Dialanta

Dialanta
7. Dasar pengganggu



Diana tengah mendribel bola basketnya dan hendak melemparkannya ke dalam ring saat seseorang memanggil namanya, bukan nama saudari kembarnya.


"Diana."


Diana mematung, secepat itukah dia akan ketahuan bahwa dia bukan Dita?


Duk!


"Aaww.."


Hap!


Diana meringis saat kepalanya terkena bola basket yang di pegangnya.


"Lo ngelamun?"


Entah sejak kapan manusia sejenis Atta sudah berada di hadapannya.


"Diana, Di."


Diana mencari asal suara, mengembuskan nafas lega saat menyadari bukan dia yang dipanggil oleh seorang siswa.


"Oi," seru Atta menjentikkan jarinya di depan wajah Dita.


Diana berjengit. "Apa?" tanyanya ketus.


"Main basket jangan sambil ngelamun."


"Gue enggak."


"Buktinya, benjol tuh kepala," tunjuk Atta dengan dagunya ke arah kepala Diana.


Reflek Diana menyentuh puncak kepalanya, melihat Atta yang terkekeh membuatnya tersadar bahwa pria itu tengah mengerjainya. Dia mendengus sebal.


"Gue udah inget apa yang mau gue tanyain sama elo," ujar Atta serius.


Diana menghening.


"Apa lo punya musuh di sini?"


Diana terkejut. "Apa?"


"Gue inget waktu itu lo teriak sambil bilang lo mau ngebunuh gue?" ujar Atta menirukan gaya bahasa Dita.


Diana memalingkan wajahnya, syukurlah yang Atta maksud adalah itu, bukan identitas dirinya yang sesungguhnya.


"Gue bisa bantuin lo, kok, backingan gue banyak, jangan takut."


Diana menyipitkan matanya. "Lo tahu siapa yang mau ngebunuh gue?"


"Siapa?" tanya Atta penasaran.


"Elo," tuding Diana.


Sebelah alis Atta terangkat. "Gue? Kenapa gue? Sumpah demi Mama gue yang mengandung dan melahirkan gue, gue nggak pernah sedikitpun ada niat buat jadi pembunuh, dan keluarga gue enggak ada riwayat seorang pembunuh."


Diana mengibaskan tangannya. "Udahlah, terserah lo," tepisnya berbalik.


"Dit, lo nggak mau main basket sama gue?" teriak Atta.


"Ogah!"


...***...


Diana yang hari ini terpaksa harus naik bus umum karena mobilnya masih harus diperbaiki menyenderkan kepalanya pada kaca, matanya seakan enggan untuk terbuka, berharap agar kantuk segera menjemputnya.


Menghafal dialog dan juga puisi banyak menguras kerja otak dan tubuhnya, dia benar-benar lelah ingin beristirahat. Hingga beberapa menit kemudian dia benar-benar tertidur lelap dengan posisinya.


Bus sudah melewati entah berapa halte saat Diana terbangun, dia mengamati sekitar guna mencari tahu sampai dimanakah bus membawanya, dia mendesah berat menyadari rumahnya sudah kelewat jauh.


Memilih duduk di kursi halte untuk menunggu bus berlawanan arah yang akan membawanya kembali, Diana menyenderkan kepalanya dengan kaki yang di luruskan, ingatannya tengah mengawang jauh.


Tit!


Suara klakson menyadarkan Diana dari lamunannya, menatap datar pada seorang siswa berjaket kulit yang dia yakini di dalamnya menggunakan seragam yang sama dengannya berada di atas kendaraan roda dua berwarna merah kombinasi putih dan menatap ke arahnya.


"Mobil lo masih belum dibenerin?" tanya Arya yang sebenarnya mengikuti bus yang dinaiki Dita sejak gadis itu menaiki kendaraan umum itu, bahkan dia tahu saat Dita tertidur.


Diana menggeleng. Ekor matanya menangkap siluet seseorang yang dia kenali tengah berjalan ke arahnya, dia mendadak gusar.


"Lo –"


"Bisa anterin gue pulang nggak?" Diana menyela.


Arya terkejut.


"Bisa nggak?" desak Diana tak sabar karena seseorang yang dia maksud semakin mendekat ke arahnya.


Arya mengangguk. "Tapi gue nggak bawa helm cadangan."


"Gapapa, kita cari jalan tikus buat menghindari jika ada polisi," balas Diana cepat.


Arya sekali lagi mengangguk. Melajukan kendaraannya saat Dita sudah naik di jok belakang motornya. Sedangkan Diana menghembuskan nafas lega saat berhasil melalui kejadian buruk yang akan membongkar semuanya, kenapa dia tidak menyadari berada di lingkungan tempat kuliahnya yang tentu saja ada beberapa temannya yang mengetahui bahwa dia mempunyai saudari kembar dan mengenalinya. Mungkin kalau tidak ada Arya dia akan baik-baik saja tadi. Sedikit, mungkin.


"Stop, stop!" Diana menepuk pundak Arya saat melihat sebuah toko roti.


"Rumah lo di sini?" tanya Arya memperhatikan sekitarnya.


Diana menggeleng. "Ada yang mau gue beli, tunggu bentar ya?"


Arya mengangguk saja, sejujurnya dia sedikit heran dengan tingkah Dita yang aneh. Dia memilih menunggu di depan toko dengan ekor matanya yang mengawasi Dita tengah memilih beberapa roti di dalam etalase, sesekali gadis itu bermain ponselnya.


Beberapa menit kemudian gadis itu keluar dengan dua kantong plastik putih di kedua tangannya.


"Ini buat lo," ujar Diana menyodorkan kantong plastik berisi beberapa kue ke arah Arya.


"Untuk?" tanya Arya tak paham.


"Karena udah bersedia nganterin gue."


Arya bergeming, jika ditelisik sebenarnya apa yang dilakukan bukan termasuk mengantar, karena terbukti keduanya masih berada di jalan dan bukan rumah kediaman Dita.


"Taxi pesenan gue udah dateng," ujar Diana menyadari taxi online yang dia pesan sudah tiba. Arya ikut menoleh ke belakang. "Lo nggak perlu nganterin gue sampai ke rumah, ini sebagai tanda terimakasih gue," imbuhnya meletakkan kantong plastik pada kaca spion motor Arya, setelahnya dia melenggang pergi.


Arya menatap datar taxi yang ditumpangi Dita sudah berlalu, memperhatikan kantong plastik berisi kue pemberian Dita, kedua ujung bibirnya tertarik. "Lo penuh kejutan, Dit," gumamnya tak habis pikir.


...***...


Hari terus berlalu tanpa terasa lelah untuk membalik halaman baru tiap detiknya, seakan mengisinya dengan ukiran tinta tanpa pernah kita ketahui tiap kata yang akan tertulis, itulah kehidupan yang harus dan selalu kita hadapi tiap menitnya tanpa kita ketahui dimana letak akhirannya.


Melewati satu hari untuk membacakan puisi di tengah banyaknya penonton dan juri merupakan hal yang untuk pertama kalinya bagi seorang Diana lakukan, dan hari itu berjalan dengan mulus tanpa ada hambatan berarti.


Diana memberi hormat setelah menyelesaikan bacaan puisi yang Dita kirimkan melalui pesan singkat untuk dia baca. Seorang siswa yang menjabat sebagai ketua osis memberikan senyuman padanya sesaat setelah dia turun dari panggung.


Diana ingin sekali merutuki saudari kembarnya karena menempatkan dirinya dalam keadaan yang tidak pernah dia inginkan di dalam hidupnya, apalagi puisi bukanlah keahliannya. Jujur saja dia sedikit nervous untuk membacakan, ada perasaan takut yang mengusik hatinya, ketakutan jika akan mengecewakan dan merusak nama baik saudari kembarnya yang saat ini tengah terbaring di ruang inap sebuah rumah sakit khusus penderita kanker.


Diana membasuh wajahnya dengan air mengalir, menatap pantulan wajahnya di cermin, menguatkan diri untuk tetap bertahan demi saudari kembarnya. Karena sejujurnya dia tidak tahan berada di sekolah umum, dia merindukan bangku kuliah yang nyatanya sudah berbulan-bulan dia tinggalkan.


"Puisi lo memang nggak pernah bisa diragukan."


Seruan suara membuat Diana menoleh, menatap datar seorang siswi yang sama sekali tidak dia kenal.


Diana meraih tisu dan mengelap wajahnya. "Lo bicara sama gue?"


Siswi itu mendelik. "Yang sopan sama kakak kelas," peringatnya.


Diana tersenyum kecut. "Dimana letak kalimat gue yang mengandung ketidaksopanan? Gue nanya sama elo. Lo bicara sama gue? Atau sama kaca?" tunjuknya pada kaca besar di hadapannya.


Siswi itu bersungut. "Kurang ajar banget lo jadi adik kelas. Pantes aja ya nggak ada yang mau temenan sama lo. Selain sok akrab, lo juga angkuh."


Diana tertawa hambar. "Oh, jadi itu masalahnya, gue ngerti sekarang," ujarnya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apa maksud lo?"


"Gue nggak pengen cari gara-gara sama lo." Diana hendak berlalu namun langkahnya terhenti mendengar ucapan siswi itu.


"Tapi gue pengen cari gara-gara sama lo," tantang siswi itu menyeringai.


"Dita, lo terlalu pintar menyembunyikannya," gumam Diana pelan. Dia menoleh, menatap tajam siswi di hadapannya. "Gue bakal menunggu saat itu tiba," desisnya tajam.


Siswi itu mengerjap melihat tatapan mematikan dari lawannya.


Melewati pintu toilet, Diana melompat ketika dua kaki jenjang menjulang menghadang jalannya, melenggang begitu saja, mengabaikan dua siswi yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu toilet yang nampak terkejut karena usahanya membuat Dita terjengkang gagal.


Langkah kaki Diana mendadak terhenti saat tiba-tiba seorang siswa terpeleset tepat di depannya.


"Auh.. brengsek! Sialan!" umpat Atta merasakan pantat dan pinggangnya ngilu saat menyentuh lantai dengan tidak manly. Dia mendongak menyadari seseorang berdiri di hadapannya. "Hai, Dita," sapanya meringis menahan malu.


"Sekalian aja lo ngepel satu sekolah, pahala lo bakal beribu-ribu kali lipat udah ngebantuin tukang bersih-bersih sekolah," ledek Diana melenggang pergi.


Atta segera bangkit dan menyusul langkah Diana. "Makan gaji buta dong Pak Parman."


Diana menoleh. "Siapa Pak Parman?"


"Guru Fisika," jawab Atta asal.


"Oh?"


Atta terkejut. "Lo nggak tahu Pak Parman?"


"Pak Parman?" Diana nampak gelisah. "Ta-u kok, gue tahu."


"Siapa?"


"Ya itu, Pak Parman."


"Iya, Pak Parman itu siapa? Guru?" selidik Atta.


Diana mendengus, mengalihkan tatapannya dari selidikan siswa menyebalkan di sampingnya.


"Hm? Siapa Pak Parman?" desak Atta kian gencar menggoda Dita.


"Atta apaan sih, jangan ngikutin gue," tangkis Diana berjalan cepat namun di susul Atta.


"Gue butuh penjelasan, Dit."


Diana meringis mendengar kalimat ambigu yang Atta ucapkan, keduanya layaknya sepasang kekasih yang tengah bertengkar di sepanjang koridor.


"Jangan ngikutin gue, Atta," peringat Diana mulai jengah.


"Jelasin dulu lo tahu siapa Pak Parman? Dia guru apa? Terus siapa nama guru Fisika?" tuntut Atta tak mau kalah.


Diana bisa stress menghadapi makhluk sejenis Atta, jujur dia tidak tahu jawaban semua pertanyaan Atta, sebab itu dia ingin menjauh dari makhluk itu. Atau penyamarannya akan terbongkar.


Diana menarik lengan Atta saat seorang siswi berbadan gembul berlari ke arahnya, kemudian dia menggeser tubuhnya. Dan terjadilah tubrukan maut yang menyebabkan tubuh Atta terjerembab dengan siswi gembul di atas punggungnya.


"Adohh... Ya Allah.. Gue ketiban Gajah, selamatnya nyawa gue...!!" teriak Atta merasakan punggungnya yang seakan remuk.


"Sorry, sorry, gue nggak sengaja," ujar siswi gembul itu kesulitan menarik diri.


"Menyingkir dari gue, bego!"


Diana tidak dapat menahan tawanya melihat Atta yang ketiban tubuh berisi siswi itu, beruntung bukan ia yang jadi matras tadi. Ia membantu siswi itu untuk berdiri.


Atta terduduk dengan nafas yang kembang kempis. "Lo makan apa sih, badan lo udah kek Gajah bunting!" cetusnya. "Gila, gue hampir sekarat!"


"Sorry, Ta, gue nggak sengaja," sesal siswi itu takut-takut.


"Udah tahu badan lo gedhe, jangan lari-lari kek, lo mau bikin sekolah ini roboh?!" hardik Atta lagi.


Siswi itu menunduk takut dengan kedua jari yang saling bertaut.


Diana menahan tawa melihat Atta yang memarahi siswi gembul di sampingnya, dia seperti seorang Ayah yang memarahi putrinya karena mencuri permen.


"Untung gue masih idup. Udah sana, pergi lo. Jalan yang bener, pake dua kaki bukan empat!" ucap Atta lagi, siswi itu menurut.


Benar kan, Atta persis seperti memarahi anaknya. Diana tak bisa menahan tawanya yang siap meledak. Dia mengangkat lima jarinya menyadari Atta akan mengomel padanya juga. "Lo bisa berdiri sendiri kan?" tanyanya menahan tawa.


Atta berdecih. "Meskipun gue habis ketiban Gajah hamil, gue masih sanggup berdiri," balasnya seraya berdiri.


"Sorry."


Atta menoleh, memperhatikan gadis di hadapannya yang tengah menertawainya.


Arya yang melihat keberadaan Dita bersama Atta bermaksud menghampiri. "Dita," panggilnya.


Atta dan Diana menoleh.


Arya sedikit heran memperhatikan raut wajah Dita yang berseri, melihat keduanya bergantian.


"Ada apa?" tanya Diana melihat keterdiaman Arya.


"Anak-anak nyariin lo buat latihan drama."


"Oh?" Diana mengangguk.


"Dita," Atta menahan langkah Dita.


Diana menoleh.


"Lo harus tanggung jawab sama apa yang gue alamin barusan."


"Iya, gue minta maaf, itu udah merupakan bentuk dari tanggung jawab gue. Lagipula lo bilang bisa berdiri meskipun barusan ketiban Gajah bunting," tanggap Diana terkekeh.


Arya lagi-lagi terheran melihat Dita yang tertawa, ia tidak mengerti apa yang keduanya bicarakan.


Atta mendesah. "Seharusnya gue bilang nggak bisa jalan aja tadi," gumamnya pelan.


"Bye," pamit Diana melambaikan tangannya, kemudian berbalik meninggalkan Atta yang berdiri di posisinya.


Atta berdecak menatap Dita dan Arya yang berjalan beriringan. "Dasar pengganggu."


.


.


.


^^^...Selasa, 2 Oktober 2021...^^^


^^^Saskavirby^^^