Dialanta

Dialanta
27. Pacar (an)?



Diana yang tengah membawa cup berisi jus wortel berjengit saat seorang gadis hampir saja menubruknya. Ia memperhatikan dua gadis yang menatapnya dengan tatapan aneh, namun tak ia hiraukan. Diana memilih duduk di sebuah kursi setelah memesan gado-gado.


Ada yang berbeda dengan seisi kantin, entah mengapa hari itu seluruh penghuni kantin tengah menatap ke arahnya, meskipun Diana sudah sering mendapatkan perlakuan dan tatapan seperti itu, tapi, menurutnya ada yang lebih aneh hari itu. "Terimakasih," ucapnya pada pramusaji yang membawakan gado-gado untuknya.


Memilih mengabaikan, Diana hikmat menyantap makanannya tak memperdulikan keadaan sekitarnya, anggap saja mereka tidak ada. Namun seseorang berdiri di hadapannya, Diana mendongak.


"Dit, lo emang paling badas," ujar seorang siswi kemudian terkekeh bersama kawannya.


Kening Diana mengerut, tidak mengerti apa yang diucapkan dua siswi tersebut, belum sempat Diana bertanya mereka sudah melenggang pergi. Ia menatap pada Atta bersama teman-temannya yang baru saja memasuki kantin. Diana memperhatikan Atta yang melewatinya begitu saja, sebenarnya Diana tidak terpengaruh akan ungkapan perasaan Atta tempo hari, tapi entah mengapa ia juga tekadang memikirkannya, ah, entahlah, Diana memilih abai dan kembali menyantap makanannya.


"Hai, Dita, merindukanku?"


"Uhuk!"


Diana tersedak makanannya saat dengan tiba-tiba Atta berujar di hadapannya.


Atta geleng-geleng kepala, kemudian mengusap punggung Diana. "Sebegitu kangennya elo sama gue, ya, sampe kesedak," selorohnya terkekeh.


Diana menepis tangan Atta pada punggungnnya. "Ini semua gara-gara elo ngagetin gue," protesnya kesal.


Atta terkekeh. "Sorry," ucapnya mengambil duduk di depan Diana.


"Apa?" ujar Diana memperhatikan Atta yang tengah menatapnya.


"Dit, pulang sekolah ikut gue, yuk?"


Diana memicing curiga. "Kemana?"


"Muter-muter aja dulu," jawab Atta kelewat santai.


Diana semakin curiga. "Nggak, gue nggak mau," tolaknya.


Atta mendesah. "Gue udah tahu jawaban kenapa komodo hanya tinggal di pulau komodo," ujarnya tiba-tiba.


Diana bergeming, ia pikir Atta akan melupakan itu. "Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Dia merupakan spesies yang pemalas."


Kedua bola mata Diana melotot.


"Karena gue udah tahu jawabannya, lo harus ikut gue nanti," ajak Atta tak ingin di tolak.


Diana menggeleng. "Gue nggak mau."


"Kenapa?"


"Gue curiga sama elo, siapa tahu lo bakal balas dendam sama gue," jawab Diana jujur, apapun yang berkaitan dengan Atta memang membuatnya curiga dan khawatir.


Atta tersenyum simpul. "Balas dendam dalam hal apa?" tantangnya menahan tawa.


Diana memainkan bibirnya dan nampak berfikir. "Entahlah, pokoknya gue nggak mau."


Atta beranjak. "Oke," ucapnya kemudian berlalu.


Diana menatap heran kepergian Atta, entah apa maksud dari pria itu dan hal itu membuat Diana sedikit kesal.


***


Dari arah berlawanan terlihat Silfi yang berlari menghampiri Atta yang berdiri di samping motornya. "Atta, gue pulang bareng elo, ya?" ujarnya tiba-tiba.


Atta mengurungkan niat memakai helm, ia merasa dejavu. "Mobil lo kemana?"


Silfi menggeleng. "Gue nggak bawa mobil."


Atta memperhatikan arah belakang tubuh Silfi, dan Silfi mengikutinya.


"Gimana? Boleh, kan?" tanya Silfi memastikan.


"Lo pengen naik motor gue?"


Silfi mengangguk semangat.


"Dio!" Atta berseru memanggil temannya. "Anterin Silfi pulang pake motor gue," ujarnya menyerahkan kunci motornya pada Dio yang nampak cengo.


Silfi terbelalak. "Atta, kok Dio?" protesnya.


"Lo pengen naik motor gue, kan? Siapa yang jadi ojeknya nggak ada masalah," jawab Atta kelewat enteng.


Dio melotot. "Sekate-kate elu samain gue sama tukang ojek," ia tak terima.


"Tapi —" kalimat Silfi mengambang saat melihat Atta menghampiri Diana.


"Dita!" Atta menepuk jok belakang motor Diana keras membuat sang empu berjengit kaget.


"Astaghfirullah, Atta! Hobi banget lo ngagetin gue," Diana bersungut kesal, jantungnya berdegup kencang karena ulah siswa menyebalkan itu.


Atta cengengesan tanpa dosa. "Anterin gue pulang," ucapnya enteng.


Diana menyernyit. "Ih, ogah."


"Tega banget lo jadi cewek, gue cuma minta anterin pulang, Dit. Bukan minta elo jadi cewek gue."


Diana gelagapan memperhatikan area parkir yang ramai, kenapa Atta jadi marah-marah. "Bu-kan begitu maksud gue," ralatnya nampak kikuk. "Huh, emang motor lo kemana?" tanyanya kemudian.


Atta menunjuk motornya dengan dagu. "Dipake Dio nganterin Silfi pulang."


"Kenapa nggak elo yang anterin dia, kemarin gue lihat elo bareng dia."


Atta mengulum senyum. "Elo cemburu?"


Diana melotot, kepedean sekali orang itu. "Enggak, lah. Ngapain juga gue harus peduli."


"Oh, ya? Masak, sih?" Atta semakin gencar menggoda.


Diana menghembuskan nafas pasrah, berhadapan dengan Atta ia harus ekstra sabar. "Gue cuma nanya. Kalo dia bareng elo kan elonya bisa sekalian pulang," ujarnya kemudian dengan nada super halus.


Atta menatap datar. "Turun," pintanya kemudian.


"Kenapa?"


"Turun."


"Ih, apaan, sih. Nggak, gue nggak mau."


"Turun atau gue gendong," Atta mengancam.


Diana mendelik. "Lo apa-apaan, sih. Nggak usah maksa, deh."


"Satu."


Diana gelagapan, ia gegas memutar kunci motornya.


"Dua."


Belum sempat Diana menarik gas motornya, kuncinya terbang berpindah tangan di tangan Atta.


"Atta." Diana benar-benar kesal dengan tindakan seenaknya seorang Atta.


"Gue cuma minta elo anterin gue pulang, Dit," Atta memelas.


"Kenapa harus gue, sih? Temen-temen elo, kan, banyak," Diana mulai frustasi.


Kening Diana mengerut. "Selama ini gue juga ogah kalo lo gangguin gue terus."


Atta terkekeh saja.


Memperhatikan Diana dan Atta yang terlibat adu mulut, Arya menghampiri. "Dit? Ada apa?" tanyanya.


Atta memutar bola matanya melihat kehadiran makhluk tak kasat mata yang menjadi pengganggu. Sebut saja Arya. "Nggak perlu ikut campur, deh," sindirnya.


Diana menyadari tatapan tidak bersahabat antara Atta dan Arya, jangan sampai keduanya terlibat cek cok apalagi adu jotos di depannya. Diana sungguh tidak menyukai adegan sok hebat. "Nggak, kok, nggak ada apa-apa. Gue cuma mau pulang."


"Bareng gue," Atta menambahi.


Diana hendak protes, namun ia mengurungkan niat untuk menanggapi.


Arya memperhatikan Diana meminta persetujuan.


Diana menggeram tertahan, kenapa dua siswa menyebalkan itu terus mengusik hidupnya, padahal mereka berdua sudah mendapatkan penolakan darinya. "Ya, dia bareng gue," cukup, cukup sudah ia berurusan dengan dua siswa pentolan sekolah tersebut, ia tidak ingin menjadi bahan tontonan penghuni parkiran yang sejak tadi memperhatikannya. Dan cukup sekali saja ia menuruti tindakan gila seorang Atta, mulai besok ia tidak akan peduli dengan ketua basket juga ketua osis itu, persetan dengan mereka berdua.


Atta berada di atas angin mendengar jawaban Diana, ia melirik sinis pada Arya yang perlahan pergi.


*


Diana terheran memperhatikan jalanan yang asing baginya, kanan kiri terdapat pohon-pohon yang rimbun, hanya beberapa kendaraan yang melintas. "Atta, rumah lo beneran sekitar sini?" tanyanya memastikan.


"Gue ada perlu bentar, Dit. Bentarr doang."


Diana mengerucut sebal, seorang selalu seenaknya sendiri. Sepertinya dia menyesal menyetujui untuk mengantarkan seorang Atta pulang.


Atta menghentikan motornya di depan rumah seorang warga desa tersebut. "Ayo," ajaknya kemudian.


Diana terheran dibawa ke sebuah desa nan asri. "Nggak, gue di sini aja," tolaknya.


Atta menarik tangan Diana agar mengikutinya, namun Diana menghempaskan.


"Gue bilang nggak. Kita mau kemana? Gue juga asing dengan daerah ini, lo ada niat buruk sama gue, kan?" Diana mengemukakan pikiran buruknya tentang tindakan Atta, apa yang dilakukan pria itu memang harus di waspadai.


Atta menghembuskan nafas pelan. "Sebegitu buruknya kelakuan gue ya, Dit, sampai elo nggak percaya sama gue, " ujarnya tersenyum kecut.


"Gue harus dan boleh waspada," balas Diana tak gentar.


Atta mengangguk-angguk, kemudian menghampiri beberapa anak-anak yang berjalan dengan membawa beberapa barang. "Kalian mau pulang?" tanyanya.


Anak-anak itu nampak antusias melihat kehadiran Atta.


"Iya, Kak."


"Kakak mau ikut?"


Atta mengangguk. "Boleh."


Salah satu dari mereka menoleh pada Diana. "Teman Kakak?"


Atta menoleh pada Diana sebentar. "Dia nggak mau."


Diana terkesiap, siapa anak-anak itu ia tidak tahu, kemana mereka akan pergi ia juga tidak tahu. Sebenarnya ia penasaran siapa mereka, tapi ia urung mencari tahu.


Atta menoleh pada Diana yang terdiam. "Dit, biasanya di sini banyak orang gila berkeliaran kalo lo mau tahu," ucapnya sebelum berlalu.


Diana terbelalak, siapa yang tidak takut dengan orang gila, bahkan terkadang hantu tidak terlalu mengerikan daripada orang yang bertindak tanpa menggunakan akal pikiran. Diana ngeri jika seandainya ada orang gila sungguhan. "Tunggu," pada akhirnya ia mengikuti Atta bersama anak-anak desa tersebut, yang entah mau kemana ia tidak tahu.


Beberapa menit berjalan, sebuah jembatan gantung terpampang di hadapannya. Antara ngeri dan takut, pada akhirnya Diana berjalan dengan berpegangan pada tali, meskipun jalannya melambat seperti siput. Aliran sungai deras berada tepat di bawah kakinya. "Atta, sebenarnya kita mau kemana?" tanyanya mengalihkan rasa takutnya. Sebenarnya bisa saja ia menunggu di ujung jembatan, tapi ia khawatir jika ada orang gila yang menghampirinya.


"Gue ada perlu sama salah satu orangtua anak-anak ini, kebetulan tempat tinggalnya di seberang jembatan," jawab Atta tak merasa terganggu oleh pijakan yang bergerak-gerak.


"Atta, jangan cepet-cepet jalannya, gue takut," tangan Diana sudah gemetaran.


Atta tersenyum. "Pegang tangan gue aja," usulnya mengulurkan lengan.


Diana menurut, ia berpegangan erat pada jaket Atta. Sepanjang jalan ia merapal doa agar jembatan tersebut tidak putus.


Diana menghembuskan nafas lega saat tiba di ujung jembatan. Ia memutuskan menunggu Atta di sebuah pos ronda selagi Atta bertamu di rumah seseorang yang tak ia kenal. Diana mengistirahatkan tenaganya yang berkuras akibat berjalan di atas jembatan gantung, sesekali ia memperhatikan Atta yang seakan akrab dengan pria paruh baya tersebut.


Usai dengan urusannya, Atta berpamit dan menghampiri Diana.


"Udah selesai?"


Atta mengangguk. "Lo masih mau di sini atau pulang?"


"Pulang aja, gue capek."


Lagi-lagi adrenalin Diana kembali di uji saat ia harus melewati jembatan gantung, untung saja jembatan tersebut dicat berwarna-warni sehingga bisa membuat setitik ketenangan pada matanya, meskipun di dalam dadanya tengah jumpalitan karena gugup dan takut. Ia mencengkeram jaket Atta. "Lo sering ke tempat ini?" tanyanya mengalihkan rasa takut.


"Cuma sesekali kalau gue ada perlu sama Pak Ali." Atta menoleh pada Diana. "Lo takut banget, ya, Dit?" tanyanya memperhatikan jemari Diana yang bergetar.


Diana mengangguk. "Gue ngeri aja kalau jembatan ini roboh. Emangnya nggak ada jalan lain, ya?"


Atta tersenyum. "Sebenarnya ada,  cuma gue lebih seneng lewat sini, sejuk."


Diana melotot. "Seharusnya lo bilang sejak awal, gue nggak harus nahan takut lewat sini," sungutnya kesal.


Atta terkekeh. "Kan elo nggak nanya," balasnya tanpa dosa. Tiba-tiba Atta mendapatkan sebuah ide super brilian, ia melepaskan jemari Diana pada lengannya kemudian berlari meninggalkan Diana.


Tubuh Diana membeku menyadari pegangannya lepas. "Aaaaaaaaa.." teriaknya dengan tubuh yang membeku. "Atta, tolongin gue!"


Atta terkekeh melihat Diana yang ketakutan. "Dit, lo mau nggak jadi pacar gue!" ucapnya lantang.


Diana mencoba meraba tapi namun tangannya tak sampai. "Atta, ini nggak lucu. Cepetan tolongin gue, gue takut!" Kaki Diana mulai gemetaran.


"Gue bakal tolongin elo kalo elo mau jadi pacar gue!" Atta tak ingin kehilangan kesempatan.


Diana tak peduli, ia sibuk meraih tali yang tak kunjung ia raih. "Gue nggak mau! Aaaaaa.. Atta!" ia kembali berteriak saat Atta sengaja menggoyangkan jembatan tersebut.


"Bilang dulu, lo mau jadi pacar gue," Atta semakin gencar mencari kesempatan.


Diana sudah hampir pingsan, seluruh tubuhnya mulai mengeluarkan keringat tipis, bahkan kelopak matanya terasa panas, ia ingin menangis.


"Gue nggak akan terpengaruh oleh airmata elo, kalo elo ngomong mau jadi pacar gue, gue auto lari nolongin elo."


Diana ingin sekali mengumpat. "Gue mau jadi pacar lo!" teriaknya kemudian.


Senyum Atta merekah. "Gue nggak denger!"


"Gue mau jadi pacar lo, Atta! Please cepetan tolongin gue!"


Atta mengeluarkan ponsel. "Gue butuh pengulangan!" serunya.


Diana kesal luar biasa, tubuhnya benar-benar gemetar. "Gue mau jadi pacar lo, Atta!" teriaknya keras.


Atta berlari, menghampiri Diana dan menahan tubuhnya yang hampir ambruk. Kemudian menuntutnya hingga ke ujung jembatan, bisa ia rasakan genggaman jemari Diana pada lengannya yang keras, ia mengulum senyum menyadari Diana benar-benar ketakutan. "Lo beneran takut, Dit?"


Pertanyaan tidak etis yang tidak perlu dipertanyakan saat tubuh Diana benar-benar bergetar karena ketakutan, dan Diana tidak ingin menjawab pertanyaan unfaedah tersebut. Ingatkan Diana untuk membalas perbuatan Atta esok hari.


.


.


.