Dialanta

Dialanta
26. Ditolak, lagi?



Krekk!!


Diana terdiam dengan tubuh membeku merasakan sesuatu terjadi pada rok sekolahnya ketika ia beranjak dari kursi yang ia duduki.


Ia meraba belakang tubuhnya dan mendapati roknya yang sobek akibat tertempel di kursi yang sudah diberi lem entah siapa.


Kedua pupil matanya melebar, hingga dengan reflek ia kembali duduk, sedangkan di sekelilingnya sudah banyak yang berbisik-bisik mengenai dirinya.


Sialan memang.


"Dit, lo kenapa?" tanya seorang siswa, Diana tahu siswa itu sengaja bertanya untuk mengoloknya.


"Kalo lo berani berdiri dan jalan sampe kelas gue bakal kasih lo sepuluh juta," tantang siswa lain mengejek disertai tawa renyah teman-temannya.


Kampret!


"Gue bakal mau deh jadi pacar lo sehari," seloroh yang lain ikut berkontribusi memberikan usul yang sama sekali tidak berfaedah.


"Diem lo semua!" hardik Diana mulai kesal.


Beberapa siswa itu kompak tertawa menertawakan Diana.


"Ada apa?" Arya tiba-tiba datang menghampiri kerumunan.


"Rok Dita sobek, dia nggak berani beranjak dari kursi panas," jawab yang lain tergelak.


"Beneran, Dit?" tanya Arya memastikan.


Diana mengangguk ragu.


"Udah, kalian semua bubar," usir Arya pada gerombolan siswa usil itu


"Huuu...." Sepertinya mereka kecewa acaranya diganggu ketua osis, namun meskipun begitu mereka semua mulai bubar.


"Gue ambilin jaket gue bentar," ujar Arya gegas berlalu.


Diana mengangguk saja. Untuk sejenak ia menatap pada Atta yang juga tengah memperhatikannya dari jarak beberapa meter, hingga kemudian Atta memutuskan kontak mata lebih dulu dan berlalu.


Tak berapa lama Arya kembali dengan jaket miliknya dan memberikan pada Diana. Ia berbalik badan saat Diana memasangkan jaket pada belakang tubuhnya.


"Siapa yang naruh lem di sini?" tanya Arya memperhatikan bekas lem di kursi yang sebelumnya Diana duduki.


"Nggak tahu gue," jawab Diana mulai lelah.


"Apa sebelumnya ada yang nyuruh lo duduk disitu?" tanya Arya lagi.


Diana menggeleng. "Gue juga baru duduk di situ nggak tahu juga kalau ada lemnya."


Arya mendesah, teman-temannya memang sangat jahil dan nakal, ia saja pusing harus berurusan dengan siswa siswi bermasalah, seharusnya dulu ia mundur dari pencalonan ketua osis, tapi sudah terlambat.


"Gue mau pulang aja, besok jaket lo gue kembaliin," ucap Diana kemudian.


"Lo yakin nggak apa-apa? Apa perlu—"


"Nggak usah, gue udah bad mood, mau sendiri," potong Diana.


Arya mengangguk. "Lo tunggu di parkiran aja biar gue ambilin tas lo."


"Nggak perlu, gue bawa celana ganti di loker, gue bisa ambil tas gue sendiri."


Arya terdiam saat lagi-lagi Dita menolak pertolongannya.


*


Diana yang sudah berganti dengan celana jeans panjang melihat siluet seseorang tengah berjalan menuju belakang gedung, karena penasaran ia mengikuti, terlihat kaki seorang pria yang menjulur di lantai, serta kepulan asap yang Diana percayai dari rokok. "Atta?" ucapnya tak percaya melihat asap rokok itu berasal dari bibir Atta.


Atta tersenyum sinis.


"Lo ngerokok?"


Atta diam, ia justru semakin menikmati sensasi mengeluarkan asap dari mulutnya. "Lo mau laporin gue ke ketua osis? Silahkan, gue nggak peduli," ucapnya acuh.


Diana sedikit terkejut dengan jawaban ketus Atta, ia merasa bahwa Atta berbeda. Tak ingin menanggapi, Diana memilih pergi daripada harus berbicara dengan Atta. Namun baru beberapa langkah ia terhenti mendengar ucapan Atta.


"Gue emang suka ganggu lo, tapi gue nggak suka kalau lo ikut campur urusan gue dan ngaduin kegiatan gue ke cowok lo yang notabene ketua osis itu."


Diana berbalik, menatap nyalang lelaki di hadapannya. "Lo pikir gue tukang ngadu?" Ia tersenyum kecut. "Apa yang lo lakuin sekarang nggak ada hubungannya sama gue, dan lo pikir gue peduli? Sorry, gue nggak pengen terlibat apapun sama lo. Lo dan cowok lainnya itu sama, menjadi prioritas ke sekian sekian yang tidak ada dalam hidup gue. Dan asal lo tahu, Arya, bukan cowok gue," tekannya menjelaskan dengan perasaan dongkol luar biasa.


Atta tersenyum, ia berdiri dan membuang putung rokoknya serta menginjaknya. "Jadi, lo nggak pacaran sama Arya? Gue denger gosip kalau lo pernah nembak dia tapi ditolak."


Pupil mata Diana membulat, haruskah seorang Atta juga tahu perihal Dita yang mendapat penolakan cinta dari Arya? Arghh Diana bisa gila. "Ternyata lo juga hobi gosip sama kayak cewek, ya, kegiatan yang nggak penting banget," ketusnya berlalu.


"Dit, lo beneran ditolak sama Arya?" teriak Atta lantang.


Diana berjalan cepat menghampiri Atta. "Bisa diem nggak lo?" peringatnya memperhatikan sekeliling, khawatir jika ada yang melihat atau mendengar.


Atta terkekeh, melihat raut wajah panik gadis di hadapannya sungguh hiburan baginya. "Lo sering ngikutin gue, apa jangan-jangan lo suka sama gue?" tanyanya kelewat percaya diri.


"Idih.. kepedean banget Masnya," Diana hampir muntah


Atta berdehem. "Jelas.. gue emang selalu Pede. Gue ganteng, tinggi, kapten basket, apalagi yang kurang dari gue?"


"Lo itu kurangnya satu."


"Apa?"


"Kurang mengakui diri kalau itu semua mimpi," balas Diana gegas berlalu.


"Lo aja yang nggak mau mengakui kegantengan gue."


Diana tak peduli.


"Gue sumpahin lo bakalan jadi cewek gue, Dit!" teriak Atta.


Diana menoleh. "Doa orang gila nggak bakal dikabulin sama Allah."


Deg!


Atta terdiam dengan tubuh membeku, ia teringat akan ibunya yang mengidap penyakit gangguan jiwa.


Diana ikut terdiam, ia heran melihat Atta yang termenung. "Kenapa? Baru sadar?" ucapnya lagi.


Atta mendongak.


Dan Diana melihat tatapan dingin itu lagi, tatapan yang tidak bisa Diana jabarkan namun sanggup membuat tubuhnya beku dari seorang Atta. Ada pesan tersirat yang tak bisa ia jelaskan dari tatapan dingin dan menusuk itu. Yang Diana ketahui setelah Atta menampilkan tatapan itu, pria itu akan menjadi lebih dingin dan ganas, terbukti saat Atta pergi begitu saja tanpa mengomentari ucapannya, berbeda dengan Atta yang beberapa detik lalu mengejeknya dengan candaan.


Dan kenapa Diana semakin penasaran tentang hal itu??


...***...


Dua hari kemudian..


"Dit, lo mau jadi pacar gue ya?"


Tidak ada angin tidak ada hujan pagi itu jam istirahat pertama, Atta tiba-tiba menghampiri Diana yang tengah duduk di bawah pohon dengan membaca buku.


"Lo mabok?"


Atta menggeleng. "Gue mau lo jadi pacar gue. Mau ya?"


"Tapi gue maunya lo jadi pacar gue."


"Ini bukan cerita dimana lo ngeklaim gue sebagai pacar lo, dan gue harus setuju. Gue punya hak untuk menolak," tutur Diana tegas.


"Beri gue satu alasan kenapa lo nggak mau jadi pacar gue."


Diana nampak befikir. "Lo tahu komodo? Kenapa komodo hanya bisa tinggal di pulau komodo? Itu jawaban gue atas pernyataan lo."


Atta melongo. "Apa hubungannya?"


"Lo cari aja jawabannya," jawab Diana beranjak meninggalkan Atta yang terdiam cengo.


Atta masih memperhatikan Diana yang berjalan menjauh, kemudian ia mengeluarkan ponsel dan berselancar di dunia maya. Ekor matanya menyusur deretan kalimat di layar ponsel, kemudian sudut bibirnya terangkat.


"Atta!" panggil Silfi menghampiri Atta yang berjalan di tepi lapangan basket.


Atta menoleh, menunggu Silfi menghampirinya.


"Lo jarang kelihatan, lo bolos lagi?" tanya Silfi.


Atta memasukkan tangan dalam saku celana. "Suasana sekolah membosankan," jawabnya mengangkat bahu.


"Lo habis sama Dita?" Silfi melirik tak suka pada Diana yang sudah jalan cukup jauh, sebelumnya ia melihat Atta dan Diana bersama.


Atta mengangguk.


"Gue nggak suka lihat lo sama dia," Silfi merajuk.


"Lo suka sama gue?" tanya Atta to the point, walau sebenarnya ia sudah tahu jika Silfi menaruh rasa padanya.


Silfi mengangguk.


"Mending jangan, Sil."


"Kenapa?"


Atta menghembuskan nafas pelan. "Gue denger lo suka berantem sama Dita."


"Itu karena si Dita yang sok care sama gue, gue jadi risih," jawab Silfi jujur.


Atta membulatkan mulutnya.


"Atta," panggil Silfi lagi.


"Hmm, gue masih di sini," jawab Atta kelewat santai.


"Lo udah tahu kalau gue suka sama elo."


"Terus?"


"Ya, reaksi elo gimana?"


Atta nampak berfikir, kemudian menunjuk pada Diana yang tengah duduk di sebuah kursi beton. "Lo lihat cewek itu?" tanyanya. "Gue suka sama dia," ungkapnya.


Silfi memicing menajamkan penglihatan. "Dita?" tanyanya tak yakin.


Atta mengangguk.


"What?" Silfi nampak tak percaya. "Lo suka sama cewek kampungan itu?" tanyanya memastikan.


"Dia bukan sekedar kampungan buat gue, dan gue saranin buat elo berhenti cari gara-gara sama dia."


"Kenapa?" tantang Silfi tak suka.


"Ya, karena gue nggak suka ada yang bikin ribut sama cewek yang gue suka."


Silfi merengut sebal. "Emangnya dia suka sama elo. Dia, kan, sukanya sama Arya."


Atta mendesah. "Gue cabut duluan," pamitnya tak ingin menanggapi.


Silfi bersungut-sungut, ia menatap nyalang pada Diana. "Gue semakin benci sama elo, Dit, sumpah!"


*


"Atta!" Silfi berseru menghampiri Atta yang berada di parkiran sekolah, ia melirik sinis pada Diana yang berjalan di depannya.


"Anterin gue pulang," pinta Silfi tak ingin ditolak.


Sebelah alis Atta terangkat. "Kenapa? Biasanya juga elo bawa mobil."


Silfi menggeleng. "Gue enggak bawa mobil hari ini."


"Temen-temen lo?"


"Mereka udah pulang duluan."


Atta memainkan bibirnya. "Nggak setia kawan banget mereka," ledeknya.


Silfi menghampiri serta menyentuh lengan Atta. "Pokoknya anterin gue pulang."


Atta mencuri tatap pada Diana yang juga tengah menatap ke arahnya. "Ya udah, ayo," putusnya kemudian.


Silfi bersorak girang dalam hati.


Diana yang berada tak jauh dari mereka menatap heran pada kedekatan keduanya. Ia juga melihat Silfi yang melingkarkan tangan pada pinggang Atta seakan sebagai tanda kepemilikan.


"Dit?"


Diana berjengit, ia menoleh serta mendapati Arya berdiri di sampingnya. "Ya?" tanggapnya.


"Resleting tas lo ke buka," Arya menunjuk pada ransel milik Diana.


"Oh?" Diana melepas ranselnya kemudian menutup resletingnya. "Makasih," balasnya.


"Satu minggu lagi ujian semester, jangan malas belajar," nasehat Arya.


Diana mengangguk sebagai balasan.


...***...


"Ma, hari ini aku ditolak cewek," Atta terkekeh menyadari keprihatinan dirinya sendiri yang sudah ditolak Diana dua kali. Siang itu sepulang sekolah setelah mengantar Silfi ia mengunjungi sang ibu.


Wiwid mungkin tak mengerti apa yang Atta ucapkan, ia sibuk dengan boneka yang dielusnya dalam dekapan, namun telinganya masih bisa mendengar apa yang Atta katakan.


"Namanya Dita, Ma. Anaknya cantik dan manis, suka naik motor," ujar Atta lagi.


"Di-ta?" gumam Wiwid pelan.


Atta menoleh sang ibu, ia tersenyum dan mengangguk. "Iya, Ma, Di-ta," ulangnya memperjelas gerakan bibir. "Mama mau Atta perkenalkan dengannya?" tanyanya, namun sang ibu tidak merespon.


Atta mendesah. "Dia pasti akan sangat terkejut melihat keadaan Mama," ucapnya tersenyum kecut.


.


.


.