
Diana tengah serius menatap layar ponselnya guna membalas chat Dita, menanyakan bagaimana kabar saudarinya itu. Apakah terjadi hal buruk sehingga Dita tidak mengirimkan puisi padanya.
Bunyi bel pulang sekolah sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, namun Diana masih betah berada di dalam kelas untuk berbalas chat dengan Dita.
Hingga kemudian terdengar suara pintu di tutup dan kunci di putar, dia segera beranjak, mencoba membuka pintu kelas yang nyatanya dikunci. "Woi.. buka!" teriaknya menggedor pintu.
Tak ada sahutan.
Sialan, dia dikerjai.
Diana naik ke kursi, melongok dari jendela siapa pelaku yang sudah mengunci dirinya di dalam kelas. Namun tidak ada siapapun di koridor, sepertinya sudah kabur.
"Sialan!!"
Sekali lagi dia memperhatikan sekitarnya, tidak ada satupun manusia disana, mungkin jenis makhluk hidup lain ada, tapi tidak dengan manusia yang penuh keserakahan. Diana mencoba berfikir bagaimana cara turun dari jendela yang lumayan tinggi itu. Apakah harus meloncat atau turun perlahan.
Hingga pilihan jatuh pada turun perlahan. Sungguh saat ini dia merasa seperti pencuri yang kabur melalui jendela, kakinya yang bergantung di jendela bergetar, dia menelan salivanya saat menyadari ketinggiannya. "Yaa Allah.. lindungi aku. Jangan sampai gue patah tulang gara-gara loncat dari jendela," gumamnya. "Ah, brengsek! Siapa yang sudah mengerjaiku," umpatnya kesal.
Arya yang baru keluar dari ruang osis guna mengambil barangnya yang tertinggal menatap heran pada seorang siswi yang bergelantungan di jendela. Dia segera berlari untuk menolong siswi itu yang sepertinya kesulitan.
Diana merasakan telapak tangannya sakit akibat berpegangan pada jendela, hingga perlahan pegangan tangannya lepas. Sudah bisa diprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Duk!!
Bruk!!
Arya merasakan punggungnya ngilu saat siswi itu terjatuh menimpa dirinya yang bertemu langsung dengan lantai yang keras. "Auh.."
Diana menoleh saat menyadari dirinya terjatuh bukan di atas lantai, melainkan—Arya? "Maaf, gue nggak sengaja," sesalnya segera bangkit.
Arya mengusap punggungnya yang masih terasa ngilu.
Diana mengerjap bingung. "L-lo, lo ngapain di sini?" tanyanya tergagap, entah kenapa dia merasa gugup, dan sialnya jantungnya berdegup tak normal. Mungkin efek takut ketinggian.
"Gue ngeliat gadis bergelantungan, awalnya gue mau nolongin. Dan gue nggak tahu kalau itu elo," jawab Arya seraya berdiri membersihkan seragamnya yang kotor.
Diana terdiam, antara malu dan tak menyangka.
"Lo ngapain keluar dari jendela?"
Diana mendongak, menoleh ke arah pintu yang terkunci. Arya mengikuti arah tatap Diana.
"Siapa yang ngerjain lo?"
Tak menjawab. Diana meraih ranselnya yang tergeletak dan memakainya. "Makasih udah berniat nolongin gue. Dan maaf untuk yang tadi," ucapnya, kemudian dia segera melenggang pergi.
Arya terpaku untuk beberapa saat. "Dita," panggilnya, namun sang empu justru berlari.
*
Diana yang berlari tak menyadari sebuah bola mengarah padanya. Tepat sejajar lurus dengan wajahnya atau lebih tepatnya pipinya.
Atta yang menyadari hal itu segera berlari mengejar Diana. Menghentikan langkah Diana dengan memeluk tubuhnya dari belakang.
Grep!!
Jantung Diana seakan copot melihat sebuah bola melayang di depan wajahnya hanya berjarak beberapa senti. Pupil matanya membesar menyadari dua kali dirinya hampir celaka. Entah bagaimana jika bola besar dan keras itu seandainya mengenai wajahnya, mungkin akan bengkak sebelah. Hingga kemudian dia menyadari sesuatu yang melingkar di perutnya, dia tersentak melihat sebuah tangan memeluknya.
Diana berjengit. "Elo?" tudingnya sengit.
"Iya ini gue. Lo berharap orang lain?" tanggap Atta asal.
Dan sialnya lagi-lagi debaran di dalam dadanya tidak bisa diartikan baik-baik saja oleh Diana. "L-lo nyari kesempatan, ya?" tuduhnya.
Atta berdecak. "Bukannya terima kasih, malah nuduh sembarangan."
"T-tapi kan nggak harus.." kalimat Diana tergantung. Dia berbalik untuk segera pergi. Dia kesal dengan jantungnya hari ini, kenapa dia berdebar-debar. Ah, sial.
"Dit, lo punya hutang sama gue!" teriak Atta.
Diana berbalik, menyipit tajam pada Atta yang justru terkekeh.
...***...
Pusing, itulah yang tengah Diana rasakan saat ini. Apa yang baru saja terjadi membuat otaknya seketika beku tidak dapat berfikir jernih. Menyenderkan kepalanya di kursi mobil, kilas balik peristiwa yang di alami kembali terekam di otaknya.
Tentang dua siswa yang entah kenapa membuat hidupnya semakin tidak nyaman dan tidak baik-baik saja. Beberapa peristiwa yang melibatkan dirinya harus dan terpaksa terlibat dalam kehidupan dua siswa pentolan SMA Nusa Bhakti.
Tidak ada yang pernah menyangka bahwa dirinya yang awal mula tidak ingin terlibat apapun di sekolah justru semakin terperosok ke dalam.
"Pak, mampir ke toko buku dulu ya, ada yang mau aku beli," ujar Diana.
"Baik, Non."
Sesampainya di toko, Diana tengah mencari sekiranya buku yang menarik, berjalan di deretan buku bidang kesehatan. Sebuah buku bersampul putih dengan beberapa alat medis dan juga paru-paru menarik perhatiannya. Buku pengetahuan tentang kanker mengingatkan dirinya pada Dita yang tengah berperang saat ini.
Memilih membawanya, Diana juga membeli beberapa buku penunjang lain yang juga berhubungan dengan penyakit mematikan yang tengah bersarang di tubuh saudari kembarnya.
Seusai keluar dari toko buku, Diana di kejutkan oleh seorang gadis yang juga akan memasuki toko.
"Diana?"
Fivi memperhatikan penampilan Diana dari atas hingga bawah. "Lo..." kalimatnya mengambang menyadari Diana menggunakan seragam sekolah.
Diana menggeleng pelan. Sungguh dia tidak ingin ketahuan secepat ini. "Gue bisa jelasin. Tapi please, kita harus pergi dari sini," pintanya memohon.
Fivi mengangguk ragu, kemudian mengikuti Diana masuk ke dalam mobil. "Jadi?" tuntutnya tak sabar.
Diana mengambil nafas dalam. "Mungkin selama ini lo nggak tahu, atau emang gue yang nggak pernah cerita dan nggak pernah mau ngasih tahu tentang kehidupan gue."
Fivi menyernyit bingung.
"Tapi gue mohon satu hal sama lo, setelah gue ceritakan yang sebenarnya, jangan pernah lo bahas ini lagi. Jangan pernah anggap gue pernah cerita ini sama lo. Dan jangan ceritain sama orang lain. Lo sanggup?"
Fivi yang masih tak paham hanya bisa mengangguk.
"Gue punya saudari kembar. Identik," aku Diana membuat Fivi melotot terkejut. "Dan jangan menyela," ujarnya memperingati saat menyadari gelagat lawan bicaranya hendak memprotes. "Intinya gue loncat kelas dua tahun, yang menyebabkan status gue saat ini mahasiswi. Dan adik kembar gue sakit parah. Sekarang ada di luar negeri buat berobat. Dia minta gue gantiin dia di sekolah. Entah apa tujuannya gue nggak paham. Dan gue nggak tega buat nolak. Gue takut aja bahwa itu adalah keinginan terakhirnya, meskipun gue menepis keras pernyataan gue itu."
Fivi bergeming dengan pikiran dan tubuhnya yang tidak bisa menyatu.
"Intinya gue sekarang sedang berpura-pura jadi adik gue dan mengulang sekolah. Demi adik gue yang sedang berjuang melawan penyakitnya, jangan ceritain masalah ini sama orang lain," tutup Diana.
Fivi mengerjap. "Jadi, maksud lo, lo tukar posisi sama saudari kembarnya lo?"
Diana mengangguk.
"Lo pura-pura jadi murid SMA gantiin dia?"
Diana mengangguk.
"Lo mengulang sekolah?"
Lagi. Diana mengangguk.
"Kok bisa?" tanya Fivi tak habis pikir. "Gue tahu kembar identik itu ada. Tapi pasti ada kan sisi dimana untuk membedakan kalian berdua?"
Diana mengangguk. "Adik gue kalem banget dan cerewet."
"Terus, apa temen sekolah bahkan gurunya nggak bisa ngenalin kalian berdua?"
Diana membuka ranselnya, mencari foto yang terselip di dalam dompet, menunjukkan pada Fivi.
Pupil mata Fivi membesar, kemudian menyipit, menatap kertas foto dan juga Diana bergantian. "Ini kalian berdua?"
Diana mengangguk.
Fivi menggelengkan kepalanya pelan. "Mirip banget kalian. Sumpah gue nggak bisa bedain, Di. Elo yang mana? Yang ini, ya?" tunjuknya pada gadis berpakaian hitam.
Diana menggeleng. "Itu adik gue. Gue yang sebelahnya."
"Hah?" Fivi berdecak. "Oke, kalian memang mirip, bahkan gue nggak bisa bedain. Tapi, gimana temen-temen sekolah adik lo. Lo nggak mungkin kenal mereka semua kan?"
"Sepertinya Dita udah menyiapkan dari jauh-jauh hari," ucap Diana lesu. "Dia menulis semuanya di buku diary. Dan sayangnya temen sekolahnya nggak menganggap adik gue ada. Itu sebabnya nggak ada yang ngenalin gue."
Fivi melotot. "Bisa gitu, ya?"
Diana mengangkat bahunya.
Fivi menghembuskan nafas panjang. "Oke, gue ngerti. Tapi gimana sama kuliah lo. Gue nggak enak sama dosen. Kadang merek nanyain elo mulu, Di. Terus lo juga kemarin enggak ikut tugas bareng, kan? Gue jadi bingung nyari alasan. Seribu alasan udah gue coba. Gila. Sebaik apa coba gue sama lo," ungkapnya mencebik kesal.
"Gue kayaknya mau ambil cuti dulu deh, Fi."
"Hah? Serius?"
Diana mengangguk. "Gue pikir-pikir, gue nggak sanggup ngejalanin keduanya bersamaan. Gue bakal lanjut kuliah kalau Dita udah ngijinin gue lanjut."
Fivi mengelus lengan Diana. "Mungkin gue nggak tahu gimana perasaan lo, tapi, lo harus percaya kalau gue ada buat lo. Kalau lo butuh bantuan lo bisa nyari gue."
Diana tersenyum, amat sangat beruntung bertemu teman sebaik Fivi, padahal keduanya baru bertemu saat ospek. "Makasih ya, Fi."
"Jadi, itu sebabnya lo jarang mau kalau gue ajak ngumpul bareng anak-anak?" tebak Fivi kemudian.
Diana menyengir. "Gue masih anak SMA sekarang," balasnya terkekeh.
Fivi mencibir. "Otak lo tuh yang tingkat kedewasaannya kecepetan," tanggapnya ketus.
Diana terkekeh.
Gue turut prihatin sama adik lo. Semoga dia cepet sembuh, ya," ujar Fivi tulus.
"Aminn.."
.
.
.
Kamis, 21 Oktober 2021
Saskavirby