Dialanta

Dialanta
6. Cacing pendemo



Di sela mempelajari cara membaca puisi, Diana juga menghafal dialognya dalam drama, setelah naskah drama itu dibagikan, hampir setiap malam ia mencoba mempraktekkan di depan cermin. Begitu pula dengan puisi yang dikirim oleh Dita, Diana sibuk mempelajari keduanya.


Diana mengucir kuda rambutnya, menyemprotkan parfum dan meraih ranselnya yang tergeletak di atas meja, memperhatikan keseluruhan isi rumah yang sunyi sejak kepergian saudari kembarnya berobat ke Singapura. Menatap malas pada makanan di hadapannya, sekali lagi ia menatap kosong kursi yang biasanya di tempati orangtuanya beserta saudari kembarnya untuk sarapan bersama. Diana mendesah berat. "Kapan lo balik, Dit? Gue kangen."


*


"Loh? Pak Jamal, kenapa mobilnya?" tanya Diana merasakan mobil yang ditumpangi bersama sopir pribadinya tersendat-sendat dan kemudian terhenti di tepi jalan.


"Biar Bapak cek dulu, Non," balas Pak Jamal cemas.


"Aduh, Non, kayaknya ini ada masalah sama mesinnya," adu Pak Jamal menghampiri Diana yang berada di jok belakang.


"Bapak paham mesin nggak?"


"Sedikit, Non."


"Bapak panggil montir aja, bawa mobilnya ke bengkel, biar aku naik bis."


"Non tidak apa-apa naik bis?"


Diana mengangguk. "Nggak apa-apa, Pak."


"Biar Bapak carikan bis, ya, Non?" tawar Pak Jamal segan.


Diana mengangguk saja.


Lima menit menunggu bis lewat itu sudah sangatlah lama bagi Pak Jamal yang cemas jika putri majikannya akan terlambat ke sekolah, sedangkan Diana tampak berdiri tenang dengan sebelah telinganya yang tersumbat earphone.


Arya yang melintas menoleh sekilas melihat siluet gadis yang ia kenal. Ia menstandartkan laju kendaraannya dan menoleh ke belakang, memastikan bahwa yang ia lihat adalah Dita. Ia memundurkan kendaraan roda duanya saat menyadari gadis itu memang Dita.


"Kenapa, Pak?" alih-alih bertanya pada Dita yang sibuk dengan dunianya sendiri, Arya memilih bertanya dengan Pak Jamal.


"Itu, Den, mobilnya mogok." Pak Jamal mengamati seragam yang di kenakan siswa di hadapannya. "Aden satu sekolah sama Non Di..ta, ya?" tanyanya, hampir saja Pak Jamal salah menyebutkan nama.


Diana yang merasa ada seseorang didepannya mendongak dari ponselnya, menatap datar Arya yang berada di atas motor tengah berbicara dengan Pak Jamal.


"Iya, Pak," jawab Arya mengalihkan tatapannya ke arah Dita yang juga tengah menatapnya.


"Em.. itu, anu.."


"Nggak usah, Pak. Aku naik angkot saja," sela Diana mengerti arah tujuan ucapan sopir pribadinya, menghentikan angkot yang melintas dan masuk ke dalamnya.


Arya dan Pak Jamal menatap cengo kepergian Dita Diana dengan angkutan umum.


"Nggak apa-apa, Pak, saya permisi," pamit Arya menutup helm full facenya dan melajukan kendaraannya.


Arya mengikuti angkutan umum yang Diana tumpangi hingga sampai di depan gerbang sekolah. Sebuah motor sport yang sama dengannya dengan warna berbeda mendahuluinya dan menghadang Diana yang tengah berjalan memasuki gerbang sekolah.


"Pagi, Dit?" sapa Atta menghentikan laju kendaraannya tepat di samping Diana.


Diana menatap datar. "Hutang gue udah lunas, nggak perlu nagih di pagi buta," celetuknya.


Atta tergelak. "Lo kenapa bahas utang mulu sih, Dit?" kekehnya. "Iya, gue tahu utang lo ke gue udah lunas. Gue mau nawarin jasa ke elo."


"Apa?"


Atta menepuk jok belakang motornya. "Tenang aja, kali ini gratis."


Diana menatap datar. "Meskipun itu gratis, sorry, gue nggak berminat," tolaknya melenggang pergi.


"Eh? Dit, Dita!" panggil Atta yang diabaikan.


Sementara di tempat lain, Arya tersenyum kecil melihat penolakan yang Diana berikan pada Atta.


...***...


Kumpulan anak teater terlihat berkumpul di sebuah panggung untuk memulai latihan, terhitung sudah tiga kali Diana berada di tempat itu. Sebuah botol yang melayang di depan wajahnya membuatnya mendongak. Menatap botol dan juga pemilik tangan yang menyondorkan bergantian.


"Semua juga dapet bagian," ujar Arya merasakan penolakan gadis di hadapannya.


Tatapan Diana meluas, ternyata memang benar anggota drama mendapatkan minuman yang sama, ia menerima. "Thanks."


Arya mengangguk, mengambil duduk di samping Diana. "Lo mau latihan dialog sama gue?" tanyanya.


Diana mengusap bibirnya yang terdapat sisa minuman yang ia teguk. "Boleh," balasnya mengangguk.


Baru beberapa menit latihan, sebuah suara berbunyi dari perut Diana.


Kruukkk!!!


Diana reflek menyentuh perutnya, mungkin karena selera sarapan paginya yang merosot membuat cacing di perutnya mendemo.


Arya tersenyum kecil. "Lo laper?"


"Nggak apa-apa, lanjutin aja."


"Nggak apa-apa, lo makan aja dulu. Kebetulan ada yang pengen gue juga beli di kantin."


Begitupula Arya yang melangkah beriringan menuju tempat yang sama dengan Diana, keduanya tampak hening selama berjalan melewati koridor.


"Lo mau gue pesenin sekalian?" tanya Arya sesudah memasuki kantin.


Diana menoleh. "Nggak perlu, orangtua gue masih sanggup ngasih uang saku ke gue," tolaknya.


Arya tertegun mendengar jawaban dari Diana. "Gue nggak bermaksud begitu. Gue yang pesen, lo sendiri yang bayar makanannya," ralatnya.


"Oh?" tanggap Diana seadanya. "Nggak perlu, gue nggak mau ngerepotin," imbuhnya melenggang menuju stand penjual batagor.


Tengah membawa nampan berisi pesanannya, seorang siswi yang baru saja tiba mengagetkan Arya yang akan berbalik. "Boleh buat gue dulu nggak itu mie ayamnya? Gue udah laper banget, udah nggak tahan," ujar siswi berbadan gembul itu menyentuh perutnya dengan raut wajah meringis.


"Lo bisa pesen sendiri," tolak Arya mengabaikan.


"Please, gue udah nggak bisa nunggu, gue pengen makan mie ayam, kelamaan nungguin sampe mateng. Please.." pinta siswi itu memelas.


Arya menatap dingin dan datar tanpa ingin menanggapi.


"Gue bayarin," pinta siswi itu lagi.


Arya menghela nafas pelan, menyerahkan nampan pada siswi berbadan gembul itu. "Bayarin tuh sama penjualnya," ujarnya menunjuk penjual mie ayam dengan dagunya.


Senyum siswi itu mengembang, kepala mengangguk senang. "Thanks, Arya."


Sementara di tempat lain, Diana mengalihkan tatapannya saat Arya berjalan ke arahnya, ia sempat melihat apa yang dilakukan Arya bersama siswi itu tadi.


"Gue boleh duduk di sini, kan?" tanya Arya meminta izin.


Diana mengangguk saja.


Atta yang memasuki kantin tertarik melihat Dita dan Arya yang berada dalam satu meja yang sama, ia bermaksud menghampiri dan mengambil duduk di samping Diana. "Hai, Dita," sapanya tersenyum renyah.


Diana memutar bola matanya melihat Atta yang tiba-tiba duduk di sampingnya, sementara Arya menatap dingin kehadiran Atta di antara dirinya dan juga Dita.


"Tenang, utang piutang kita udah lunas, gue cuma pengen menanyakan sesuatu yang lo ucapin di rooftop waktu itu," ujar Atta menjelaskan.


Diana sedikit terkejut, teringat saat itu ia tengah menyebutkan nama Dita, apa waktu itu ia menyebutkan sesuatu yang tidak seharusnya ia sebut?


Sementara Arya tampak tak nyaman dengan pernyataan dimana keduanya pernah berada di satu tempat yang sama yang tidak ada orang lain, tapi ia juga penasaran dengan apa yang akan Atta ucapkan.


"Lo nyembunyiin sesuatu, kan?" tebak Atta.


Pupil mata Diana membesar, ia meneguk jus wortelnya rakus untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering, apa ia akan ketahuan? Ibu jarinya mengusap bibir bawahnya yang terdapat sisa jus dengan gerakan pelan yang justru membuat dua laki-laki remaja yang beranjak dewasa di hadapannya menegang.


"Maksud lo?"


Atta membasahi bibirnya sendiri serta meraup wajahnya untuk menghapus pikiran liarnya, sementara Arya berdehem dan mengusap tengkuknya.


"O-ohh, itu, kenapa gue lupa apa yang mau gue tanyain, ya?" gumam Atta nampak berfikir, nampaknya bibir Diana mampu membuat kerja otaknya lebih melambat. "Udahlah, entar gue tanyain lagi, gue cabut dulu," imbuhnya segera beranjak.


Diana menatap heran kepergian Atta. "Cowok aneh."


Arya berdehem. "Setelah ini jam kosong, lo mau lanjut latihan dialog?" tanyanya.


"Jam kosong? Kenapa?"


"Para guru ada rapat."


Diana membulatkan mulutnya. "Oke," jawabnya datar. "Masih ada waktu buat latihan puisi," gumamnya pelan.


"Lo ikut lomba puisi juga?"


Diana mengangguk.


"Puisi lo memang bagus, Dit."


"Lo pernah baca puisi gue?" tanya Diana penasaran.


Arya mengangguk. "Ada di majalah sekolah, kan?"


Diana terdiam. "O-oh, iya, gue lupa," ucapnya kemudian.


Arya mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sikap Dita.


.


.


.


^^^Minggu, 26 September 2021^^^


^^^Saskavirby^^^