
Hari ini Ara berangkat sekolah hampir terlambat karena semalaman mengerjakan pr dan tertidur dimeja belajarnya.
5 menit sebelum bel berbunyi Ara mendudukkan bokongnya si samping Cerin yang tengah membereskan bukunya ke laci meja.
"Ra tumben lo jam segini baru datang"ucap Cerin.
"kemarin pak lian nyuruh lembur diCafe karena shift setelah gue orangnya izin,jadinya kemalaman deh ngerjain pr."jawab Ara.
"kasian lo Ra harus kerja keras dimasa lo yang seharusnya cuman belajar aja."tutur Cerin.
"ya mau gimana lagi Rin,kalo gue nggak kerja gue harus nanggung resiko gak makan"jawab Ara.
"Tapi gue yakin lo bakalan jadi orang sukses nantinya Ra."
"amin Rin"balas Ara.
Buk riri masuk ke dalam kelas dan mengajarkan beberapa materi baru dan hampir 3 jam pelajaran bel istirahat berbunyi dan membubarkan para siswa.
"Ra lo kenapa kok pucat gitu mukanya,apa lo sakit Ra?"Cerin yang hendak mengajak Ara kekantin melihat wajah Ara yang tampak lesu seperti orang sakit.
"gue cuman pusing aja Rin,nanti juga bakal enakan"jawab Ara.
"tapi lo keliatan lesu banget Ra,lo belom makan ya.kalo gitu ayok gue pesenin makanan dikantin Ra"Ajak Cerin.
"tadi nggak sempet sarapan Rin karena buru buru."jawab Ara.
"yaudah sekarang kita kekantin Ra biar lo agak enakan"Cerin menggandeng tangan Ara agar tidak terjatuh ditengah perjalanan.
Hampir sampai dikantin,badan Ara yang sudah semakin melemah tidak bisa menahannya dan seketika Ara kehilangan kesadaran.
"Ra"teriak Cerin saat Ara yang jatuh pingsan disampingnya.
"Biar gue bawa"Vian menggendong Ara menuju UKS dan diikuti Vero,Leon dan Cerin.Tadinya mereka berencana mengisi energi kekantin namun Vian yang sedari tadi memperhatikan Ara yang berjalan didepan mereka,sampai Vian yang menyadari ada yang berbeda dengan raut wajah Ara dan akhirnya dia pingsan.
Sampainya di UKS Vian membaringkan Ara yang belum sadarkan diri di brangkar UKS,Vian yang dapat melihat jelas wajah pucat Ara sedikit merasa kasihan namun dia yang sadar akan perasaannya dengan cepat mengalihkan pandangannya.
Sudah 15 menit Ara berada diUKS dan ditemani oleh Cerin sedangkan Vian yang sudah keluar setelah membawa Ara keUKS kini sedang berada di rooftoop.
....
"Yan gue masih syok sama adegan yang gue liat tadi,lo bikin gue hampir jantungan."ucap Leon yang sedari tadi menatap Vian dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Berlebihan lo."singkat Vian.
"gini nih kalo ngomong sama batu es,pen gue geplak pala lo."memasang wajah kesal.
"Ya sudah jelas jawabannya enggak"seketika Leon nyengir.
"tapi yan gue pengen tau bener dah sumpah,lo kenapa tiba tiba gendong Ara padahal sikap lo selama ini kayak benci banget sama dia.Apa jangan jangan lo-"Leon menggantung ucapannya saat Vian menatap dengan tatapan seperti ingin membuang temannya tersebut.
"Apa?"balas Vian yang menyadari Leon berhenti bicara.
"hehe bukan apa apa bro,tapi gue cuman mau bilang kalo emang pikiran gue bener lo harus inget kalo Vero suka sama Ara."berbicara pelan agar Vero tidak mendengar.
Vian yang mendengar ucapan Leon berusaha tenang,ntah kenapa hatinya berdetak kencang saat mendengar perkataan Leon barusan.
Sedangkan Vero yang sedari tadi menampilkan wajah kesalnya setelah Vian menggendong Ara.Kenapa harus Vian selama ini bukannya dia bersikap tidak peduli dengan Ara.
Vero berusaha menetralkan pikiran dan hatinya agar tidak terjadi pertengkaran antara dia dan Vian.
....
Kini Ara baru sadar dari pingsannya dan dibantu oleh Cerin untuk mendudukkan Ara.
"Ra gimana keadaan lo apa ada yang terasa sakit,lo pucat banget Ra."ucap Cerin.
"Gue gak papa Rin,maaf ya udah ngerepotin lo."balas Ara yang masih merasa lemas.
"Lo kok ngomong gitu kan gue udah bilang kalo lo itu saudari gue walaupun kita gak sedarah."Cerin merasa kasihan dengan Ara yang harus berusaha keras sendirian untuk bertahan hidup.
"iya Rin thank's ya."ucap Ara.
"Ra gue mau ngomong sesuatu boleh nggak?"tanya Cerin.
"boleh emang ada apa Rin,apa gue punya utang perasaan nggak ada deh."pertanyaan Ara membuat Cerin menggeleng.
"Bukan tapi lo jangan kaget berlebihan ya,sebenarnya tadi pas lo pingsan yang gendong lo ke sini itu Vian Ra."
"beneran Rin,kok gue nggak yakin ya."Ara yang merasa ragu dengan ungkapan Cerin.
"ish beneran Ra,kalo tadi gue nggak panik dah gue rekam tu momen langka."tutur Cerin
"kok bisa sih dia mau gendong gue,orang matanya aja ngeliat gue kayak benci terus"tanya Ara.
"mungkin nggak sih Ra kalo Vian itu mulai ada perasaan sama lo"Cerin menaruh jari telunjuknya di dagu seperti orang yang tengah memikir.
"gue nggak tau Rin"Ara juga bingung dengan pikirannya saat ini.