ELEVEN

ELEVEN
Twenty



Pukul 3 sore pertandingan kedua


Univesitas Antaraksa sedang berlangsung. Kali ini lawan mereka adalah SMA YYY.


Bukan tim yang sulit untuk dihadapi, terlebih lagi Ace mereka mengalami cidera dari pertandingan sebelumnya sehingga


tidak dapat bemain.


Latte melompat, memasukan bola ke


dalam ring sekali lagi. Ini sudah ke sembilan kalinya ia mencetak three point.


Membuat selisih skor semakin jauh, 44-21.


Pemain lawan sudah terlihat pasrah.


Mereka sudah tidak bersemangat. Pertahanan dan penyerangan mereka seadanya,


membuat tim Renjana mudah sekali merebut bola dan mencetak angka.


Latte berlari ke pinggir lapangan,


mendekat pada Galuh.


“Coach,


ganti aku!” Serunya. Galuh menatapnya bingung. Tidak bisanya Latte meminta


pengantian pemain, terlebih lagi ini baru kuarter ketiga. Namun, Galuh


mengangguk juga dan menganti Latte dengan Annisa.


“Tidak biasanya kamu meminta ganti.


Sudah kelelahan?” Tanya Galuh ketika Latte menjatuhkan dirinya, duduk bersandar


pada dinding tribun.


Latte menggeleng. “Aku tidak suka


permainan mereka. Aku tidak mau bermain melawan tim yang seperti itu.”


Galuh menatap Latte, lalu mengangguk.


Sebagai mantan atlit basket, ia mengerti perasaan Latte saat ini.


“Mereka sudah tidak ada semangat juang


dan ambisi sejak awal dimulainya pertandingan. Mereka jadi selemah itu hanya


karena Ace mereka tidak main. Aku


benci tim seperti itu!” Latte terlihat Kesal. “Mereka bergantung pada Ace mereka dan tidak mau berusaha


sendiri. Menyedihkan.”


Galuh tersenyum, ia menepuk pelan


punggung Latte sembari memberi gadis itu minum. “Sudah-sudah. Nanti kalau ada


yang dengar bahaya loh.”


Latte mengangguk. Ia menerima minum dari


Galuh dan menghabiskan hampir setengah botol. Ia meraih tasnya, mengecek pesan


yang masuk, berharap ada pesan dari Rega. Tetapi, tidak ada satupun pesan yang


masuk dari pemuda itu.


“Coach,


sudah dapat kabar dari Rega?” Tanya Latte. “Kapan dia akan menyusul?”


Galuh menggeleng. “Mungkin dia sedang


sibuk. Nanti juga dia pasti datang.” Galuh kembali fokus pada pertandingan di


lapangan.


Naomi yang duduk di dekat Latte


mendengar pertanyaan gadis itu. Gadis itu sedang tidak bermain. Ia baru saja diganti


di awal kuarter ketiga oleh Icha.


Naomi


menyikut pelan lengan Latte, tersenyum menggoda tanpa mengatakan apapun. Latte


tersenyum bingung, memasang wajah seolah tidak mengerti.


Dua puluh menit kemudian peluit berbunyi, menandakan pertandingan


sudah berakhir dengan skor 51-23. SMA Antariksa maju ke babak selanjutnya.


Tim serentak berbaris, saling bersalaman dengan tim lawan. Sebagai


pemenang mereka membungkuk bersama. Memberikan salam penghormatan kepada para


pendukung dan penonton lalu di foto untuk dokumentasi.


Sebelum pulang Galuh mengumpulkan tim Renjana di bagian belakang


gedung olahraga. Memberikan evaluasi pertandingan hari ini. Pelatih muda itu


mengamati wajah setiap pemain. Tidak ada satu pun ekspresi senang ataupun puas


dari mereka. Galuh mengerti alasannya. Mereka semua merasakan hal yang sama


dengan Latte, bahkan dirinya pun bisa merasakannya.


“Pertandingan kali ini gak seru. Kalau boleh jujur aku kecewa sama


tim lawan.” Ucap Keysha. “Mereka tidak ada semangat sama sekali. Rasanya


seperti main basket melawan zombie.”


Pemain lain mengangguk setuju. Galuh menegur mereka halus,


menyuruh mereka untuk menjaga ucapan. Takut-takut ada yang dengar dan


tersinggung.


“Yang penting kita sudah berikan permainan terbaik, siapapun lawan


kita.” Ucap Galuh. Pelatih itu menoleh pada Latte. “Latte, Coach kecewa dengan sikap kamu tadi yang meminta ganti pemain


tiba-tiba dengan alasan seperti itu.”


Latte menunduk, menyadari kesalahannya. Barusan ia memang sangat


kesal dengan permainan serampangan lawannya, tapi saat pikirannya sudah mulai


jernih. Ia menyadari tindakannya itu tidak tepat.


“Kata tidak boleh membeda-bedakan lawan seperti itu. Siapapun


lawan kita, kita tidak boleh meremehkan mereka dan bermain setengah-setengah.


Kalian sendiri tidak suka kan jika lawan kalian bermain dengan


setengah-setengah seperti barusan?”


“Sebenarnya aku bukannya meremehkan mereka aku hanya merasa


kesal.” Jelas Latte. ”Tapi  aku tahu, itu


juga tidak bisa menjadi alasan untuk membenarkan tindakanku barusan. Aku salah.


Maaf.”


Galuh mengangguk. Mengerti. Adiba meraih tangan Latte. Mengelus


pelan punggung tangannya. Latte menoleh pada Adiba. Gadis itu tersenyum


mengerti. Latte balas tersenyum.


“Ingat apa yang selalu aku katakan? Saat berada di lapangan, hanya


hati yang boleh panas. Ini..” Galuh menunjuk kepalanya.


“Harus selalu dingin. Ya. Ya.” Lanjut Eva dan yang lainnya


serentak, memotong ucapan Galuh. Galuh melotot kesal, tetapi kemudian tersenyum


juga.


“Evaluasi cukup sampai sini. Over all, Kalian sudah bermain dengan


baik.” Galuh bertepuk tangan pelan, membuat gadis-gadis itu tersenyum dan ikut


bertepuk tangan. Memberikan apresiasi pada diri mereka sendiri.


***


Masih merasa kesal dengan pertandingan


kemarin. Eva mengajak Latte dan yang lain pengunjungi festival makanan yang


sedang digelar di ibu kota selama seminggu ini. Lokasinya tidak jauh dari hotel


mereka menginap. Mungkin hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai dengan


menggunakan mobil.


Kebetulan hari ini tim Renjana tidak


ada jadwal pertandingan. Galuh menyetujui ide tersebut dengan cepat. “Sekaian


refreshing” katanya. Mereka bersama-sama berangkat pukul tiga sore dari hotel.


Festival makann baru akan di buka sore hari hingga malam nanti.


Saat mereka tiba. Alun-alun kota


tempat diadakannya festival makanan tersebut sudah di penuhi pengunjung. Eva


memutuskan untuk berpencar. Membagi menjadi beberapa kelompok. Latte pergi


bersama Adiba dan Keysha. Mereka mengunjungi stand aneka dessert yang terbuat dari buah-buah lokal terlebih dahulu.


“Yang ini enak, coba deh” Beritahu


Adiba. Ia menyuapi sesendok puding berwarna kuning kehijauan pada Latte.


Latte mengangguk. Merasakan rasa manis


yang menyegarkan memenuhi rongga mulutnya.


“Aku mau beli yang ini juga deh. Um


tertulis di sini terbuat dari belimbing wuluh.” Adiba membaca tulisan pada bagian


samping wadah puding tersebut. Ia memberitahu penjaga standnya bahwa ia ingin


memberi tiga puding dengan tiga varian yang berbeda.


Latte mendengar sayup-sayup seseorang


tenda-tenda makanan. Latte berniat mengajak Keysha dan Adiba mengunjungi stand


aneka kopi itu, tetapi kedua gadis itu masih sibuk mencicipi berbagai dessert


yang tersaji di atas meja stand. Keysha bahkan terlihat fokus. Gadis berambut


dicat merah itu sedang memutuskan yang mana yang harus dia beli diantara dua


potong kue. Lagipula seingat Latte, mereka tidak begitu menyukai minuman dengan


cita rasa yang khas itu.


“Aku ke stand kopi dulu ya.”


Beritahunya pada Adiba sambil menepuk pelan lengan gadis itu. Adiba mengangguk.


Standkopi


cukup ramai. Kebanyakan pengunjungnya adalah laki-laki. Dari usia remaja hingga


lanjut usia. Latte dapat melihat di salah satu sisi stand, seorang kakek dengan


rambut yang hampir putih semua, sedang bercerita pada penjaga stand kopi tersebut pengalamannya


tentang biji-biji kopi  yang pernah dia


cicipi. Biji-biji itu berasal dari berbagai tempat, baik dalam maupun luar


negeri.


 Penjaga Stand itu mendengarkan dengan sabar. Sesekali


memberikan komentar memuji. Membuat kakek itu bercerita lebih panjang lagi.


Rekan di sebelahnya tersenyum geli sambil bersyukur bukan dia yang diajak


bicara kakek itu.


“Halo Nona, suka kopi jenis apa?”


tanya seorang penjaga Stand yang lain. Seorang pemuda berkulit hitam manis


dengan senyum yang menawan. Pemuda itu terlihat seusia Latte. Paling muda


diantara yang lain.


“Aku tidak tahu banyak soal


jenis-jenis kopi.” Beritahu Latte. “Tapi aku suka Latte.”


Pemuda penjaga stand itu tersenyum.


“Kami punya beberapa varian minuman Latte yang di buat dari biji-biji kopi terbaik


dari berbagai tempat di Indonesia. Minuman-minuman ini cukup populer dikalangan


pecinta kopi manis Mau mencicipi?”


“Mau mau.” Jawab Latte sambil


mengangguk antusias. Mana mungkin ia menolak tawaran seperti itu. Pemuda itu


tertawa pelan. Lalu menyuru Latte mengikutinya ke meja lain di sisi stand yang


lain.


     Di meja stand itu terdapat banyak sekali termos dengan berbagai label.


Setiap termos berisi kopi yang berbeda-beda. Pemuda itu mengambil beberapa


termos, lalu menuangkan isi salah satu termos pada cangkir plastik berwarna


putih dan memberikannya pada Latte untuk dicicipi.


Gadis itu meniup pelan kopi tersebut


sebelum meminumnya. “Rasanya sedikit asam.” Komentarnya.


Pemuda itu menuangkan kopi dari termos


yang lain lalu menambahkan sesendok caramel di atas kopi tersebut. “Coba yang


ini. Kalau kamu suka rasa kopi yang manis, ini sangat cocok.” Ucap pemuda itu.


Dia menyodorkan cangkir.


 Latte menerima cangkir tersebut dengan senang.


Gadis itu menyesap kopinya perlahan agar tidak membakar lidahnya. Kemudian ia


tersenyum sambil memejamkan matanya. “Hemm perfecto.” Ucapnya yang membuat


pemuda penjaga stand itu tertawa.


“Aku mau beli yang ini. Kopinya enak


sekali.” Beritahunya, “ah dan juga tolong tambahkan satu bungkus biji kopi yang


cocok untuk membuat espresso.” Latte seketika menambahkan ketika ia teringat


pada Rega yang menyukai Espresso.


Pemuda itu mengangguk. “Tunggu


sebentar, saya ambilkan.” Kemudian pemuda itu kembali ke stand sebelumnya yang


ada di seberang sana, beberapa meter dari tempat Latte duduk. Latte melihat


pemuda itu sedang mencari-cari di antara tumpukan dus.


Latte merasakan sesuatu yang aneh dari


sisi kirinya. Arah jam sepuluh. Gadis itu menoleh, mendapati seorang pemuda


sedang menatapnya intens. Penampilan pemuda itu kacau, rambutnya berantakan dan


bajunya terlihat kusut. Dia berdiri di dekat bagian depan stand. Bersandar pada


tiang penyangga tenda. Ketika mata mereka bertemu. Pemuda itu mengedipkan


sebelah matanya pada Latte. Latte melotot. Terkejut. Buru-buru ia mengalihkan


pandangan.


Pemuda penjaga stand itu kembali,


menyerahkan paper bag berwarna abu-abu yang cantik berisi pesanan Latte.” Bayarnya


di kasir ya. Sebelah sana.” Beritahu pemuda itu.


Latte mengangguk. Berjalan mengikuti


arah yang ditunjuk penjaga stand tersebut. Dia nenyerahkan sejumlah uang lalu


beranjak. Gadis itu dapat mendengar siulan ketika ia melewati laki-laki


berantakan yang mengedipkan matanya pada Latte. Dia juga dapat merasakan


tatapan intens pemuda itu. Mengikuti arah geraknya.


Latte kembali ke stand dessert yang


sebelumnya ia kunjungi, tap gadois itu tidak bisa menemukan Adiba maupun Kesya


di sana. Akhirnya Latte memutuskan untuk pergi ke gerbang masuk, tempat mereka


berjanji akan bertemu setelah belanja, tapi tidak ada siapapun di sana. Tidak


ada satupun temannya yang dapat dihubungi.


Latte menyadari seseorang menatapnya


dari belakang, Gadis itu berbalik, mendapati pemuda berantakan itu menatapnya


sambil tersenyum mengerikan. Latte berbalik cepat, mencoba mencari teman-temannya


lagi.


Gadis itu mencoba mencari mereka ke


setiap stand-stand makanan. Satu persatu stand ia kunjungi, tapi tidak satupun


teman setimnya yang bisa ia temukan. Belum lagi pengunjung festival semakin


banyak, mencari temen-temannya jadi semakin sulit. Gadis itu mulai panik, ia


merasa ada yang mengikutinya sedari tadi.


Gadis itu melirik ke belakang. Benar


saja, ia bisa melihat pemuda berantakan itu. Latte berjalan lebih cepat. Ia


bisa mendengar langkah kaki pemuda itu di belakangnya. Mengikutinya. Ganis itu


panik. Tanpa sadar Dia berjalan terlalu jauh, keluar dari festival makanan.


Menuju jalanan yang jauh lebih sepi.


Ketika sadar ia berada di lingkungan


yang lebih sepi, Latte menambah kecepatan langkahnya. Hampir berlari. Ia bisa


merasakan, langkah laki-laki di belakangnya juga jadi lebih cepat.


Menyeimbangkan langkahnya.


“Tipeku, benar-benar tipeku. Ah cantik


sekali, aku tidak tahan melihatnya.” Latte bisa mendengar suara serak lelaki


itu di belakangnya. Laki-laki itu berbicara dengan suara lantang. Seolah-seolah


sengaja agar Latte dapat mendengarnya. Perkataan laki-laki itu membuat Latte merinding.


Gadis itu berusaha keras agar tidak menangis.


 Berbagai pikiran berkecamuk di otaknya.


Bagaimana jika laki-laki ini punya niat jahat kepadanya? Bagaimana jika dia


ingin melakukan kekerasan seksual? Bagaimana jika dia diperkosa lalu dibunuh


dan dimutilasi? Bukankah hal seperti itu sering terjadi? Latte sering


melihatnya di berita.


Latte dapat mendengar langkah kaki


dibelakangnya semakin mendekat. Gadis itu sekarang berlari.  Laki-laki di belakangnya juga ikut berlari.


Berlari lebih cepat darinya. Latte berdoa dalam hati. Berharap laki-laki itu


tidak dapat menyusulnya.


Tiba-tiba Latte merasakan tangannya di tarik dari belakang. Gadis


itu menjerit. Menutup matanya.Ketakutan.