak mengerti. "ya orang sepertimu yang pintar, rajin, berprestasi dan disiplin."
"Apakah 'orang sepertiku' termasuk tipe yang kamu suka?"
"eh?"
Rega menatap Latte dalam. Gadisbitu menatapnya dengan ekspresi terkejut, lalu kemudian dia menunduk.
"Tidak ya?" Rega tersenyum masam. "Tentu saja, orang sepertiku pasti membosankan."
"Bukan begi--"
"Rega, kamu gapapa?" Ucapan Latte terpotong oleh teriakan seorang gadis yang membuka pintu UKS dengan kencang.
Latte dan Rega menoleh ke arah pintu, mendapati tiga orang gadis yang berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka. Latte kenal ketiga gadis itu, teman sekelas Rega.
Mereka adalah Ratih, Putri dan Sekar. ketiga gadis itu mengproklamirkan diri sebagai penggemar Rega dan secara terang-terangan menunjukan mengejar-ngejar pemuda itu.
"Kita khawatir banget sepanjang kelas tadi."
"Siapa yang berani-beraninya melakukan ini ke kamu?"
"Kamu gapapa, mana yang sakit? sini aku periksa!"
Ketiga gadis itu berbicara bersamaan, membuat suasana menjadi ricuh. Latte menatap ketiga gadis itu dan Rega bergantian. Tentu saja pemuda itu populer, pikirnya. Rega tampan, tinggi, kaya dan berprestasi, dia juga populer karenanya. sepertinya tidak ada yang tidak mengenal Rega Sadewa di SMA Antaraksa. Bagaimana tidak, banner-banner berisikan wajahnya kan sering sekali terpampang di setiap sudut sekolah.
Latte perlahan mundur, tanpa pamit gadis itu keluar dari ruang UKS, merasa menjadi obat nyamuk di sana.
Beberapa detik kemudian, Rega mencari-cari Latte, menyadari gadis itu tidak terlihat. Pemuda itu tidak mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan ketiga gadis yang fi hadapannya.
"Aku butuh istirahat." Ucap Rega akhirnya kepada ketiga gadis di hadapannya setelah memastikan Latte tidak ada di ruangan itu lagi. Dia merasa risih dengan keberadaan Ratih, Putri dan Sekar di sana.
Kalau tidak bersama Latte, sendiri lebih baik dari pada dikerumuni ketiga gadis berisik itu, pikirnya.
"Ah, benar juga, kamu pasti butuh istirahat." Ucap Ratih memahami. "Aku harap kamu lekar membaik ya Rega, dan tidak ada masalah yang lebih serius lagi."
Putri dan Sekar mengangguk, kemudian ketiga gadis itu pamit undur diri.
Sekali lagi Rega menatap langit-langit ruang UKS. tinjunya terkepal mengingat siapa yang mungkin menjadi dalang di balik kelakuan Mike padanya.