Don'T Leave Me My Girl

Don'T Leave Me My Girl
Terluka



Sekitar 3 jam perjalanan menuju desa tersebut akhirnya mereka sampai,semua siswa turun dari bis dan menuju ke pos tempat berkumpul mereka.Setelah diberikan instruksi dari kepala sekolah mereka berjalan menuju perumahan warga sesuai pembagian masing masing.


"guys kita jalan kearah mana nih"tanya Cerin.


"tujuan kita kearah sana,yaudah yuk ikutin gue"ucap Leon menunjuk kesalah satu jalan desa.


Sepanjang perjalanan tidak ada dari mereka yang mengobrol kecuali sesekali bertanya mengenai arah jalan mereka.


Leon yang berjalan paling depan dan disusul Kiara bersama Cerin dan di barisan belakang Vian dan Vero.Di desa itu memang ada beberapa pembagian daerah kecilnya dan jalan yang dilalui kelompok kiara sedikit licin karena adanya tanah yang dibasahi oleh air hujan malam tadi.


Tanpa disengaja Ara yang tidak terlalu fokus dengan jalanan didepannya terpeleset dan tangannya yang berusaha menopang agar kepalanya tidak terbentur kebatu terluka karena tergores sebuah potongan kayu yang berada dibawahnya.Goresan yang lumayan panjang mengakibatkan darah Ara arah dengan cepat mengalir dan membuat ara meringis kesakitan.


"Argh"ringis Ara yang sudah hampir tidak sadarkan diri melihat darah yang mengalir dilengan kanannya.


"Ra tangan lo berdarah,Ra lo tenang jangan nengok tangan lo"ucap Cerin yang khawatir dengan Ara wajah Ara yang mulai pucat.


"Ra tangan lo"ucap Vero yang baru melihat tangan Ara saat Cerin bilang tangannya berdarah.


Vero yang berniat mengangkat Ara mengundurkan niatnya saat Vian terlebih dahulu menggendong Ara.Ara yang sudah lemas sedari tadi tiba tiba pingsan dan membuat mereka khawatir.


"Kiara"ucap mereka serentak saat Ara yang mulai tak sadarkan diri


"Tolong cepat obatin Ara,dia trauma sama darah gue mohon"Ucap Cerin yang kini telah menangis terisak isak,ia tahu betul bagaimana reaksi Ara ketika dia melihat darah,badannya akan melemas dan kesadaraannya yang mulai melemah.Sedari kecil Ara memang sudah trauma dengan darah akibat luka atau kecelakaan yang mengeluarkan banyak darah.


.


.


Vian membaringkan Ara disebuah pondok yang berada tidak jauh dari tempat mereka tadi.Vian mengeluarkan kotak obat yang dibawa Cerin dan membersihkan luka Ara,panjangnya goresan ditangan Ara membuat Vian sedikit susah mengobati karena darah yang terus mengalir.


Setelah selesai membalut luka ditangan Ara yang dibantu oleh Cerin,Vian langsung duduk didekat temannya yang berada di depan pondok tersebut.


"Ara gimana yan?"tanya Vero yang melihat Vian telah duduk disampingnya.


"belom sadar tapi lukanya udah diperban"jawab Vian


"Per lo tumben kayak gini sama cewek tadi lo bawain barang barangnya sekarang lo malah khawatir gitu,gue curiga kalo lo suka sama Ara ya jujur lo"tanya Leon yang merasakan perbedaan pada Vero.


"Mungkin aja"jawab Vero yang berhasil membuat Leon kesal.


"Per lo jawab yang bener lo suka sama Ara?"tanya Leon yang ingin mendapatkan penjelasan dati Vero.


"iya gue suka sama Ara"jawab Vero dengan santai.


deg.


Ntah kenapa tiba tiba jantung Vian berdetak sangat kencang saat mendengar perkataan dari Vero.Tapi Vian yang tidak ingin berpikir aneh aneh segera menangkan dirinya.


.


.


Ara yang kini baru sadar dibantu untuk duduk oleh Cerin.Wajah Ara yang tidak pucat seperti tadi membuat Cerin sedikit lega.


"Ra lo gak papa kan,gue khawatir tau"mata Cerin yang berlinang segera memeluk Ara.


"Ih gue gak papa Rin cuman syok aja kayak biasa.Lo jangan pakek nangis ya"ujar Ara .


"iya gue nggak nangis kok"balas Cerin.


"eh yang lain mana,apa mereka dah duluan ke lokasi?"tanya Ara.


"mereka didepan nungguin kamu sadar dulu.Ra lo tau nggak tadi lo digendong terus diobatin sama Vian lo."ucap Cerin kala mengingat kejadian tadi.


"hah serius lo Rin,mana mungkin Vian mau baik sama gue"Ara yang masih tidak percaya,apa mungkin Vian mengobatinya sedangkan setiap perkataan yang ditujukan untuk dirinya sendiri selalu ada ungkapan kebencian.


"Gue tadi juga gak percaya Ra,tapi gue dah khawatir banget sama lo jadi gue biarin aja"ucap Cerin.