Don'T Leave Me My Girl

Don'T Leave Me My Girl
Ara kenapa?



Sudah 30 menit Cerin menunggu tapi Ara tidak juga datang kekelas dan 10 menit lagi jam pelajaran akan dimulai.


Cerin khawatir kenapa Ara saat ini.Apa yang terjadi sama dia?Ntahlah Cerin bingung.Ia mencoba menghubungi Ara tapi tidak ada respon.


...


Jam istirahat tiba dan Cerin berniat pergi kekantin sekalian mencoba menghubungi Ara kembali.


"Rin,kok sendiri aja?Mau gabung sama kita nggak"tanya Leon yang baru sampai bersama Vian dan Vero.


"Ara nggak sekolah,nggak tau kenapa udah dihubungi tapi nggak ada respon"Raut wajah Cerin kembali khawatir mengingat sahabatnya saat ini.


"Ara nggak sekolah?apa dia kenapa-napa"Vero pun tampak khawatir mendengar ucapan Cerin.


"Ver,apa Ara ada hubungin lo kemarin?"tanya Leon.


"nggak ada"balas Vero.


"nanti gue samperin kerumahnya"ucap Vero lagi.


"Gue ikut ya"ujar Cerin.


"yaudah nanti pulang sekolah kita bareng aja kerumahnya"ucap Leon.


"apa mungkin kakinya masih sakit makanya dia nggak sekolah"batin Vian.


.


.


Skip pulang sekolah,mereka sudah berada di parkiran dan langsung tancap gas menuju rumah Ara.Vian yang tadi nya menolak untuk ikut tapi Leon terus memaksa sampai akhirnya Vian menagalah.Sebenarnya hatinya juga penasaran dengan keadaan Ara saat ini tapi ia yang tidak ingin temannya mengira ia ada perasaan terhadap Ara tetap berusaha tenang.


..


Ara Yang kini tengah berbaring selesai membersihkan badan mendengar ada suara orang yang memanggil namanya dari luar,Ara langsung menuju pintu dengan pelan agar tidak terasa nyeri lagi dikakinya.


"Loh kalian kok bisa ada disini?"Tanya Ara setelah membuka knop pintu.


"hwa Ara lo kenapa kok nggak sekolah tadi,apa lo sakit?"Cerin yang melihat Ara berada didepannya langsung memeluk dengan perasaan cemas.


"ish gue nggak papa Rin"ucap Ara


"Ra apa lo sakit?"tanya Vero.


"Kemarin gue diserempet motor cuman luka dikit dikaki"ucap Ara.


"Kenapa lo nggak bilang sama gue kemarin,apa udah diobatin?"perhatian Vero.


"eh masuk dulu yok"ajak Ara.


"Ra ini buat lo tadi Cerin bilang lo suka brownies cake"Leon mengulurkan sebuah paper bag berisi cake kesukaan Ara.


"thank's ya"sembari meneriman paper bagnya.


"oh ya tunggu bentar,gue ambilin minum dulu"Ara berjalan ke dapur.


"Ra lo beneran nggak papa?"tanya Cerin yang menyusul Ara.


"Gue nggak papa kok"balas Ara.


"Kok lo bisa keserempet sih Ra"tanya Cerin.


"Gue juga nggak tau mungkin karena gue nggak fokus ke jalan ya keserempet deh jadinya terus Vian datang"sambil menuangkan jus jeruk kegelas mereka.


"What Vian Ra?kok bisa apa dia nolongin lo?"Cerin merasa kepo.


"ya dia nolongin gue tapi sikapnya tetap sama.Dan gue juga bingung apa gue harus seneng atau sedih waktu itu"ujar Ara.


"Gue heran Ra,tadi pas kita rencana kesini dia nggak ada bilang apa apa tentang lo kemarin padahal kita udah khawatir banget"Ucap Cerin.


"Mungkin dia nggak mau di sangka punya perasaan sama gue kali Rin"balas Ara.


"Yaudah yok bantu gue antar ini kedepan"ucap Ara lagi


..


"Ra lo beneran udah mendingan?"tanya Vero.


"Iya gue udah mendingan kok besok juga dah bisa dibawa kesekolah nih kaki"Ara menampilkan senyumnya.


"oke tapi harus banyak istirahat ya"Vero mengusap pelan kepala Ara karena gemas dengan ekspresi Ara saat ini.


"ehem,ada apa nih"ucap Leon yang melihat reaksi Vero terhadap Ara.


"eh Ya kok lo dari tadi diem aja sih,ngomong kek atau nggak tanya keadaan Ara gitu.Masak cuman jadi patung aja"Leon dapat melihat raut wajah Vian yang berbeda saat ini.


"kan dia udah bilang nggak papa"jawab Vian.


Ara yang mendengar ucapan Vian hanya diam tanpa ingin berfikir yang lain lain.


Hari yang semakin sore dan mereka yang telah pamit 10 menit yang lalu.Ara kembali berbaring setelah menyantap cake yang dibawa Leon tadi.