Dialanta

Dialanta
4. Lo Dita, kan?



Selama berjalan Diana nampak berfikir untuk apa bagian drama memanggilnya, apa Dita mengikuti ekstrakurikuler kegiatan itu? Tapi ia tidak pernah tahu hal itu, Dita tidak pernah menceritakan minatnya dalam bidang drama.


Lalu, untuk apa ia dipanggil?


Belum tiba di ruangan yang dimaksud, gerumunan siswa siswi di depan mading membuatnya tertarik, hingga seorang siswa berkacamata menghampirinya dan menepuk pundaknya. "Selamat, ya, Dit. Lo lolos, nama lo ada di daftar peserta," ujarnya menunjuk ke arah mading.


Diana menatap heran, sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud siswa itu. Ia membelah kerumunan, mencari celah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dan tertulis di majalah dinding itu.


Kedua pupil matanya melebar melihat namanya, bukan, nama saudari kembarnya, Dita Nerinda tertulis dalam deretan peserta untuk mengikuti lomba puisi dalam rangka hari ulangtahun sekolah. Sejak kapan saudari kembarnya mengikuti lomba seperti itu? Kenapa ia tidak tahu. Itu adalah masalah besar bagi Diana yang sama sekali tidak bisa membuat puisi.


Diana memukul keningnya dengan kepalan tangan seraya berjalan menuju ruang drama menyadari kehidupannya menjadi Dita adalah kesalahan besar yang pernah ia buat.


"Dita?"


Panggilan seseorang membuat Diana menoleh.


"Lo kepilih jadi Putri di pementasan nanti, pasangan lo si Arya ketua osis."


"Apa?!!" Diana memekik keras, apakah ia salah dengar.


"Lo kaget, ya, pasti. Ini serius kok, kita semua udah sepakat dan nentuin kalau lo sama Arya yang bakal jadi pemeran utama di pementasan nanti," ujar siswa itu menjelaskan, tanpa menyadari lawan bicaranya yang mematung.


"Sejak kapan ia ikut acara beginian?" gerutu Diana pelan.


"Lo ngomong apa, Dit?"


Diana menggeleng. "Maksud lo, gue?" tunjuknya pada diri sendiri. Siswa itu mengangguk. "Lo yakin itu gue? Mungkin aja ada Dita yang lain, kan?" imbuhnya menepis kenyataan pahit itu.


Siswa itu tertawa. "Lo, ngaco, deh. Satu-satunya Dita yang ikut acara drama ini cuma elo, Dita Nerinda, nggak ada yang lain."


"Jadi, gue sama Arya, ketua osis itu?"


Siswa itu mengangguk. "Iya, seneng, kan, lo?" godanya.


Diana menipiskan bibirnya, ia berdehem. "Gue bisa mengundurkan diri nggak?" tanyanya pelan.


"Apa?!!" Siswa itu nampak terkejut. Begitu pula salah satu siswa yang menjadi topik pembicaraan keduanya yang ikut terkejut mendengar Dita ingin mengundurkan diri menjadi pasangannya dalam drama, siapa lagi kalau bukan Arya.


"Maksud lo, Dit?"


"Ya, gitu, gue mau mengundurkan diri."


"Kenapa?" timpal Arya ikut bersuara, keduanya menoleh.


Diana terkejut melihat Arya di sampingnya. "Ya, gitu."


"Gitu gimana maksud lo, Dita?" tuntut siswa itu tak sabar.


"Gue mau mengundurkan diri. Lo lihat pengumuman di mading? Gue jadi peserta lomba puisi juga, otak gue bisa meledak mikirin naskah drama sama hafalan puisi," cetus Diana yang setengah memang benar, walau setengahnya hanya alibi untuk menghindari drama dan juga Arya.


"Lo yakin alasan lo itu?"


"Y-iya, memangnya apa lagi?"


"Tapi kita udah diskusi buat nentuin pemerannya, Dit. Acaranya juga tinggal sebentar lagi, gue yakin lo bisa kok, lagian lomba puisi sama drama jadwalnya nggak sama," ujar siswa itu meyakinkan.


Diana nampak berfikir, ekor matanya melirik pada Arya yang menatap intens padanya.


"Gue mohon lah, Dit. Butuh waktu buat cari pengganti lo," pinta siswa itu memohon.


Diana jadi tidak enak. "Ya, udah, deh, udah terlanjur juga," ucapnya kemudian.


Siswa itu tersenyum lebar. "'Ntar gue kasih naskahnya ke elo," ujarnya sebelum berlalu.


Diana menghembuskan nafas panjang. "Sialan emang, ini lebih berat dari ngerjain soal fisika," gerutunya pelan. Ia menoleh ke sisi kirinya dimana masih ada Arya di sana yang tengah menatapnya, menghembuskan nafas pelan, ia berlalu begitu saja. "Bisa-bisanya Dita naksir sama manusia dingin macam Arya," gumamnya tak habis pikir.


...***...


"SIALAN!! GUE KESEL!! AAAAA.... DITA.. GUE KESEL SAMA LO... AAAAAAAA..."


Atta yang tengah tertidur di sebuah kursi yang di tata rapi berjengit mendengar suara teriakan seseorang. Ia tengah berada di atap sekolah untuk menghindari pelajaran membosankan dan memilih tidur di atap sekolah. Ia gegas bangun untuk mencari tahu siapa yang tengah membangunkannya dari mimpi indahnya, sebelah alisnya terangkat melihat sang pelaku, tanpa sadar kedua ujung bibirnya terangkat mendengar gadis itu tengah berteriak dan mengumpat.


"SIALAN!! SAMA AJA LO NGEBUNUH GUE.. AAAAA... GUE KESELLL...!!"


"Siapa yang mau ngebunuh elo?"


Tubuh Diana mematung. Sengaja ia memilih atap sekolah untuk menumpahkan kekesalannya karena saudari kembarnya membuatnya dalam masalah besar, namun siapa sangka ada orang lain yang tengah mendengarkan umpatannya. Diana menoleh, terbelalak melihat Atta yang memangku kepalanya menatap ke arahnya dengan senyuman tipis.


"Siapa yang mau ngebunuh elo?" ulang Atta.


Diana berdehem menetralkan tenggorokannya, kepalanya menggeleng. "Lo salah denger," tangkisnya.


Atta beranjak. "Gue rasa kuping gue masih berfungsi dengan baik," balasnya menyentuh telinganya sendiri.


Atta terkekeh kecil. "Gue enggak nyangka cewek kayak lo suka bolos pelajaran juga," ujarnya berdiri di samping Diana.


Diana melirik sekilas. "Jangan ceramah kalau pada kenyataannya lo juga ngelakuin hal yang sama."


Atta tertawa kecil. "Setidaknya gue ada temen ngobrol di sini."


Diana mendelik protes.


"Gue lihat lo ikutan lomba puisi, ya?"


"Gue enggak nyangka ternyata cowok kayak lo kepo juga hal kayak begituan, gue pikir lo orangnya nggak pedulian," sindir Diana.


"Beda cerita kalau itu bukan elo." Atta terkekeh.


Diana menyipit tajam, kemudian menghembuskan nafas panjang.


"Meskipun gue enggak pernah lihat lo baca puisi ataupun lihat karya lo, tapi lo harus yakin bahwa lo bisa," ujar Atta menyemangati.


'Gue tahu, tapi, itu bukan keahlian gue sama sekali,' bathin Diana merutuk sebal.


"Lo ingat Fitri anak IPA 3 yang dulu pernah ikut lomba pidato meskipun dia anaknya kuper dan introvert banget?" tanya Atta.


Diana menggeleng kaku, siapa itu Fitri? Nama itu tidak ada dalam daftar buku harian Dita, kalau sampai ia salah jawab bisa runyam. "Kenapa?" tanyanya pelan.


"Lo beneran nggak tahu?"


Diana menggeleng kian gugup, gugup jika jawabannya salah dan berdampak buruk untuk dirinya sendiri.


Atta menatap lekat. "Meskipun dia introvert tapi dia tetep berani tampil di depan umum, dan pada akhirnya.."


"Dia menang?" Diana menebak.


Atta menggeleng. "Dia tetep kalah," jawabnya tergelak.


Diana bersungut dengan kening mengerut dalam.


"Belum mulai aja dia udah gemeteran megang mic, ngelawak banget tuh cewek," gelak tawa Atta masih menggema mengingat kejadian satu tahun yang lalu itu.


"Terus apa hubungannya sama puisi gue?" hentak Diana kesal.


Atta membungkam mulutnya untuk meredakan tawa. "Intinya lo harus banyak latihan biar nggak malu-maluin."


Diana mengerucut sebal, merasa apa yang dikatakan Atta memang benar, ia harus banyak latihan membaca puisi, jangan sampai Dita mendapat malu karena dirinya.


Ah, sialan.


"Loh, Dit, mau kemana?" panggil Atta yang melihat Dita melenggang pergi begitu saja.


Diana berbalik. "Mau latihan baca puisi biar nggak malu-maluin," jawabnya ketus.


Dan entah yang ke berapa kalinya Atta bertawa berderai-derai hanya karena satu gadis.


...***...


Masih menjadi misteri kenapa Dita yang dulu keukeh mendaftarkan diri di dalam drama untuk bisa menjadi tokoh yang bersanding dengannya kini tiba-tiba ingin mengundurkan diri. Arya benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Dita, apa gadis itu sengaja menarik ulur perasaannya agar ia menjadi penasaran dan mengejarnya?


Terbukti dari sikapnya yang entah kenapa sangat dingin dan acuh, sangat berbeda dengan sebelumnya. Dan kenapa Arya merasa resah dengan hal itu sekarang?


Netra hitamnya menangkap gadis yang tengah dalam pikirannya turun dari tangga, dimana tangga itu menuju ke arah rooftop. Arya menatap heran kenapa Dita bisa dari tempat itu, bahkan melewatinya begitu saja. Dan lebih terkejut saat melihat seorang yang juga baru turun dari tangga yang sama dengan Dita. Atta?


Arya dan Atta saling tatap untuk beberapa detik, hingga kemudian Atta melenggang pergi ke arah yang berbeda dengan Diana tanpa mengucap sepatah katapun pada Arya yang notabene ketua osis.


Arya melihat kepergian Atta, ia berbalik mengikuti langkah Dita. "Dita," panggilnya.


Mungkin karena jarak yang terlalu jauh, Dita tidak mendengar panggilannya. Arya sedikit berlari untuk menghampiri. "Dita," panggilnya sekali lagi.


Diana yang merasa dipanggil berbalik, sedikit heran melihat Arya berlari ke arahnya. "Lo manggil gue?" tanyanya menunjuk pada dirinya sendiri.


Arya mengangguk. "Lo Dita, kan?"


Deg!


.


.


.


^^^Rabu, 22 September 2021^^^


^^^Saskavirby^^^