
September, 2019
BRAKK!
Adelaine mengembrak meja. Membuat mata para pengunjung kedai kopi di pinggir jalan Magdalene Street, Cambridge. Sontak melihat ke arah gadis remaja berusia belasan tahun itu.
Rega yang duduk di hadapan gadis itu pun tersentak kaget.
“Apa-apaan pemain bernama Ellena itu. Licik sekali dia!” Komentar Adelaine.
Beberapa saat lalu gadis itu masih tenang mendengarkan cerita Rega namun tampaknya gadis itu terlalu terhanyut dalam cerita hingga tidak menyadari dimana dia berada.
Adelaine langsung tersipu malu ketika menyadari apa yang baru saja dia lakukan.
Rega hanya tersenyum geli.
“Bagaimana mungkin wasit tidak mengeluarkan dia dari lapangan!” Lanjut Adelaine, kali ini dengan suara yang lebih pelan.
Rega menyeruput habis latte di dalam cangkirnya. Setelah itu dia dengan tenang meletakan secangkir gelas tersebut. “Ya begitulah.” Jawabnya.
Adelaine masih tampak tidak setuju. Rega membiarkan gadis itu menggerutu sendirian. Sementara Adelaine melampiaskan kekesalannya, Rega menatap keluar jendala.
Jalanan di kota Cambridge sore itu mulai padat. Wajar saja sebentar lagi masuk jam pulang kantor. Kendaraan dengan berbagai bentuk dan warna berlalu lalang. Suara klakson mobil terdengar sayup-sayup.
Dia ingat dengan jelas keadaan Latte saat itu, meski sudah lebih dari empat tahun yang lalu. Hatinya begitu marah melihatnya. Seandainya dia tidak cukup berpikir dingin saat itu mungkin Rega telah menarik kerah jersey Ellena dan tanpa pandang buluh, melampiskan amarahnya.
“Lalu apa yang terjadi?” Tanya Adelaine setelah puas mengumpat sendirian dengan suara pelan. “Apakah akhirnya tim Renjana bisa menang tanpa Latte?”
Rega tersenyum. “Kamu harus sabar mendengarkan kelanjutan kisahnya untuk menjawab pertanyaan itu.”
Adelaine mengangguk. Meskipun penasaran dengan hasil pertandingan, tetapi dia sangat menikmati kisah manis yang diceritakan Rega padanya. Walau gadis itu mungkin tidak tahu, akhir seperti apa yang akan terjadi kepada dua insan manusia itu.
***
Jakarta, 2015
Rega menatap langit-langit ruangan berukuran 3x4 meter persegi yang di dominasi warna putih itu. Tidak ada banyak benda di ruangan itu. Hanya ada ranjang rumah sakit dengan seprai putih dan sebuah kursi kayu coklat dan sebuah meja bedside dengan warna senada di sisi ranjang.
Latte menempati salah satu ranjang.
Pelipisnya sudah diperban dan darah dari hidungnya sudah berhenti mengalir keluar. Namun gadis itu masih tidak sadarkan diri.
Ia menghela nafas, mencoba melegakan dadanya yang terasa seperti sedang di tekan benda berat. Ia juga merasakan matanya panas dan berair.
Dia perpikir, mungkinkah saat ini dia sedang menahan tangis? Yang Rega tahu pasti, dia tengah merasakan berbagai macam emosi bercampur aduk. Dia merasa marah, sedih, dan takut.
Marco yang ikut menunggu di ruang kesehatan, duduk diam sambil mengepalkan kedua tangannya. Dia juga tengah mencoba berdamai dengan emosinya.
Beberapa saat berlalu dengan keheningan.
Hanya terdengar detik jam dinding yang tergantung di dinding putih polos ruangan itu. Namun tepat ketika jarum panjang jam mencapai angka 12, Rega dan Marco dapat mendengar mendengar suara-suara penonton kembali bersorak-sorak. Sepertinya pertandingan sudah dimulai kembali.
“Bukankah lo harus kembali ke lapangan ya?” Tanya Marco. “Pertandingan sudah kembali dianjutkan sepertinya.”
Rega menggeleng, “Gue disini aja, gue mau jag—“
“Marco benar.” Ucapan Rega terpotong oleh suara lemah Latte. Kedua pemuda itu segera mendekat.
Latte telah membuka matanya, gadis itu mencoba duduk tetapi ia segera mengerang kesakitan ketika mencoba menggerakan kaki kanannya.
“Kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?”
Latte tersenyum, “Aku tidak apa-apa, hanya saja kaki kananku terasa sakit saat di gerakan.”
“Dokter bilang kemungkinan kaki kananmu mengalami retak tulang.” Beritahu Marco pelan. Pemuda itu menatap Latte iba.
Latte diam sejenak. Kabar yang baru di dengarnya jelas bukan kabar yang ingin didengarnya. Terutama disaat seperti ini ketika dia seharusnya berada di lapangan, bertanding untuk mengharumkan nama SMA Antaraksa.
Rega menatap Latte khawatir. Pemuda itu berpikir gadis itu mungkin menangis ketika dia menundukan kepala. Namun kemudian gadis itu mengangkat kepalanya dan tersenyum masam. “Sepertinya aku tidak bisa lanjut bermain di sisa pertandingan.” Gadis itu berpaling pada Rega. “Kamu harus kembali ke lapangan, tim membutuhkanmu.”
“Tapi—“
Latte tersenyum. Ia meraih tangan Rega, meremasnya. Marco yang berdiri di samping Rega menyadari hal tersebut. Ia menatap genggaman tangan Latte dan Rega tidak suka kemudian memalingkan mata. Mau tidak mau pemuda itu mengepalkan tangannya.
“Aku baik-baik saja. Lihat, aku masih bisa meremas tanganmu sekuat ini. Jadi kamu tidak perlu khawatir.”
“Tetap saja, Latte. Aku tidak bisa meninggalkanmu.”
“Kalau sampai kita kalah karena kamu tidak ada di sana, aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Ancam Latte. “Lagipula aku juga ga sendirian. Marco, kamu mau menemaniku kan?”
“Eh?” Pemuda itu kembali menoleh kemudian mengangguk. “Tentu saja.” Pemuda itu beralih pada Rega, “Udah sih, sana balik ke lapangan, sebelum terlambat.”
Rega menatap Latte ragu. Gadis itu tersenyum dan mengangguk meyakinkan.
Rega menghela nafas. “Yaudah, aku ke lapangan dulu ya.” Ucapnya pada Latte.
“Iya bawel.” Jawab Marco dengan nada jengkel yang membuat Latte tersenyum geli.
Sebenarnya dia tidak suka meninggalkan Latte bersama Marco. Terutama dari sekian juta penduduk di bumi, Marco merupakan seseorang yang paling tidak disukai Rega, namun pemuda itu tidak punya pilihan, suka tidak suka dia harus berada di sisi lapangan. Mengamati dan menganalisa petandingan lawan dan membuat strategi untuk mengalahakan lawan.
Rega menatap Latte sekali lagi sebelum pergi.
***
“Mereka pasti baik-baik saja kan tanpa aku?” tanya Latte pada Marco sepeningalan Rega.
Marco mengangguk yakin. “Tentu saja, rekan-rekanmu itu pemain yang hebat. Kamu harusnya yang lebih tahu itu.”
“Aku tahu, tapi cara Ellena bermain...” Kalimat Latte terpotong ketika ia merasakan telapak tangan hangat Marco di tangannya.
Marco meraih jemari Latte, meremasnya. Lelaki itu menyengir, “Jangan khawatir, teman-temanmu pasti dapat mengatasinya. Lagipula kalian punya ahli strategi yang hebat kan?”
Latte balik menatap Marco dan tersenyum. Pemuda itu benar.
“Mereka pasti menang.” Ucap Marco.
Latte mengangguk setuju. Namun perlahan gadis itu melepaskan genggaman tanganya pada Marco. Marco yang menyadari itu mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman di dadanya. Pemuda itu tersenyum masam.
“Oh iya, by the way.” Marco kemudian. Pemuda itu menatap Latte menyelidiki. “Kamu pacaran sama Rega?”
Pertanyaan Marco sontak membuat Latte melotot.
“Engga. Engga kok.” Bantahnya cepat.
“Untunglah.” Marco menghela nafas lega.
"Aku masih punya kesempatan.”
***
Galuh menatap papan skor menunjukan angka 41-39. Tim SMA Tanjung Nusa mulai mengejar kertertinggalan poin. Ketidakhadiran Latte dan Adiba dalam tim membuat penurunan besar baik dalam mode menyerang maupun bertahan tim Renjana.
Galuh melihat Keysha yang sedang berebut bola dengan pemain lawan bernomor punggung 55. Keysha memeluk bolanya lama hingga wasit meniupkan peluitnya. Emosi Gadis itu pasti sedang tidak stabil sehingga gadis itu bermain dengan kekanak-kanakan seperti itu.
“Mental tim tidak dalam keadaan baik karena kehilangan Latte dan Adiba.” Komentar Rega yang telah kembali ke lapangan.
Galuh mengangguk menyetujui. “Bagaimana kondisi Latte?”
“Barusan sebelum aku kembali ke sini dia sudah sadarkan diri.”
“Syukurlah.” Wajah pelatih muda itu telihat lebih cerah. Dia pasti sangat mengkhawatirkan Latte, pikir Rega.
Galuh segera mengembalikan fokusnya pada pertandingan. Saat ini bukan hanya pertandingan main-main, atau sekedar latihan gabungan.
Pertandingan ini sangat penting untuk mereka. Pertandingan final Liga Basket Nasional yang di selenggarakan setahun sekali. Ketidakhadiran dua pemain terbaik dalam tim di pertandingan sebergengsi ini jelas akan memberikan tekanan yang luar biasa.
Di akhir menit ke sepuluh skor imbang antara SMA Antaraksa dan SMA Tanjung Nusa, yaitu 43-43. Galuh meminta time out. Emosi dan mental timnnya perlu distabilkan segera jika mereka ingin menang.
“Berita baik, Latte sudah sadarkan diri.” Galuh membuka dengan kabar baik yang membuat wajah para pemain seketika menjadi cerah. Mereka segera mengucap syukur.”
“Tapi tidak ada waktu untuk bersantai, kalian dengarkan ini!” Wajah pelatih muda itu kembali serius.
“Kalian pasti sudah bosan mendengar petuah ini. Tapi ingatlah emosi hanya boleh ada di dalam hati, kepala kalian harus tetap dingin!” Galuh menghela nafas.
“Coba tenangkan diri kalian. Tarik nafas yang dalam. Kemudian ayo fokus! Ingat kita harus membawa piala ke hadapan Latte nanti.” Lanjut Galuh.
Kelima pemain itu menunduk. Mereka menarik nafas kemudian mengeluarkannya perlahan. Mereka sedang menstabilkan emosi yang meluap-luap. Galuh benar, semenjak kuarter 4 dimulai, mereka mereka bermain dengan lebih menggunakan emosi dari pada logika.
“Kita hanya punya sisa waktu lima menit dan saat ini skor imbang.” Beritahu Rega. Keysha dan Harwa melirik papan skor. Mereka menghela nafas sekali lagi.
“Saya punya strategi.” Rega menyuruh para pemain berdiri lebih merapat.
Pemuda itu mencoba menjelaskan strateginya dengan jelas dan mudah dimengerti. Kelima pemain yang bertanding serta pemain cadangan termasuk Adiba mendengarkan dengan seksama. Sesekali mereka mengangguk-angguk. Tanda bahwa mereka paham apa yang diucapkan Rega.
“Mari kita melakukan yang terbaik, mengeluarkan semua kemampuan kita di lima menit terakhir ini.” Rega mengakhiri kalimatnya.
“Coach.” Panggil Adiba. Gadis itu berdiri. “Biarkan aku juga bermain di lima menit terakhir ini. Aku rasa agar strategi Rega berjalan dengan baik, aku harus ikut bermain ”
Galuh melihat ke pergelangan tangan Adiba yang diperban. “Bagaimana dengan tanganmu?”
“Sudah baik-baik saja.” Gadis itu memutar pergelangan tangannya yang diperban. “Lihat kan?”
Galuh tampak menimbang-nimbang. Waktu berpikirnya tidak banyak waktu time out tidak tersisa banyak.
Sebenarnya dia tidak ingin memasukan pemain yang cedera untuk bermain di lapangan. Hanya saja saat ini keadaan sedang genting. Mereka hanya punya waktu lima menit. Lawan mereka adalah tim yang kuat, tanpa adanya Latte dan Adiba, kemenangan rasanya sangat jauh untuk diraih.
“Kamu yakin?”
Adiba mengangguk sekali. Dia akan tetap bermain, meskipun pergelangan tangannya terasa sakit, atau bergetar hebat, atau bahkan tidak dapat digunakan. Ia akan tetap berlari di lapangan dan membawa bola. Menembus pertahan lawan. Karena dia adalah small forward tim Renjana.