
Tidak pernah terbayangkan oleh seorang Diana ia akan menjadi topik gosip dan bahan ghibahan seluruh penghuni sekolah tentang statusnya berpacaran dengan Atta. Berbeda saat saudari kembarnya terkenal dan tak banyak teman mereka melihatnya secara tak kasat mata. Tapi sekarang justru terbalik, tak sedikit yang akan menghadang langkahnya sekedar bertanya mengenai hubungan Atta dan dirinya. Meski Diana ketahui mereka melakukan itu hanya untuk mencari bahan topik yang akan disebar di seluruh penjuru.
Diana memutar bola matanya jengah menyadari tiga Mamuna tengah berjalan menghampirinya, tatapan mereka tentu tak pernah bersahabat dan terkesan angkuh.
"Gue cuma mau mastiin gosip yang tengah panas," Silfi memulai pembicaraan. "Lo nggak pacaran sama Atta, bukan?" selidiknya lebih mirip sebuah ancaman.
"Jangan mencari tahu untuk menjadi sok tahu," balas Diana hendak berlalu, namun langkahnya terhalang.
"Jawab tidak apa susahnya, sih?" Marisa mulai emosi melihat Diana yang sok berani.
"Kalau iya kenapa? Mengurangi kadar kepopuleran kalian?" Diana tak mau kalah.
Ketiganya terkejut.
"Nggak usah ngimpi buat jadi pacarnya Atta. Lo cuma babu yang nggak bisa jadi Cinderella, masih inget, kan, lo?" Silfi tak kalah emosi mendengar pengakuan Diana.
"Terus kenapa?" Diana menantang dengan melipat tangan. "Lo malu karena merasa tersaingi? Lo malu karena bisa dikalahkan oleh babu?" imbuhnya sarkas.
Plak!
Silfi yang kelewat marah karena termakan ucapan Diana menampar pipi Diana keras. Sepertinya ia juga terkejut akan tindakannya sendiri.
Diana menyentuh sebelah pipinya yang terasa kebas, jemarinya terkepal erat dengan tatapan tajam yang menghunus tepat pada netra hitam di hadapannya. "Lo yang mulai duluan," desisnya pelan namun tajam.
Silfi merasa terintimidasi oleh tatapan Diana. Mungkin jika ia meminta maaf semua akan membaik, namun ia tidak akan pernah sudi mengucapkan kalimat itu, terlebih pada Diana.
Plak!!
Diana berhasil mendaratkan telapak tangannya di pipi Silfi.
Plak!!
Lagi, tangan kirinya juga ikut andil.
"Brengsek," Silfi mengumpat merasakan kebas di kedua pipinya, ia menarik kerah baju Diana dan menjambak rambutnya.
Aksi perkelahian terjadi ketika Diana dan Silfi saling adu jambakan rambut, ulah keduanya menjadi tontonan gratis siswa siswi yang sudah hadir pagi itu. Marisa dan Rury berusaha melerai keduanya.
"Sil, udah, Sil, nanti ketahuan BK."
"Lepaskan tangan lo, brengsek!"
"Gue bakal buat kepala lo botak."
"Aaawww.."
"Dit, lepasin," Rury nampak kewalahan menarik tubuh Diana, hingga tubuhnya sendiri terjengkang ke belakang saat Diana menendangnya. "Aww, sialan, lo, Dit!" pasti sangat sakit ketika pantat menyentuh lantai dengan keras.
"Atta!!" Rury berteriak keras memanggil Atta yang berjalan di sebuah koridor, sepertinya ia baru tiba. "Tolong pisahin mereka," Rury gegas menghampiri dan mengadu, sejujurnya ia juga khawatir tindakan Silfi akan berakhir di ruang BK.
"Siapa? Bukan urusan gue," jawab Atta kelewat tak peduli, ia sudah melihat kerumunan serta teriakan perkelahian di depannya.
Rury sangat tidak suka dengan sikap Atta yang kelewat dingin dan tak peduli, tapi kalau bukan Atta siapa lagi. "Silfi sama cewek lo, Ta. Mereka berantem."
Atta terdiam sejenak. "Cewek gue?"
Rury mengangguk-angguk. "Iya cewek lo, dia berantem sama Silfi. Cepetan, Ta, pisahin, keburu ada guru yang lihat," ia semakin tak sabar.
"Maksud lo Dita?" Atta memastikan.
"Iya, Dita, siapa lagi cewek lo selain Dita?" Rury sangat ingin memukul kepala Atta.
Atta gegas berlari menghampiri kerumunan, ia terkejut melihat aksi pengeroyokan dua lawan satu. Sudah paham bukan yang dua siapa, yang satu siapa. Atta mengangkat tubuh Diana dengan melingkarkan tangan pada perut gadis itu, membawanya menjauhi lawan. "Stop, stop," ia memunggungi Silfi untuk melindungi Diana serta membiarkan punggungnya menjadi amukan gadis tersebut. "BERHENTI!!" teriaknya murka.
Silfi berhenti menjadikan punggung Atta samsak, ia berdiri dengan nafas memburu melihat Diana dalam perlindungan Atta.
Atta memperhatikan Diana, kemudian menatap Silfi juga Marisa dingin, ia menunjuk dua gadis itu seakan mengancam mereka karena sudah melukai kekasihnya. "Ayo pergi," ujarnya pada Diana.
Diana bersungut-sungut. "Gue belum selesai sama mereka," balasnya hendak melawan, ia harus membalas rasa panas pada kulitnya kepalanya akibat beberapa helai rambut yang ditarik paksa dari kulitnya.
"Udah, Dit," Atta mencegah.
"Lo nggak usah ikut campur!" semprot Diana.
"Ikut gue atau gue bakal nyium lo di sini!" nyatanya ucapan Atta atau mungkin ancamannya bukan isapan jempol, karena setelah itu ia benar-benar mencium pipi Diana. Ah, ia terlalu gemas.
Tak terhitung berapa pasang mata yang melihat dan melotot terkejut akan tindakan Atta, tak terkecuali Silfi dkk, beserta sang korban yang nampak terdiam cengo.
"Ikut gue," Atta menarik paksa jemari Diana saat sang empu hanya terdiam membisu.
Sepanjang jalan, sepanjang koridor yang entah akan dibawa kemana, Diana terdiam dengan pikiran yang melayang jauh. Tindakan spontanitas yang mungkin saja di sengaja sang pelaku berimbas pada reaksi tubuhnya yang beku, ia tidak berharap itu terjadi, namun kenapa harus terjadi?
Atta membawa Diana ke ruang kesehatan. Ada yang aneh dengan gadis itu, sepanjang jalan hingga ia memintanya duduk Diana hanya diam membisu. "Dit, lo nggak apa-apa, kan?" tanyanya khawatir, namun tak ada sahutan.
Menyadari pemikirannya sendiri, Atta terkekeh. "Lo membisu karena ciuman gue?" ucapnya seraya menempelkan sapu tangan yang telah dicelupkan air hangat pada pipi Diana yang merah.
"Sshh.." Diana terkejut sesuatu menyentuh kulitnya. "Ha?"
Sengaja Atta mendekatkan wajahnya pada Diana. "Lo belum pernah ciuman, ya?" tebaknya kian gencar menggoda.
"Ha?" Diana melotot memundurkan wajahnya. "Eng-ngak, apaan, sih. Nggak jelas," tangkisnya.
Atta tersenyum penuh arti, kemudian menatap Diana lekat. "Lo ngapain adu otot sama Silfi? Mau jadi jagoan?" ocehnya.
Diana mendelik saja, tidak tahukah perihal adu otot itu sebab pemuda itu sendiri, dasar.
"Kalo cowok adu otot itu wajar, kalau cewek? Gue nggak mau lo berantem kayak gitu, Dit, ntar jadi kebiasaan."
"Masih ada ini, ini, dan ini," Atta menunjuk pipi, kening dan bibir Diana. "Tunggu waktu aja sampe gue bisa nyentuh pake bibir gue," percayalah ia tengah mengancam.
Diana reflek melempar sapu tangan di dada Atta. "Maniak lo, pedofil."
"Jawab pertanyaan gue, kenapa lo berantem sama Silfi? Rebutan gue?" Atta kelewat narsistik, meskipun ungkapan benar.
Diana memalingkan wajah, Atta merupakan spesies paling menyebalkan. "Kurang-kurangin tingkat kepedean lo," balasnya kemudian.
"Apa lagi memangnya? Rebutan Beha? Nggak mungkin, kan?"
"Atta, ih. Lo jorok banget."
"Rebutan ketua osis?" Atta tak peduli. "Silfi suka sama gue. Tapi meskipun dia tahu lo pacaran sama gue, dia nggak bakal berani bertindak kelewatan dengan nampar lo."
"Sebenarnya lo lagi ngebela dia dan nuduh gue?" Diana tak suka dengan ucapan Atta. "Gue cuma bilang kalau dia kalah dari babu macam gue, karena elo lebih milih babu daripada dia," sungutnya gegas berlalu. Kenapa ia kesal.
Atta tersenyum, ia menahan lengan Diana.
Diana menoleh. "Lepasin tangan gue," ucapnya menatap tajam.
"Gue nggak ngebela dia, gue cuma mau tahu alasan dia bikin cewek gue kayak gini, Dit," Atta merapikan rambut Diana yang acak-acakan. "Kalau dia cowok, pasti udah gue bales dengan nonjok dia," imbuhnya mengusap pipi Diana yang memerah.
Diana menghindar. "Nggak perlu sok peduli," tepisnya.
Atta berdecak. "Peduli sama pacar sendiri nggak apa-apa, Dit. Sah."
"Gue benci sama lo," Diana menatap Atta lekat.
Atta tersenyum. "Gue juga sayang sama lo," balasnya.
Diana terdiam.
"Dit, gue nggak bohong."
"A-pa?" tanya Diana was-was.
Atta mendekat. "Gue pengen —"
Plak!!
"Aww.." Atta mengaduh saat pipinya mendapatkan sasaran empuk telapak tangan Diana.
Diana gamang antara ingin membantu dan tidak, sungguh ia masih berfikir Atta akan menciumnya lagi, hingga reflek ia menampar pemuda itu.
"Lo lampiaskan kemarahan lo ke Silfi sama gue?" Atta mengusap pipinya yang kebas.
Diana mengerjap. "Gue nggak sengaja."
"Gue nggak apa-apa, Dit, kalaupun elo melampiaskan semua ke gue, elo mukul wajah gue juga gue rela. Tapi jangan pake tangan, Dit. Pake bibir," Atta cengengesan layaknya tidak waras.
Diana terdiam, detik berikutnya ia meninju perut Atta. "Otak mesum!" semprotnya meninggalkan ruangan.
"Ough.." Atta terkekeh setelah meringis sakit.
Di koridor Diana ingin sekali berbalik arah mencari jalan lain menuju kelasnya kalau bisa, daripada harus berpapasan dengan Arya yang berdiri tak jauh darinya. Saat ingin mengabaikan, justru pemuda itu mengajaknya bicara.
"Lo nggak apa-apa, kan, Dit?" tanya Arya khawatir, ia telah mendengar berita perkelahian Diana dan Silfi cs. Tadi pagi ia tengah melakukan rapat osis sehingga tidak mengetahuinya.
"Em, gue baik-baik aja." Tentu saja yang Arya maksudkan adalah perkara perkelahiannya dengan Silfi.
"Lain kali lebih hati-hati."
Entah apa maksud dari kalimat Arya, namun Diana mengangguk sebagai balasan, selanjutnya ia gegas berlalu. Sebelum menaiki tangga, ia menoleh melihat Arya dan Atta yang terlibat percakapan, tak ingin peduli, Diana memilih melanjutkan langkah.
"Gue tahu lo suka sama Dita," ujar Atta tiba-tiba.
"Begitupun elo," balas Arya.
Atta mengangguk-angguk. "Sebelumnya gue bakal diem waktu elo coba ngedeketin Dita, tapi mulai detik ini, gue nggak akan ngebiarin itu terjadi."
Arya tak ingin menanggapi.
"Dita cewek gue. Lo pasti udah denger tentang itu, kan?"
Arya masih diam.
"Gue nggak bisa diem lihat lo deketin cewek gue. Jangan salahin gue kalau gue bertindak kurang ajar nantinya," Atta mungkin tidak bercanda dengan ucapannya.
"Bukankah itu cuma gosip?" tanggap Arya kelewat dingin.
Sudut bibir Atta terangkat. "Lo pasti juga udah tahu kejadian pagi ini tentang gue dan Dita. Gue bukannya mau pamer sama elo. Tapi gue punya kuasa buat bikin lo ngejauh dari cewek gue."
"Selama Dita belum mengatakan kalian bersama, gue masih punya kesempatan buat deketin dia," balas Arya tak gentar, gosip memang menyakitkan, namun fakta jauh menyakitkan.
Atta menatap tajam pemuda di hadapannya. "Fu*k you," ucapnya pelan namun mengancam.
Arya menghembuskan nafas pelan selepas kepergian Atta dari hadapannya.
.
.
.