Dialanta

Dialanta
14. Basah kuyup



Nanti malam adalah puncak dari acara, pagi itu terlihat siswa siswi tengah sibuk menyiapkan acara. Namun tak sedikit yang acuh dan tak ingin terlibat menyiapkan persiapan acara. Contohnya Atta dan kawannya yang tengah sibuk mendribel bola basket kemudian dilempar ke dalam ring.


"Woiii.. ke sini, butuh bantuan nih!" teriak sebuah suara dari seorang siswa.


"Apaan?"


"Bantuin bawa meja keluar!"


"Ta, lo mau bantuin gak?" tanya Dio.


Atta tak merespon, sibuk mendribel bola basketnya.


Dio berdecak. "Budeg, tuh, orang." Ia mendekat. "Woii, Attalanta Angkasa Raya!" teriaknya.


Atta menatap protes temannya yang salah menyebutkan nama lengkapnya.


"Lagian, lo itu ditanya, jawab, jangan diem, bisu, lo?"


"Males gue," jawab Atta malas, kembali memainkan bola basketnya.


Dio mendesah. "Lo males, gue juga males, ah," ungkapnya memilih melanjutkan kegiatannya bermain game di ponselnya.


Permainan bola Atta terhenti saat melihat Dita yang tengah mengangkat meja bersama dengan Arya, ia berdecak, melempar bola sembarang arah. "Kok gue kesel, ya?"


"Ta, lo 'ntar malem dateng?"


Atta menoleh pada Dio. "Kenapa?"


"Tahun lalu lo nggak dateng, kan? Anak-anak pada ngajakin ngumpul di basecamp."


"Lihat sikon."


Dio berdecak. "Sial!"


"Apaan?"


"Cewek gue minta ikut lihat band 'ntar malem."


"Terus?"


"Males gue, sumpah!"


"Derita lo," ledek Atta berlalu.


"Lo mau kemana, Ta?"


"Samperin gebetan," jawab Atta acuh.


Dio menggeleng. "Naksir beneran, tuh, anak."


*


"Dita."


Diana berjengit, hampir saja meja yang di angkatnya terjatuh menimpa kakinya jika sang pelaku tak menahan. "Lo nggak punya hobi lain selain ngagetin gue?" sungutnya kesal.


Atta terkekeh. "Sorry, gue nggak sengaja. Sini gue bantuin," ujarnya mengambil alih pekerjaan seorang siswi yang sebelumnya membantu Dita. "Kenapa lo yang ngangkat? Ini pekerjaan cowok."


Diana meletakkan mejanya di lantai.


"Kok berhenti?"


"Ini pekerjaan cowok, jadi, silahkan angkat sendiri."


Atta terkekeh. "Gitu aja ngambek, lo tambah cakep kalo ngambek. Udah, ngambeknya ditunda dulu kalo kita udah pacaran," kelakarnya tertawa.


Diana terdiam ditempatnya, ada apa dengan dirinya? Ada apa dengan jantungnya? Ah, sial. "Simpan aja rayuan gombal lo, itu nggak berlaku buat gue."


"Semakin lo nggak pengen gue gombalin, justru gue semakin semangat."


"Atta!"


"Apa, sayang~"


Diana menghembuskan nafas dalam. Belum sempat ia mengeluarkan suara, sebuah tangan mengambil alih pekerjaannya mengangkat meja.


"Biar gue aja," ujar Arya dingin, ia mengetahui apa yang coba Atta lakukan pada Dita.


Atta berdecak. "Ya, udah, lo angkat sendiri," ia mundur selangkah.


"Gue bantuin —"


"Biar gue aja," sela Atta kembali mengangkat meja, tak ingin jika Dita dan Arya yang mengangkat meja itu bersama.


Diana menggelengkan kepalanya menyadari ulah dua siswa pentolan SMA SABA (Nusa Bhakti) itu. Melihat seseorang di ujung koridor, ia teringat tujuannya yang belum di laksanakan. Diana gegas menghampiri.


Tiba di tepi kolam renang, Diana meluaskan tatapannya mencari seseorang yang ia cari. "Tunggu," teriaknya.


"Lo ada masalah apa sama gue?" ujar Diana memperhatikan nametag gadis di hadapannya, -Yuna-.


"Gue? Sorry, gue aja nggak kenal siapa lo," balas Yuna acuh.


"Gue lihat lo yang terakhir keluar toilet waktu itu. Lo pasti tau, kan, siapa yang ngunciin gue di toilet?"


Yuna tersenyum sinis. "Bukan urusan gue. Lo mau nuduh gue yang ngunciin elo? Heh!" Ia mendorong pundak Diana. "Kurang kerjaan banget gue ngunciin elo di toilet, jangan asal nuduh, ya, lo. Gue sama sekali nggak berminat sama cewek kek lo, jangankan untuk bully, gue orangnya juga pilih-pilih kali."


Diana seakan membersihkan debu yang menempel di bajunya setelah disentuh Yuna. "Gue orangnya juga pilih-pilih buat nuduh orang. Udah jelas, kan, pertanyaan gue tadi menanyakan elo yang terakhir keluar toilet sebelum gue. Nggak ada kalimat gue yang menjelaskan lo tersangkanya. Gue nanya apa masalah lo sama gue? Kenapa lo seakan benci sama gue?" 'Meskipun gue udah tahu alasannya,' imbuhnya dalam hati.


Yuna mengibaskan rambutnya ke belakang. "Mudah saja, karena gue nggak suka aja sama lo."


Diana mendesah berat. "Percuma ngomong sama lo. Gue tanya sekali lagi —"


"Alah.. udah, gue bosen, ngomog sama lo cuma buang-buang waktu gue aja." Yuna berbalik namun Diana mencekal tangannya, dan Yuna menepisnya kuat, menyebabkan dirinya hilang keseimbangan. Yuna menarik lengan Diana dan ..


Byuurrr!!!


Keduanya terjatuh ke dalam kolam renang.


"Ini semua gara-gara lo," teriak Yuna menenggelamkan kepala Diana ke dalam air.


Diana tak mau kalah, ia menarik seragam Yuna untuk masuk ke dalam air juga bersamanya.


Terjadi perang di dalam air yang awalnya tenang kini penuh ombak.


"Berhenti, kalian bisa tenggelam, ayo ke atas," peringat Arya yang mendengar keributan dari kolam renang. Ia membantu Yuna naik lebih dulu.


"Awas lo, ya?" ancam Yuna menuding pada Diana yang masih berada di dalam kolam, kemudian ia berlalu.


Pupil mata Arya membesar melihat Diana yang naik ke permukaan dengan menaiki tangga, tapi bukan itu yang membuatnya terkejut. "Dit, lo mending masuk ke dalem air dulu," pintanya mencoba mengalihkan tatapannya dari cetakan lekukan tubuh di hadapannya.


Diana tertegun. "Maksud lo?"


"Lo nyebur aja dulu, jangan keluar sebelum gue ke sini," ujar Arya kian panik.


"Maksud apaan sih?"


Arya mendorong tubuh Diana hingga kembali terjatuh ke dalam kolam saat melihat siluet siswa hendak berjalan kearahnya. "Daleman lo kelihatan, lo tunggu di sini dulu," ungkapnya gegas berlari.


Umpatan serta makian Diana teredam mendengar ucapan Arya, ia menunduk menatap tubuhnya sendiri, mulutnya ternganga menyadari hari ini ia menggunakan bra berwarna merah yang tercetak jelas oleh seragam putihnya yang basah. "ARYAAAA...!!!!" teriaknya menggema.


*


Diana bersungut dengan wajah tertekuk kesal dan marah. Ia menggunakan jaket milik Arya dengan gerutuan yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati. Marah, ia benar-benar marah pada dirinya sendiri, kenapa bisa ia melakukan tindakan bodoh memalukan seperti itu.


"Lo mau pulang?" tanya Arya memperhatikan keadaan gadis di hadapannya yang basah kuyup.


"Em," jawab Diana acuh, ia juga kesal dengan Arya.


"Mau gue anterin?"


"Nggak usah, nggak perlu. Btw, makasih jaketnya, besok gue kembaliin."


Arya mengangguk. "Lo tunggu di depan pos satpam aja biar gue ambilin tas lo."


"Nggak usah."


"Lo mau jalan ke kelas dengan keadaan lo yang kayak gini?" Arya menatap penampilan Diana yang masih terdapat tetesan air.


Diana menekuk wajahnya kesal. "Makasih udah mau gue repotin, gue tunggu di sini aja."


Sudut bibir Arya terangkat melihat gadis di hadapannya yang merajuk. "Lo tunggu bentar," pamitnya kemudian.


Diana memilih duduk di bangku beton guna menunggu Arya membawakan tas miliknya. Baru saja kemarin ia mengembalikan jaket milik Atta, sekarang jaket milik Arya melekat di tubuhnya. Ia menghembuskan nafas lelah. Semua ini gara-gara si Yuna.


Tak berapa lama Arya datang membawa tas serta cup di tangannya. "Ini buat lo."


"Apa?"


"Biar badan lo anget, lo, kan, habis kecebur tadi," terang Arya menyerahkan cup teh hangat pada Diana.


"Gue bakal ganti lain waktu," tanggap Diana menerima gelas cup.


"Nggak perlu, gue nggak minta lo balikin juga."


"Gue takut aja lo bakal nagih suatu hari nanti," gumam Diana pelan.


"Lo ngomong sesuatu?"


Diana menggeleng.


Arya mengambil duduk di samping Diana. "Nanti malem lo dateng, kan?"


"Mungkin," jawab Diana tak yakin. "Lo nggak ada kesibukan?" tanyanya kemudian.


"Udah di handle anak osis."


Diana mencibir. "Mentang-mentang ketua osis lo bisa leha-leha seenaknya gitu, ya?" ledeknya.


Arya tersenyum kecil, untuk pertama kalinya seorang Dita bergurau dengannya. "Itu salah satu keunggulan sebagai ketua osis," sahutnya.


Diana berdesis. "Contoh yang buruk."


Tawa ringan Arya terdengar. "Boleh gue tahu kenapa lo sama Yuna bisa kejebur?"


Diana menyeduh tehnya. "Dia yang narik gue."


"Kenapa? Lo ada masalah sama dia?"


Diana memicing. "Gue bukan siswi pembuat atau pencari masalah, ya. Masalah aja yang sering nyari-nyari gue," tangkisnya.


"Iya, jadi, kenapa?" Arya mengulum senyum.


Diana menggeleng. "Gapapa."


"Lo tahu, kan, kalo gue punya jabatan ketua osis. Bisa dibilang gue tangan kanannya kepala sekolah, lo bisa cerita hal yang menurut lo buruk di sekolah ini."


Bisa ngomong panjang juga ternyata.


"Lo tahu, dong, kalo gue sering dapet masalah. Meskipun bukan gue yang mulai."


Arya mendadak grogi. "Kalau nggak ada aduan dan bukti, gue juga nggak bisa bertindak."


Diana menghembuskan nafas panjang. "Gue ngerti." Ia beranjak. "Gue balik dulu," pamitnya kemudian.


"Dit?"


Diana berbalik malas. "Apa?"


"Hati-hati."


Diana sempat terkejut sesaat, kepalanya mengangguk sebagai jawaban.


"Gue harap lo dateng ntar malem."


Sekali lagi Diana mengangguk, bukan mengiyakan, melainkan mempercepat obrolan yang sejak tadi memperlambat waktunya untuk segera pulang ke rumah.


.


.


Tbc