Dialanta

Dialanta
13. Tak perlu bertindak terlalu jauh



Diana yang sudah merasa lebih baik memilih masuk sekolah hari itu. Sebelah tangannya menenteng paper bag berisi jaket milik Atta yang sempat dipinjamkan padanya. Tatapannya meluas mencari keberadaan siswa pentolan Nusa Bhakti itu. Seseorang menghadang langkahnya.


"Ini dia sumber masalahnya." Marisa menatap sinis Diana dari bawah hingga ujung rambut. "Apa sih masalah lo sebenarnya?" cetusnya melipat tangan.


"Masalah gue banyak. Nggak perlu ikut campur," jawab Diana sengit.


"Justru itu, lo ngelibatin gue secara tidak langsung."


Kening Diana mengerut.


"Lo tau, kan, yang nggak suka sama lo di sini itu banyak, bukan cuma gue, Ruri sama Silfi doang. Lo nggak perlu minta perlindungannya Atta buat nyelidikin siapa yang udah ngunciin elo di toilet kemarin."


Diana tertegun. "Apa yang Atta lakuin?"


"Dia nuduh gue yang ngunciin elo!" Marisa bersungut. "Bukan cuma gue doang, yang lain juga," imbuhnya kian kesal. "Lo pasti udah pelet si Atta, ya? Ngaku lo?" tudingnya.


Diana menghembuskan nafas lelah. "Nggak penting," balasnya berlalu.


"Heh! Dita! Gue belum selesai ngomong." Marisa berdecak tak mendapat sahutan dari Dita. "Ngeselin banget, sih, tuh, anak."


Tujuan Diana semakin tepat untuk mencari keberadaan Atta, tapi entah dimana siswa itu berada, sejak tadi ia belum menemukan batang hidungnya.


"Dita?"


Langkah kaki Diana terhenti dan berbalik.


"Lo udah sembuh? Gue denger lo kemarin sakit?"


Diana menghembuskan nafas pelan. "Udah, kok, buktinya gue udah bisa sekolah hari ini. Thanks, udah khawatirin gue."


Arya mengangguk. "Jadi itu alasan lo nggak ikut ke cafe? Lo sakit?"


Diana menggeleng. "Nggak juga sih, em, tapi udah ngerasa nggak enak badan aja," jawabnya tak ingin menjelaskan lebih detail. "Atta!" panggilnya saat melihat siluet seseorang yang ia cari sejak tadi.


Atta mendekat. "Are you okay?"


Diana mengangguk. "Makasih udah nolongin gue. Ini punya lo," ujarnya menyerahkan paper bag. "Nggak perlu bertindak terlalu jauh untuk masalah gue. Makasih udah care sama gue. Tapi gue lebih seneng kalau lo nggak terlibat terlalu dalam."


"Maksud lo?"


"Nggak perlu gue jelaskan lebih detail, kan?" Diana tidak ingin Atta terlibat dalam masalahnya, ia bisa mencaritahu sendiri siapa pelaku yang menguncinya di toilet. Atta salah satu siswa populer di sekolah, yang pasti jika Atta melibatkan diri dalam masalahnya, Diana semakin dalam masalah, walau sebenarnya ia sudah masuk ke dalam lingkup masalah sejak masuk ke sekolah menggantikan Dita. "Atta, please?" imbuhnya memelas menyadari gelagat Atta yang hendak memprotes.


Atta menghembuskan nafas kasar. "Terserah lo," cetusnya segera berlalu.


"Kalian ada masalah?" tanya Arya yang sejak tadi tak paham dengan apa yang keduanya bicarakan.


"Nggak ada. Gue duluan," pamit Diana kemudian.


Tengah berjalan, Diana memperhatikan siswi yang ia temui beberapa hari lalu tengah berjalan berlawanan arah dengannya, ada gelagat mencurigakan dari siswi itu, terbukti wajahnya yang menunjukkan ekspresi terkejut dan memalingkan wajah ketika berpapasan dengannya. "Tunggu."


Siswi itu berbalik. "I-ya?"


"Lo yang kemarin bilang ke gue kenapa anak-anak nggak suka sama gue, kan?" Diana memastikan.


Siswi itu melirik gelisah ke kiri dan kanan.


"Gue nggak pernah salah orang."


"Bukan, bukan gue," ucap siswi itu panik.


Diana terkejut melihat respon siswi itu, kedua netranya membesar menyadari siapa yang sudah menguncinya di dalam toilet. Tanpa kata, ia hendak mencari seseorang yang kini namanya tercetak bold di dalam otaknya. Ia harus memberi pelajaran bagi gadis itu.


Teetttttt!!!


"Sial!" Diana mengumpat saat bunyi tanda pelajaran dimulai berbunyi yang mengharuskan dirinya membatalkan tujuan.


...***...


"Karena dua hari lagi acara puncak akan di mulai, jadi pelajaran akan di kosongkan, kalian bisa membantu anggota OSIS untuk melaksanakan tugas."


Suara Bu Dewi berhasil membuat seluruh isi kelas bersorak riang, apalagi kalau bukan karena pelajaran dikosongkan selama dua hari guna menyiapkan acara puncak anniversary sekolah.


"Tapi, jangan ada yang bolos, ya? Kalau ketahuan bolos bakal Ibu tambahin tugas kalian," peringat Bu Dewi.


"Iya, Bu," jawab mereka kompak. Kecuali Diana yang terdiam tak ingin menjawab ataupun mengikuti acara penting itu. Pikirannya tengah sibuk memikirkan siswi yang hendak ia temui karena sudah mengurungnya di dalam toilet.


Ketika Bu Dewi sudah keluar kelas, Diana gegas mengikuti namun mengambil arah yang berbeda, tujuannya adalah lantai tiga, dimana letak kelas duabelas berada. Namun lagi-lagi langkah kakinya terhenti saat Fadil –ketua anggota drama– meminta bantuannya untuk menyiapkan persiapan acara sekolah.


"Tapi gue ada urusan penting."


"Apa? Lo mau ke toilet?"


Diana menggeleng.


"Ya, udah, buruan ikutin gue, anak-anak drama pada ngumpul di sana buat bantuin." Fadil menarik lengan Diana agar segera mengikutinya.


Diana pasrah, biarlah nanti ia akan membuat perhitungan dengan siswi itu.


"Ini, lo gunting kayak contoh." Fadil menyerahkan kertas warna juga gunting pada Diana ketika tiba di ruangan. "Yang lain ikut gue buat pasang hiasan di aula ya?"


Diana benar-benar tidak menyangka akan turut andil dalam acara yang belum pernah ia ikuti sebelumnya. Bahkan sekarang dirinya sibuk memotong-motong kertas warna-warni sebagai hiasan dengan berbagai bentuk, melupakan sejenak tujuannya memberi pelajaran atas ulah kakak kelasnya.


"Seharusnya lo motongnya memanjang."


"Eh?" Diana mendongak.


Arya meraih gunting dan kertas dari tangan Diana, memberikan contoh cara menggunting agar membentuk sebuah lekukan panjang.


"Ini gimana?" Diana menunjukkan hasil karyanya.


"Nggak apa-apa, masih bisa ke pake kok. Gue bantuin gunting ulang," balas Arya mengambil duduk di depan Diana dan mulai memperbaiki hasil karya Diana.


"Arya, jadi ngundang siapa buat pengisi acara?" tanya seorang siswi.


"Wahh.. akhirnya gue bisa ketemu sama Ariel. Gue bakal minta tandatangan dan bakal gue pamerin sama sepupu gue," ujar siswi itu senang.


"Tiap tahun kita ngundang band lokal. Sekali-kali ngundang k-pop kek, Ar?" ujar siswi lainnya tersenyum lebar, disetujui yang lainnya.


"Siapa? BTS? EXO? ASTRO?"


"Jangan ngehalu."


"Eh, itu termasuk doa. Siapa tahu aja, kan, bisa di kabulkan," gadis itu terkikik.


"Satu Indonesia bakal iri sama kita kalau sampai kita bisa ngundang mereka ke sekolah. Bakal terkenal sekolah ini," gadis berbando putih itu tergelak.


"Kayaknya kepala sekolah bakal naikin uang spp kalau kita minta ngundang K-Pop ke sekolah."


"Bisa dicekek bokap, gue."


"Alamat nggak dapet jatah uang jajan gue."


Para siswi itu masih terlihat sibuk menghalukan K-Pop, tak menyadari Arya yang sama sekali tak berminat dengan ocehan mereka. "Lo k-popers juga?" tanyanya pada Diana.


Diana mengangguk. "Acaranya sampe malem?" tanyanya kemudian.


"Iya, sampe jam 10. Lo dateng, kan?"


"Lihat sikon."


"Tahun lalu lo dateng, kan?"


Diana terkesiap, mencoba mengingat-ingat apakah Dita pernah bercerita tentang pesta ulangtahun sekolah saat itu. 'Aduh, kenapa gue nggak inget?'


"Arya, kita boleh bawa anak luar nggak?"


Diana menghembuskan nafas lega ketika seorang siswi menyelamatkannya.


"Boleh, tapi cuma satu, dan wajib pakai kartu identitas."


Siswi itu mengangguk-angguk.


Arya beranjak, berjalan keluar ruangan. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa dua gelas minuman. "Ini buat lo," ujarnya menyerahkan satu cup pada Diana.


"Makasih," balas Diana menerima dan menyedot isinya.


"Lo cuma bawa buat Dita doang, Ar?" protes seorang siswi.


"Ambil sendiri, udah disediain di luar," jawab Arya yang seketika membuat para siswi itu beranjak meninggalkan dirinya bersama Diana saja.


"Ini gimana sih caranya?" tanya Diana menunjukkan potongan kertas berbentuk kupu-kupu.


Arya membolak-balikkan bentuk kupu-kupu kertas itu. "Oh?"


"Lo bisa?"


Arya menggeleng.


Diana mendengus. "Hss.. kirain bisa," cibirnya meletakkan kertas juga gunting, meraih cup minuman dan meminumnya menyenderkan punggungnya pada dinding.


"Dit, gue boleh nanya sesuatu sama lo?"


"Apa?"


"Lo ganti parfum, ya?"


Uhuk!


Diana seketika tersedak minumannya.


"Sorry, gue nggak bermaksud ngagetin elo," ujar Arya tak enak melihat wajah Dita yang memerah karena tersedak minuman.


Diana menggeleng. "Lo tahu parfum gue?" tanyanya memastikan.


"Beda aja sama yang pernah gue tahu."


'Gila, detail banget nih, cowok, sampe hafal wangi parfum gue.' "Em, iya, gue suka koleksi parfum," jawab Diana pada akhirnya.


Kening Arya mengerut. "Bukannya lo nggak suka ganti parfum?"


Pupil Diana membesar. "Ha? E-nggak. Siapa bilang?"


"Elo sendiri, kan? Waktu itu bilang sama gue nggak suka ganti-ganti parfum."


"Gue ngomong gitu sama lo?" Sumpah, Diana tak mengerti sedekat apa saudari kembarnya dengan ketua osis.


Arya mengangguk. "Lo lupa?"


Diana mengusap dagunya dengan punggung tangan. "Akhir-akhir ini sih, gue jadi suka ngoleksi parfum."


Arya terdiam memperhatikan gadis di hadapannya.


"Nggak ada yang salah, kan, seorang siswi SMA mempunyai hobi mengoleksi parfum?" tukas Diana menyadari gelagat tak percaya siswa di hadapannya.


Arya menggeleng. Ia berdehem. "Besok lo mau pergi ke acara sekolah bareng gue nggak?"


Diana tercengang.


.


.


.