
Mendapatkan libur selama tiga hari, yang Diana lakukan hanya bermalas-malasan di dalam rumah. Ah, sepertinya tidak begitu, ia justru menghabiskan hari di dalam perpustakaan pribadinya.
Diana memberikan alasan malas ke sekolah pada Bi Nur yang menanyakan alasannya tidak ke sekolah. Hingga siang itu ia mendapatkan tamu yang tak terduga.
"Papa?" Diana terkejut melihat kehadiran orangtuanya.
"Iya, ini Papa. Bagaimana kabar kamu, Di?"
Diana memeluk tubuh Ayahnya. "Diana baik, Pa. Bagaimana kabar kalian?"
Hendra mengusapi rambut putrinya. "Papa, Mama baik, Dita juga sudah mulai menjalani kemoterapi."
Diana menarik diri. "Kenapa Papa ke Jakarta? Ada sesuatu?"
Hendra mengangguk. "Ada yang harus Papa urus, kemungkinan Papa akan dirumah selama tiga hari."
Senyum Diana mengembang, tapi kemudian ia teringat bahwa besok ia masih harus menjalani masa skors.
"Bukankah seharusnya kamu sekolah, Di? Kenapa kamu di rumah?"
"O-h, itu," Diana nampak befikir. "Diana udah pulang. Sekolah dipulangkan lebih awal karena guru-guru ada rapat," ujarnya berbohong.
Hendra mengangguk-angguk.
"Bagaimana keadaan Dita, Pa?"
Hendra mengambil duduk di sofa. "Keadaan adik kamu sudah ada sedikit kemajuan, kamu nggak perlu khawatir," ujarnya mengusap lengan Diana.
"Papa yakin?"
Hendra mengangguk. "Fokus sekolah saja."
Diana mencibir. "Diana udah lulus, Pa."
Hendra terkekeh. "Fokus pada sekolah Dita saja, jangan pikirkan hal lain. Oh, ya, maafkan Papa karena Papa harus menjual mobil," sesalnya.
"Diana mengerti."
"Papa nggak sengaja ketemu teman Papa, dia mempunyai usaha tempat makan yang terkenal dan cukup di minati. Dia minta Papa bergabung dengannya membuka cabang baru di Batam. Papa sudah diskusi dengan Mama kamu, dan dia setuju. Tapi Papa perlu modal. Untuk itu Papa menjual mobil." Hendra menarik nafas. "Sebenarnya bisa saja Papa menjual motor, tapi karena motor itu dulu Papa dapat dari teman Papa, Papa tidak tega menjualnya. Setelah bisnis Papa lancar, Papa akan belikan mobil baru untuk kamu."
Diana mengangguk. "Diana mengerti kok, Pa. Motor itu dari Om Torro, kan, Pa. Papa pernah bilang sama Diana."
Hendra mengangguk.
"Diana nggak apa-apa kalau harus naik motor, Diana justru seneng."
Hendra mengusap kepala Diana. "Terimakasih, ya, sayang. Papa sangat bersyukur mempunyai anak sehebat kalian."
Diana tersenyum. "Pa, Diana boleh ikut ke Singapura?"
Hendra mendesah. "Besok kalau sudah liburan sekolah, ya? Kan kamu juga harus sekolah."
Diana tahu jika orangtuanya tidak mengharapkan ia menjenguk Dita, entah karena kondisi Dita yang terlalu buruk atau karena hal lain, ia tidak tahu. Yang ia lakukan hanya mengangguk dan berharap bisa segera bertemu dan melihat keadaan Dita.
***
"Ta, lo ada masalah?"
Atta yang tengah menempelkan kepala di bangku tak merespon.
Dio menepuk lengan Atta. "Setidaknya gue bisa cegah lo kalau lo ngelakuin hal gila kayak kemaren."
Atta bergeming.
"Lo tahu Wahyu anak IPA 3, bokapnya kawin lagi," celetuk seorang siswa.
"Tau dari mana lo?"
"Jangan bikin gosip lo, Pret."
Fredy yang lebih akrab dipanggil Pret itu berdecak. "Emangnya gue biangnya gosip kek elo. Ini gue serius, Jamilah. Fakta."
"Lo tau darimana?"
"Adiknya si Wahyu temen sekolah adik gue. Dia cerita sama adik gue."
Dio menggeplak kepala Fredy. "Adik lo masih SD, bego!"
Fredy meringis mengusap kepalanya. "Justru adik gue masih SD dan polos, dia nggak bakal bohong, somplak!" ia balas memukul kepala Dio dengan buku yang ia ambil acak di atas meja.
"Anak SD lo percaya," cibir seorang siswi.
"Punya dua nyokap dong, si Wahyu."
"Masih perawan tingting, bro. Mantap nggak tuh."
"Apanya yang mantap, Pret?"
"Goyangannya," Fredy terbahak di ikuti yang lain.
"Ih, Predy jorok!"
"Enak kali, ya, punya dua bini. Bosen sana pilih sini, bosen sini pilih sana. Asooyy!!!"
Mereka kompak tertawa.
"Heh, kaum poligami modal utang. Perawan juga bakal pilih-pilih kali buat jadi istri kedua. Buat bayar dansos aja elo masih ngutang. Sok-sokan mau poligami. Ngimpi lo ketinggian!" celetuk seorang siswi tomboy dengan rambut diikat ekor kuda.
Mereka kembali terbahak mendengar ucapan salah satu teman mereka.
"Eh, Juminten. Dansos sama kehidupan itu beda. Gue sedang dalam masa pertumbuhan, jadi gue butuh uang banyak buat tabungan masa depan. Dansos itu dana sosial, seikhlasnya gue lah mau bayar atau nggak."
"Ya udah, kalau lo ketabrak truk terus kaki lo patah, leher lo teleng, nggak usah ngarepin uang dansos."
"Astaghfirullah haladzhim... Maemunah, kamu tidak boleh berbicara seperti itu kepada saudaramu. Kamu.. kamu.." Fredy berkhotbah penuh drama.
"Sabar Pak Ustadz, Sabar.." Dio mengusap-usap dada Fredy, membuat teman-temannya kian tergelak.
"Cita-cita jadi ustadz, tapi pikiran ke poligami. Dasar gila!"
"Ustadz poligami, dong!"
Atta yang sejak tadi hanya menjadi pendengar menggebrak meja, membungkam suara tawa dari teman sekelasnya. "Bisa diem nggak lo semua?!" hardiknya. Ia menuding Fredy. "Bajingan kalau lo punya niatan punya istri lebih dari satu," geramnya melenggang pergi meninggalkan kelas.
Dio menepuk lengan Fredy. "Jangan masukin ke hati, dia lagi sensi."
*
Atta berjalan menuju kantin dengan perasaan yang dongkol entah karena apa, apa mungkin karena ucapan teman sekelasnya yang membahas poligami?
Ia mengambil sebuah minuman kaleng pada lemari es setelah meletakkan uang di atas meja, meneguknya hingga setengah. Melihat sayuran berwarna oren kesukaan kelinci berada di salah satu etalase mengingatkannya pada seseorang, sepertinya ia belum melihat gadis itu seharian, atau mungkin sejak kemarin.
"Eh, lo anak IPS, kan?" Atta bertanya pada dua orang siswi yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Kedua siswi itu mengangguk. "Iya."
"Sekelas sama Dita, kan?"
"Dita? Dita yang naksir Arya maksudnya?"
Atta tertegun, Dita suka sama Arya? "Mana gue tahu kalau Dita suka sama Arya. Dita yang ikut drama."
"Ohh, iya, itu juga Dita yang gue maksud."
Atta berdecak. "Iya, Dita yang itu," balasnya ketus. "Lo sekelas sama dia?"
"Dia IPS 2."
"Masih di skors, kan, dia?" timpal siswi di sebelahnya.
"Dita di skors? Kenapa?" tanya Atta penasaran.
Dua siswi itu mengangguk. "Dia ketahuan berantem sama Silfi, ngelempar Silfi pake bola basket."
"Wow.. berani juga dia," gumam Atta pelan. "Di skors berapa hari?" tanyanya kemudian.
"Tiga hari sejak kemarin kayaknya."
Atta mengangguk. "Oke, thanks," ucapnya segera berlalu. Ia tersenyum tipis menyadari keberanian Dita bahkan hingga sampai mendapatkan skorsing. Hebat. "Kira-kira dia bakal ngamuk nggak, ya, kalau gue ke rumahnya," kekehnya.
***
"Hidup dua hari tanpa Dita, tuh, rasanya ademmm banget hati gue, nyesss!!" celetuk Marisa.
"Bener banget, sekolah tuh, rasanya tentram dan damai," Rury menambahi.
"Lebih baik nggak sih menurut lo kalau si Dita itu nggak perlu satu sekolah sama kita."
"Bener, gue setuju sama lo, Mar."
"Cewek bodoh, sok cantik, sok care kayak si Dita emang nggak pantes sekolah di sekolah elite macam Nusa Bhakti," ujar Silfi setelah meneguk minumannya.
"Kayaknya satu sekolah mulai terpengaruh ucapan lo, deh, Sil. Bahkan adik kelas juga ikut-ikutan musuhin si Dita."
Silfi tersenyum sinis. "Siapa suruh dia mulai duluan. Gue nggak suka sama orang yang sok deket sama gue, cuma karena sekali nolongin gue udah nganggap dia selevel sama gue. Ditambah lagi dia sok kecakepan nembak si ketua osis. Ya, meskipun akhirnya ditolak. Tapi gue nggak suka aja sama dia," tuturnya sombong.
"Eh, tapi si Arya sekarang sering kelihatan deket sama si Dita, deh."
"Mereka jadian?"
"Nggak tuh, gue nggak denger gosip kalau mereka jadian. Lagian kayaknya si Dita jadi cuek banget sama si Arya sejak ditolak cintanya."
"Ya iyalah, siapa yang bakal mau pacaran sama cewek udik sok kecakepan modelan Dita, iyuhh.."
"Untung lo nggak naksir Arya, Sil."
"Kenapa?"
"Tingkat kebencian lo semakin bertambah ke Cinderella jadi-jadian," jawab Rury.
"Tapi dia juga lagi deket sama Atta," timpal Marisa. "Eh, sebenarnya lo tuh, suka nggak sih, Sil, sama Atta."
"Nah, iya, lo kok lempeng-lempeng aja nggak ada tindakan buat deketin Atta," Rury menyahut.
Silfi menyisir rambutnya. "Nggak perlu tindakan, gue sebagai cewek harus jaga image dong, jangan jadi murahan. Kita itu barang berharga. Cukup pelan tapi pasti," jawabnya tersenyum.
"Terus gimana sama Dita?"
"Kenapa sama Dita?"
"Ehem!!"
Seseorang berdehem membuat ketiganya menoleh.
"Kalian bertiga masih dalam pengawasan, kalau kalian bertiga bertindak melanggar peraturan sekolah, kalian tidak hanya di skor, tapi dikeluarkan," ujar Arya mengancam.
Ketiga mencibir. "Iya, gue tau. Makasih udah diingetin," balas Silfi ketus.
Marisa mencondongkan tubuhnya. "Baru nyebut nama Dita aja dia udah sensi, naksir sama Dita kali tuh, si, ketos," bisiknya.
"Heh, mana mungkin," tepis Rury. Katarak tuh orang suka sama Dita. Dia udah nolak si Dita, kan?"
"Ah, iya, bener juga ya?"
"Dia ngomong gitu cuma ngingetin, biar kita nggak bikin ulah. Bukan untuk membela Cinderella jadi-jadian," ujar Silfi. Kedua temannya mengangguk-angguk. "Lagipula kita terbiasa main cantik. Dita aja yang bego," imbuhnya.
"Bego emang tuh anak."
.
.
.
...**Terimakasih yang masih bersedia mampir membaca cerita ini....
...terimakasih yang masih berkenan memberikan semangat....
...Lama banget ya aku hibernasinya haha, satu tahun kayaknya hehe...
...Semoga kedepannya bisa konsisten update, doain author sehat-sehat ya kawannn...
...Miss youuu 😘...
...Saskavirby**...