
Kondisi Ara yang sudah membaik segera melangkahkan kakinya menuju tempat 3 lelaki yang tengah duduk didepan pondok tersebut.
"Ara lo udah sadar,gimana apa ada yang sakit?"tanya Vero yang melihat keberadaan Ara didepannya.
"Gue nggak papa kok,jangan khawatir"ujar Ara sembari menampilkan senyum diwajahnya.
"Vian thank's ya kamu udah mau bantu obatin luka aku tadi,maaf kalo ngerepotin kamu"raut wajah Ara yang sedikit tegang karena sudah tau bagaimana reaksi Vian nantinya.
"Gue gak butuh terima kasih lo,lo emang bikin repot orang dan satu hal lagi lo gak usah kepedean nganggep kalo gue perhatian karena gue bantuin lo tadi."ujar Vian yang sedari tadi sudah merasa sedikit emosi karena perkataan Vero.
"Vian lo keterlaluan ya,lagi lagi lo ngeluarin kata kata yang bikin hati sahabat gue hancur.kenapa lo nggak bisa hargai perasaan orang hah"ucap Cerin yang sudah sangat kesal.
"udah Rin gak papa kok"ucap Cerin.
"Yaudah yok kita lanjutkan lagi jalannya"ajak Ara yang tidak ingin nantinya ada pertengkaran karena dirinya.
Sekitar setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai,karena jalan menuju perumahan tersebut sangat licin mereka harus berhati hati dan memastikan bahwa mereka baik baik saja untuk melanjutkan perjalanan.
Saat mereka baru menginjakka kaki di depan perumahan tersebut mereka telah disambut bahagia oleh penduduk disana.
"Kakak"ucap seorang anak kecil yang melihat Kiara dan temannya datang.
"Hei nama kamu siapa?"tanya Kiara sembari memeluk anak perempuan tersebut.
"Loly kak,nama kakak siapa?"tanya gadis kecil itu.
"aku Kiara,oh ya ini buat kamu.Disini ada baju,makanan,dan boneka buak Loly"ucap Ara dengan senyum terpampang jelas diwajahnya.
Teman teman Kiara yang melihat sisi tulus kiara merasa tertegun termasuk dengan Vian,ternyata perempuan itu masih memiliki simpati terhadap orang lain,itulah yang ada dipikiran Vian tapi dengan cepat dia menghilangkan pikiran tersebut mungkin saja dia hanya berpura pura baik karena menurutnya perempuan diluar sana sama saja seperti yang dipikirnya.
Kini mereka sedang membagikan masing masing barang kepada warga disana,Ara yang tanpa sengaja menatap kearah Vian yang sedang mengobrol dengan beberapa anak anak kecil didesa tersebut.Vian yang tampak beda dari biasanya,sisi dingin dan kejam dari Vian kini tak terlihat.
Cerin yang tengah duduk sendirian disebuah kursi didepan salah satu rumah warga,memandangi lingkungan sekeliling yang terlihat sudah membaik akibat banjir yang melanda desa itu,ada rasa lega saat Cerin berada diantara mereka mungkin karena selama ini Cerin yang selalu berada dirumah dan sesekali pergi keluar,walaupun kondisi ekonomi Cerin yang bagus tapi ia tidak tercukupi oleh kasih sayang kedua orangtuanya,Cerin yang sejak kecil memang jarang berkumpul bersama kedua orang tuanya karena mereka harus mengurus bisnisnya masing masing,sebenarnya orang tua Cerin juga ingin menghabiskan waktu bersama putrinya tapi pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan oleh orang lain membuat mereka harus merelakan moment bersama putrinya.Cerin yang dapat merasakan kehangatan saat berada didekat orang orang disini meneteskan air mata bahagia.
"Hai lo kenapa,ada masalah sini cerita sama gue"Leon yang tadi memperhatikan Cerin dan memperhatikannya.
"Eh nggak papa kok"dengan segera menghapus air mata yang sempat keluar dari pelupuk matanya.
"kalo kata orang orang gak baik mendam masalah sendiri,selagi masih ada yang mau dengerin lo cerita aja walaupun gak ngasih solusi setidaknya bisa meringankan beban pikiran lo"ucap Leon yang tahu akan perasaan Cerin yang saat ini tidak baik baik saja.
"Gue cuman rindu moment gue sama ortu,pengen aja gitu ngerasain kumpul lagi tapi gue sadar pekerjaan mereka yang nggak bisa ditinggal dan itu juga buat masa depan gue.ish kok gue cengeng banget ya,lo jangan ledekin gue ya hehe"Cerin mengusap sisa air mata yang masih mengalir dipipinya.
Tangan Cerin berhenti saat jari Leon mengusap air matanya,detak jantungnya semakin kencang saat tatapan mereka saling bertemu.
"ehem udah natapnya,gue tau kalo gue emang ganteng jadi wajar sih lo natapnya lama gitu"Cerin yang sadar mengalihkan pandanganya dengan sedikit malu.
"gak usah malu kek gitu,jadi makin cantik aja"ucap Leon kembali membuat Ara mematung dengan perasaan yang berbunga bunga.
"ish paan sih,siapa yang malu coba"cerin yang berusaha menetralkan suasana.
"hehe gue tau kok,tapi sekarang gimana perasaannya udah nggak sedih lagi kan?"tanya Leon.
"iya gue gak sedih lagi,btw Thank's ya"ucap Cerin yang melihatkan senyum manisnya.