
Atta yang pagi itu melihat siluet Diana melewati koridor gegas menghampiri setelah memarkir motornya. "Hai, pacar," selorohnya melingkarkan tangan di pundak Diana.
Diana jengkel namun keterkejutan lebih mendominasi. "Elo nggak ada hobi lain selain bikin gue jantungan?" protesnya menyingkirkan tangan Atta dari pundaknya.
Atta cengengesan tak jelas. "Kehadiran gue selalu bikin jantung lo berdebar, kan? Terimakasih, gue tersanjung," ungkapnya narsis.
Ingin sekali Diana memukul kepala Atta untuk menghilangkan perasaan besar kepala laki-laki di sampingnya.
"Dit, kita udah pacaran, loh, masak masih pake lo-gue?" ujar Atta tiba-tiba.
Diana mendelik, kemarin saat tiba di ujung jembatan Diana marah serta mencak-mencak memukuli tubuh Atta dengan apapun barang yang ia temukan sebab laki-laki itu sudah mempermainkan andrenalinnya. Bukan itu saja, setelah Diana berhasil menguasai diri dari rasa takut ia gegas pergi meninggalkan Atta di desa tersebut, entah bagaimana cara Atta pulang ia tidak mau tahu. Perihal pacar-pacaran ia sama sekali tidak mengingatnya. "Pacar? Sejak kapan gue pacaran sama elo?"
Atta menatap tak suka. "Jangan pura-pura amnesia, Dit, perlu gue putar bukti rekamannya di sini biar sekalian semua orang denger?" tantangnya.
Diana terdiam nampak berfikir.
Atta berdecak, ia mengeluarkan ponsel serta memainkan video di depan Diana.
Pupil mata Diana membulat melihat video berisi dirinya yang berada di atas jembatan gantung, hal itu mengingatkan dirinya akan bahaya yang pernah ia alami. Namun lebih terkejut mendengar suara lantangnya yang mengatakan bersedia berpacaran dengan Atta, sial, dia tertipu. "Itu spontanitas, elo sengaja ngerjain gue," tangkisnya kemudian.
"Gue nggak peduli, lo udah setuju jadi pacar gue," Atta tak menerima alasan.
Diana mengikuti Atta tak berjalan lebih dulu. "Itu tidak bisa dihitung sebuah kesepakatan, Atta. Itu sebuah ancaman yang mengharuskan gue menyetujuinya."
Atta berbalik. "Hanya ada dua pilihan. Pertama lo setuju jadi pacar gue. Kedua semua orang tahu perihal rekaman ini," ia memulai aksi ancaman.
Diana mengepalkan erat jemarinya, kemudian menghembuskan nafas panjang. "Terserah," putusnya berlalu, ia tidak ingin di pusingkan oleh seorang Atta, peduli setan dengan ancaman laki-laki itu.
"Gue anggap elo memilih opsi pertama, Dit!" ucap Atta lantang.
*
Bunyi bel istirahat terdengar nyaring layaknya sebuah suara pertanda kebebasan yang dinantikan. Diana yang tengah merapikan bukunya terheran mendapati beberapa siswi mengerumun di mejanya, ia memperhatikan mereka satu persatu.
"Dit, lo nggak tahu malu banget, ya?"
"Sok kecakepan deh lo, Dit."
"Sok laku."
Diana tak paham, ia menatap dengan sebelah alis yang terangkat.
"Pasti lo pengen terkenal karena udah nolak ketua osis."
Pupil mata Diana membulat, apa ia tidak salah dengar?
"Dulu elo pernah ditolak ketua osis, sekarang giliran ketua osis nembak lo, elo sok-sok'an nolak dia. Sok cantik banget sih, lo, Dit."
"Lo sengaja mau balas dendam sama Arya?"
"Dasar nggak tahu diri lo, Dit."
"Udah bego, sok cantik pula."
Diana diam bukan karena tidak bisa membalas ucapan mereka, tapi ia tengah memikirkan darimana mereka tahu perihal tolak menolak tersebut, apa mungkin Arya yang memberitahukan? Tapi itu tidak mungkin, Arya tidak akan mempermalukan diri sendiri karena sudah ditolak bukan? Lalu, darimana mereka tahu?
Atta yang baru memasuki ruangan menghampiri kerumunan meja Diana. "Ada apa ini?" tanyanya memperhatikan Diana yang terdiam.
Kerumunan itu merenggang dengan hadirnya Atta, mereka tampak heran dan kagum akan kehadiran siswa pentolan sekolah tersebut di kelasnya. Seorang siswi yang nampak manis dengan sebelah pipi yang cekung berseru, "Ini, si Dita nggak tahu malu banget udah berani nolak ketua osis. Padahal dulu dia yang ngebet nyatain perasaan sama ketua osis, tapi ditolak. Sekarang giliran Arya yang nembak, dia sok cantik sampe nolak ketua osis," siswi itu tampak tak suka dengan Diana.
"Wow.." komentar Atta nampak kagum pada Diana.
Diana menatap tak suka pada siswi berlesung pipi tersebut. "Emangnya ada aturan tidak boleh menolak?" tantangnya berdiri. "Apa hubungannya sama kalian semua kalo gue nolak ketua osis atau siapapun itu? Ada ruginya untuk kalian? Kalaupun gue nerima, apa untungnya bagi kalian? Nggak perlu sok care sama kehidupan gue, anggap aja gue nggak terlihat sama seperti sebelumnya," cetusnya amat sangat kesal, hanya karena ia menolak siswa pentolan sekolah semua membullynya, bagaimana jika ia menerima, pasti akan lebih parah lagi olokan mereka, heran memang.
Atta mencegah seorang siswi yang hendak membalas kalimat Diana. "Mungkin mereka cuma penasaran alasan apa yang membuat kamu menolak ketua osis," ujarnya menghampiri Diana serta melingkarkan tangan di pundak siswi itu.
Bukan hanya para siswi yang terkejut akan ulah Atta, Diana juga terkejut terlebih mendengar panggilan kamu yang Atta tujukan padanya, Diana menatap protes pada tindakan Atta, ia juga melepaskan tangan Atta dari pundaknya.
"Tidak perlu malu, Sayang," ujar Atta kembali menarik Diana lebih dekat.
Suara dengungan seperti kumpulan lebah menggema seiring dengan perlakuan manis Atta pada Diana.
Atta memperhatikan kerumunan satu persatu. "Kalian mau tahu alasan Dita nolak ketua osis?" tanyanya.
Diana sudah panik menyadari gestur Atta yang sudah bisa dipastikan akan merugikan baginya.
Atta tersenyum penuh arti pada Diana. "Dita cewek gue," ujarnya yang seketika membuat suara dengungan lebah semakin keras.
Diana terkejut dengan mulut serta pupil mata melebar. "Nggak, lo apa-apaan sih," tangkisnya kesal, jangan sampai gosip itu menyebar dan akan berdampak lebih buruk.
"Kamu jangan pura-pura amnesia," balas Atta mengangkat ponsel miliknya.
Diana memejamkan rapat kedua matanya menyadari ancaman Atta, sungguh, kenapa ia harus berurusan dengan Atta. Diana menghembuskan nafas panjang. "Jangan bikin gosip yang semakin menyudutkan gue," tekannya pelan, ia sangat berusaha untuk menahan luapan emosi.
"Ini fakta, Dita cewek gue, gue yang nembak dia, gue juga punya bukti kalau gue yang nembak dia duluan dan dia nerima gue. Jadi jangan bikin gosip buruk tentang cewek gue," pungkas Atta memberikan pengumuman, ia juga memberikan ancaman pada mereka agar tak berani mengusik kekasihnya. Setelahnya ia menarik lengan Diana untuk keluar dari kerumunan yang semakin menggema.
"Atta —"
"Hstt.. ngomelnya nanti aja," potong Atta menempelkan jarinya di bibir Diana yang seketika membuat gadis itu bungkam.
"Bisa nggak sih, nggak usah menempatkan gue dalam masalah," tutur Diana memelas, ia lelah harus terus berdebat.
"Seharusnya lo berterimakasih karena gue udah melepaskan elo dari masalah," bantah Atta tak mau kalah.
Kening Diana mengerut. "Lo lebih memperparah, Atta," cetusnya tak habis pikir. "Perihal gue nolak Arya udah bikin gue jadi bulan-bulanan gosip seantero sekolah, sekarang gosip gue pacaran sama lo bakal tambah parah," imbuhnya menghembuskan nafas lelah.
"Tidak perlu malu mengungkapkan fakta, Dit."
Diana mendelik.
"Pertama, lo udah nolak ketua osis, itu fakta. Nggak ada yang salah dengan hal itu. Kedua, kita pacaran bukan sekedar gosip," tutur Atta serius pada point terakhir. "Tapi, poin kedua akan meledak semakin panas kalo lo tidak mengharapkan itu menjadi kenyataan," tersirat ancaman pada kalimatnya.
Diana bersungut-sungut, makhluk di hadapannya memang sangat pintar mempermainkan dirinya.
"Nggak ada penolakan, Dit. Gue udah jawab pertanyaan dari lo perihal komodo, dan lo juga udah setuju buat jadi pacar gue. Gue orangnya konsisten, Dit. Gue berharap elo juga."
"Elo konsistennya pakai jebakan," Diana mencibir.
Tawa Atta menggema. "Setidaknya lo bisa pamer sama penduduk sekolah atau dunia sekalipun kalau elo punya cowok keren," akunya pongah. "Lo udah pernah pacaran, kan, Dit?"
Diana gelagapan, pertanyaan Atta sangat tidak etis baginya. "Apaan? Udah, terserah," putusnya kemudian. Diana tak sengaja melihat foto seorang wanita dewasa yang tengah memeluk seekor kucing pada layar ponsel Atta yang terjatuh, apa Diana salah lihat dengan penampilan wanita tersebut.
Atta mengambil ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celana, ia memperhatikan Diana yang seakan ingin tahu. "Belum saatnya, gue butuh waktu yang tepat buat ngasih tahu elo," ujarnya tiba-tiba.
Diana salah tingkah, ia memalingkan wajahnya tak ingin menanggapi. "Lo suka banget nyepi di tempat ini?" tanyanya memperhatikan sekeliling.
"Lo tahu banget gue sering ke sini," Atta terkekeh mengambil duduk di lantai bersender pada dinding.
Diana menoleh. "Gue pernah lihat elo ngerokok di sini," protesnya.
Atta tersenyum simpul.
"Ada banyak bekas rokok, punya lo?" tanya Diana memperhatikan selokan air yang terdapat banyak putung rokok.
"Bukan cuma gue, banyak dari anak kelas sepuluh yang suka ngasap juga."
"Banyak yang nggak sayang sama diri sendiri ternyata," komentar Diana pelan.
"Gue lebih seneng disayang sama elo, Dit," balas Atta menggoda.
Diana melirik tak suka.
"Di sini suasananya tenang, seger, enak buat tidur."
"Biasanya tempat ngerokok siswa sekolah itu di rooftop, lebih tenang, anginnya lebih seger."
"Kata siapa? Elo pernah rokok di rooftop?"
"Enak aja, gue nggak pernah ngerokok ya," hardik Diana memprotes. "Biasanya, kan, gitu, rooftop adalah surga bagi anak sekolah."
"Surga bagi yang punya gebetan, Dit," komentar Atta sekenanya.
Diana tak paham.
Atta beranjak. "Ntar malem gue ngapelin elo ya, Dit?" ujarnya menaik turunkan alis.
"Ngapain? Nggak."
"Kenapa?"
"Ya, elo ngapain ke rumah gue? Nggak, gue sibuk."
"Wajar kali, Dit, pacar ngapelin."
Diana mendelik. "Enak aja, nggak."
"Gue nggak perlu persetujuan dari elo," tantang Atta berjalan meninggalkan Diana.
"Atta, lo nggak boleh ke rumah gue," Diana mengikuti langkah Atta.
"Terserah gue, lah."
"Atta, ih."
Atta berbalik. "Apa, Sayang~"
"Rumah gue nggak menerima tamu, apalagi modelan tamunya kayak elo."
Atta mendekatkan wajahnya. "Kita lihat saja nanti," tantangnya tersenyum kecil.
Diana menatap kepergian Atta dengan perasaan dongkol luar biasa.
.
.
.