Dialanta

Dialanta
8. Kabur saja



Dua sejoli yang bukan pasangan itu tengah serius mendengarkan seorang siswa yang tengah menjelaskan peran yang akan keduanya tampilkan dalam acara pentas beberapa minggu lagi. Arya dan Dita, atau mungkin lebih tepat disebut Diana. Diana mendengarkan dengan malas seorang siswa dengan name tag Fadil yang sejak tadi terus mengoceh di depannya dengan memperagakan beberapa adegan yang harus ia mainkan bersama Arya.


Entah sudah berapa kali ia terlibat dalam latihan drama yang tanpa ia sadari sudah berada di akhir cerita, nampak Fadil berceloteh riang menyadari drama pementasan yang ia ketuai hampir rampung.


"Kalian akan menyanyikan lagu dengan berdansa di akhir cerita," tutup Fadil menatap penuh suka cita ke arah Arya dan Diana yang tampak tenang.


"Lipsing?" tanya Diana memastikan.


"Kalian berdua bisa nyanyi?" Fadil bertanya.


Arya menggeleng, berbeda dengan Diana yang mengangguk, membuat kedua siswa itu kompak menoleh padanya.


"Nyanyi doang gue bisa, cuma, kwalitas suara gue nggak perlu lo pertimbangkan."


Fadil memutar bola matanya malas, sedangkan Arya menggeleng dengan tersenyum simpul.


"Kalian lipsing saja," putus Fadil kemudian.


"Kita mulai latihan lagi, Geees, ini yang terakhir, ya, setelah itu kita latihan mulai dari awal hingga akhir!" seru Fadil memberi pengarahan.


...***...


Diana mendesah berat melihat nama saudari kembarnya tertulis dalam selembar kertas yang tertempel di majalah dinding, mengetahui bahwa dirinya lolos dalam babak final menulis dan membaca puisi. Yang berarti masih ada satu beban yang harus ia lakukan. Lagi.


Ekor matanya melirik dingin beberapa siswi yang menatapnya dari atas hingga bawah, bahkan beberapa siswi itu saling berbisik. Memilih mengabaikan, Diana melenggang pergi begitu saja.


"Eh, Sil, itu si Dita," Ruri menyenggol lengan Silfi ketika melihat Diana yang berjalan di koridor seorang diri.


"Punya kepribadian ganda kali, ya, tuh, anak. Kayaknya beda banget gitu auranya sama dulu," celetuk Marisa.


"Maksud lo?"


"Lo masih inget, kan, kenapa lo sampe benci banget sama tuh anak. Sok kenal sok dekat, senyum mulu lagi pas ketemu udah kek orang nggak waras. Geli gue lihat cewek sok kecakepan kayak Dita." Marisa bergidik. "Tapi, lihat aja tuh dia sekarang, tatapannya aja udah beda, perilakunya juga, kek beda orang nggak sih?" imbuhnya lekat memperhatikan langkah Diana.


Silfi nampak berfikir. "Lo bener juga, Mar. Tapi, apa iya dia orang yang berbeda?"


"Tapi dia tetep nyebelin dan tambah songong sekarang," timpal Ruri dengan wajah kesal. "Lihat, dia berani deketin Arya," imbuhnya.


"Bukannya dari dulu dia berusaha deketin si ketua osis?"


"Iya, gue tahu, tapi apa lo berdua tahu kalau si Dita juga deketin Atta juga?" balas Ruri bersungut.


Silfi menoleh tajam. "Lo serius?"


Ruri tersenyum samar. "Ketinggalan berita lo, Sil. Udah banyak beritanya kalau Dita sering berdua sama Atta. Sok laku banget tuh, cewek. Kesel gue," tukasnya geram.


"Kurang ajar emang si Dita, harus diberi pelajaran."


"Eh, gimana? Lo udah laporan sama kak Yuna, kan?"


Marisa mengangguk. "Udah, lo tenang aja. Dia juga nggak suka sama si Cinderella gagal jadi Putri itu."


Silfi mengangguk.


*


"Lo lolos," ujar Arya setelah berhasil menyamai langkah kaki Diana.


Diana menoleh sekilas. "Seperti yang lo lihat."


"Selamat buat lo," ujar Arya lagi.


Diana hanya menoleh sekilas tanpa merespon jawaban.


Keduanya diam, hingga Diana merasakan getaran di saku roknya. Terdapat nama Dita sebagai identitas pengirim pesan. Ia melirik Arya untuk menyelidik apakah pria itu melihat isi pesan yang belum ia baca namun nama pengirimnya sudah terlihat. Arya yang mengerti berpamit untuk berjalan lebih dulu.


Diana mengambil duduk di kursi yang disediakan, membaca pesan yang saudari kembarnya kirimkan padanya.


Lo lolos kan?


Diana segera mengetik balasan.


^^^Gue semakin masuk ke dalam neraka garaยฒ elo.^^^


๐Ÿ˜„


Gue bakal buatin yang lebih bagus lagi buat lo baca.


Semangat kakakku.. ๐Ÿ˜˜


Diana mendesah lelah, adik kembarnya itu hanya akan memanggilnya kakak jika ada maunya, adik durhaka memang.


^^^Sebagai ganti ruginya lo harus sembuh dan cepet pulang.^^^


Prak!!


Usai menekan tombol send, ponselnya tiba-tiba terjatuh dengan amat keras di atas lantai akibat ulah yang di sengaja oleh seseorang. Diana mendongak, menatap dingin sang pelaku yang tersenyum sinis.


"Ups.. sorry, nggak sengaja," ucap Silfi terkikik bersama dua antek-anteknya.


Diana hendak mengambil ponselnya, namun didahului Marisa. "Balikin hape gue," pintanya.


"Gue penasaran, lo lagi chat sama siapa sih?"


Kedua pupil mata Diana membesar melihat Marisa hendak membuka ponselnya, ia mendekat untuk merebutnya. Namun dengan sigap Marisa menghindar, juga Silfi dan Ruri yang berusaha menghalanginya.


"Rebut kalau lo bisa," tantang Marisa mengejek, mengangkat ponsel milik Diana ke udara.


Diana berusaha merebutnya, namun tidak berhasil karena Silfi dan Ruri yang terus menghadangnya. "Balikin hape gue. Balikin gue bilang." Diana mulai naik pitam. "Balikin hape gue, sialan!" teriaknya murka. Ia marah, benar-benar marah dengan sikap kekanak-kanakan siswi-siswi itu. Kedua netranya berkabut, ia lelah, lelah dan takut jika mereka melihat isi ponselnya dan menemukan bukti dan fakta bahwa ia bukanlah Dita.


Diana sedih bukan karena takut ketahuan, tapi sedih jika saudari kembarnya akan kecewa karena dirinya ketahuan secepat ini. Ia tidak ingin Dita kecewa padanya. Ia juga belum melakukan yang terbaik untuk berpura-pura menjadi Dita. Apalagi mengingat perjuangan Dita yang kini berperang melawan penyakit mematikan itu.


"Kalian kekanak-kanakan banget, sih," seru Arya yang dengan mudah merebut ponsel dari tangan Marisa karena postur tubuhnya yang jangkung. Ia sempat melihat apa yang ketiga siswi itu lakukan terhadap Dita.


Silfi melirik sinis pada Arya, kemudian memilih pergi bersama dua anteknya.


Arya menyerahkan ponsel ke arah Diana. "Lo nggak apa-apa?"


Diana mengangguk kecil. "Makasih," balasnya, kemudian ia berlalu begitu saja, meninggalkan Arya yang terdiam menatap punggung kecil itu perlahan menjauh.


*


Di dalam kelas, Diana sama sekali tidak berminat dengan materi yang tengah di terangkan oleh guru di depan sana. Ia lelah, tubuhnya, hatinya, otaknya, semuanya terasa lelah. Ia ingin pergi dari tempat mengerikan yang hanya di isi orang-orang yang memanfaatkan otak kecilnya itu. Lagipula ia sebenarnya tidak perlu pengulangan materi yang sudah pernah ia baca dan pelajari sebelumnya.


Diana beranjak, membawa serta ransel miliknya. "Pak, saya izin pulang, tidak enak badan," ujarnya, melenggang begitu saja keluar kelas bahkan sebelum sang guru menanyakan perihal sakitnya.


Suasana koridor sangat sepi karena masih dalam jam belajar. Untuk mengangkat ransel saja seakan berat Diana lakukan, seperti ribuan ton beratnya isi dalam ransel membuatnya harus menyeret ransel itu.


Punggung Diana menegak menyadari satu hal, ia terdiam cukup lama untuk berfikir kemana dan bagaimana ia harus pergi dari gedung sekolah itu. Kembali melangkah, kali ini ia memakai ranselnya dengan benar, berjalan cepat menuju satu-satunya tempat yang ada di dalam kepalanya.


*


Diana mendongak, menatap dinding tinggi nan kokoh di hadapannya. Entah darimana pemikirannya tentang kabur melompati pagar gedung untuk bisa keluar dari sekolah itu. Tapi melihat bagaimana tinggi dan kokohnya tumpukan beton itu tersusun membuat kerja otaknya kembali menciut.


"Lo mau kabur?"


Seruan sebuah suara membuatnya menoleh. Dari sekian banyaknya siswa di sekolah, kenapa ia harus bertemu dengan Atta dalam keadaan yang seperti itu.


"Butuh bantuan?" tawar Atta dengan wajah tersenyum seolah mengejeknya.


Diana memutar bola matanya, kemudian menyadari bahwa Atta juga membawa ransel di punggungnya. Ia tersenyum samar. "Lo juga?"


Atta mengangkat dagunya.


Diana menunjuk ransel di belakang punggung Atta dengan gerakan kepalanya.


Atta tersenyum lebar. "Sehati, kan, kita?" godanya menaik turunkan alisnya.


Diana mencibir saja.


Atta memperhatikan sekitarnya. "Biasanya ada tangga di sini," gumamnya celingukan. "Giliran dibutuhin aja, ngilang," gerutunya lagi.


"Bilang aja lo sering kabur," cibir Diana mengambil duduk di atas lantai beton, bersender pada dinding.


Atta menoleh. "Stalker gue, ya, lo?"


Kening Diana mengerut tanda protes. "Itu sebabnya tangganya ngilang karena sering lo pake kabur."


Atta mengambil duduk di samping Diana. "Cowok mah, udah biasa. Lah, elo? Ngapain lo pake acara kabur segala?" selidiknya.


Diana mendesah berat sebagai jawaban. Mengeluarkan ponsel dan juga earphone. Menyumpal telinganya kemudian memilih lagu untuk di putar.


Atta menarik sebelah earphone Diana kemudian dipakai di telinganya. "K-popers?" tanyanya setelah mendengar lirik bahasa korea dalam musik yang ia dengarkan.


Diana mengangguk. "Love my self," ujarnya menyenderkan kepala di dinding dengan kedua mata yang tertutup.


Atta mengikuti apa yang Diana lakukan, hingga entah sudah berapa lagu yang mereka dengarkan tanpa sepatah kata. Atta yang memejamkan mata terhanyut dalam alunan musik melow yang membuat kantuknya menyambut. Hingga perlahan ia tertidur dengan bersender pada bahu Diana.


Diana terkejut merasakan beban yang menimpa pundaknya, saat kedua matanya terbuka ia melihat Atta sudah bersender di bahunya, mengintip sedikit guna memeriksa apakah Atta sungguh tidur atau hanya pura-pura. Menyadari deru nafas Atta yang teratur membuktikan bahwa pria itu memang tertidur dengan bersandar di bahunya. "Atta," panggilnya.


"Atta, bangun," Diana menggerakkan lengannya guna membangunkan Atta.


Kedua netra itu mengerjap, sedikit terkejut karena nyatanya alunan musik yang ia dengar mampu mengantarkannya ke alam mimpi. "Gue ketiduran, ya?" tanya Atta menggeleng kuat kepalanya guna mengusir rasa kantuknya.


Diana bergeming.


"Sebentar lagi bel pulang sekolah bunyi," ujar Atta menilik jam di pergelangan tangannya.


Keduanya beranjak.


"Lain kali jangan dengerin lagu melow yang bikin gue ngantuk," ujar Atta setelah membersihkan seragam bagian belakangnya.


Sebelah alis Diana terangkat. "Lain kali jangan nimbrung dengerin apa yang gue denger," balasnya menyindir.


Atta tersenyum. "Pundak lo nyaman banget buat tiduran, Dit," godanya.


Diana terdiam dengan tatapan tajam.


.


.


.


Sabtu, 9 Oktober 2021


Saskavirby