Dialanta

Dialanta
9. Nyawa sembilan



Suara dari pembawa acara yang memanggil peserta lomba menggema dalam ruangan khusus itu. Nampak terlihat gadis dengan rambut sebahu yang diikat ekor kuda tengah berjalan mondar mandir dengan sesekali mengecek ponselnya.


Semakin gelisah saat salah satu peserta lomba sudah menyelesaikan bacaan puisinya. Diana mencoba menghubungi nomor Dita namun sama sekali tidak dapat terhubung. Ia menggigit bibir bawahnya serta memejamkan mata untuk mencari ide agar bisa mendapatkan puisi hasil karyanya sendiri. Karena tema kali ini adalah membaca puisi dari karya tangannya sendiri. 'Apa yang harus gue lakuin? Sumpah demi apapun gue nggak bisa bikin puisi,' gerutunya dalam hati.


Melihat kehadiran Arya Diana segera mendekat. "Lo salah satu panitia lomba, kan?" cecarnya.


Arya yang masih terkesiap hanya bisa mengangguk kaku.


"Please, bantuin gue. Gue harus pulang ke rumah untuk hal penting, cuma sebentar, gue janji nggak bakal lama. Jangan biarin mereka ngedisklualifikasi gue. Bantuin gue, Arya. Gue mohon," pinta Diana memohon.


Kening Arya mengerut dalam antara percaya dan tidak menyadari Dita memohon padanya, dan juga alasan kenapa gadis itu ingin pulang.


"Arya, lo bisa nolongin gue nggak?" tuntut Diana tak sabar melihat keterdiaman siswa di hadapannya.


Arya mengangguk. "Lo hati-hati," jawabnya.


Diana melesat dengan berlari kencang, tujuannya hanya satu, segera sampai di rumah untuk mencari puisi yang pernah Dita tulis dan ditunjukkan padanya dulu. Diana berbelok arah saat melihat siluet seseorang yang diketahui bisa dimintai tolong. "Atta!" panggilnya.


Atta terdiam memperhatikan Dita yang berlari ke arahnya.


"Lo bisa ngebut, kan?" tanya Diana dengan nafas naik turun.


Atta terkejut. "Gue?" tunjuknya pada diri sendiri.


Diana mengangguk cepat.


Atta berdehem, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Meskipun gue bukan pembalap tapi skill gue nggak beda jauh dari Valentino Rossi soal salip menyalip," akunya pongah.


"Anterin gue pulang," ujar Diana menarik seragam Atta.


"Eh?"


"Buruan, Atta, ini darurat, jangan banyak nanya, yang penting lo anterin gue pulang dulu. Ini menyangkut hidup dan mati gue!" seru Diana frustasi.


Atta tertegun melihat Dita yang nampak kacau, bahkan gadis itu mengomel, hal yang belum pernah ia lihat. "Oke," balasnya melepaskan cengkeraman tangan Diana di bajunya, beralih menggenggam tangan Diana untuk berlari menuju parkiran.


Diana yang pikirannya tengah kalut dan kacau membiarkan saja Atta menggenggam jemarinya, sepertinya ia tidak sadar.


Atta meraih helm di atas motor yang entah punya siapa, memakaikan di kepala Diana. "Lo siap?" tanyanya setelah menunggangi motor sportnya.


Diana mengangguk cepat. "Gue minta lo ngebut tapi jangan lupa sama nyawa diri lo dan gue," peringatnya.


Atta tersenyum di balik helm full facenya. Kemudian mulai menjalankan kuda besinya keluar dari gedung sekolah dan melesat seperti angin di jalanan. Berkelak kelok mencari celah untuk bisa menjadi yang paling depan, sementara Diana mencengkeram erat seragam Atta serta berdoa dalam hati agar sang pencipta memaafkan perbuatannya yang ugal-ugalan. Berharap malaikat pencabut nyawa tidak merasa diejek oleh ulahnya.


Atta menarik lengan Diana untuk melingkar di perutnya, bukan ingin mencari kesempatan, ia tidak ingin gadis di belakangnya terjatuh dan bisa berbahaya untuk keduanya.


Diana menurut, memeluk erat tubuh Atta sebagai pegangannya, ketakutannya meluap begitu saja jika teringat puisi yang harus ia baca hari ini untuk menentukan siapa yang terbaik.


Tubuh Diana terhuyung saat turun dari motor. "Lo tunggu di sini," pintanya pada Atta, gegas membuka gerbang untuk masuk ke dalam rumah, bahkan helmnya pun masih terpakai di atas kepalanya.


Diana berlari menuju lantai dua, membuka pintu kamar milik Dita dan mencari-cari selembar kertas berisi puisi buatan Dita, mengobrak-abrik seluruh isi di dalam laci. Biarlah nanti Bibi Nur yang membereskan.


Sementara di luar, Atta memperhatikan bangunan rumah dua lantai di hadapannya, itu adalah pertama kalinya ia datang ke rumah Dita. Rumah bergaya modern dengan luas yang sepertinya sedikit lebih kecil jika dibandingkan dengan rumahnya.


Beberapa menit kemudian terlihat Diana sudah keluar dari rumah. "Lo nyari apaan sih, Dit?" tanya Atta begitu penasaran.


"Puisi gue ketinggalan. Ayo, buruan, gue bisa di diskualifikasi," jawab Diana seraya naik di jok belakang motor sport milik Atta.


"Pegangan, gue nggak pengen lo celaka," titah Atta menarik lengan Diana untuk melingkar di perutnya.


Diana menurut saja.


Beberapa detik kemudian kendaraan roda dua itu melesat membelah angin.


*


Sampai di gedung sekolah, Diana segera turun dari motor dan berlari.


Atta terkejut melihat Diana turun begitu saja dari motornya, bahkan dengan helm yang masih nangkring di atas kepala gadis itu. Atta turun dari motornya dan berlari mengejar Diana. Menghadang langkahnya.


Diana mendelik protes tindakan Atta yang menghalangi jalannya.


"Helmnya dicopot dulu, sayang~" kelakar Atta melepaskan pengait di dagu Diana.


Diana terdiam, pendengarannya terasa asing mendengar ucapan Atta padanya.


"Udah, buruan," ujar Atta menggerakkan kepalanya setelah berhasil melepaskan helm Diana.


Diana mengangguk kaku, gegas kembali berlari.


Atta tersenyum melihat sikap polosnya Dita hari ini.


Arya menegakkan punggungnya saat melihat dari kejauhan Dita yang tengah berlarian.


Arya menilik jam di pergelangan tangannya. "Tiga puluh detik lagi."


Diana menghembuskan nafas lega, bersyukur karena ia tidak terlambat dan tidak akan di diskualifikasi.


Arya menyerahkan botol minuman ke arah Diana yang segera diterima dan diteguk isinya hingga setengah. "Rambut lo berantakan," tunjuknya pada kepala Diana.


"Em?" Diana menyerahkan botol minuman pada Arya, jemarinya sibuk melepaskan ikat rambutnya untuk ditata kembali.


Suara pembawa acara terdengar tengah menyebutkan namanya.


Diana mengambil nafas dalam kemudian menghembuskanya pelan, menoleh sekilas ke arah Arya kemudian berjalan memasuki ruangan.


Di koridor terlihat Atta yang tengah berlarian. "Dia udah masuk?" tanyanya saat berdiri di depan Arya.


Arya nampak berfikir siapa yang dimaksud Atta. Apa mungkin Dita? Ia mengangguk pelan.


Atta melirik pada botol minuman di tangan Arya, ia merebut dan membuka isinya. "Bibir lo nggak nempel di botol ini, kan?" selidiknya sebelum meneguk isinya.


Arya tertegun. Kepalanya menggeleng pelan. Jawaban bukan bibirnya yang menempel di botol itu melainkan bibir Dita tak bisa ia ucapkan saat Atta sudah meneguk isinya hingga tandas. Perasaannya sedikit tidak enak menyadari Atta meneguk minuman bekas bibir Dita. Arya menggeleng pelan guna mengusir pikiran kotornya.


...***...


Diana menghirup oksigen dengan perasaan yang bahagia karena telah melewati hari penuh perjuangan dan tantangan extreme. Senyumnya mengembang seraya lubang hidungnya yang berulang kali menghirup udara yang melegakan hati dan jiwanya.


Saat netranya terbuka, ia terkejut menyadari dua siswa tengah menatapnya lekat. Pupil matanya bergerak ke kanan dan kiri melihat dua siswa itu bergantian. Memilih mengabaikan, Diana melewati Arya dan Atta begitu saja.


Tidak ingin hutang budi. Diana kembali berbalik menghampiri Arya dan Atta yang masih terdiam di tempatnya. "Ayo ke kantin, aku yang traktir," ujarnya riang, Diana benar-benar merasa senang karena telah menyelesaikan puisi itu dengan baik, meskipun ia sama sekali tidak mengharapkan kemenangan, yang penting ia tidak mengecewakan Dita. Dan beban hidupnya berkurang 0,1%, itu lebih baik.


"Setidaknya gue nggak pengen punya hutang budi sama kalian berdua," ketus Diana melihat dua makhluk berjenis kelamin laki-laki itu masih terdiam. "Terserah kalau lo berdua nggak mau!" imbuhnya sengit.


"Iya."


"Mau."


Jawab Arya dan Atta bersamaan. Sejujurnya keduanya tertegun melihat Diana yang tersenyum riang sejak keluar dari ruangan. Hal itu membuat kerja otak keduanya melambat.


*


"Makasih, lo berdua udah bantuin gue hari ini. Ini bentuk rasa terimakasih gue, dan gue nggak mau punya hutang budi apapun sama lo berdua," ujar Diana menjelaskan, disertai sindiran pada Atta yang sering menghutangkan sesuatu padanya.


"Sebenarnya gue nggak ngerasa udah bantuin lo, Dit," tanggap Arya jujur. Karena yang ia lakukan hanya mengulur waktu, dan itu bukan hal yang sulit baginya.


"Tapi gue tetep harus berterimakasih sama lo," balas Diana. "Lo juga, Ta," imbuhnya menoleh ke arah Atta yang tengah mengunyah siomaynya.


"Lo boleh minta bantuan gue kapanpun, Dit. Kalau lo butuh sopir pribadi juga gue nggak keberatan jemput dan nganter lo pulang," jawab Atta tersenyum jenaka.


Diana mencibir. "Nggak ada lain kali," balasnya ketus. 'Cukup sekali ini aja gue berhubungan sama kalian berdua, nggak ada dua atau kali kali yang lain,' imbuhnya dalam hati.


"Siapa yang tahu," tanggap Atta mengangkat bahunya.


"Tadi elo yang nganterin Dita pulang?" tanya Arya memastikan.


Atta mengangguk.


"Punya nyawa sembilan," gumam Diana pelan.


Tatapan Diana menyorot tajam gerombolan siswi yang menatapnya dari kejauhan, sudah bisa ia tebak apa yang mereka gunjingkan tentang dirinya yang semeja dengan Atta dan Arya. Ia menghembuskan nafas kasar. "Menyebalkan sekali," gerutunya pelan.


"Lo ngomong apaan, Dit?"


Diana menggeleng. "Nggak ada. Kayaknya gue harus mulai waspada sekarang," ucapnya asal.


"Maksud lo?"


Diana beranjak. "Nggak perlu tahu dan jangan cari tahu," ancamnya menuding Atta dan Arya bergantian.


"Dit, lo mau kemana?" tanya Atta melihat Diana hendak beranjak.


"Pulang," jawab Diana acuh.


Atta dan Arya saling tatap.


.


.


.


Sabtu, 16 Oktober 2021


Saskavirby