
Senin pagi Rega sudah berdiri rapi dengan seragam SMA Antaraksa di
depan cermin. Ia menyisir rambutnya kemudian mengoleskan sedikit gel rambut
agar rambutnya tetap rapi. Pemuda itu melirik jam di tangannya. Pukul 6:30.
Sebentar lagi pasti mbok
Ijah memanggil untu sarapan, pikir Rega
Benar saja, tidak lama terdengar ketukan di pintu kamarnya dan
suara mbok Ijah yang memberitahu bahwa sarapan sudah siap di meja makan. Rega
mengiyakan panggilan mbok Ijah, kemudian mengambil tas punggungnya yang
terletak di atas kasur.
Rega duduk di meja makan dengan enam kursi itu sendirian. Roti
bakar dengan berbagai selai dan telur mata sapi serta segelas susu tersaji di
atas meja. Rega mengambil sehelai roti dan mengoleskannya dengan selai kacang
lalu makan dengan tenang.
Rega tidak ingat kapan terakhir kali ia makan bersama mama dan
papanya dengan suasana yang hangat. Mungkin saat ia mendapat ranking satu di
kelas untuk pertama kalinya saat SMP kelas 2, atau saat Rega memenangkan
kejuaraan nasional matematika tingkat sekolah menengah pertama.
Dulu, semua prestasi yang diraihnya akan mendatangkan kasih sayang
dan kehangatan dari mama dan papanya. Mama akan membuatkan sarapan dan papa
akan berbicara betapa bangganya dia dengan apa yang diraih oleh Rega sepanjang
sarapan atau makan malam. Papa juga sering kali membawakan hadiah untuk Rega
sepulang sekolah. Namun, setelah beberapa hari perhatian ini akan surut lalu
hilang. Kedua orang tuanya akan kembali larut dalam pekerjaan. Melupakan bahwa
mereka memiliki seorang anak yang membutuhkan kehadiran orang tua.
Hal tersebut membuat Rega selalu memacu dirinya untuk mendapatkan
pencapaian-pencapaian baru yang dapat membuat papanya bangga, prestasi-prestasi
baru yang membuat orang mamanya membuatkan sarapan dan mencurahkan segenap
perhatian. Anak kali-laki itu bahkan rela merelakan masa remajanya, merelakan
teman-temannya, bahkan sesuatu yang bahkan sangat disukainya. Tetapi, seiring
bertambahnya pencapaian Rega, pencapaian tidak lagi menjadi sebuah prestasi
yang patut dibanggakan. Nilai sempurna, kemenangan di kerjuaraan nasional,
gelar-gelar, semua itu berubah menjadi suatu keharusan.
Prestasi tersebut tidak lagi mendatangkan kasih sayang dan
kehangatan di keluarganya, namun sekali nilai Rega turun, sekali ia tak menjadi
juara, akan mendatangkan kemarahan dan sikap dingin orang tuanya. Lalu
kemudian, kehidupannya yang sepi kembali dan seberusaha apapun Rega, ia tidak
pernah pergi.
“Mbok udah makan?” Tanya Rega yang menangkap sosok tua itu
menatapnya dari balik pintu dapur. Wanita tua itu selalu iba dengan Rega. Meski
tidak menunjukannya Mbok Ijah tahu anak laki-laki itu kesepiaan.
“Belum, den.”
Rega tersenyum. “Baguslah, sini mbok sarapan sama saya.”
“Jangan den, mbok jadi ga sopan nanti.” Mbok Ijah menolak halus.
Namun Rega bersikeras.
“Mbok udah aku anggap sebagai ibuku, bahkan melebihi mama.” Rega
tersenyum. “Ayo mbok, biasanya juga kalau saya masuk angin mbok yang kerokin.
Masa sarapan bareng aja mbok gamau.”
Mbok Ijah tersenyum kemudian menghampiri Rega. Wanita berusia
pertengahan lima puluhan itu duduk di hadapan Rega di meja makan. Pemuda itu
dengan sigap membuatkan roti bakar dengan selai kacang untuk mbok Ijah,
kesukaannya. Sejak mbok ijah kerja dirumahnya, sekitar enam tahun lalu, Rega menghabiskan sebagian besar waktunya
bersama wanita tua itu. Pemuda itu tahu apa saja yang disukai dan tidak disukai
mbok Ijah.
Selesai sarapan Rega berpamitan dan segera berangkat sekolah.
Seperti biasa, Ia mengendarai mobil sedan hitamnya. Hari senin ini sama seperti
biasanya. Jalanan kota Bandung macet, langit cerah dengan sedikit awan dan
radio di mobil memutarkan lagu-lagu hits seperti biasanya. Namun rutinitas yang
seperti biasanya itu berubah ketika segerombolan anak laki-laki yang
menghentikan mobil Rega di jalan dekat sekolahnya. Jalan ini memang sepi karena
bukan termasuk jalan raya dan merupakan gang perumahan.
Salah satu anak laki-laki itu yang berotot dan berkulit kecoklatan
mobil. Rega diam sejenak. Situasi seperti ini memberikan firasat tidak enak
baginya namun anak laki-laki yang terlihat lebih tua darinya itu terus
mengetuk-ngetuk jendela mobilnya sementara dua kawannya yang lain duduk di atas
kap mobil sedannya.
Rega akhirnya membuka pintu mobilnya.
“Rega Sadewa?” Tanya pemuda berotot itu, Rega mengangguk.
“Gue Mike, sini ikut gue. Ada yang mau gue bicarakan sama Lo.”
“Gaada yang mau saya bicarakan dengan anda.” Balas Rega dingin.
Rega berbalik, namun ketika ia hendak membuka kembali pintu mobil sedannya,
anak laki-laki berotot itu menghentian gerakan tanga Rega meraih handle pintu.
“Ikut atau anak yang bernama Charletta itu gue buat gabisa main
basket lagi dalam waktu yang sangat sangat lama.” Bisi Mike halus tepat di
telinga Rega. Seketika Rega membalikan badannya dan menatap tajam Mike.
“Apa yang Lo mau?” Tanyanya dingin.
Mike menyeringai. “Ikut Gue!”
Rega mengikuti ketiga berandalan itu kesebuah perkarangan rumah
yang nampaknya tidak berpenghuni, terlihat dari tingginya semak belukar yang
tumbuh di sekitar rumah bercat putih tersebut. Rumah itu terletak di gang dekat
sekolahnya. Mungkin sekitar 10 menit bila berjalan kaki dari sekolahnya.
Suasana di sekitar rumah itu sepi. Di kanan kiri rumah tersebut tidak ada rumah
lain, Rega baru bisa melihat rumah-rumah lain di kejauhan. Rumah itu menghadap
jalan setapak yang disisi kirinya berupa sungai kecil yang tertutupi pepohonan
bambu sebagian.
“Apa yang mau Lo omongin?” Tanya Rega langsung pada intinya.
Namun bukannya menjawab, tanpa basa basi Mike melayangkan tinju
tepat ke wajah Rega. Rega yang tidak siap menerima serangan itu
terhuyung-huyung mundur. Tubuhnya menabrak tempok rumah di belakangnya.
Rega bisa merasakan perih di ujung bibir atasnya, Ia menyeka
bagian tersebut dengan punggung tangan dan melihat darah yang menempel di
punggung tangannya. Mungkin bibirnya sedikit robet. Rupanya otot-otot lengan
Mike bukan hanya pajangan semata.
Mike sekali lagi melayangkan tinjunya pada Rega, namun Rega segera
menepisnya. Mike terlihat terkejut, berandalan satu itu tidak menduga serangannya
akan ditangkis Rega. Tidak terlintas di kepalanya lelaki kurus, putih dan
tipe-tipe flower boy seperti Rega bisa berkelahi.
Rega tidak pandai berkelahi, namun satu dua kali dia bisa menangkis
serangan dan melawan balik. Dulu, saat liburan sekolah ketika Rega duduk di
kelas 1 SMA, Rega pernah tinggal bersama pamannya yang seorang atlit tinju di
Amerika. Selama dua pekan, pamannya itu giat sekali memaksa Rega belajar tinju.
Pemuda itu cukup mahir melakukan gerakan basis bertinju. Alhasil sekali dua
kali Rega bisa menangkis dan melakukan serangan.
Rega memasang kuda-kuda. Mike yang melihatnya itu mencemooh.
“Lihat si Bodoh ini, ngapain Lo? Shooting film?”
Tepat setelah Mike menyelesaikan ucapannya, Rega melayangkan
tinjunya tepat di wajah Mike, membuat pemuda berotot itu terdorong satu langkah
ke belakang. Mike bisa merasakan tinju yang mengenainya itu keras dan sakit.
Pemuda itu terkesiap, tidak percaya kepalan tangan yang baru saja mengenainya
itu berasal dari pemuda kurus di hadapannya.
“Breng*sek.” Mike mengumpat lalu sedetik kemudian adu tinju tak
bisa dihindarkan. Pertarungan dadakan antara Mike dan Rega berlangsung sengit.
Rega memang lebih banyak terkena pukulan Mike, tidak terhitung beberapa kali
pemuda itu harus memasang kembali kuda-kudanya, namun walau tidak ingin
mengakuinya, Mike juga cukup kewalahan.
Satu pukulan telak Rega di dagu Mike membuat pemuda berotot itu
mundur beberapa langkah. Mike merasakan kepalanya pusing, Ia bahkan bisa
mendengar suara berdengung di telinganya.
“Bocah sialan!” Mike menggeram murka.
Dia merasa marah dengan kenyataan bahwa lelaki setipe flower boy di hadapannya
itu bisa membuatnya terpojok. “Haedar, Jamal pegang si brengsk ini. Gue harus
beri dia pelajaran yang sangat berarti biar dia ga berani macem macem lagi!”