ELEVEN

ELEVEN
Fourteen



Senin pagi Rega sudah berdiri rapi dengan seragam SMA Antaraksa di


depan cermin. Ia menyisir rambutnya kemudian mengoleskan sedikit gel rambut


agar rambutnya tetap rapi. Pemuda itu melirik jam di tangannya. Pukul 6:30.


Sebentar lagi pasti mbok


Ijah memanggil untu sarapan, pikir Rega


Benar saja, tidak lama terdengar ketukan di pintu kamarnya dan


suara mbok Ijah yang memberitahu bahwa sarapan sudah siap di meja makan. Rega


mengiyakan panggilan mbok Ijah, kemudian mengambil tas punggungnya yang


terletak di atas kasur.


Rega duduk di meja makan dengan enam kursi itu sendirian. Roti


bakar dengan berbagai selai dan telur mata sapi serta segelas susu tersaji di


atas meja. Rega mengambil sehelai roti dan mengoleskannya dengan selai kacang


lalu makan dengan tenang.


Rega tidak ingat kapan terakhir kali ia makan bersama mama dan


papanya dengan suasana yang hangat. Mungkin saat ia mendapat ranking satu di


kelas untuk pertama kalinya saat SMP kelas 2, atau saat Rega memenangkan


kejuaraan nasional matematika tingkat sekolah menengah pertama.


Dulu, semua prestasi yang diraihnya akan mendatangkan kasih sayang


dan kehangatan dari mama dan papanya. Mama akan membuatkan sarapan dan papa


akan berbicara betapa bangganya dia dengan apa yang diraih oleh Rega sepanjang


sarapan atau makan malam. Papa juga sering kali membawakan hadiah untuk Rega


sepulang sekolah. Namun, setelah beberapa hari perhatian ini akan surut lalu


hilang. Kedua orang tuanya akan kembali larut dalam pekerjaan. Melupakan bahwa


mereka memiliki seorang anak yang membutuhkan kehadiran orang tua.


Hal tersebut membuat Rega selalu memacu dirinya untuk mendapatkan


pencapaian-pencapaian baru yang dapat membuat papanya bangga, prestasi-prestasi


baru yang membuat orang mamanya membuatkan sarapan dan mencurahkan segenap


perhatian. Anak kali-laki itu bahkan rela merelakan masa remajanya, merelakan


teman-temannya, bahkan sesuatu yang bahkan sangat disukainya. Tetapi, seiring


bertambahnya pencapaian Rega, pencapaian tidak lagi menjadi sebuah prestasi


yang patut dibanggakan. Nilai sempurna, kemenangan di kerjuaraan nasional,


gelar-gelar, semua itu berubah menjadi suatu keharusan.


Prestasi tersebut tidak lagi mendatangkan kasih sayang dan


kehangatan di keluarganya, namun sekali nilai Rega turun, sekali ia tak menjadi


juara, akan mendatangkan kemarahan dan sikap dingin orang tuanya. Lalu


kemudian, kehidupannya yang sepi kembali dan seberusaha apapun Rega, ia tidak


pernah pergi.


“Mbok udah makan?” Tanya Rega yang menangkap sosok tua itu


menatapnya dari balik pintu dapur. Wanita tua itu selalu iba dengan Rega. Meski


tidak menunjukannya Mbok Ijah tahu anak laki-laki itu kesepiaan.


“Belum, den.”


Rega tersenyum. “Baguslah, sini mbok sarapan sama saya.”


“Jangan den, mbok jadi ga sopan nanti.” Mbok Ijah menolak halus.


Namun Rega bersikeras.


“Mbok udah aku anggap sebagai ibuku, bahkan melebihi mama.” Rega


tersenyum. “Ayo mbok, biasanya juga kalau saya masuk angin mbok yang kerokin.


Masa sarapan bareng aja mbok gamau.”


Mbok Ijah tersenyum kemudian menghampiri Rega. Wanita berusia


pertengahan lima puluhan itu duduk di hadapan Rega di meja makan. Pemuda itu


dengan sigap membuatkan roti bakar dengan selai kacang untuk mbok Ijah,


kesukaannya. Sejak mbok ijah kerja dirumahnya, sekitar enam tahun lalu,  Rega menghabiskan sebagian besar waktunya


bersama wanita tua itu. Pemuda itu tahu apa saja yang disukai dan tidak disukai


mbok Ijah.


Selesai sarapan Rega berpamitan dan segera berangkat sekolah.


Seperti biasa, Ia mengendarai mobil sedan hitamnya. Hari senin ini sama seperti


biasanya. Jalanan kota Bandung macet, langit cerah dengan sedikit awan dan


radio di mobil memutarkan lagu-lagu hits seperti biasanya. Namun rutinitas yang


seperti biasanya itu berubah ketika segerombolan anak laki-laki yang


menghentikan mobil Rega di jalan dekat sekolahnya. Jalan ini memang sepi karena


bukan termasuk jalan raya dan merupakan gang perumahan.


Salah satu anak laki-laki itu yang berotot dan berkulit kecoklatan


mobil. Rega diam sejenak. Situasi seperti ini memberikan firasat tidak enak


baginya namun anak laki-laki yang terlihat lebih tua darinya itu terus


mengetuk-ngetuk jendela mobilnya sementara dua kawannya yang lain duduk di atas


kap mobil sedannya.


Rega akhirnya membuka pintu mobilnya.


“Rega Sadewa?” Tanya pemuda berotot itu, Rega mengangguk.


“Gue Mike, sini ikut gue. Ada yang mau gue bicarakan sama Lo.”


“Gaada yang mau saya bicarakan dengan anda.” Balas Rega dingin.


Rega berbalik, namun ketika ia hendak membuka kembali pintu mobil sedannya,


anak laki-laki berotot itu menghentian gerakan tanga Rega meraih handle pintu.


“Ikut atau anak yang bernama Charletta itu gue buat gabisa main


basket lagi dalam waktu yang sangat sangat lama.” Bisi Mike halus tepat di


telinga Rega. Seketika Rega membalikan badannya dan menatap tajam Mike.


“Apa yang Lo mau?” Tanyanya dingin.


Mike menyeringai. “Ikut Gue!”


Rega mengikuti ketiga berandalan itu kesebuah perkarangan rumah


yang nampaknya tidak berpenghuni, terlihat dari tingginya semak belukar yang


tumbuh di sekitar rumah bercat putih tersebut. Rumah itu terletak di gang dekat


sekolahnya. Mungkin sekitar 10 menit bila berjalan kaki dari sekolahnya.


Suasana di sekitar rumah itu sepi. Di kanan kiri rumah tersebut tidak ada rumah


lain, Rega baru bisa melihat rumah-rumah lain di kejauhan. Rumah itu menghadap


jalan setapak yang disisi kirinya berupa sungai kecil yang tertutupi pepohonan


bambu sebagian.


“Apa yang mau Lo omongin?” Tanya Rega langsung pada intinya.


Namun bukannya menjawab, tanpa basa basi Mike melayangkan tinju


tepat ke wajah Rega. Rega yang tidak siap menerima serangan itu


terhuyung-huyung mundur. Tubuhnya menabrak tempok rumah di belakangnya.


Rega bisa merasakan perih di ujung bibir atasnya, Ia menyeka


bagian tersebut dengan punggung tangan dan melihat darah yang menempel di


punggung tangannya. Mungkin bibirnya sedikit robet. Rupanya otot-otot lengan


Mike bukan hanya pajangan semata.


Mike sekali lagi melayangkan tinjunya pada Rega, namun Rega segera


menepisnya. Mike terlihat terkejut, berandalan satu itu tidak menduga serangannya


akan ditangkis Rega. Tidak terlintas di kepalanya lelaki kurus, putih dan


tipe-tipe flower boy seperti Rega bisa berkelahi.


Rega tidak pandai berkelahi, namun satu dua kali dia bisa menangkis


serangan dan melawan balik. Dulu, saat liburan sekolah ketika Rega duduk di


kelas 1 SMA, Rega pernah tinggal bersama pamannya yang seorang atlit tinju di


Amerika. Selama dua pekan, pamannya itu giat sekali memaksa Rega belajar tinju.


Pemuda itu cukup mahir melakukan gerakan basis bertinju. Alhasil sekali dua


kali Rega bisa menangkis dan melakukan serangan.


Rega memasang kuda-kuda. Mike yang melihatnya itu mencemooh.


“Lihat si Bodoh ini, ngapain Lo? Shooting film?”


Tepat setelah Mike menyelesaikan ucapannya, Rega melayangkan


tinjunya tepat di wajah Mike, membuat pemuda berotot itu terdorong satu langkah


ke belakang. Mike bisa merasakan tinju yang mengenainya itu keras dan sakit.


Pemuda itu terkesiap, tidak percaya kepalan tangan yang baru saja mengenainya


itu berasal dari pemuda kurus di hadapannya.


“Breng*sek.” Mike mengumpat lalu sedetik kemudian adu tinju tak


bisa dihindarkan. Pertarungan dadakan antara Mike dan Rega berlangsung sengit.


Rega memang lebih banyak terkena pukulan Mike, tidak terhitung beberapa kali


pemuda itu harus memasang kembali kuda-kudanya, namun walau tidak ingin


mengakuinya, Mike juga cukup kewalahan.


Satu pukulan telak Rega di dagu Mike membuat pemuda berotot itu


mundur beberapa langkah. Mike merasakan kepalanya pusing, Ia bahkan bisa


mendengar suara berdengung di telinganya.


“Bocah sialan!” Mike menggeram murka.


Dia merasa marah dengan kenyataan bahwa lelaki setipe flower boy di hadapannya


itu bisa membuatnya terpojok. “Haedar, Jamal pegang si brengsk ini. Gue harus


beri dia pelajaran yang sangat berarti biar dia ga berani macem macem lagi!”