ELEVEN

ELEVEN
Thirteen



Puas bermain basket anak-anak itu berkumpul di pinggir lapangan. Duduk


kelelelahan.


Latte datang bersama Marco dan Rega, membawa box- box pizza dan


botol minuman soda.


“Hari ini kakak Marco yang traktir.” Beritahunya pada anak-anak


yang terlihat berseri-seri melihat makanan.


Kesembilan anak itu mengucapkan terimakasih kepada Marco lalu


dengan cepat mengambil potongan pizza, saling berebut potongan yang paling


besar.


Rega duduk mengamati Latte yang sedang asik makan dan mengobrol


dengan anak-anak itu.


“Lo ga makan?” tanya Marco. Lelaki itu mengambil tempat di sebelah


Rega.


Rega menggeleng. “Tidak.” Jawabnya singkat.


Marco menyeringai.  Menegguk


soda kalengan yang sedari tadi digenggamnya.


“Gue denger, lo jadi manager tim basket putri ya?”


Rega mengangguk sekali.


“Gue ga tau alasan lo sebenernya kenapa lo kesini di jam latihan


begini. Tapi gue Cuma mau ngasih tahu...” Marco menatap Rega yang dibalas


tatapan Rega. “Gue suka sama Charletta.”


Rega tersentak mendengarnya. Dia tidak menduga kalau Marco bisa


seterbuka itu terhadap perasaannya. Tanpa malu-malu ataupun ragu sedikitpun dia


mengatakan hal tersebut pada Rega yang bahkan bukan temannya.


“Kamu pacarnya?” tanya Rega setelah keterkejutannya hilang.


Marco kembali menyeringai. “Belum.” Jawabannya santai.  “Dia belum bisa move on dari cinta pertamanya.”


“Maksudnya Naruto?” tanya Rega.


Marco menatap Rega dengan ekpresi geli. “kenapa jadi Naruto?”


“Latte bilang cinta pertamanya itu Naruto, tokoh kartun.”


Marco tertawa, dia tidak habis pikir. “Dan lo percaya itu?”


Rega diam, merasa malu. Untuk gadis seunik Latte, dia bisa saja


mempercayai hal konyol seperti itu.


“Kamu pernah dengar nama Egar?”


Rega mengangguk. “Anak laki-laki yang mengajarinya main basket dengan benar.”


Marco mengangguk. “Egar itu cinta pertama Latte.”


Rega menoleh menatap Marco. Seharusnya dia sudah bisa menebak itu


saat Latte menceritakannya, terlebih lagi Adiba dan teman-teman lainnya pernah


membicarakan Latte dan Egar di belakang gadis itu. Namun, Latte bilang dia hanya


berbicara pada anak laki-laki itu sekali. Setelah itu dia tidak pernah berbicara


dengan Egar lagi. Bagaimana bisa dalam waktu dan perbincangan  sesingkat itu, Latte bisa jatuh cinta pada


Egar. Terlebih sampai sekarang masih belum bisa melupakannya.


“Kamu kenal dengan Egar ini?” Tanya Rega pada Marco.


Marco menggeleng. “Gue ga pernah bertemu dengannya. Waktu SMP gue ga


tinggal di kota ini. Gue baru pindah waktu SMA.”


Rega diam, tidak menanggapi. keheningan terjadi selama beberapa menit hingga akhirnya Rega kembali buka suara.


“Kenapa kamu menceritakan ini kepada saya?” Tanyanya.


Marco menghela nafas, “Ya kenapa ya?” dia menatap Rega, menyeringai.


“Mungkin karena lo juga punya perasaan yang sama terhadap Charletta.


Bisa dibilang kita ini rival?”


Rega menatap Marco. Lelakinitu sedang tersenyum. Namun itu adalah jenis senyuman yang tidak disukai Rega, terkesan mengejeknya.


“Biar saya meluruskan supaya tidak ada keselapahaman di sini.”


Rega menatap Marco kemudian beralih menatap Latte yang masih sibuk bersama


anak-anak jalanan. “Kau ga perlu cemas, saya gaada perasaan seperti yang kamu


kira terhadap Charletta.”


Marco menaikan sebelah alisnya. “Oh ya?” Seringai pemuda itu semakin lebar.


“Kalau gitu apa alasan sebenernya lo bolos latihan basket dan malah ke sini?”


“Saya kan sudah bilang, saya kebetulan-“


“Alah, gue tahu itu cuma alasan karangan lo aja.” Marco tertawa


mengejek. “Lo gabisa kan ngasih tau gue alasan sebenernya?”


Rega diam. Ia sendiri bingung apa alasan yang mebawanya ke sini? Mengapa


ia sampai repot-repot berbohong pada Galuh hanya agar dapat berada di tempat


ini bersama Latte. Dia tidak pernah bertidak seperti itu sebelumnya selama


hidupnya.


“Kalau Lo gabisa jawab, mungkin apa yang gue bilang tadi benar.”


Rega menatap Marco. Tidak mengatakan apapun. Namun ucapan Marco


jelas akan mengusik isi kepalanya dalam waktu yang cukup lama.


***


Rega sedang mengendrai mobilnya di jalanan kota Bandung yang ramai. Lampu merah


di persimpangan jalan menyala, membuat pemuda itu menghentikan mobilnya dengan


segara.


Pikirannya melayang pada perbincangan dengan Marco sebelumnya.


Marco menyukai Latte. Lelaki itu menggungkapkannya sendiri. Tapi Marco juga


bilang kalau Rega juga memiliki perasaan yang sama terhadap Latte, apa iya?


Pikir Rega.


Rega tidak pernah memiliki perasaan seperti ini sebelumnya.


Sejujurnya ia tidak pernah dekat dengan siapapun seperti sekarang. Apa perasaan


ketika gadis itu di dekatnya diakibatkan karena dirinya menyukai gadis itu?


Rega mengingat lagi apa yang diucapkan terakhir kali oleh Marco


sebelum dia memasuki mobilnya saat hendak pulang.


”Lo harus


ingat, gue yang bakal buat Latte lupa sama Egar. Gue bakal buat dia jadi milik


gue. Jadi gue sarankan Lo jangan banyak berharap.”


Rega tertawa dengan suara mengejek. “Hah, apa pula maksudnya itu!


Seperti anak kecil saja.”


Walau kata-kata itu yang keluar dari bibirnya tepi jantung Rega


terpacu, harga dirinya seperti dibertaruhkan saat ini, terlebih lagi kenyataan


bahwa Latte lebih memilih diantar pulang oleh Marco membuat dia marah.


“Jangan cemburu begitu. Tentu saja Charletta lebih memilih diatar olehku. Kami sudah


mengenal sebelum Lo.” Kata-kata yang dibisikan Marco kepada Rega


sebelum dia pergi terputar kembal di otak Rega.


Rega mendegus kesal. “Hah! Siapa juga yang cemburu!”


Tapi perasaan marah ini, kalau bukan


cemburu, apa namanya?


***


Marco menurunkan Latte tepat di depan rumah gadis itu..


“Mau mampir?” tanya Latte.


Langit sudah mengeluarkan semburat merah ketika mereka sampai.


Menandakan sebentar lagi matahari akan terbenam. Dari balik jenela besar, Marco


bisa melihat kalau toko roti itu masih dipadati mengunjung. Di balk etalase


toko juga masih tersaji berbagai macam roti yang menggiurkan. Kendati demikian,


Marco menggelengkan kepala, menolak tawaran Latte.


Latte menaikan sebelah alisnya. Gadis itu tidak menduga Marco akan


menolak tawarannya.


“Ada yang harus aku urus.” Beritahu pemuda itu.


Latte tersenyum dan mengangguk. “Terimakasih sudah mau menemaniku


hari ini.” Ucapnya. “Pasti sangat menyusahkan bagimu.”


“Tidak ko.” Marco tersenyum. “Kamu kan tahu, Latte. Apapun yang ku


lakukan bersamamu pasti menyenangkan untukku.”


Latte tersenyum. Ia sudah sering mendengar ucapan Marco yang


seperti itu.


“Kamu tidak boleh banyak menggombal seperti itu Marco kalau kamu


tidak mau dicap playboy.”


“Aku tidak banyak menggombal seperti ini, Latte.” Pemuda itu


menaikan sebelah alisnya. “hanya padamu saja.” Lalu dia mengedipkan sebelah


matanya.


Latte tertawa melihatnya. “Sudah sana pergi. Katanya ada yang


harus kamu urus.” Gadis itu mendorong tubuh Marco, memaksanya masuk kembali ke


dalam sedan merahnya.


Marco tertawa. “Oke oke.” Pemuda itu memasuki mobilnya. Sebelum dia


menutup pintu, Marco kembali menatap Latte. “Sampai ketemu besok di sekolah.”


Ucapnya.


Latte mengangguk. Beberapa detik


kemudian mobil sedan merah itu sudah melaju meninggalkan pekarangan toko roti.


***


Marco memarkirkan mobilnya di area parkiran gedung biliard. Pemuda


itu keluar dengan meninjing tiga box besar pizza dan sekantung penuh minuman


bersoda. Langkahnya pasti memasuki gedung tersebut. Bau asap rokok yang


mengudara segera tertanggap indra penciuman Marco. Pemuda itu tahu dari mana


asal aroma tersebut.


“Yo!” Marco menyapa empat orang pemuda yang mengelilingi meja


biliard. Kedua tangannya terangat. Menunjukan bawaanya. Kemudian Marco


meletakantiga box pizza dan sekantung penuh menuman bersoda tersebut di atas


meja di pinggir ruangan, tidak jauh dari tempat keempat pemuda itu berdiri.


Keempat pemuda itu bersorak senang, dengan capat menghampiri


Marco. Mereka duduk santai di sofa yang mengitari meja tersebut. Salah satu


pemuda, Haedar namanya, mengambil potongan pizza pertama.


“Tumben bawa banyak?” Haedar menatap Marco yang menempatkan


dirinya di salah satu sofa. “Ada apa?”


Seperti mengetahui tabiat Marco, Pemuda lainnya, kali ini yang


berlengan kekar dan berkulit kecoklatan, Mike namanya, bertanya. “Siapa lagi


yang buat masalah sama lo?”


Marco tersenyum simpul. Mike adalah kakak sepupu Marco, dia satu


tahun lebih tua darinya. Saat ini sedang kuliah di salah satu universitas


swasta di Bandung, namun sudah sering membolos.


Ketiga orang lainnya, Hedal, Jamal dan Loki adalah


teman Mike sejak SMP, sudah kenal baik dengan Marco. Mereka berempat terkenal


berandalan.


Marco sering meminta bantuan keempat kawannya tersebut untuk


memberikan sedikit ‘pelajaran’ kepada seseorang yang tidak disukainya.


Marco menyeringai. “Ada satu serangga kecil yang menempel terus


sama gebetan gue, bang” Beritahunya pada Mike.