Dialanta

Dialanta
22. Hujan



Suasana syahdu pagi itu seakan meminta seluruh makhluk untuk tetap bergelung mencari kehangatan. Namun nyatanya cuaca pagi itu seakan menjadi godaan terberat, antara harus berdiam diri di rumah atau harus bekerja dan sekolah.


Tentu saja opsi kedua adalah yang prioritas, saat kebutuhan melambai-lambai ingin segera dipenuhi, saat nilai sekolah harus memenuhi standar, atau bisa jadi karena gebetan yang harus dan minta diperhatikan, uhuyy.


Diana yang baru tiba di sekolah menstandartkan motornya dan gegas berlari ke gedung sekolah guna menghindari rintiknya hujan. Ia mengibaskan jemarinya juga menyisir rambutnya yang basah. Pagi itu memang sangat dingin, sebelum masuk ke kelas ia berniat ke kantin untuk menikmati teh hangat.


Tapi, sebelum niatnya menuju kantin tercapai, dari arah koridor muncul Arya dengan dua cup minuman di tangannya dan memberikan padanya.


"Buat lo."


Diana menatap cup minuman dan Arya bergantian.


"Ibu kantin nggak punya uang kembalian tadi, jadi gue minta satu cup lagi," ujar Arya menjelaskan.


"Kenapa lo kasih ke gue?"


"Karena gue lihat lo duluan."


Diana nampak menimang, tak enak juga kalau harus menolak, akhirnya ia menerima. "Thanks."


Arya mengangguk, mengambil duduk di kursi dan Diana mengikuti. "Lo nggak ketahuan, kan?"


Diana menoleh.


"Skorsing. Bokap lo."


"Oh?" Diana menggeleng. "Papa udah balik."


"Kemana?"


Diana terdiam, tidak seharusnya ia berbicara tentang keluarganya. "Kerja," jawabnya.


"Bokap lo kerja di luar kota?" Arya menebak.


Diana mengangguk saja.


"Lain kali jangan cari masalah yang menyebabkan lo di skors."


"Gue tahu," tanggap Diana. 'Gue juga nggak mau kalau sampai orangtua gue dipanggil ke sekolah,' imbuhnya dalam hati.


"Kalau ada yang ngerjain lo, lo bisa lapor ke gue."


Diana mengangguk-angguk, justru ia ingin membalas mereka, tentunya dengan permainan cantik.


Di tempat lain, Atta yang berjalan di koridor menghentikan langkah kakinya saat menyadari Diana duduk dengan Arya di ujung sana, ia mendengus, memutar tubuhnya dan mencari jalan lain.


"Nggak terasa sebentar lagi ujian semester," ujar Arya melirik gadis di sampingnya yang tengah menikmati minuman hangatnya.


Diana mengangguk. 'Nggak nyangka ternyata gue udah cukup lama di sini,' bathinnya.


"Lo harus rajin belajar biar nggak dapet nilai merah lagi, Dit."


Diana mendongak, apakah Arya mengetahui semua tentang Dita?


"Meskipun sekarang lo jauh lebih pinter, tapi lo harus tetep belajar."


"Lo juga tahu nilai ujian gue?" tanya Diana penasaran, sejauh apa Arya mengetahui tentang saudari kembarnya.


Arya mengangguk kaku, heran dengan pertanyaan Dita. "Kalau lo butuh bantuan belajar, gue bersedia bantuin lo."


Diana tersenyum masam, tentu saja jawabannya tidak. "Makasih, kalau ada yang nggak gue tahu, gue bakal tanya ke elo." Bohong, mana mungkin ia mau bertanya perihal pelajaran dengan seorang Arya, jangan lupakan kalau ia pintar. "Gue masuk kelas duluan, ya?" pamitnya kemudian. "Thanks minumannya," Diana mengangkat cup minumannya.


Arya mengangguk, memperhatikan langkah Diana yang perlahan menjauh.


***


"Mungkin dinginnya kutub utara nggak sanggup aku hangatkan dengan pelukanku, tapi pelukanmu mampu menghangatkan tubuhku," seloroh sebuah suara dari seorang siswa kelas dua belas di sebuah koridor.


Nampak seorang siswi melirik sinis sang siswa yang menggombal di hadapannya. "Garing!" tanggapnya acuh.


Diana menoleh sekilas pada pasangan yang sepertinya tengah marahan itu. Mengulum senyum saat candaan sang siswa tak dihiraukan sang pacar.


"Apa bedanya kamu sama kain pel?"


"Nggak lucu!" gadis itu berjalan meninggalkan sang siswa.


"Bi~"


"Jangan ikutin aku!" sentak sang siswi berbalik. Menghentikan langkah kaki sang siswa juga Diana yang berjalan di belakang keduanya.


Diana mengambil jalan kiri untuk menghindari pertempuran un faedah itu, namun terhalang. Lagi, ia mengambil jalan kanan, dan lagi-lagi kedua sejoli yang tengah mengalami fase cinta monyet itu menghalangi. Ia mulai jengah, apalagi mendengar ocehan keduanya yang saling adu mulut.


Diana menarik nafas. "Permisi, saya mau le– hkk." Ia tercekat saat tubuhnya terdorong ke belakang karena ulah dua remaja kasmaran yang tengah berperang itu. Sial sekali nasibnya, di pagi hari yang mendung, nampak kesialan seakan mulai mengabsen. Tapi tidak, ada sebuah tangan yang menarik pinggangnya, membawa tubuhnya memutar dan terhenti menghimpit dinding, dengan telapak sang pelaku yang berada di belakang kepalanya, menahan kepalanya agar tidak terantuk dinding.


Diana mendongak dan tercekat, netra hitam itu tengah menatapnya lekat, hembusan nafas hangat menyapu kulit wajah Diana membuat gemuruh di dadanya meluap, ia merasakan suhu telapak tangannya yang dingin, tapi tidak dengan wajahnya yang terasa terbakar.


Mata bulat, bulu mata lentik, hidung mungil, pipi bersih, bibir merah muda menjadi pemandangan yang tak ingin seorang Atta lewatkan begitu saja. Tak dirasakan punggung jarinya yang sedikit ngilu kala bersentuhan keras dengan dinding saat melihat wajah cantik di hadapannya. Ia akui bahwa Diana memang cantik, dengan sikap yang unik.


Diana mengerjap, mendorong tubuh Atta agar menjauh darinya. Ia nampak gugup. Berbeda dengan Atta yang nampak biasa saja dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


Keadaan menjadi canggung, ingin rasanya Diana memarahi pasangan yang sudah menyebabkan dirinya berada dalam situasi akward, namun sayangnya pasangan itu sudah tak ada lagi di depannya.


"Dit."


"Em?" Diana menoleh gusar.


"Sama-sama."


Kening Diana mengerut.


Atta mendesah. "Itu tadi sebuah pertolongan yang seharusnya dibalas dengan ucapan makasih," sindirnya.


Diana memiringkan kepalanya. "Iya, makasih," ucapnya kemudian.


"Gue butuh kehangatan, Dit."


"Terus?"


"Beliin gue teh anget, dong?" Atta menggoda.


Tatapan Diana berubah datar. "Nggak ikhlas banget lo nolongin orang," gerutunya.


Atta mengulum senyum. "Gue tunggu di kelas, ya?" pamitnya mengusap kepala Diana sebelum berlalu.


Diana mengerucut. "Nyebelin banget, sih."


Namun meskipun begitu, Diana tetap melakukan apa yang Atta inginkan, ia berjalan menuju kantin dan membeli satu cup teh hangat. Berjalan menuju ruang kelas Atta yang berlawanan arah dengan ruang kelasnya sendiri.


Tatapan aneh mengarah padanya saat Diana memasuki kelas dan mencari dimana letak kursi Atta, yang nyatanya ada di kursi kedua dari belakang dan berada di pojok. Ia menghampiri.


"Ta, ada Dita, tuh," Dio menyenggol lengan Atta yang tengah fokus pada ponselnya.


Atta mendongak, tersenyum tipis melihat Diana as Dita benar-benar menuruti apa yang ia ucapkan, padahal tadi ia hanya iseng.


Diana merengut kesal melihat senyuman Atta yang seakan mengejeknya. "Ini —" belum sempat Diana menyelesaikan kalimatnya, pupil matanya membesar melihat cup tehnya tumpah karena lengannya di senggol seseorang, terlebih air panas itu mengenai tangan Atta.


"Awhssss..." Atta berdiri mengibas-ibaskan tangannya.


"Lo nggak apa-apa? Sorry, sorry, gue nggak sengaja," Diana panik antara ingin menyentuh untuk melihat kondisi tangan Atta dan tidak berani.


"Heh! Lo pasti sengaja, kan? Nyiram air panas ke tangannya Atta!" Seorang siswi mendorong pundak Diana.


"Gue udah bilang kalau gue nggak sengaja."


"Alah.. bullshit lo. Lagian lo ngapain ke kelas gue dan ngasih teh ke Atta, lo pasti mau cari muka, kan?" tuduh siswi itu lagi.


Diana memejamkan mata guna mengontrol emosinya yang sudah di ujung tanduk.


"BISA DIEM NGGAK LO SEMUA!" itu suara Atta, yang seketika membuat suasana kelas hening.


"Nggak usah banyak bacot lo, gue yang nyuruh Dita ke sini. Kenapa? Ada masalah?" Atta menyalak dua gadis yang mendorong dan menuduh Diana.


"Tapi dia udah —"


"Lo budek? Dia udah bilang nggak sengaja, pergi ke THT sono, gue yang bayarin. Lo periksain kuping lo yang bermasalah itu," Atta menyela.


Gadis itu nampak kesal, ia menghentakkan kakinya dan kembali ke tempat duduknya.


Diana melipat bibirnya, ia merasa bahwa Atta tengah membela dan melindunginya. Ia tersadar saat sebuah tangan menariknya.


"Lo nggak mau tanggung jawab dengan ngobatin tangan gue?" tanya Atta menyadari keterdiaman Diana as Dita.


"Eh?"


Belum sempat menjawab, Diana sudah ditarik keluar oleh jemari kokoh milik Atta.


*


"Lukanya nggak parah kok, lagian tadi airnya juga cuma anget, enggak panas," tutur Diana seraya tangannya mengolesi tangan Atta dengan salep.


"Tapi yang gue lihat tadi lo khawatir banget lihat tangan gue kena air anget," tanggap Atta menggoda.


Diana mendelik. "Tadi kayaknya ada yang sengaja dorong gue deh biar teh itu tumpah."


Atta diam, pikirannya melayang jauh memperhatikan jemari Diana as Dita yang mengolesi salep di tangannya, ia teringat suatu hal.


Diana merapikan kotak P3K, kemudian hendak berlalu.


"Dit?"


"Ya?"


Atta terdiam memperhatikan Diana, ia hendak menanyakan satu hal namun ragu. "Makasih," ucapnya, walau sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan.


Diana mengangguk, kemudian keluar dari ruang UKS.


***


Keluarnya siswa siswi dari dalam kelas setelah bunyi bel usai sekolah layaknya sebuah rombongan dana bansos. Berjubel berharap menjadi yang terdepan. Ditambah cuaca mendung siang itu membuat mereka ingin segera pulang ke rumah agar tak terkena air hujan yang seakan siap tumpah kapan saja.


Diana gegas menuju toilet guna mengganti rok seragamnya dengan celana jeans yang selalu ia bawa ke sekolah sejak ia memutuskan ke sekolah mengendarai motor. Tak beda jauh dengan siswa siswi lain, ia juga ingin gegas sampai ke rumah sebelum hujan turun. Namun rencananya itu sepertinya tak bisa terlaksana saat melihat seorang Atta yang berdiri di depan motornya. "Ngapain?"


Atta tersenyum. "Anterin gue pulang."


"Hah?"


"Lo lihat?" Atta mengangkat tangan kanannya. "Tangan gue masih sakit buat nyetir motor sendiri. Semua ini gara-gara elo, kan? Jangan coba-coba lari dari tanggungjawab, ya?" cetusnya.


Diana melongo. "Heh! Gue, kan, udah tanggungjawab dengan mengobati tangan lo. Jangan pura-pura amnesia deh?" balasnya. "Lagian kenapa juga gue harus nganterin lo? Elo, kan, punya banyak temen di sini. Gue yakin mereka dengan senang hati mau ngasih tumpangan ke elo."


Atta tersenyum lebar. "Tapi gue maunya di anterin sama elo, gimana dong?"


Diana mendengus. "Nggak, gue nggak mau. Minggir lo," usirnya mendorong lengan Atta agar menyingkir dari motornya.


"Lo nggak mau nganterin gue?"


"Nggak."


Atta melipat tangan. "Ya udah, gue pulang ke rumah lo aja."


Diana mendelik.


"Gue bakal ngapelin lo tiap hari."


"Terserah!" balas Diana mulai jengah, ia tahu kalau Atta pasti hanya menggodanya.


"Oke," Atta menyeringai, kemudian memanggil salah seorang temannya. "Woi, Kin, sini lo."


"Apaan?"


"Minta tolong anterin gue ke rumahnya Dita," ucap Atta seenak udel, seketika membuat Diana melotot.


"Kenapa ke rumahnya Dita, Ta?" tanya Dikin tak paham.


"Dia minta gue ngapelin dia," jawab Atta melirik ke arah Diana yang terkejut.


"Eh? Enggak! Gue nggak pernah minta elo ngapelin gue, ya," tangkis Diana tak terima.


"Tapi guenya mau, gimana?" sahut Atta menyeringai.


Diana melipat bibirnya, cukup Atta yang tahu rumahnya, jangan sampai ada siswa atau siswi lainnya lagi. Penyamarannya dipertaruhkan. Diana menghembuskan nafas lelah. "Oke, fine. Gue anterin lo. Puas?!" putusnya kemudian.


Atta mengulum senyum. "Nggak jadi, Kin. Gue bareng Dita aja," ucapnya pada Dikin.


Dikin mengangkat bahunya kemudian berlalu.


"Nyebelin banget sih, lo," gerutu Diana kesal melihat wajah Atta yang cengengesan.


Atta gegas naik di boncengan belakang motor milik Diana, sebelum keluar gerbang ia sempat berujar pada pak satpam. "Pak, nitip motor, ya. Nanti saya ambil."


*


"Rumah lo dimana?" Diana menoleh ke belakang saat keduanya sudah berada di jalan raya.


"Udah lurus aja, ntar gue kasih tahu."


"Mundur lo, jangan deket-deket gue, jangan cari kesempatan ya, lo?" tegur Diana menyadari Atta yang mendekat di punggungnya.


"Eh, Neng, gue lagi jawab pertanyaan, Eneng. Kalo gue nggak nemplok di punggung lo. Lo nggak kedengaran."


"Gue nggak budeg, ya?"


Atta tersenyum mengingat bagaimana Diana yang menuruti kemauannya, mulai dari membawakan teh ke kelas, lalu berakhir di UKS, dan sekarang mau mengantarkannya pulang. Memang sih, Diana as Dita itu judes, tapi ada sisi dimana gadis itu terlihat imut saat berhasil ia kerjai. Atta terkekeh.


Saat di lampu merah, Atta yang berpegangan pada pundak Diana sengaja memijit-mijitnya, namun Diana menggerakkan kedua pundaknya karena merasa terganggu oleh ulah Atta. Lagi. Atta kembali berulah dengan mengelus-elus helm milik Diana. Diana yang mulai kesal menggeplak paha Atta berharap agar pria itu berhenti mengganggunya yang tengah fokus pada jalanan.


"Bisa diem nggak?"


Atta tertawa.


Beberapa menit kemudian Atta merasakan getar ponsel dalam saku bajunya.


Diana sengaja memelankan laju kendaraannya menyadari Atta tengah bertelepon.


"Berhenti, Dit," Atta menepuk pundak Diana.


Setelah motor Diana menepi Atta segera turun. "Gue turun sini aja, ada urusan. Thanks, ya?" ucapnya tersenyum dengan menggerakkan kedua alisnya. Ia menghentikan sebuah taksi yang melintas. "Lo hati-hati kalo pulang, jangan kangen sama gue," godanya tergelak.


"Najis!" umpat Diana merengut kesal.


Setelah taksi pergi Diana mendongak menatap gumulan awan gelap, ia memutuskan untuk singgah di sebuah tempat sebelum pulang. Karena sepertinya hujan akan segera turun.


.


.


.