Dialanta

Dialanta
23. Ditolak?



Menikmati minuman hangat dengan cemilan soft cake di kala cuaca dingin memang hal yang paling menyenangkan. Seperti yang dilakukan Diana saat itu, ia memangku kepalanya menatap keluar jendela, menatap rintik hujan yang mengenai bilik kaca dengan sendok yang berada di mulutnya.


Pikirannya tengah melayang jauh mengingat terakhir kali ia bermain hujan dengan saudari kembarnya, kala itu Dita keukeh menariknya keluar saat ia tengah menikmati sentuhan hangat selimut tebal dengan buku juga earphone di telinganya.


Diana belum tahu jika saat itu adalah hari terakhir ia dan Dita bermain hujan, karena setelah itu ia dan keluarga baru mengetahui bahwa Dita menderita penyakit mematikan tersebut. Dan setelah itu Dita tak pernah lagi menariknya keluar untuk bermain hujan.


Diana mendesah berat, sebuah pemandangan di depannya membuatnya tertarik dari bayangan masa lalunya. Awalnya ia hanya diam memperhatikan dua sejoli yang tengah berbincang-bincang, hingga kemudian sang gadis terlihat membuat konten dan meminta sang pria bergabung.


Lama-kelamaan Diana mulai jengah dengan aksi percaya diri cenderung tak tahu malu pasangan itu, mereka mulai aksi suap-menyuap, pegangan tangan, bertingkah manja yang membuat Diana ilfeel. Apalagi rengekan menggelikan sang gadis, membuat Diana kian kesal.


Bukan hanya Diana, nyatanya hampir seluruh pengunjung kafe siang itu menatap miris akan ulah pasangan aneh yang duduk di depannya. Diana memilih beranjak, tidak berminat akan tontonan gratis yang tidak bermutu.


Rintik hujan masih saling menyahut walau tak sederas sebelumnya, Diana merapatkan jaketnya dan berlari menuju motornya, memakai helm dan mulai menstarter kendaraan sportnya.


Beberapa menit melintasi jalanan, hujan yang kian deras kembali turun, Diana gegas mencari tempat berteduh, ia membelokkan stang motornya pada tempat pencucian mobil yang sudah tutup. Mengibas-ibas jaketnya yang kembali basah.


"Dita?"


Diana berjengit, memutar tubuhnya dan terkejut melihat Arya yang nyatanya sudah lebih dulu berada di tempat itu.


"Lo baru pulang?"


"Gue mampir dulu tadi, lo sendiri?"


"Gue masih ada kegiatan osis."


"Oh?" Diana mengangguk-angguk.


Keduanya diam menikmati suara hujan yang mengenai genteng esbes di atasnya.


"Dit, gue boleh nanya sesuatu sama lo?" tanya Arya yang sejak tadi melirik gelisah pada gadis di sampingnya.


Diana menoleh heran, kepalanya mengangguk ragu.


Belum sempat Arya mengeluarkan suara, sebuah motor lain datang ikut berteduh. Kebetulan yang sepertinya sudah di setting, karena nyatanya penghuni baru itu adalah Atta.


"Huh!" Atta turun dari motor, mengisir rambutnya ke belakang. "Kalian di sini juga?" tegurnya melihat Arya dan Dita yang menatap padanya.


Arya merasa terganggu oleh kehadiran Atta.


"Lo belum pulang, Dit? Bukannya tadi gue nyuruh lo pulang? Kelayapan mulu," ujar Atta.


Diana mendengus. "Gara-gara elo juga gue masih di sini," jawabnya, ia memperhatikan tangan Atta. "Tangan lo—?"


"Udah sembuh kok," tanggap Atta menahan tawa.


Diana bersungut-sungut merasa dikerjai oleh Atta.


Arya memperhatikan interaksi antar keduanya. "Dit," panggilnya.


"Hm?" Diana menoleh. "Oh, lo mau nanya apa, tadi?"


"Gue pernah lihat lo pinjem buku kedokteran, lo mau ambil kuliah kedokteran?"


Diana nampak berfikir, dimana Arya pernah menjumpainya membawa buku ilmu kedokteran, tapi nihil, ia tak ingat. "Mungkin," tanggapnya mengangkat bahu.


"Sebenarnya gue punya saudara yang kuliah jurusan Dokter, kalo lo mau gue bisa pinjemin bukunya buat elo."


"Modus!" cetus Atta pelan. "Otak lo belum mampu nyerap ilmu kedokteran, ilmu pelajaran aja lo masih pake rumus keberuntungan," selorohnya.


Diana mendengus.


"Makasih, kalo butuh gue bakal kasih tau lo," ujar Diana kemudian.


"Kemarin ada bazar buku di samping gedung perpustakaan umum, banyak yang jual buku penting, bisa buat lo belajar, Dit. Sayangnya kita kemarin nggak jadi ke sana."


"Oh, ya?" Diana nampak antusias. "Seharusnya kemarin lo maksa gue buat pergi ke perpustakaan."


Arya tersenyum. "Lo yang maksain buat nonton, kan?"


Atta menatap keduanya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan, tapi ada sisi dimana ia ingin marah saat itu. Ia menghembuskan nafas kasar, menunggangi motornya dan memilih pergi, membiarkan tubuhnya terguyur hujan.


Arya dan Diana menatap heran kepergian Atta.


"Dit?"


"Em?"


"Lo ada hubungan apa sama Atta?" tanya Arya yang sudah kelewat penasaran akan kedekatan keduanya yang sering ia lihat.


Kening Diana mengerut. "Hubungan? Maksud lo?"


"Gue lihat lo sering deket sama Atta di sekolah."


Diana nampak berfikir, sedekat apa memangnya ia dengan Atta. "Mungkin dia yang sering deket ke gue." 'Kayak elo,' imbuhnya dalam hati. "Lo tahu sendiri, kan, nggak ada yang mau deketan sama gue, gue tuh kayak virus yang apabila lo deket sama gue, jarak lima meter aja, lo bakal terkontaminasi sama virus gue."


Atta tercekat. "Gue nggak ngerasa lo adalah virus. Dan kalaupun gue harus terkontaminasi virus karena elo, gue nggak bakal nyalahin elo. Dan mungkin gue bakal bertahan di samping lo, karena dua virus yang menyatu nggak akan pernah ada yang ingin mendekat. Jadi gue bisa ngelindugin elo," tuturnya serius.


Diana terdiam, terkejut akan jawaban Arya, ia mengalihkan tatapannya menghindari tatapan intens lawan bicaranya.


Arya membasahi bibirnya. "Dit, gue suka sama lo."


Jdarrr!!!


Dunia Diana seakan terhenti, kalimat keramat itu terucap dari bibir seorang Arya, tubuh Diana membeku, ia tahu semuanya salah, bukan jalan seperti ini yang ia inginkan. Oke, ia memang setuju menjadi Dita, tapi tidak dengan situasi yang seperti ini.


Bagaimana ia harus menjawab, sedangkan yang tengah berdiri saat ini di hadapan Arya bukanlah Dita yang mungkin akan berbahagia karena pada kenyataannya seorang Arya menyukainya. Tapi, ia bukanlah Dita, melainkan Diana. Apa yang harus ia lakukan?


Diana menggigit bibir dalamnya, ia sangat gelisah dan takut, takut jika akan terbongkar penyamarannya jika menolak, atau menerima. Sepertinya yang kedua tidak mungkin, karena ia sama sekali tak bergetar saat Arya mengucapkan kalimat keramat itu, kupu-kupu di perutnya tidak ingin terbang mengisap madu di bunga yang mekar. Hanya saja jantungnya berdegup, tapi bukan degupan membara, justru ia sangat gugup.


"Mungkin gue telat menyadari, tapi, gue yakin bahwa gue udah pada tahap suka sama lo," Arya menelan ludah, ia juga sangat gugup menanti jawaban dari Dita. "Maaf kalau waktu itu —"


"Stop!" cegah Diana mengangkat kelima jarinya. Ia nampak berfikir mencari kata yang pas. "Lo dan gue berbeda, sampai kapanpun gue nggak bisa berada sejajar sama lo. Gue nggak mau berlari mengejar kesetaraan sama lo. Lo terlalu tinggi buat gue, Arya. Maafin gue." Diana menggigit bibir dalamnya, merutuk apa yang telah bibirnya ucapkan.


Arya tercengang. "Rasa suka lo ke gue waktu itu?"


Diana merapatkan matanya. 'Ditaa, lo bikin gue dalam masalah.' "Waktu itu gue emang suka sama lo, tapi, sekarang, rasa itu udah berbeda, udah nggak ada lagi getaran di sini," ia menyentuh dada kirinya. 'Kalimat lo menjijikkan Diana,' rutuknya dalam hati.


Diana mengembuskan nafas, ia terlihat gusar. "Intinya gue nggak bisa pacaran sama lo. Jangan tanya alasannya kenapa. Maafin gue," putusnya mengakhiri, memilih berjalan menuju motornya gegas pergi dari hadapan Arya. 'Maafin gue, Dit, maafin gue, Arya.'


Arya menatap kepergian Diana dengan tatapan nanar, ia baru saja ditolak oleh Dita? Dita menolaknya? Tapi kenapa? Kenapa Dita menolaknya? Bukankah dulu gadis itu yang menyatakan suka padanya? Justru sekarang saat ia telah yakin dengan perasaannya, Dita menolaknya? Sebenarnya ada apa? Kenapa?


Pertanyaan itu seperti kaset rusak dalam pikiran Arya, pertanyaan yang tak bisa ia jawab dan hanya Dita yang mampu memberikan jawaban. Tapi pada kenyataannya Dita sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak menanyakan alasannya tadi.


Tidak, Arya harus memastikan yang sebenarnya. Ada apa sebenarnya? Ia harus tahu.


.


.


.