Dialanta

Dialanta
1. Kembali bersekolah



Gadis cantik dengan rambut sebahu yang di gerai itu nampak berdiri menatap bangunan gedung di hadapannya. Ekor matanya menatap pada beberapa siswa siswi berseragam sama dengannya yang sesekali menatap padanya.


Gadis itu mendesah pelan. "Sejauh apapun gue menghindari situasi ini, tetap saja gue harus kembali mengulang sekolah, huh! Hidup memang tidak pernah adil," gerutunya berdecak kecil.


Melangkahkan kaki memasuki halaman, tatapannya meluas memperhatikan keseluruhan bangunan yang sama sekali tidak pernah dan tidak ingin dia kunjungi. Ya, dia tidak pernah merasakan yang namanya sekolah pada umumnya. Karena dia memilih untuk home schooling, memanggil guru pribadi untuk membimbingnya hingga lulus.


Bahkan karena dia terlalu pintar untuk ukuran usianya, dia loncat kelas dua kali, sehingga yang seharusnya dia berada di lingkungan kampus saat itu, namun harus berada di lingkungan sekolah menengah atas yang tidak ingin dia lakukan, tapi harus.


Dengan bantuan buku harian yang saudari kembarnya tulis, gadis itu mencari dimana letak ruang kelasnya.  Juga kursi dimana saudari kembarnya duduk pun tertulis dalam buku harian itu, memudahkannya untuk mencari dan tidak akan menyebabkan kebingungan pada kelas jika seandainya dia salah tempat duduk.


Hingga pelajaran pertama usai, gadis itu merasakan sesuatu yang janggal yang terjadi dalam kelasnya, atau mungkin dengan diri saudari kembarnya. Karena nyatanya semenjak dia memasuki kelas hingga bunyi bel istirahat pertama tidak ada satupun murid yang mengajaknya berbicara.


Gadis itu melipat kakinya. "Dita, lo sungguh membuang waktu berada di tempat seperti ini," gumamnya menggeleng pelan. "Seandainya lo nggak sakit dan harus ke luar negeri, gue ogah gantiin lo dan terdampar di tempat mengerikan seperti ini," imbuhnya menggerutu.


Flashback on.


"Di, please, ini permintaan gue sama lo. Gue selama ini nggak pernah memohon sama lo. Sekali saja, jadi gue, Di. Gantiin gue di sekolah," pinta Dita memohon.


Diana memalingkan wajahnya. "Kenapa gue harus jadi elo? Lo kan bisa ambil cuti sekolah selama pengobatan, Dit."


Dita meraih jemari Diana. "Di, gue mohon. Banyak hal yang gue alami di sana, gue nggak mau mereka mengasihani gue kalau mereka tahu gue sekarat."


Diana melotot. "Jangan katakan itu, Dita!" peringatnya tegas.


Mengabaikan protesan Diana. "Kalau lo sayang sama gue, lo harus mau sekolah di sekolah umum ngegantiim gue," pinta Dita keukeh.


"Seharusnya lo percaya sama apa yang gue bilang, nggak ada untungnya lo sekolah di sekolah umum."


Dita menunduk lesu. "Gue bukan elo yang tanpa belajar bisa lulus dengan nilai terbaik," akunya sendu.


Diana tertegun. "Bukan gitu maksud gue, Dit." Menghembuskan nafas kasar. "Oke, gue mau gantiin lo, tapi gue nggak mau ngerubah sikap gue jadi lemah kayak lo."


Senyum Dita terbit, dia mengangguk semangat. "Terimakasih, Diana," balasnya memeluk tubuh saudari kembarnya.


"Gagal deh gue jadi Doctor usia muda gara-gara elo," ujar Diana berdecak.


Dita menyengir. "Terlalu mudah bagi lo untuk mendapatkan gelar itu, pending dulu kuliah lo. Lo harus merasakan indahnya masa remaja," ungkapnya tersenyum lebar.


Diana menonyor kepala Dita. "Menyia-nyiakan masa muda," tepisnya. "Yang penting lo harus sembuh, awas kalo lo telat minum obat," peringatnya.


"Iya, kakakku yang cantik, tapi masih cantikan gue." Dita terkekeh. "Gue juga pengen lihat lo wisuda bareng sama temen-temen gue."


Diana melotot. "Nggak ada, lo harus sembuh, gue nggak mau gantiin elo sampai lulus sekolah. Gimana sama kuliah gue?" protesnya.


Dita tertawa. "Tungguin gue napa, Di? Kita itu berbagi rahim di dalam kandungan Mama, lahir kita juga cuma jeda lima menit doang. Seharusnya kita lulus juga bareng, kuliah bareng. Napa lo udah kuliah sedangkan gue masih kelas dua SMA," protesnya kesal.


Diana tertawa. "Itu derita lo," balasnya tergelak.


"Ingat, ya, Di. Semuanya udah gue tulis dalam buku kecil gue, lo harus jauhin nama-nama yang udah gue tulis di sana."


"Gue bukan lo yang takut sama mereka, gue bakal balas kelakuan mereka sama lo selama ini."


Dita menatap protes. "Jangan terlibat masalah, Di."


Diana menghembuskan nafas pasrah.


Flashback off.


"Sial!"


"Apa ini sebabnya dia sering murung saat pulang sekolah?"


Beranjak, Diana memilih keluar kelas guna meneliti tiap tata letak gedung, menghafal dimana ruangan yang harus dia kunjungi jika di inginkan.


Saat berjalan di tepi lapangan basket yang tengah digunakan para siswa untuk mengeluarkan keringat, tiba-tiba ada siswi yang berteriak di belakangnya.


Diana berbalik, menatap heran pada seorang siswi yang berlari ke arahnya.


"Ditaaa.."


Diana mundur ke belakang saat siswi itu hendak menubruknya, menyebabkan siswi itu jatuh terjerembab ke dapan.


Bruk!!


"Silll!" Kedua teman siswi itu membantu siswi yang dipanggil Sil terjatuh.


"Sil, lo gapapa, Sil?"


"Dita! Semua ini gara-gara elo!" siswi itu menghardik, menuding Diana dengan tatapan tajamnya. "Seharusnya lo nggak ngebiarin gue jatuh, bego!" sentaknya.


Sebelah alis Diana menyernyit, membaca name tag siswi dihadapannya. Silfi. Diana ingat siapa gadis itu, gadis yang sering mengganggu saudari kembarnya dan dalam buku harian Dita, Diana harus menghindari gadis itu. "Sepertinya lo nggak buta, bahwa gue menghindar untuk memberi jalan buat lo. Dan gue sama sekali secuilpun nggak nyentuh tubuh lo. Jadi kalaupun lo jatuh, itu bukan gara-gara gue. Lo bisa tanya sama dua antek-antek lo itu. Oh, apa mereka juga buta?" ejeknya tersenyum sinis.


Ketiga siswi di hadapannya melotot terkejut, karena sebelumnya Dita tidak pernah berani membantah ucapannya.


"Lo berani sama gue?!"


Diana mendengus. "Apa seharusnya gue takut sama cewek bego kayak lo?" tantangnya. "Gue bukan cewek bodoh kayak lo, dan karena gue bukan cewek bodoh, gue nggak perlu takut sama lo," balasnya segera berlalu.


Terlihat Silfi yang bersungut mendengar cemoohan Dita padanya, kedua matanya berkilat marah, dia mengambil bola basket yang menggelinding di sampingnya, melemparkannya ke arah Dita.


Ekor mata Diana melihat bayangan Silfi yang melemparkan bola ke arahnya, dia berbalik dan menangkap bola itu dengan tangannya.


Hap!


Silfi beserta dua temannya kembali terkejut melihat Dita berhasil menangkap bolanya. Sepertinya bukan mereka bertiga saja yang terkejut, tapi hampir seluruh siswa siswi yang berada di arena lapangan basket.


Diana memicing. "Jangan ganggu gue," desisnya pelan. Melemparkan kembali bola basket ke arah Silfi yang tepat mengenai kepalanya.


Duk!


"Awhh.."


Gedebuk!


"Sil, Silfi bangun. Woi.. tolongin.. Silfi pingsan!"


Diana menghembuskan nafas lelah.


"Siapa tuh, cewek? Gue nggak pernah lihat." tanya seorang anggota pemain basket menatap pada Diana.


"Dia Dita, anak IPS."


"Berani juga dia sama Silfi."


"Introvert, galak juga."


Sementara seorang siswa lain yang mempunyai jabatan sebagai ketua osis cukup terkejut melihat aksi Diana membuat pingsan Silfi, dia segera menghampiri Silfi dan membawanya ke UKS.


...***...


"Dit, lo dipanggil ke ruang BK, tuh," ujar seorang siswi menghampiri Diana yang terduduk di kelasnya.


Diana beranjak, sudah bisa dia prediksi apa yang akan terjadi padanya. Apalagi jika bukan masalahnya dengan Silfi siang tadi.


"Dia yang mulai duluan, Pak." Tuding Silfi ketika Diana baru saja memasuki ruangan.


"Tenang dulu. Biar Bapak tanyakan padanya," ujar Pak Umar menenangkan. "Apa benar kamu sengaja melempar bola basket ke arah Silfi, Dita?" tanyanya menatap Diana.


"Bukan, Pak. Saya hanya membalas apa yang dia lakukan pada saya," bantah Diana kelewat santai.


"Bohong, Pak. Kalau Bapak tidak percaya, Bapak tanya saja pada seluruh murid yang ada di sana. Dia yang lempar duluan, bukan saya," hentak Silfi keras.


Diana berdecih. "Mana ada orang habis pingsan bisa teriak-teriak kayak di hutan," cibirnya pelan.


Silfi melotot sebal.


"Sudah-sudah. Dita, tidak seharusnya kamu melemparkan bola ke arah Silfi, bahkan sampai dia pingsan. Minta maaf padanya."


Diana melotot. "Bukan saya yang salah, Pak. Saya tidak mau minta maaf sama dia."


"Apa kamu lebih memilih dihukum daripada minta maaf?" hentak Pak Umar meninggikan suaranya.


"Saya lebih memilih hukuman daripada harus minta maaf sama medusa ini," balas Diana menunjuk Silfi dengan dagunya.


"Apa lo bilang?!" Silfi bersungut.


Pak Umar mengusap wajahnya. "Arya," panggilnya. "Kamu saja yang beri hukuman sama Dita, urus mereka berdua," putusnya final, beliau cukup lelah menghadapi siswi yang bermasalah.


"Baik, Pak."


Diana mendesah pelan. 'Baru juga hari pertama gue sekolah, masalah udah nyamperin gue, menyebalkan!'


*


"Seharusnya lo mengakui kesalahan dan meminta maaf, Dit," ujar seorang siswa dengan nametag Arya -yang mempunyai jabatan sebagai ketua osis- pada Diana.


Diana mencoba mengingat sesuatu melihat nama Arya sebagai identitas siswa di hadapannya. 'Oh, jadi dia cowok taksirannya Dita?' bathinnya tersenyum kecut. "Jangan ceramah, bilang aja apa hukuman buat gue?" balasnya acuh.


Arya tertegun. Sebelumnya tidak pernah Dita berbicara ketus padanya, bahkan seringkali gadis itu mencari perhatian padanya.


"Kasih hukuman yang berat, Ar, biar kapok tuh dia," timpal Silfi bersungut.


"Heran gue, lo itu habis pingsan, dan pingsan termasuk dalam kategori sakit. Yang gue tahu orang pingsan itu setidaknya butuh istirahat, tidur. Dan yang gue lihat dari lo, lo nggak ada tuh tanda-tanda sakit. Mulut lo itu nyerocos aja kek petasan banting. Semangat banget kayaknya lo buat fitnah gue," balas Diana mulai kesal dengan Silfi.


"Kurang ajar lo, ya. Lo nggak tahu kepalanya gue ini sakit gara-gara bola basket itu. Bagaimana kalau gue gegar otak? Lo mau tanggung jawab?"


"Gue lebih berharap bahwa lo gegar otak, setidaknya lo bisa lebih baik setelah mengalami hilang ingatan."


"Sialan, ngomong apa lo?"


"Stop! Stop!" lerai Arya menghalangi Silfi yang hendak menyerang Dita. "Dit, hukuman lo bersihin dan rapiin perpustakaan," putusnya final.


"Itu doang, kan?" tanya Diana memastikan.


Arya mengangguk. "Iya."


Diana segera melenggang pergi. Dan saat itulah Arya mencium aroma yang berbeda, entah darimana.


"Awas lo Dita!"


.


.


.......


...∆∆∆...


...Kembali berjumpa dengan author kece versi aku sendiri. Wkwk...


...Membawa kisah romantis remaja sekolah. Tentu dengan gaya yang berbeda dari kisah remaja yang pernah aku tulis sebelumnya, ya....


...Intinya, jangan pelit vote dan komentar biar aku juga semangat buat lanjutin ceritanya....


...Udah gitu aja kata pembukanya. Terimakasih.....


...See you.....


...📝 22 Juni 2021...


...Publish 17 September 2021...


Nb : jangan tanya knp lapak sebelah blm selesai udah bikin cerita baru.


Ya, karena udah lama nyimpen cerita ini dan pengen publish. Sambil nunggu lapak sebelah rame hehe. Kalau udah rame tinggal di publish sampe tamat haha. (Aminn)