
Masih harus menjalani masa skorsing satu hari, tapi karena berhubung sang Papa hari ini ada di rumah, pagi-pagi sekali Diana sudah berseragam rapi dan berpamit ke sekolah meskipun yang ia lakukan saat ini adalah berkendara mengelilingi kota, tanpa tujuan.
Belum menemukan tujuan kemana ia akan pergi, Diana yang sudah mengganti seragamnya dengan pakaian bebas memacu roda duanya dengan santai. Entah sudah berapa lama ia berkendara hingga matahari sudah semakin meninggi.
Saat berhenti di lampu merah Diana menoleh pada sebuah mobil yang baru saja berhenti di sampingnya. Seketika pupil matanya melebar menyadari siapa pria di dalam kendaraan itu. Secepat kilat ia menarik gasnya dan berbelok ke kiri yang tidak perlu mematuhi rambu lalu lintas di jalan tersebut. Diana menarik gasnya kuat, ia berharap bahwa Ayahnya tidak sampai melihatnya tadi.
Suara gelas yang beradu dengan meja terdengar saat Diana meletakkan gelas kaca tersebut, usai meneguk isinya hingga tandas. "Hampir saja," gumamnya menghembuskan nafas panjang.
Melihat jam di pergelangan tangannya, masih terlalu pagi untuknya kembali ke rumah, dan juga bagaimana kalau tiba-tiba ayahnya pulang?
Diana beranjak, ia merasa bosan, sepertinya ia harus berkeliling untuk cuci mata. Namun, baru beberapa menit ia berkeliling mall, ia kembali melihat siluet ayahnya dalam mall tersebut.
"Sial," umpat Diana gegas bersembunyi di balik tembok. "Kenapa Papa ada dimana-mana sih?" gerutunya. Ia berdecak, lalu memilih berlari meninggalkan mall.
Duk!!
"Aww.." Diana meringis saat tubuhnya membentur benda keras di depannya. Ia mendongak. "Arya?" serunya terkejut.
"Dit? Lo ngapain di sini?"
Diana menggeleng guna mengusir keterkejutannya. "Seharusnya gue yang nanya gitu, lo ngapain di sini? Lo nggak sekolah?"
"Lo masih dalam masa skorsing, ya? Seharusnya lo di rumah, kan?"
Diana memutar bola matanya.
"Gue izin hari ini, abis nganter nyokap gue ke bandara, ada yang perlu gue beli di sini."
"Ohh?"
"Lo mau kemana, Dit?"
"Em.. gue.."
"Ikut gue, yuk?" ajak Arya menyela.
"Ha? Kemana?"
"Perpustakaan umum."
'Ah, benar juga, ya? Kenapa gue nggak kepikiran ngumpet di perpustakaan tadi.' Diana mengangguk. "Boleh."
Arya menoleh gadis di sampingnya. "Dit, maafin gue waktu itu, ya?"
Diana yang awalnya memperhatikan belakangnya menoleh bingung, ia nampak berfikir.
"Maksud gue waktu itu bukan untuk ngebela Silfi atau siapapun," terang Arya melihat kebingungan di wajah gadis di sampingnya.
"Ohh.. itu, iya gue ngerti kok."
"Jadi.."
"Jadi?" ulang Diana tak paham.
Arya mengangkat kedua alisnya.
"Iya, gue udah maafin lo kok. Tapi, apa yang gue ucapin ke elo tentang lo nggak pantes jadi ketua osis emang beneran."
Arya terkejut.
"Lo pantes menempati posisi itu kalau lo udah berhasil menciptakan suasana nyaman bagi seluruh siswa siswi." Diana menoleh. "Gue tau itu berat, emang beban yang harus di tanggung ketua osis emang berat, kan? Pasti lo udah tau, terbukti lo tetep jadi ketua osis sampai sekarang," ujarnya tanpa beban, tak tahu saja kalimatnya membuat pria di sampingnya tegang.
"Gue bakal lakuin sebisa gue," tanggap Arya seadanya.
Diana mengangguk saja.
"Lo nyari sesuatu?" tanya Arya yang sedari tadi memperhatikan gadis di sampingnya merasa tak nyaman dan terus memperhatikan sekelilingnya.
Diana menggeleng. "Ada bokap gue di sekitar sini."
"Dan dia nggak tau perihal lo di skors?" tebak Arya.
Diana mengangguk.
"Mau bareng gue?" tawar Arya.
Diana menggeleng. "Gue bawa motor," jawabnya mengangkat kunci motornya.
***
Alih-alih ke perpustakaan umum, Diana dan Arya justru berada di salah satu gedung bioskop. Untuk apa lagi jika bukan untuk menonton.
Awalnya keduanya memang berniat untuk ke perpustakaan umum, tapi rencana itu di urungkan karena di jalan tak sengaja Diana kembali bertemu dengan mobil papanya. Sial memang, kenapa Ayahnya berada dimana-mana.
Diana tengah fokus menatap layar besar di hadapannya, begitu serius memperhatikan film action yang ia sukai sampai tidak menyadari seseorang disampingnya yang tengah menatapnya sejak tadi.
Dibandingkan film action yang terpampang jelas dan lebar di hadapannya, Arya justru tertarik memperhatikan gadis di sampingnya. Entah kenapa Arya tetap merasa bahwa Dita berbeda dengan yang dulu. Entah dasar apa yang membuat dirinya mempunyai pemikiran seperti itu, tapi memang ia merasa begitu, ada sisi dimana Dita tidak seliar sekarang. Atau apa mungkin memang itulah Dita yang sebenarnya.
"Dit?"
Diana menoleh sekilas. "Hm?"
"Sejak kapan lo suka film action?"
Pertanyaan Arya membuat fokusnya teralihkan, ia menatap Arya gusar, pikirannya tengah menggali ingatannya apakah Dita -saudari kembarnya- tidak menyukai film action? "Kenapa?"
Arya menggeleng. "Gue nggak tau kalau lo juga suka film action, kebanyakan cewek, kan, sukanya sama film romantis."
Diana menghembuskan nafas lega. "Ohh? Mungkin karena gue bosen aja, nggak sesuai kenyataan."
"Maksud lo?"
"Nggak ada maksud apapun," balas Diana. "Lo nggak suka sama filmnya, ya?" tanyanya seakan tersadar, karena sewaktu membeli tiket ia sama sekali tak meminta persetujuan dari Arya.
Arya menggeleng. "Gue suka kok."
"Ohh."
Keduanya kembali fokus pada film. Beberapa menit kemudian Diana menyumpal mulutnya dengan popcorn saat melihat adegan ciuman dalam film, ia terkejut, apalagi menyadari ada Arya di sampingnya. Jujur saja, itu pertama kalinya ia menonton bioskop berdua saja dengan lawan jenis.
Diana menoleh ke kiri, hampir saja ia tersedak popcorn karena melihat tayangan live seorang pria dan wanita bercumbu. Ia menoleh ke kanan, lagi-lagi ia terkesiap menyadari Arya tengah menatapnya lekat, pupil matanya membesar.
"Uhuk! Uhuk!!"
Akhirnya ia tersedak juga.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Arya menyerahkan cup minuman pada Diana.
"Pelan-pelan," Arya menepuk-nepuk punggung Diana, prihatin melihat wajah Diana yang memerah karena tersedak.
Diana menyenderkan punggungnya, tenggorokannya masih terasa panas, ia menoleh ke samping. "Lo ngapain liatin gue?" ketusnya menyadari Arya yang masih terus memperhatikannya.
"Kenapa? Lo salting?"
Pupil Diana melebar. "Gue risih tau," jawabnya asal, mungkin sebenarnya ia tidak nyaman dengan tatapan Arya.
Arya tersenyum tipis. "Daripada gue harus lihat kanan dan depan mending gue lihat kiri gue," ucapnya.
Diana menoleh, melongok pada kanan Arya, juga kursi bagian depan. Sama seperti apa yang ia lihat di sisi kirinya tadi. Diana berdehem, "Balik, yuk?" ajaknya kemudian.
"Lo yakin? Filmnya belum selesai?"
"Yakin, gue udah bosen."
Arya tersenyum tipis. "Ayo."
*
"Lo mau kemana lagi?" tanya Arya saat keduanya sudah keluar dari ruangan.
Diana menilik jam di pergelangan tangannya. "Bisa nggak, sih, gue pulang sekarang aja," keluhnya.
"Bisa," tanggap Arya. "Lo bilang aja ke bokap lo kalau sekolah pulang lebih awal," imbuhnya.
"Gue udah pake alasan itu kemarin, Papa pasti bakal curiga."
"Terus lo mau kemana?"
Diana menggeleng.
Arya nampak ragu. "Lo mau ke rumah gue?" tawarnya.
Diana menoleh heran. "Ha?"
"Sepertinya itu bukan ide yang bagus," ujar Arya mengusap belakang lehernya.
"Emang," tanggap Diana pelan.
"Lo ngomong sesuatu, Dit?"
"Oh? Enggak. Gue pergi duluan, ya?"
"Mau kemana, Dit?"
Langkah kaki Diana terhenti, terkejut dengan pertanyaan Arya, ia mengerjap bingung untuk beberapa saat.
Mengerti keterdiaman Diana, Arya berdehem, "Maksud gue, perlu gue temenin?" ralatnya.
Diana menggeleng. "Nggak perlu. Gue bisa sendiri. Makasih traktirannya. Lain kali pasti gue ganti."
Arya mengangguk saja. "Lo hati-hati."
Diana mengangguk kaku. "L-o juga," balasnya kikuk.
***
Dalam perjalanannya, Diana tak sengaja melihat motor sport milik Atta beserta pemiliknya tengah melintas. Entah apa yang ia pikirkan, justru Diana memilih mengikuti pria itu diam-diam.
Memasuki gang-gang sempit, juga permukiman padat penduduk. Diana menghentikan motornya pada sebuah gang saat menyadari Atta juga turun dari motornya.
Diana mengendap-endap seperti maling, sebenarnya untuk apa juga ia bersikap seperti itu, kenapa juga ia harus penasaran dengan apa yang Atta lakukan.
"Astaghfirullahaladhzim!" Diana menyebut kalimat istighfar ketika tiba-tiba Atta muncul dan berdiri tepat di hadapannya saat pikirannya tengah berkelana tentang kekonyolannya membuntuti seorang Atta.
Atta menatap datar. "Lo ngikutin gue?"
Diana panik. "G-gue cuma mau mastiin kalau itu elo," elaknya gugup.
"Serius?"
Kepala Diana menggeleng kaku, ia merasa sikap Atta terlalu dingin.
"Urusan lo udah selesai sama ketua osis?"
"Ha?" Diana terkejut. "O-oh, sama seperti elo, gue juga nggak sengaja ketemu dia tadi," imbuhnya.
"Pulang gih," usir Atta.
Diana mengerjap bingung, ia benar-benar merasa bahwa Atta sangat aneh. Hingga kemudian ia membalik tubuh hendak berlalu. Namun sebelum itu, Atta menarik lengannya dan mendorongnya pada dinding. "A-apa?" tanyanya gugup.
Atta memiringkan kepalanya, menikmati wajah gugup gadis di hadapan. "Berawal dari rasa penasaran, lo bisa aja jatuh cinta sama gue."
Diana terperangah, ia mengerti kalimat itu, tapi apa mungkin.
Atta mendesah. "Ntar malem gue apelin elo ya, Dit?"
"Hah?" Diana terkejut. "Nggak!" Teringat orangtuanya ada di rumah, Diana tersadar. "Jangan coba-coba berani ke rumah gue," ancamnya.
"Why?" tanya Atta tersenyum simpul.
"Pokoknya lo nggak boleh ke rumah gue."
"Why?"
Diana melirik gelisah. "Gue udah pindah rumah."
"Oh, ya?" selidik Atta.
Diana mendengus. "Awas kalau lo berani dateng ke rumah gue."
"Kenapa? Lo aja berani ngikutin gue sekarang. Kenapa gue nggak boleh ke rumah lo?" tantang Atta.
Diana bersungut. "Oke, fine. Gue nggak sengaja lihat lo tadi. Sekarang gue mau pulang," ia mendorong dada Atta. "Nggak perlu nganterin gue," cegahnya menyadari gelagat Atta.
Sedangkan Atta terkekeh. "Sampai ketemu besok di sekolah Ditaa.."
Diana mendengus kesal.
.
.
.