
Pukul 3 sore pertandingan kedua
Univesitas Antaraksa sedang berlangsung. Kali ini lawan mereka adalah SMA YYY.
Bukan tim yang sulit untuk dihadapi, terlebih lagi Ace mereka mengalami cidera dari pertandingan sebelumnya sehingga
tidak dapat bemain.
Latte melompat, memasukan bola ke
dalam ring sekali lagi. Ini sudah ke sembilan kalinya ia mencetak three point.
Membuat selisih skor semakin jauh, 44-21.
Pemain lawan sudah terlihat pasrah.
Mereka sudah tidak bersemangat. Pertahanan dan penyerangan mereka seadanya,
membuat tim Renjana mudah sekali merebut bola dan mencetak angka.
Latte berlari ke pinggir lapangan,
mendekat pada Galuh.
“Coach,
ganti aku!” Serunya. Galuh menatapnya bingung. Tidak bisanya Latte meminta
pengantian pemain, terlebih lagi ini baru kuarter ketiga. Namun, Galuh
mengangguk juga dan menganti Latte dengan Annisa.
“Tidak biasanya kamu meminta ganti.
Sudah kelelahan?” Tanya Galuh ketika Latte menjatuhkan dirinya, duduk bersandar
pada dinding tribun.
Latte menggeleng. “Aku tidak suka
permainan mereka. Aku tidak mau bermain melawan tim yang seperti itu.”
Galuh menatap Latte, lalu mengangguk.
Sebagai mantan atlit basket, ia mengerti perasaan Latte saat ini.
“Mereka sudah tidak ada semangat juang
dan ambisi sejak awal dimulainya pertandingan. Mereka jadi selemah itu hanya
karena Ace mereka tidak main. Aku
benci tim seperti itu!” Latte terlihat Kesal. “Mereka bergantung pada Ace mereka dan tidak mau berusaha
sendiri. Menyedihkan.”
Galuh tersenyum, ia menepuk pelan
punggung Latte sembari memberi gadis itu minum. “Sudah-sudah. Nanti kalau ada
yang dengar bahaya loh.”
Latte mengangguk. Ia menerima minum dari
Galuh dan menghabiskan hampir setengah botol. Ia meraih tasnya, mengecek pesan
yang masuk, berharap ada pesan dari Rega. Tetapi, tidak ada satupun pesan yang
masuk dari pemuda itu.
“Coach,
sudah dapat kabar dari Rega?” Tanya Latte. “Kapan dia akan menyusul?”
Galuh menggeleng. “Mungkin dia sedang
sibuk. Nanti juga dia pasti datang.” Galuh kembali fokus pada pertandingan di
lapangan.
Naomi yang duduk di dekat Latte
mendengar pertanyaan gadis itu. Gadis itu sedang tidak bermain. Ia baru saja diganti
di awal kuarter ketiga oleh Icha.
Naomi
menyikut pelan lengan Latte, tersenyum menggoda tanpa mengatakan apapun. Latte
tersenyum bingung, memasang wajah seolah tidak mengerti.
Dua puluh menit kemudian peluit berbunyi, menandakan pertandingan
sudah berakhir dengan skor 51-23. SMA Antariksa maju ke babak selanjutnya.
Tim serentak berbaris, saling bersalaman dengan tim lawan. Sebagai
pemenang mereka membungkuk bersama. Memberikan salam penghormatan kepada para
pendukung dan penonton lalu di foto untuk dokumentasi.
Sebelum pulang Galuh mengumpulkan tim Renjana di bagian belakang
gedung olahraga. Memberikan evaluasi pertandingan hari ini. Pelatih muda itu
mengamati wajah setiap pemain. Tidak ada satu pun ekspresi senang ataupun puas
dari mereka. Galuh mengerti alasannya. Mereka semua merasakan hal yang sama
dengan Latte, bahkan dirinya pun bisa merasakannya.
“Pertandingan kali ini gak seru. Kalau boleh jujur aku kecewa sama
tim lawan.” Ucap Keysha. “Mereka tidak ada semangat sama sekali. Rasanya
seperti main basket melawan zombie.”
Pemain lain mengangguk setuju. Galuh menegur mereka halus,
menyuruh mereka untuk menjaga ucapan. Takut-takut ada yang dengar dan
tersinggung.
“Yang penting kita sudah berikan permainan terbaik, siapapun lawan
kita.” Ucap Galuh. Pelatih itu menoleh pada Latte. “Latte, Coach kecewa dengan sikap kamu tadi yang meminta ganti pemain
tiba-tiba dengan alasan seperti itu.”
Latte menunduk, menyadari kesalahannya. Barusan ia memang sangat
kesal dengan permainan serampangan lawannya, tapi saat pikirannya sudah mulai
jernih. Ia menyadari tindakannya itu tidak tepat.
“Kata tidak boleh membeda-bedakan lawan seperti itu. Siapapun
lawan kita, kita tidak boleh meremehkan mereka dan bermain setengah-setengah.
Kalian sendiri tidak suka kan jika lawan kalian bermain dengan
setengah-setengah seperti barusan?”
“Sebenarnya aku bukannya meremehkan mereka aku hanya merasa
kesal.” Jelas Latte. ”Tapi aku tahu, itu
juga tidak bisa menjadi alasan untuk membenarkan tindakanku barusan. Aku salah.
Maaf.”
Galuh mengangguk. Mengerti. Adiba meraih tangan Latte. Mengelus
pelan punggung tangannya. Latte menoleh pada Adiba. Gadis itu tersenyum
mengerti. Latte balas tersenyum.
“Ingat apa yang selalu aku katakan? Saat berada di lapangan, hanya
hati yang boleh panas. Ini..” Galuh menunjuk kepalanya.
“Harus selalu dingin. Ya. Ya.” Lanjut Eva dan yang lainnya
serentak, memotong ucapan Galuh. Galuh melotot kesal, tetapi kemudian tersenyum
juga.
“Evaluasi cukup sampai sini. Over all, Kalian sudah bermain dengan
baik.” Galuh bertepuk tangan pelan, membuat gadis-gadis itu tersenyum dan ikut
bertepuk tangan. Memberikan apresiasi pada diri mereka sendiri.
***
Masih merasa kesal dengan pertandingan
kemarin. Eva mengajak Latte dan yang lain pengunjungi festival makanan yang
sedang digelar di ibu kota selama seminggu ini. Lokasinya tidak jauh dari hotel
mereka menginap. Mungkin hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai dengan
menggunakan mobil.
Kebetulan hari ini tim Renjana tidak
ada jadwal pertandingan. Galuh menyetujui ide tersebut dengan cepat. “Sekaian
refreshing” katanya. Mereka bersama-sama berangkat pukul tiga sore dari hotel.
Festival makann baru akan di buka sore hari hingga malam nanti.
Saat mereka tiba. Alun-alun kota
tempat diadakannya festival makanan tersebut sudah di penuhi pengunjung. Eva
memutuskan untuk berpencar. Membagi menjadi beberapa kelompok. Latte pergi
bersama Adiba dan Keysha. Mereka mengunjungi stand aneka dessert yang terbuat dari buah-buah lokal terlebih dahulu.
“Yang ini enak, coba deh” Beritahu
Adiba. Ia menyuapi sesendok puding berwarna kuning kehijauan pada Latte.
Latte mengangguk. Merasakan rasa manis
yang menyegarkan memenuhi rongga mulutnya.
“Aku mau beli yang ini juga deh. Um
tertulis di sini terbuat dari belimbing wuluh.” Adiba membaca tulisan pada bagian
samping wadah puding tersebut. Ia memberitahu penjaga standnya bahwa ia ingin
memberi tiga puding dengan tiga varian yang berbeda.
Latte mendengar sayup-sayup seseorang
tenda-tenda makanan. Latte berniat mengajak Keysha dan Adiba mengunjungi stand
aneka kopi itu, tetapi kedua gadis itu masih sibuk mencicipi berbagai dessert
yang tersaji di atas meja stand. Keysha bahkan terlihat fokus. Gadis berambut
dicat merah itu sedang memutuskan yang mana yang harus dia beli diantara dua
potong kue. Lagipula seingat Latte, mereka tidak begitu menyukai minuman dengan
cita rasa yang khas itu.
“Aku ke stand kopi dulu ya.”
Beritahunya pada Adiba sambil menepuk pelan lengan gadis itu. Adiba mengangguk.
Standkopi
cukup ramai. Kebanyakan pengunjungnya adalah laki-laki. Dari usia remaja hingga
lanjut usia. Latte dapat melihat di salah satu sisi stand, seorang kakek dengan
rambut yang hampir putih semua, sedang bercerita pada penjaga stand kopi tersebut pengalamannya
tentang biji-biji kopi yang pernah dia
cicipi. Biji-biji itu berasal dari berbagai tempat, baik dalam maupun luar
negeri.
Penjaga Stand itu mendengarkan dengan sabar. Sesekali
memberikan komentar memuji. Membuat kakek itu bercerita lebih panjang lagi.
Rekan di sebelahnya tersenyum geli sambil bersyukur bukan dia yang diajak
bicara kakek itu.
“Halo Nona, suka kopi jenis apa?”
tanya seorang penjaga Stand yang lain. Seorang pemuda berkulit hitam manis
dengan senyum yang menawan. Pemuda itu terlihat seusia Latte. Paling muda
diantara yang lain.
“Aku tidak tahu banyak soal
jenis-jenis kopi.” Beritahu Latte. “Tapi aku suka Latte.”
Pemuda penjaga stand itu tersenyum.
“Kami punya beberapa varian minuman Latte yang di buat dari biji-biji kopi terbaik
dari berbagai tempat di Indonesia. Minuman-minuman ini cukup populer dikalangan
pecinta kopi manis Mau mencicipi?”
“Mau mau.” Jawab Latte sambil
mengangguk antusias. Mana mungkin ia menolak tawaran seperti itu. Pemuda itu
tertawa pelan. Lalu menyuru Latte mengikutinya ke meja lain di sisi stand yang
lain.
Di meja stand itu terdapat banyak sekali termos dengan berbagai label.
Setiap termos berisi kopi yang berbeda-beda. Pemuda itu mengambil beberapa
termos, lalu menuangkan isi salah satu termos pada cangkir plastik berwarna
putih dan memberikannya pada Latte untuk dicicipi.
Gadis itu meniup pelan kopi tersebut
sebelum meminumnya. “Rasanya sedikit asam.” Komentarnya.
Pemuda itu menuangkan kopi dari termos
yang lain lalu menambahkan sesendok caramel di atas kopi tersebut. “Coba yang
ini. Kalau kamu suka rasa kopi yang manis, ini sangat cocok.” Ucap pemuda itu.
Dia menyodorkan cangkir.
Latte menerima cangkir tersebut dengan senang.
Gadis itu menyesap kopinya perlahan agar tidak membakar lidahnya. Kemudian ia
tersenyum sambil memejamkan matanya. “Hemm perfecto.” Ucapnya yang membuat
pemuda penjaga stand itu tertawa.
“Aku mau beli yang ini. Kopinya enak
sekali.” Beritahunya, “ah dan juga tolong tambahkan satu bungkus biji kopi yang
cocok untuk membuat espresso.” Latte seketika menambahkan ketika ia teringat
pada Rega yang menyukai Espresso.
Pemuda itu mengangguk. “Tunggu
sebentar, saya ambilkan.” Kemudian pemuda itu kembali ke stand sebelumnya yang
ada di seberang sana, beberapa meter dari tempat Latte duduk. Latte melihat
pemuda itu sedang mencari-cari di antara tumpukan dus.
Latte merasakan sesuatu yang aneh dari
sisi kirinya. Arah jam sepuluh. Gadis itu menoleh, mendapati seorang pemuda
sedang menatapnya intens. Penampilan pemuda itu kacau, rambutnya berantakan dan
bajunya terlihat kusut. Dia berdiri di dekat bagian depan stand. Bersandar pada
tiang penyangga tenda. Ketika mata mereka bertemu. Pemuda itu mengedipkan
sebelah matanya pada Latte. Latte melotot. Terkejut. Buru-buru ia mengalihkan
pandangan.
Pemuda penjaga stand itu kembali,
menyerahkan paper bag berwarna abu-abu yang cantik berisi pesanan Latte.” Bayarnya
di kasir ya. Sebelah sana.” Beritahu pemuda itu.
Latte mengangguk. Berjalan mengikuti
arah yang ditunjuk penjaga stand tersebut. Dia nenyerahkan sejumlah uang lalu
beranjak. Gadis itu dapat mendengar siulan ketika ia melewati laki-laki
berantakan yang mengedipkan matanya pada Latte. Dia juga dapat merasakan
tatapan intens pemuda itu. Mengikuti arah geraknya.
Latte kembali ke stand dessert yang
sebelumnya ia kunjungi, tap gadois itu tidak bisa menemukan Adiba maupun Kesya
di sana. Akhirnya Latte memutuskan untuk pergi ke gerbang masuk, tempat mereka
berjanji akan bertemu setelah belanja, tapi tidak ada siapapun di sana. Tidak
ada satupun temannya yang dapat dihubungi.
Latte menyadari seseorang menatapnya
dari belakang, Gadis itu berbalik, mendapati pemuda berantakan itu menatapnya
sambil tersenyum mengerikan. Latte berbalik cepat, mencoba mencari teman-temannya
lagi.
Gadis itu mencoba mencari mereka ke
setiap stand-stand makanan. Satu persatu stand ia kunjungi, tapi tidak satupun
teman setimnya yang bisa ia temukan. Belum lagi pengunjung festival semakin
banyak, mencari temen-temannya jadi semakin sulit. Gadis itu mulai panik, ia
merasa ada yang mengikutinya sedari tadi.
Gadis itu melirik ke belakang. Benar
saja, ia bisa melihat pemuda berantakan itu. Latte berjalan lebih cepat. Ia
bisa mendengar langkah kaki pemuda itu di belakangnya. Mengikutinya. Ganis itu
panik. Tanpa sadar Dia berjalan terlalu jauh, keluar dari festival makanan.
Menuju jalanan yang jauh lebih sepi.
Ketika sadar ia berada di lingkungan
yang lebih sepi, Latte menambah kecepatan langkahnya. Hampir berlari. Ia bisa
merasakan, langkah laki-laki di belakangnya juga jadi lebih cepat.
Menyeimbangkan langkahnya.
“Tipeku, benar-benar tipeku. Ah cantik
sekali, aku tidak tahan melihatnya.” Latte bisa mendengar suara serak lelaki
itu di belakangnya. Laki-laki itu berbicara dengan suara lantang. Seolah-seolah
sengaja agar Latte dapat mendengarnya. Perkataan laki-laki itu membuat Latte merinding.
Gadis itu berusaha keras agar tidak menangis.
Berbagai pikiran berkecamuk di otaknya.
Bagaimana jika laki-laki ini punya niat jahat kepadanya? Bagaimana jika dia
ingin melakukan kekerasan seksual? Bagaimana jika dia diperkosa lalu dibunuh
dan dimutilasi? Bukankah hal seperti itu sering terjadi? Latte sering
melihatnya di berita.
Latte dapat mendengar langkah kaki
dibelakangnya semakin mendekat. Gadis itu sekarang berlari. Laki-laki di belakangnya juga ikut berlari.
Berlari lebih cepat darinya. Latte berdoa dalam hati. Berharap laki-laki itu
tidak dapat menyusulnya.
Tiba-tiba Latte merasakan tangannya di tarik dari belakang. Gadis
itu menjerit. Menutup matanya.Ketakutan.