Dialanta

Dialanta
19. Tanggungjawab



Untuk beberapa saat hampir seluruh siswa siswi sekolah terheran melihat seorang siswi yang mengendarai motor sport masuk ke halaman sekolah mereka. Saat siswi itu membuka helmnya mereka jauh lebih tercengang lagi mengetahui fakta bahwa siswi itu adalah Dita. Siswi yang populer karena otak dangkalnya dan sifat sok pedulinya.


Diana merapikan rambutnya yang tergerai, melangkah menuju gedung sekolah dengan santai, tak menghiraukan tatapan heran dan kagum dari para siswa siswi yang melihatnya.


"Gue nggak nyangka lo bisa bawa motor, Dit." Arya menghampiri.


Diana tersenyum kecil. "Bakat terpendam gue."


Arya mengangguk.


"Dit, lo nggak pernah setor puisi lagi?" seru seorang siswa.


Diana berbalik, membaca name tag siswa itu. Yoga? Siapa Yoga? Ia melirik gelisah.


"Meskipun lo cuma jadi juara umum saat lomba waktu itu, tapi gue pribadi suka sama puisi lo. Buat ngelengkapin isi majalah," Yoga menaik turunkan kedua alisnya.


"Gue lagi mode down mood, otak gue nggak bisa diajak kerjasama buat nulis puisi," Diana berbohong.


"Ck ck ck, sayang sekali. Gue doain moga lo cepet dapat ilham buat bisa bikin puisi," balas Yoga mengedipkan sebelah matanya.


"Amin," balas Diana seadanya.


"Gue denger Atta habis berantem," celetuk Yoga lagi. Kompak Diana dan Arya menoleh.


"Berantem?" ulang Diana tanpa sadar.


Yoga mengangguk. "Ada siswa yang lihat dia berantem tengah malem sama preman. Terus ada yang sering lihat dia keluar tengah malem juga sampe pagi. Terbukti dia sering telat dan tidur di kelas."


"Hobi stalker lo mirip cewek," komentar Arya.


"Wo.. lo aja yang kurang update," balas Yoga tak terima. "Lagian lo pasti lebih tahu banyak, kan? Kalau tuh anak sering dapet hukuman karena telat. Secara lo adalah sumber yang punya kuasa tertinggi memberikan hukuman," kekehnya.


Arya bergeming tak ingin menanggapi.


"Dit, gue tunggu puisi-puisi lo berikutnya, ya?" Yoga menepuk lengan Diana sebelum berlalu.


Diana mengangguk saja, pikirannya sibuk memikirkan Atta yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan. Tapi entah kenapa ia ingin memikirkan. Ah, sialan!


Teringat terakhir kali ia melihat wajah Atta yang terlelap di pangkuannya, memang sepertinya pria itu mempunyai masalah yang tak seharusnya Diana ketahui. Stop memikirkan tentang Atta, Diana. Rutuk Diana dalam hati.


"... ada acara?"


Diana menoleh. "Ha? Lo ngomong apaan barusan?"


Arya mendesah pelan. "Nggak, gue nggak ngomong apa-apa."


"O-oh?"


Keduanya diam, hingga kemudian harus berlawanan arah karena ruang kelas yang berbeda.


"Gue duluan."


Diana mengangguk.


*


Saat suara tanda istirahat berbunyi, gerombolan siswa siswi keluar dari kelas masing-masing dan hampir keseluruhan mempunyai tujuan yang sama, yaitu, kantin.


Namun berbeda dengan Diana, gadis itu memilih duduk di bawah pohon, menyumpal telinganya dengan earphone dan membaca buku yang ia pinjam di perpustakaan beberapa hari yang lalu.


Tengah serius dengan bacaan dan juga musik tiba-tiba buku yang ia baca di tarik paksa oleh seseorang. Diana mendengus kesal mengetahui sang pelaku.


"Otak lo nggak bakal nyampe baca buku ginian," Silfi menepuk buku yang ia rebut dari Diana. "Karena lo terlalu bodoh," imbuhnya mengolok, ia terkekeh diikuti dua antek-anteknya.


"Balikin."


"Mau lo baca sampe mulut lo berbusa juga lo nggak bakal ngerti." Marisa menambahi.


Diana berdiri, berusaha merebut buku dari ketiganya. "Balikin!"


"Coba aja kalau bisa," Silfi meledek, menyembunyikan buku di belakang punggungnya, menghindari Diana.


Diana bersungut emosi, ia menarik lengan Silfi kuat.


Srekk!!


Keempatnya terkejut menyadari seragam Silfi yang robek karena tarikan Diana yang tak disengaja.


"DITAAAA!!!!!"


"Sorry, gue nggak sengaja."


Silfi menghentak. "LO RUSAKIN BAJU GUE!"


"Iya, gue tahu, nggak usah teriak-teriak." Diana mengusap telinganya. "Lo juga yang salah, cari gara-gara sama gue duluan."


"Lo mau ngeles?" hardik Silfi tak juga merendahkan intonasi suaranya. Ia mengangkat buku milik Diana, merobek isinya.


Diana ternganga.


"Gue cuma ngebales apa yang lo lakuin ke gue," ucap Silfi menyeringai.


Diana masih terdiam dengan pupil mata membesar menatap robekan kertas di bawah kakinya. Buku milik perpustakaan sekolah yang kini sudah tidak lengkap isinya karena ulah Mamuna beserta antek-anteknya.


Sepertinya Silfi pantas mendapatkan julukan Dziwozona atau yang dikenal juga dengan julukan Mamuna, yang merupakan salah satu makhluk mitologi dunia yang mendapatkan penghargaan sebagai makluk cantik tapi paling sadis dan kejam. Bedanya, Mamuna atau Dziwozona tinggalnya di rawa-rawa dan pinggir sungai, sedangkan Silfi saat ini berada di depan Diana.


"Bedebah," ucap Diana pelan.


"Lo bilang sesuatu?" tanya Silfi menyelidik.


Diana mendongak, menatap tajam lawan di hadapannya. "BEDEBAH!!" pekiknya keras, membuat ketiga gadis di hadapannya tersentak. "Gue bersumpah," tuturnya. "Demi Dita adik kandung gue yang saat ini tengah berperang melawan penyakitnya," gumamnya pelan. "Gue bakal balas perbuatan kalian selama ini."


"Lo berani?!" tantang Silfi gusar melihat tatapan tajam gadis di hadapannya.


Diana mengambil bola basket di tepi lapangan. "Lo nggak buta, kan, melihat ini adalah bola basket," ujarnya mengangkat di depan ketiganya. "Gue nggak segan-segan buat ngelempar bola ini ke kepala kalian. Gue juga nggak takut kalau kepala sekolah atau bahkan polisi sekalipun bakal ngehukum gue setelah gue berhasil membuat kalian bertiga gegar otak. Selama gue bisa bikin kalian bertiga menderita, itu kepuasan yang nggak akan pernah gue lupain seumur hidup gue."


Silfi, Marisa dan Rury saling tatap, merasa terintimidasi oleh ancaman Diana. "L-lo jangan –"


"Kenapa? Lo takut?" sela Diana. "Selama ini kalian juga ngelakuin hal yang sama, kan, sama gue. Lalu apa kalian peduli akan ketakutan gue meskipun sebenarnya gue sama sekali nggak takut." Diana menyeringai.


Dug!


"Aww."


"Itu balasan karena lo udah ngerobek buku gue."


Dug!


"Ahk."


"Itu balasan karena lo ngebela pembully."


"Tidak! Jangan!" cegah Marisa gegas berlari menghindari amukan Dita yang sebelumnya berhasil melempari tubuh dua temannya.


Dug!


"Aww."


Terlambat, bola basket lemparan Diana berhasil mengenai pundaknya.


Diana tak gentar, ia terus melempari tubuh Silfi, Rury dan Marisa dengan bola basket.


"DITA! HENTIKAN! GILA LO, YA?"


"AAAAAA TOLOONGGG!!!"


Ketiganya lari pontang panting menghindari amukan Diana, memilih masuk ke gedung sekolah untuk bersembunyi.


"Dita, apa yang lo lakuin?" cegah Arya menghadang langkah Diana.


"Apa? Lo pasti udah lihat, kan, apa yang gue lakuin sama mereka bertiga?"


"Berbahaya?"


"Lo bisa ngelukain mereka bertiga, tindakan lo termasuk dalam bullying."


Diana tertawa hambar, hingga tawanya mereda, ia menatap tajam siswa di hadapannya. "Lo tahu, selama ini mereka semua yang udah ngebully gue. Gue korban disini. Bukan lo, Silfi, atau yang lainnya. Lo mungkin ngebuta akan semua itu. Dan gue hanya membalas apa yang mereka semua lakuin ke gue?!"


"Tapi lo nggak harus membalas mereka?"


Rahang Diana mengeras. "Lo sama sekali nggak pantes menjabat sebagai ketua osis, Arya. Jabatan ketua osis hanya sebuah nama untuk lo, tidak untuk apa yang lo lakukan selama ini untuk sekolah, untuk semua siswa siswi di sekolah ini. Lo nggak pantes mendapatkan jabatan itu sementara lo nggak bisa memberikan hak untuk setiap siswa siswi di sini. Lo nggak pantes jadi ketua osis sementara lo tutup mata melihat kekerasan di sekitar lo. Lo bukan contoh teladan yang baik."


Arya tertegun, tidak pernah melihat Dita atau siapapun yang berani menghinanya seperti itu. "Gue hanya melakukan apa yang seharusnya ketua osis lakukan. Gue bukan tutup mata, tapi gue yang bertanggung jawab mengadili setiap yang salah sesuai dengan bukti dan kenyataan. Gue bertanggung jawab meluruskan kesalahan itu. Gue juga nggak mau kalau sampai akhirnya elo yang bakal menanggung semuanya, gue nggak mau lo nyesel, gue nggak mau lo terlibat masalah."


Diana berdecih. "Selama ini masalah yang selalu datang sama gue. Lo nggak perlu peduli sama gue, gue nggak masalah kalau gue harus menanggung apa yang udah gue lakuin. Lo nggak perlu sok care sama kehidupan gue yang gue juga nggak mau lo sampai terlibat di dalamnya. Nggak perlu lo ceramah di depan gue, gue tahu apa yang terbaik buat gue."


"Lo harus tanggung jawab atas apa yang barusan lo lakuin, Dit," cegah Arya menghentikan langkah Diana.


Diana berbalik. "Oke. Gue bakal tanggung jawab, gue bakal terima semua hukuman yang lo berikan ke gue. Tapi setelah gue puas dengan apa yang bakal gue lakuin sama mereka bertiga."


Arya mencekal tangan Diana saat gadis itu hendak berbalik. "Gue nggak bakal ngebiarin lo dalam masalah."


Diana menatap tajam jemari di pergelangan tangannya. "Lo nggak perlu ikut campur," hentaknya menghempaskan tangan Arya.


Arya merebut bola basket dari Diana. "Lo dalam masalah besar kalau sampai orangtua lo harus hadir di sekolah."


Diana terdiam beberapa detik. "Gue nggak peduli," tepisnya gegas berlalu, mengabaikan teriakan Arya dan juga tatapan para siswa siswi yang melihat perseteruannya dengan Arya tadi.


"Dita!"


***


"Seharusnya kamu menjaga barang yang bukan milik kamu sendiri. Ini bukan karena ketidaksengajaan, tapi ini sengaja di lakukan. Kamu tahu itu, kan? Lihat buku ini, ini dilakukan dengan sengaja!"


Diana menunduk saat petugas penjaga perpustakaan memarahinya perihal buku yang dirobek Silfi. Ia tahu ia salah, sebab itu ia hanya diam.


"Siapa yang melakukannya? Adikmu? Keponakanmu? Ibumu? Atau kamu sendiri? Kamu harus bertanggungjawab karena kamu yang meminjam buku ini."


Diana mendesah. 'Untuk itu saya di sini, Bu, untuk tanggung jawab,' gumamnya dalam hati.


"Ganti rugi."


'Ngomong ganti rugi aja harus muter-muter dulu.' "Iya, Bu, saya akan ganti rugi, kok."


"Buku ini hanya ada dua di perpustakaan ini, setelah kamu merusaknya, hanya tinggal satu yang tersisa."


'Ngomel lagi.'


"Kamu sanggup ganti yang baru? Susah mendapatkan buku ini, Dita."


"Bagaimana cara saya ganti rugi, Bu?" tanya Diana sudah jengah.


"Kenapa kamu harus merobeknya jadi remahan? Kalau sudah begini tidak bisa di perbaiki lagi?"


'Ya Allah.. kapan ini berakhir.'


"300 ribu."


"Ha?"


"Iya, kamu harus ganti rugi 300 ribu."


"Tapi, Bu. Kenapa mahal sekali?"


"Hei, kamu tidak dengar apa saya bilang tadi. Buku ini hanya ada dua di perpustakaan, susah nyarinya, Neng. Kalau kamu mau cari buku ini di luar silahkan, kamu beli persis seperti ini. Kamu tidak perlu membayar ganti rugi."


Diana diam, ia tahu buku ilmu kedokteran harganya bisa lebih dari tiga ratus ribu di luar sana, belum tentu juga ia bisa mendapatkan yang sama. "Ya udah, saya bayar ganti rugi aja, Bu." Diana pasrah, dua lembar uang pecahan seratus ribu beserta dua lebar pecahan lima puluh ribu berat ia keluarkan dari dompetnya. "Bu, boleh saya cicil?"


"Memangnya saya rentenir?"


Diana mendesah, hilang sudah uang sakunya selama satu minggu.


"Jangan kamu ulangi lagi, ya?" peringat petugas perpustakaan.


Diana menggeleng lesu, melangkah gontai keluar perpustakaan setelah isi dompetnya terkuras. "Mamuna sialan!" gerutunya pelan.


Belum usai kepedihan Diana melepas uangnya yang harus ia keluar untuk ganti rugi, kini ia tengah di hadapkan dengan kepala sekolah perihal apa yang ia lakukan terhadap Mamuna beserta antek-anteknya.


"Bapak beri waktu tiga hari untuk kamu merenungkan kesalahan kamu."


Diana terkesiap. "Saya di skors?" tanyanya memastikan.


"Iya, bapak harap setelah itu kamu akan berfikir dulu sebelum melakukan sesuatu, dan tidak lagi menimbulkan masalah."


"Tunggu dulu. Bagaimana dengan mereka bertiga? Mereka yang melakukannya lebih dulu, Pak."


"Bapak tahu, mereka bertiga sudah mendapatkan hukuman dari ketua osis."


"Mereka bertiga juga di hukum, Pak?"


"Kalian berempat menimbulkan masalah tentu harus mendapatkan hukuman."


Diana tersenyum. "Baik, Pak, saya mengerti."


Tidak masalah mendapatkan libur selama tiga hari, setidaknya Mamuna dan dua kacungnya mendapatkan hukuman juga, itu lebih baik.


Diana tersenyum melihat ketiga Mamuna itu tengah membersihkan toilet sekolah. Sepertinya ia harus berbuat sesuatu sebelum masa libur sekolahnya besok. Diana berjalan di atas tanah, sengaja membuat sepatunya kotor dengan tanah merah itu. Kemudian dengan santainya berjalan ke kamar mandi, melewati Silfi yang tengah mengepel lantai.


Silfi ternganga melihat lantai yang sudah ia pel kembali kotor oleh jejak kaki. "Heh! Lo nggak lihat gue lagi ngepel?"


Diana menoleh. "Ups! Sorry, gue cuma mau ke toilet."


"LO!" Silfi menuding. "Lo kan bisa cari toilet lain. Lo sengaja, ya?"


"Serah gue dong mau pakai toilet mana. Tugas lo cuma ngebersihin."


"Kurang ajar!"


"Hei, hei. Lo mau nambah hukuman lagi karena menghalangi siswi yang mau ke toilet?"


Silfi mendengus. "Hukuman lo lebih parah," balasnya.


Diana melipat tangan. "Nggak masalah. Justru gue spesial karena mendapat cuti selama tiga hari, keren, kan?"


Silfi meringis. "Dasar gila!"


Usai dengan kegiatannya Diana kembali berjalan tanpa dosa meninggalkan toilet, tak lupa memberikan jejak pada toilet dengan cap sepatunya yang penuh tanah.


"DITA! SEPATU LO KOTOR!"


"Emang."


"Lo ngotorin lantainya!"


"Ya, lo bersihin aja lagi, beres kan?"


Silfi menggeram marah. "Lo sengaja, ya?"


"Kalau gue bilang iya, kenapa?"


Silfi melotot, ia menendang ember di depannya, seketika lantai yang awalnya bersih kembali kotor karena tumpahan air keruh dari ember.


Diana segera menghindar, menghentakkan sepatunya yang penuh tanah. "Jangan kangen sama gue," ledeknya sebelum berlalu.


Silfi bersungut-sungut. "DITAAA!! GUE BENCI SAMA LOOOOO!!!!"


.


.


.