
Diana terdiam menatap layar ponselnya yang kini menggelap, baru saja orangtuanya mengabarkan suatu hal yang membuatnya kian sedih.
Saudari kembarnya yang tengah berperang melawan penyakit mematikan kini membutuhkan banyak biaya untuk segala macam ***** bengek rumah sakit. Diana sama sekali tidak keberatan asalkan saudarinya bisa sembuh.
Ia gegas keluar kamar menuruni anak tangga, di sana Pak Jamal tengah menenangkan Bi Nur yang merupakan istrinya yang tengah menangis.
"Bi?"
"Non?" Bi Nur membawa tubuh Diana ke dalam pelukannya, ia terisak. "Non jangan khawatir, kami berdua sudah memutuskan akan tetap menemani Non," ucapnya sesekali mengusap air matanya yang mengalir.
"Saya akan tetap di sini, Non. Saya bisa bantuin beresin kebun, tidak apa-apa jika saya tidak di gaji," Pak Jamal menimpali.
Diana merasakan kelopak matanya memanas, sebegitu beruntungnya ia memiliki asisten rumah tangga dan sopir yang begitu baik dan pengertian akan keadaan keluarganya. Ia mengambil nafas. "Terimakasih atas kebaikan Bibi dan Pak Jamal selama ini. Tapi lebih baik Pak Jamal cari kerjaan lain, Bapak dan Bibi juga perlu uang untuk tetap hidup," ujarnya. "Kayak pengantin baru aja minta ditemenin terus, Bibi," guraunya. "Kasihan aku yang masih gadis lihat kemesraan kalian terus," imbuhnya mencoba mencairkan suasana.
Bi Nur memalingkan wajahnya malu, ia juga tahu kalau Nonanya tengah berusaha menghiburnya.
Pak Jamal tersenyum. "Kasihan Non nggak ada laki-laki di rumah ini. Bapak cari kerjaannya pelan-pelan aja, kalau sudah dapat yang baru Bapak bisa langsung kerja. Sementara ini Bapak boleh, kan, bantu-bantu kerja di sini?" Ia mendekat, mengusap lengan Diana pelan. "Jangan dipikirkan masalah gaji, Tuan sudah banyak membantu kami berdua, sudah seharusnya kami tetap berada di sini saat keluarga ini tengah dihadapkan musibah."
Runtuh sudah pertahanan Diana, ia menangis dalam pelukan Bi Nur. "Dita akan sembuh, kan, Bi?"
Bi Nur tak kalah pilu, ia mengangguk-angguk. "Pasti, Non, pasti. Non Dita pasti akan sembuh," balasnya yang juga amat berharap hal itu akan terjadi. "Non jangan sedih, kami berdua ada di sini, Non jangan ngerasa sendiri."
Diana mengangguk-angguk. "Terimakasih banyak, Bi."
***
"Non masih ingat cara mengendarai motor, kan?" Pak Jamal bertanya.
Diana memperhatikan motor sport berwarna hitam yang lebih besar dari tubuhnya, itu adalah motor milik ayahnya yang jarang sekali digunakan. Diana pernah belajar menaikinya, tapi itu dulu, sudah lama sekali, ia ragu apakah masih bisa mengendalikan motor besar itu. "Aku tidak yakin, Pak."
"Non naik kendaraan umum aja, Non. Bapak takut kalau Non jatuh."
Sebenarnya Diana juga lebih memilih naik angkutan umum ke sekolah, tapi, tidak ada angkutan umum yang langsung berhenti di depan rumahnya. Kecuali taksi. Tapi, kan, saat ini ia harus bisa berhemat.
"Bagaimana, Non? Bapak carikan taksi?" tawar Pak Jamal.
Diana menggeleng. "Hari ini aku naik bis aja, Pak. Besok Bapak ajarin aku naik motor ini lagi, ya? Aku perlu penyesuaian."
"Baik, Non. Mari Bapak antar ke halte."
"Eh? Nggak usah, Pak. Bapak di sini aja, bantuin Bi Nur, tuh, kasihan ngangkat jemuran berat," tunjuknya pada Bi Nur yang berada di lantai dua.
"Non yakin?"
"Iyaa.. udah aku mau berangkat dulu."
Seharusnya jika memilih menaiki angkutan umum Diana harus berangkat lebih pagi, sehingga tak kelelahan berlarian menuju halte bis. Semua terjadi karena ia terlalu lama berfikir akan mengendarai motor atau tidak, dan pada akhirnya ia memilih opsi kedua.
Nafas Diana tersengal ketika tiba di halte bis, terlihat beberapa orang juga turut mengantri menunggu kendaraan umum tersebut. Diana menarik nafas dalam guna mengatur degupan jantungnya. Seakan tersadar. "Kenapa aku nggak minta anterin Pak Jamal pake motor aja tadi?" gumamnya. "Ah, bego!" umpatnya memukul sisi kepalanya sendiri.
Tiba di sekolah, Diana merapikan ranselnya dan mengikat tali sepatunya yang terlepas.
"Woi... Dita! Turun kasta lo sekarang?!"
Diana mendongak sekilas, mengabaikan teriakan Silfi dan memilih fokus pada tali sepatunya.
"Dita udah miskin sekarang, dia naik angkutan umum!" imbuh Rury tergelak diikuti dua kawannya.
"Heh! Nggak ada yang namanya orang naik kendaraan umum bisa turun kasta. Justru, orang yang nggak kebanyakan gaya yang bisa disebut sultan. Contoh noh Pricilla, istrinya Mark Zuckerberg, tahu nggak lo siapa dia?" ledek Diana tak mau kalah.
"Hilih.. lo mau nyamain diri lo sama istrinya pendiri Facebook? Ngaca, woi, ngaca!"
"Gue udah ngaca, dan hasilnya tetap sama."
"Apa?"
"Gue pinter."
Silfi dan Rury terbahak. "Mau ngelawak lo?"
"Jangan anggap remeh siswi yang naik kendaraan umum. Lo nggak pernah tahu kalau ia punya tambang berlian di rumah," tutur Diana melenggang pergi, tak ingin lagi menganggapi kegilaan Silfi dan temannya.
"Ih, sok-sokan bilang punya tambang berlian. Tampang lo nggak ada pantes-pantesnya!" teriak Silfi kesal.
Diana tak merespon dan tak peduli, ia menulikan telinga.
Rury menyenggol lengan Silfi. "Kalau dia beneran punya tambang berlian gimana, Sil?"
Pupil mata Silfi melebar. "Jangan ngaco, deh, lo. Mana mungkin gadis bodoh kayak Dita punya bisnis besar kek gitu. Jangan kemakan kehaluannya Dita," cetusnya menunjuk sisi kepala Rury.
"Nah, itu, lo, tahu."
"Heh! Dita Verinda! Berhenti lo!" teriak Silfi berjalan menghampiri.
Langkah kaki Diana terhenti, ia membalik tubuhnya malas, malas meladeni ulah kekanakan dari Silfi.
"Lo —"
"Berhenti cari masalah, Silfi," peringat Arya yang tiba-tiba hadir, sejak tadi ia memperhatikan apa yang Silfi dan Dita lakukan. Atau lebih tepatnya apa yang Silfi lakukan pada Dita.
"Nggak usah ikut campur, deh," tangkis Silfi bersungut.
"Ini lingkungan sekolah, dan gue mempunyai kuasa buat ikut campur urusan yang menyangkut siswa siswi sekolah. Apalagi kalau itu menyangkut masalah pembullyan," balas Arya dingin, ia sudah tahu kalau Silfi sering melakukan pembullyan, hanya saja ia tidak pernah mendapatkan aduan atau melihatnya secara langsung.
Silfi mendengus kesal, ia menghentakkan kakinya dan segera berlalu.
"Kenapa nggak dari dulu lo bersikap kayak gini," gumam Diana pelan. Ia mendongak. "Gue nggak harus berterimakasih atas apa yang barusan lo lakuin, kan?" tanyanya membungkam mulut Arya yang hendak menanyakan keadaannya.
Arya tertegun. "Gue ngelakuin semua itu bukan karena elo, jadi lo nggak harus mengucapkannya."
Diana membulatkan mulutnya. "Gue duluan," pamitnya.
"Dita?"
Diana memutar bola matanya jengah. "Apa lagi?"
"Mobil lo mogok?"
"Kenapa?"
Arya melipat bibirnya ke dalam. "Gue nggak lihat lo dianter mobil tadi."
"Enggak, gue pengen naik bis aja," balas Diana bohong. "Nggak ada lagi, kan?"
Ingin rasanya Arya mengatakan sesuatu, tapi, tak ada yang keluar dari bibirnya, justru ia menggeleng.
"Gue duluan," pamit Diana kemudian, ia mempercepat langkahnya agar tidak seiringan dengan ketua osis.
Tepat di belokan koridor, Diana yang tergesa tak sengaja menubruk punggung seseorang yang tengah berdiri di depannya. "Ukh.. sorry, sorry, gue nggak sengaja," sesalnya.
Atta yang baru saja selesai berbicara dengan seseorang pada sambungan telepon berbalik ingin melihat siapa yang sudah menabraknya.
"Atta?" Diana harus menutup mulut karena tak sengaja meninggikan suaranya. Tapi lagi-lagi wajah laki-laki di hadapannya membuatnya heran. Bukan karena wajah tampannya, tapi lebih ke wajah muram dan lelah.
Atta hendak berbalik mengabaikan Diana, namun detik berikutnya ia kembali di hadapannya dan menyentil dahinya.
Ctak!
"Shhh..." ringis Diana mengusap dahinya.
"Jalan pake kaki, mata lihat ke depan. Jangan sebaliknya."
"Iya, gue juga tahu."
"Gue nggak terima."
"Ha? Nggak terima apa?" tanya Diana bingung.
Atta meringis mengentuh punggungnya. "Punggung gue sakit, lo harus tanggung jawab."
"Ha?" Diana ternganga.
"Papah gue, gue nggak bisa jalan." Atta baru saja hendak melingkarkan tangan di pundak Diana, namun Diana segera menghindar.
"Jangan cari kesempatan," peringat Diana. "Jangan pernah nganggap ini sebagai utang piutang lagi, ya?" ancamnya. "Dan punggung lo baik-baik aja, nggak usah lebay," cetus Diana gegas berlalu.
"Gue nggak bisa jalan, Dit. Ditaa lo harus tanggung jawab, Ditaa gue perlu pertanggungjawaban lo.." Atta terkekeh melihat respon Dita yang menutup kedua telinganya. Setidaknya hidupnya bisa sedikit waras dengan menggoda gadis itu.
.
.
.
Tbc