
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintunya membuat kegiatan Diana membaca buku teralihkan oleh kehadiran Bi Nur.
"Non, ada temennya di bawah."
Diana berjengit hingga beranjak dari posisi duduknya. "Siapa, Bi?" tanyanya penasaran, selama ini tidak ada temannya yang datang kerumahnya. Apakah itu teman sekolahnya Dita?
"Cowok, Non. Kayaknya yang kemarin sempet kesini, deh, Non."
Diana tercengang, nampak berfikir siapa yang dimaksud Bi Nur. Cowok? "Bibi nggak minta dia masuk, kan?" tanyanya memastikan.
"Enggak, Non. Dia di luar."
Diana gegas keluar kamar dan menghampiri, siapa gerangan yang datang ke rumahnya malam-malam.
"Atta?" ucap Diana terkejut melihat laki-laki duduk di kursi dan tengah memainkan kunci motornya.
"Hai," sapa Atta tak merasa bersalah melihat sang tuan rumah terlihat cengo.
"Ngapain lo di sini?"
"Gue tahu lo nggak bakal dateng ke acara anniversary sekolah. Makanya gue ke sini, mau ngajak lo jalan," jawab Atta kelewat santai, sesantai kakinya yang bertumpu ia gerakkan.
"Heh, emang gue mau jalan sama lo? Ogah."
"Gampang, gue di sini aja sampe gue bosen."
Diana melotot sebal. "Gue lagi mager, lo mending pulang aja, deh."
Atta menggeleng. "Gue bosen, makanya gue ke sini ngapelin elo."
Diana berdesis, kalimat ambigu Atta benar-benar membuatnya mual. "Emang mau kemana?" tanyanya mencoba mengalah.
"Lo pengen kemana?" tanya Atta balik.
"Ya mana gue tahu, kan, elo yang ngajakin gue jalan."
Atta menjentikkan jarinya. "Berarti lo setuju gue ajak jalan. Ayok, berangkat, ke bulan juga gue jabanin," kekehnya.
"Heh, dodol! Nggak waras, ya, lo."
"Ganti baju sana." Atta mendorong punggung Diana untuk masuk ke dalam rumah, mengabaikan gerutuan gadis itu.
Diana menurut, mengganti celana pendeknya dengan celana jeans panjang berwarna biru, membalut kaosnya dengan jaket berwarna merah, membiarkan rambutnya tergerai, tak lupa membawa tas kecil untuk dompet serta ponselnya. Biarkan, biarkan untuk malam ini ia menuruti tingkah gila seorang Atta.
Awalnya Diana sudah berniat menghabiskan malam dengan membaca buku ilmu kedokteran yang sempat ia beli, pesta ulangtahun sekolah sama sekali tak membuatnya berminat. Namun siapa sangka tamu tak di undang itu justru datang.
Jika membiarkan Atta terus berada di rumahnya, ia takut jika kebohongannya terbongkar, karena di dalam rumah ada bukti konkret bahwa ia dan Dita adalah saudari kembar. Mencegah lebih baik, kan, daripada harus terbongkar. Sebab itu Diana mengiyakan saja ajakan Atta.
Entah akan dibawa kemana ia tidak tahu, Diana terdiam di jok belakang kendaraan roda dua milik Atta, menikmati pemandangan kota yang menarik baginya.
Atta membelokkan stang motornya pada sebuah pertigaan, suara desiran ombak dan angin yang berhembus menyambut kedatangannya. Ia menghentikan motornya di bibir pantai.
"Lo ngajakin gue ke pantai?" tanya Diana setelah turun dari motor sport berwarna merah hitam itu.
"Lo nggak lihat ini bulan?"
Diana menggeplak lengan Atta. "Nggak lucu."
"Gue nggak lagi ngelucu wajar kalau nggak lucu."
Diana bersungut, kesal dengan jawaban laki-laki di sampingnya. Memilih pergi saja, menikmati sejuknya angin yang berhembus.
"Lo kenapa nggak ikut acara party sekolah?"
Diana menoleh. "Nggak mood. Lo sendiri?"
"Gue nggak pernah ikut acara begituan, tahun lalu gue juga nggak ikut. Lo sendiri?"
Diana gelagapan. "Gue ikut," jawabnya cepat, ia mengambil batu di bawah kaki dan menulis namanya di pasir.
"Dia?" ucap Atta membaca tulisan di pasir hasil karya tangan gadis di sampingnya. "Siapa Dia?"
Pupil Diana membesar, ia lupa jika tengah menjadi dita. "I-ni salah, gara-gara lo sih, gue jadi salah nulis nama gue sendiri, kan?"
Atta merebut batu dari tangan Diana, menambahkan huruf tta dibelakang tulisan Dia. Ia tersenyum melihat hasil karyanya.
Kening Diana mengerut. "Diatta?"
"Dita, Atta," Atta tergelak sendiri entah karena apa.
Diana menggeleng. Jangan sampai ia tertular virus aneh laki-laki di sampingnya.
"Dit?"
"Em?"
"Menurut Flat Earth Society, yang juga dikenal sebagai International Flat Earth Society atau International Flat Earth Research Society, bentuk bumi itu datar. Berdasarkan foto-foto yang diambil oleh satelit luar angkasa, memperlihatkan bahwa bumi berbentuk cakram, dengan kutub utara sebagai pusatnya sedangkan kutub selatan merupakan dinding es di pinggiran bumi."
Mulut Atta ternganga mendengar jawaban Dita, kelopak matanya mengerjap heran.
"Kenapa?"
Atta tersadar, ia menggeleng sebagai jawaban, gagal sudah niatnya untuk menggombal di depan Dita. Justru ia yang tercengang mendengar penjelasan gadis di sampingnya.
"Apa? Seharusnya gue yang memberikan tatapan itu," protes Atta melihat tatapan menyelidik gadis di sampingnya.
Kening Diana semakin mengerut dalam. Ia mengalihkan tatapannya pada desiran ombak di hadapannya. "Seharusnya lo ada di sekolah sekarang."
"Tapi gue lebih seneng di sini, menghabiskan waktu sama lo jauh lebih menarik," tanggap Atta tersenyum kecil.
Diana berdesis. 'Kenapa dia jujur sekali, sih.'
Hening.
Diana menoleh pada laki-laki di sampingnya yang nampak termenung. "Lo kenapa?"
Atta tersenyum dan menggeleng. "Lo lihat bulan itu?" Tunjuknya dengan gerakan dagu.
Diana memutar kepalanya menatap bulan yang malam itu membentuk cahaya bulan sabit.
"Bulan ada aja temen, masak gue enggak," kelakar Atta terkekeh.
Diana menatap laki-laki di sampingnya, entah kenapa ia merasa tatapan Atta berbeda, ada sesuatu yang disembunyikan. "Setitik cahaya di samping Bulan itu sering disalahartikan sebagai bintang, padahal yang sebenarnya itu adalah planet Venus, si bintang kejora. Meskipun terlihat dekat, tapi jarak antara planet Venus dengan bumi sekitar 41juta km. Itu termasuk jauh," tuturnya.
Atta tak paham, benar-benar tak paham.
"Tidak dihitung berdasarkan jarak dekat seseorang mempunyai teman, sahabat atau saudara. Ada kalanya yang dekat terasa jauh dan yang jauh terasa dekat. Tergantung seberapa percaya dirimu tidak pernah sendiri di dunia ini. Tergantung seberapa sering dirimu menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang berdiri di sana."
Atta tertegun. "Boleh gue pinjem pundak lo sebentar?" pintanya.
Diana tercengang.
Atta terkekeh. "Jangan kaget gitu dong mukanya," godanya mencubit sebelah pipi Diana. "Gue cuma bercanda, kalaupun harus, lo yang harus menawarkan diri merelakan pundak lo buat jadi sandaran gue," imbuhnya tersenyum.
Deg!
Ada yang aneh dengan jantung Diana sejak jemari Atta menyentuh kulit pipinya. Ia mengalihkan tatapannya.
"Eh, ada bintang jatuh," tunjuk Atta pada cahaya langit yang bergerak lurus.
"Itu bu —"
"Hstt.." Atta menempelkan jarinya pada permukaan bibir Diana guna membungkam persepsi gadis itu tentang pengetahuan alam. "Biarkan gue menganggap kalau itu adalah bintang, gue pengen meminta sesuatu," imbuhnya.
Lagi-lagi Diana membeku menyadari apa yang Atta lakukan padanya, saat tersadar ia mengerjap bingung, mengalihkan tatapannya pada bulan di atas sana, membiarkan laki-laki di sampingnya menutup mata dan berdoa, atau mungkin membiarkan debaran jantungnya mereda.
"Gue harap cewek di samping gue bakal mau gue ajak jalan lagi, amin."
Diana menoleh cepat. Menatap protes laki-laki yang kini tengah tersenyum jail. "Doa lo nggak bakal di kabulin," ketusnya.
"Lo siapa? Tuhan? Enggak, kan?" tanggap Atta enteng.
"Ya, pokoknya lo salah meminta permohonan sama bintang. Lagi pula itu bukan bintang jatuh."
"Whatever, yang gue tahu, sekarang Tuhan sedang mencatat permohonan gue, dan bakal dikabulin sebentar lagi."
Diana meringis. "Jangan ngaco deh."
"Gue nggak ngaco, gue serius. Apa perlu gue teriak minta permohonan biar dikabulin?" tantang Atta mulai beranjak.
"Atta, jangan mulai," ancam Diana mulai was-was jika laki-laki itu benar-benar melakukan hal gila.
"Ya Allah.."
Diana membungkam mulut Atta, melirik panik pada beberapa pengunjung yang ada malam itu. "Lo bisa diem, nggak? Jangan bikin malu, deh," protesnya.
"Emangnya gue teriak sambil telanjang? Enggak, kan? Itu bukan perbuatan yang memalukan, Dita."
"Atta!" hardik Diana kesal.
"DITA.." teriak Atta berlari.
Diana bersungut, gegas berlari mengejar makhluk menyebalkan bernama Atta, jangan sampai laki-laki itu teriak-teriak di muka umum, apalagi sampai menyebut namanya. Dan terjadilah aksi kejar-kejaran malam itu.
Astaga, Ditaaa.. lo udah bikin hidup gue sengsaraaa!
.
.