
Mengulang apa yang sudah pernah dilakukan sebenarnya pekerjaan yang membuang-buang waktu, Diana sudah lulus, ia sudah mempunyai ijazah kelulusan di rumah, bahkan ia sudah berkuliah. Entah sampai kapan ia harus menitip absen pada temannya yang berada di kampus.
Tapi, ia tidak kuasa menolak permintaan saudari kembarnya, walau sebenarnya ia sangat ingin melihat saudari kembarnya itu kembali tertawa dan sehat. Diana tidak tahu sejak kapan Dita menderita penyakit mematikan itu, Dita tidak pernah mengeluh padanya. Hingga keadaan Dita semakin memburuk dan harus di rujuk ke rumah sakit Singapore, Diana mengizinkan bahkan meminta kedua orangtuanya untuk menemani Dita selama berobat, ia tidak ingin egois, dan tidak ingin bahwa Dita merasa sendirian berjuang hidup di sana.
Hal pengulangan yang Diana maksud adalah mempelajari pelajaran yang guru terangkan, juga mencatat. Bahkan sejak dulu Diana hampir tidak pernah menulis di bukunya, hanya mencatat rumus penting saja. Ingat ya, rumus bukan deretan huruf yang bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman buku.
Saat yang lain sibuk mencatat apa yang di tulis di papan tulis, bahkan hampir memenuhi keseluruhan isi papan, Diana hanya diam dengan memainkan bolpoin di tangannya, ia jenuh harus melakukan apa.
"Dit, lo nggak nyatet?"
Pertanyaan dari siswi di sampingnya membuatnya menoleh, karena itulah untuk pertama kalinya sejak Diana bersekolah ada orang lain yang mengajaknya bicara. "Capek gue," jawaban Diana sungguh sangat amat dingin dan datar.
Siswi itu menggeleng pelan.
"Dita, kenapa buku kamu bersih? Kamu tidak menulis apa yang Ibu terangkan di depan?"
Entah sejak kapan datangnya seorang guru yang mengajar mata pelajaran matematika hadir di samping Diana.
'Gue udah lulus, dan gue nggak perlu nulis apa yang bahkan udah pernah gue kerjain beberapa tahun yang lalu,' bathin Diana mendesah.
"Bagaimana mau maju kalau nulis saja kamu tidak mau, nilai kamu jauh di bawah rata-rata, Dita."
Diana diam.
"Kerjakan soal nomer satu," ujar sang guru menyerahkan spidol tinta pada Diana.
Diana beranjak, menerima spidol dan berjalan ke depan untuk mengerjakannya. Bukan perkara mudah bagi Diana menyelesaikan soal matematika, ia suka tantangan, dan ia sangat menyukai matematika, dan jangan lupakan otak encernya yang berada di atas rata-rata, tidak sulit baginya mengerjakan soal itu, bahkan tidak sampai lima menit Diana selesai mengerjakannya.
Sang guru nampak terkejut melihat hasil yang dikerjakan Diana. "Bagaimana kamu bisa menyelesaikannya dengan benar?" tanyanya tak menyangka.
Kasak kusuk di kelas semakin riuh mengetahui bahwa Dita bisa mengerjakan soal dengan benar tanpa membawa buku. Itu merupakan kejadian yang benar-benar langka dan ajaib.
"Kerjakan soal nomor dua," pinta sang guru lagi, beliau ingin memastikan bahwa itu bukan mimpi.
Masih sama seperti sebelumnya, sang guru beserta teman sekelasnya terperangah melihat Dita selesai mengerjakan soal dengan benar, mereka benar-benar takjub.
"Darimana kamu tahu jawaban soal itu, Dita?"
"Ada di dalam sini, Bu," jawab Diana menunjuk sisi kepalanya.
Sang guru nampak kebingungan. "Kamu duduk," ujarnya dengan kebingungan yang masih kentara di wajahnya.
*
"Eh, lo tahu, nggak, si Dita. Dia bisa ngerjain soal dengan benar tanpa membawa buku."
"Hah?! Si Dita bodoh itu?"
"Iya."
"Ngaco, lo. Mana mungkin."
"Gue serius. Si Dita udah pinter sekarang."
"Masa' sih?"
Arya memelankan langkah kakinya saat mendengar gerombolan siswi tengah membicarakan Dita yang katanya menjadi murid pandai. Arya juga tahu bahwa Dita salah satu murid dengan nilai terendah, dan berita itu sangat mengejutkannya.
Berlainan arah dengannya, siswi yang menjadi topik hangat terlihat berjalan ke arahnya dengan membawa cup minuman dan earphone di telinganya, Arya lekat memperhatikan Dita yang melewatinya begitu saja, entah apa yang seharusnya Arya lakukan, tapi ia tengah berfikir untuk mencari topik untuk dibicarakan dengan Dita. Namun hingga tubuh Dita semakin jauh, Arya tidak menemukan bahasan apapun. Dan sekali lagi, ia mencium aroma yang berbeda saat Dita melewatinya. Seakan tersadar, Arya ingat harus menanyakan apa ketika bertemu dengan Dita lagi nanti.
Diana tengah menikmati hidupnya dengan mendengarkan lagu melalui earphone dan sesekali menyeruput jus wortel yang ia pesan di kantin. Mengabaikan tatapan murid-murid yang terang-terangan melihat ke arahnya, ia sudah tahu kenapa mereka melakukan itu, pasti berita tentangnya yang mulai pintar sudah menyebar luas seperti virus di dalam sekolah.
Hingga tiba-tiba seseorang menyenggol lengannya dan menyebabkan jus wortelnya yang masih setengah jatuh dan tumpah. Diana melepas earphone yang terpasang di telinganya, menatap protes pada pelaku.
"Lo?"
"Elo?"
Ujar keduanya bersamaan.
"Eh, sorry, gue nggak sengaja. Biar gue ganti minuman lo," ujar Atta tak enak.
"Nggak usah, nggak perlu," tolak Diana hendak berlalu.
Atta menghadang langkah Diana. "Tunggu, gue nggak mau punya hutang sama lo. Biar gue ganti minumam lo."
"Gue bilang nggak usah. Gue nggak akan menganggap ini sebagai hutang," tolak Diana lagi.
"Tapi gue merasa punya hutang sama lo," balas Atta tak mau kalah.
Diana mendengus kesal. "Terserah lo aja deh," putusnya hendak kembali memakai earphone di telinganya, namun tertunda mendengar ucapan Atta.
"Gue traktir lo sepulang sekolah, ya?" ajak Atta menaik turunkan kedua alisnya.
"Nggak perlu, di kantin sekolah aja, sekarang," tolak Diana.
*
Bukan hanya mengganti jus wortel yang ia tumpahkan, Atta juga membeli beberapa makanan seperti, nasi goreng, bakso, siomay, kentang goreng dan sosis bakar.
Diana menatap makanan di meja dan Atta bergantian. "Olahraga basket memang mengurangi banyak energi," komentarnya mengaduk jus dan menyedotnya.
Sebelah alis Atta terangkat. "Ini semua buat lo."
Uhuk!
"Apa?!" pekik Diana terkejut.
"Iya, gue pesen ini semua buat lo," jawab Atta kelewat santai.
Diana memicing. "Dalam rangka apa lo membelikan gue makanan ini?"
"Karena gue pengen."
"Tapi gue nggak mau."
"Gue nggak mau tahu, lo harus habisin ini semua."
"Dan gue nggak mau setelah gue makan makanan ini lo bakal nganggap ini sebagai hutang. Yang suatu hari bakal lo tagih, dan tagihan itu merugikan gue," tangkis Diana menyindir.
Tawa Atta meledak, bahkan hingga berderai-derai mendengar sindiran gadis di hadapannya. Sedangkan Diana hanya bergeming dengan tatapan heran.
"Gue enggak menghutangkan, kok, ini semua free, alias gratis," ujar Atta setelah tawanya mereda.
"Tapi gue nggak mau," tolak Diana keukeh.
Atta nampak berfikir. "Gue nggak ada niatan buruk dengan membelikan lo makanan ini, apa lo pikir gue orang yang kayak gitu?"
"Iya," jawab Diana kelewat jujur.
Atta berdecak.
"Lo pikir perut gue muat menampung makanan sebanyak ini? Perut gue terbuat dari tanah bukan karet silikon," cetus Diana.
Atta kembali tertawa. "Oke, setidaknya bantuin gue habisin makanan ini."
Diana menghembuskan nafas pelan, kemudian menggeser piring berisi kentang goreng ke arahnya dan mulai memakannya.
"Kenapa gue baru tahu murid kayak lo ada di sekolah gue?" tanya Atta memperhatikan Diana yang tengah mengunyah kentang gorengnya.
"Maksud lo?"
"Lo bisa main basket, yang artinya lo sering, setidaknya pernah main basket di sekolah, kan? Tapi, gue enggak pernah lihat lo."
Diana menghening.
"Dita, lo dicari anak drama tuh." Seorang siswi datang menghampiri keduanya.
Diana mengangguk. "Makasih."
"Lo mau kemana?" tanya Atta melihat Diana hendak beranjak.
"Lo nggak denger tadi?"
"Maksud gue gimana sama makanannya?"
"Lo habisin sendiri, atau lo bungkus aja. Makasih minumannya," jawab Diana mengangkat jus wortelnya.
Atta ternganga mendengar jawaban dari Diana.
.
.
.
Lagi mode semangat, ya, gitu, pengen update mulu hehe.
Gapapa ya, itung² promosi. Yang suka boleh komentar dan vote.
See you next part.
21 September 2021
Saskavirby
Instagram : @saskavirby