
Acara puisi sudah, tinggal menunggu pementasan drama yang akan dilaksanakan siang ini di aula. Hampir seluruh siswa siswi beserta guru dan jajaran pengurus sekolah hadir memenuhi kursi yang telah disediakan.
Sebuah pementasan drama bertajuk dongeng Aladdin menjadi pilihan pementasan drama kali ini. Riuh penonton menyaksikan pertunjukan yang diperagakan para anggota club drama. Diana yang menjadi Putri Jasmine tak mau kalah, ia mengeluarkan semua kemampuan dalam drama yang terhitung hanya satu bulan ia pelajari.
Pada akhir cerita di isi oleh Jasmine yang diperankan Diana dan juga Aladdin yang diperankan Arya bernyanyi sambil berdansa. Disambut seluruh pemeran dalam drama yang turut menari dan menyanyi bersama menyanyikan lagu A Hole New World sebagai ikon film tersebut.
"Akhirnya selesai juga."
"Kalian semua keren!!" sorak Fadil bertepuk tangan riang seusai acara.
"Arya, Dita, gilaa kalian bikin baper. Acting kalian bener-bener menjiwai. Nggak nyangka gue."
"Acting lo nggak kalah bagus kok, Nis," balas Diana tersenyum lega, lega akhirnya semua beban dalam hidupnya mulai berangsur berkurang.
"Kita rayain kesuksesan kita, makan-makan yuk di cafe?"
"Boleh, boleh."
"Arya, lo harus ikut."
Arya yang disebut namanya justru menoleh pada Diana yang sibuk melepas sepatunya.
"Dit, ini pertama kalinya lo ngumpul bareng anggota kita. Ternyata lo nggak sejaim yang anak-anak omongin."
Diana mendongak. "Jaim? Maksud lo?"
Fadil menelan salivanya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Em, intinya lo keren. Lo ikut ke cafe, ya?"
"Sorry, gue nggak bisa."
"Yahh.. lo kan inti dari drama ini, Dit. Masak elo nggak ikut."
"Bukan gitu, gue ada acara penting yang nggak bisa gue tinggal. Ini aja gue harus cepet-cepet pulang," tolak Diana yang seratus persen bohong.
"Lo yakin?"
Diana beranjak. "Gue duluan ya, have fun!"
"Dit, tunggu!"
Diana berbalik, mendapati Arya yang memanggilnya.
"Lo udah memberikan yang terbaik, makasih udah menjadi anggota dalam drama ini."
"Lo juga."
"Lo beneran nggak mau gabung?"
Diana menggeleng.
"Em, kurang seru kayaknya kalau anggotanya kurang satu. Apalagi lo punya peran penting dalam suksesnya acara ini."
Sejak kapan kehadiran gue menjadi penting. "Tapi gue beneran nggak bisa. Sorry."
"Mau—"
"Gue balik duluan, ya, udah di tungguin nyokap gue di rumah," ujar Diana melirik pada jam di pergelangan tangannya.
Mau tidak mau Arya mengangguk, memperhatikan Diana yang berjalan menjauh.
Melewati koridor, langkah kaki Diana yang sudah melangkah maju terhenti kemudian mundur beberapa langkah, menatap pemandangan di ujung koridor yang membuatnya tak suka. Ia menghampiri. "Hei, apa yang kalian lakukan?"
Yuna yang tengah mencengkeram kerah baju seorang siswi menoleh. "Bukan urusan lo."
"Tapi udah jadi urusan gue karena gue udah lihat apa yang lo lakuin sama dia."
Yuna menggeram kesal. "Nggak usah ikut campur deh, lo. Lo nggak punya hak ngatur-ngatur gue. Mending lo pergi atau lo mau tukar posisi sama dia."
"Gue nggak pernah ngerasa pernah ngatur hidup lo. Gue cuma nggak suka lihat kekerasan di depan mata gue. Mata gue auto sepet."
"Lo ngelunjak ya?! Berani banget sih, lo!" Yuna mendorong tubuh Diana hingga mundur beberapa langkah.
"Dua kosong," ujar Diana tak gentar.
"Apa maksud lo?"
Diana mengangkat ponselnya. "Apa yang lo lakuin ke dia dan gue udah terekam di sini. Terserah kalau lo mau lanjut, gue bakal dengan senang hati melanjutkan rekamannya. Tentu lo tahu kemana akhir perjalanan rekaman ini," ancamnya tersenyum samar.
"****!! Awas lo, ya?" umpat Yuna menuding sebelum berlalu dengan hati yang luar biasa dongkol.
Diana memperhatikan siswi di depannya, kemudian ia berbalik hendak berlalu.
Diana berbalik.
"Makasih. Tapi lo harus hati-hati sama Kak Yuna," ucap siswi itu.
Diana mengangguk. "Gue tahu. Bahkan sejak pertama kali gue ke sini gue tahu nggak ada yang suka sama gue," akunya tersenyum kecut.
Nampak siswi itu memilin kedua jemarinya. "Maafin gue, Dit."
Diana agak terkejut melihat siswi yang tidak ia kenali menyebut namanya.
"Gue salah sangka sama lo, gue cuma nggak mau anak-anak ngejauhin gue kalau gue temenan sama lo."
Dia kenal gue?
Diana berdehem. "Boleh gue tahu apa kesalahan gue?" selidiknya ragu.
"Lo nggak tahu?" Justru sekarang siswi itu yang terkejut.
Diana mengusap lehernya, bingung harus menjawab apa. Jujur saja ia tidak kenal siswi di hadapannya, juga sepertinya Dita tidak menceritakan tentang siswi itu dalam buku diarynya.
"Lo inget waktu nolongin Silfi yang telat masuk sekolah, kan?"
Diana mengangguk saja, meskipun ia tidak benar-benar tahu.
"Lo jadi care sama dia, nyapa dia, deketin dia. Dia ilfeel sama lo. Dia ngerasa elo aneh, apalagi saat tahu lo berusaha cari muka di depan ketua osis," siswi itu melirik ragu pada Diana. "Lo terkenal sok dekat. Jujur saja kalau gue sama sekali nggak terganggu dengan cara lo temenan, tapi lo tahu, kan, Silfi nyebarin rumor kalau lo itu aneh, dan siapa yang deket sama lo bakal di jadiin sasaran bullynya dia. Apalagi dia sekarang dapet dukungan dari Kak Yuna," tutur siswi itu.
Diana mengangguk-angguk, ia mengerti sekarang. "Nggak apa-apa gue udah mulai nyaman dengan keadaan ini. Makasih udah ngasih tahu gue yang sebenarnya. Akhirnya gue paham dan mengerti apa yang harus gue lakuin ke depannya. Thanks," ia menepuk lengan siswi itu sebelum berlalu.
'Dita, sebenarnya apa yang lo lakuin? Tidak, semua bukan kesalahan elo. Mereka aja yang nggak bisa ngehargai lo. Bener-bener kurang ajar.'
*
"Dit?"
Diana berbalik. "Apa? Lo juga mau ngebully gue? Ngehina gue? Ilfeel sama gue? Nggak perlu manggil-manggil nama gue lagi. Kalian semua sama aja. Nggak bisa ngehargai perasaan orang lain. Kalian nggak pernah tahu, kan, gimana rasanya di kucilkan? Emang nggak waras kalian semua."
Atta yang tak paham hanya terdiam dengan tatapan cengonya, ia cukup terkejut melihat seorang Dita yang ngomel-ngomel tak jelas padanya. "Kesambet, tuh, anak?" gumamnya menggelengkan kepala melihat kepergian Diana.
Hati Diana benar-benar dongkol, ia memilih berbelok ke kamar mandi guna mencuci muka, menatap pantulan wajahnya di cermin. "Hidup lo terlalu menyedihkan, Dit. Ada kalanya gue benci sifat lo yang terlalu kalem dan disalah artikan apalagi dimanfaatkan."
Diana menghembuskan nafas panjang, membuka ponselnya dan menemukan satu pesan yang belum ia baca.
Gue tahu lo bisa. Selamat ya kakakku sayang.
Kayaknya udah nggak ada lagi kerepotan yang gue buat untuk lo.
Untuk kemarin gue lagi kemo, nggak sempet bikin puisi. Tapi gue bersyukur karena lo mempunyai IQ diatas rata². 😂
Diana tersenyum membaca pesan dari Dita. "Sialan emang tuh, anak."
Keluar dari toilet, Diana terkejut menyadari pintu yang tertutup. Saat membuka handle pintu, benda itu tak berfungsi sama sekali, yang mempunyai arti seseorang telah menguncinya di dalam kamar mandi. "Sial!! Hei.. buka!!"
Ia menggedor pintu kuat, tak ada jendela untuk sekedar mengintip keadaan luar bahkan lubang kunci pun seakan di sumpal sesuatu dari luar.
"Brengsek!!"
Diana membuka ponselnya, menghubungi Pak Jamal yang mungkin saja dalam perjalanan menuju sekolah. Namun suara operator yang menyambutnya.
"Sial!!"
"Oiii.. ada orang di luar?! Tolong.. gue ke kunci di dalem!"
Merasa percuma dan sia-sia, Diana mengambil nafas dalam guna menjernihkan pikirannya, ia harus dalam keadaan pikiran yang dingin untuk menemukan cara. Ia membuka seluruh bilik toilet untuk memastikan ada setidaknya lubang udara untuk ia keluar, namun nihil.
Diana bersender pada dinding. "Pak Jamal, tolong aku," doanya dengan kedua mata tertutup.
"Apa selama ini lo mendapatkan ketidakadilan seperti ini, Dit?" Diana menghembuskan nafas lelah. "Gue bakal bales kalian semua," tekadnya.
.
.
.
Selasa, 26 Oktober 2021
Saskavirby