Dialanta

Dialanta
2. Lo salah cari lawan



Menjumpai seseorang yang bisa dia tanyai, karena tidak mungkin dia bertanya pada murid dimana letak perpustakaan, Diana menghampiri seorang tukang bersih-bersih tanaman.


"Permisi, Pak. Ruang perpustakaan dimana, ya, Pak?"


"Neng, anak baru, ya?"


Diana mengangguk saja untuk segera mengakhiri pertanyaan yang bisa akan bertambah selanjutnya.


"Neng lurus aja, nanti ada belokan di sana, pilih sebelah kiri, nanti Eneng cari saja."


Diana mengangguk-angguk. "Terimakasih, Pak."


"Sama-sama, Neng."


Beruntung sang petugas kebun tidak mengenali saudari kembarnya, jika iya, mungkin situasinya akan berbeda lagi.


"Bukannya dia cewek yang tadi," ujar seorang siswa saat Diana melewati ketiganya begitu saja.


"Iya, yang berantem sama Silfi."


"Kenapa, Ta?"


Siswa itu menggeleng. "Gapapa, yuk, cabut."


*


Perpustakaan merupakan rumah kedua bagi Diana, pernah seharian dia menghabiskan waktu di dalam perpustakaan umum, menyebabkan orangtuanya kebingungan mencarinya. Hingga kemudian Ayahnya membuatkan perpustakaan khusus untuknya di dalam rumah. Tentu saja Diana bersorak riang karena tidak perlu keluar rumah untuk mencari bacaan.


Selagi membereskan buku-buku, Diana sempatkan untuk membaca beberapa buku tentang sains, dia lebih menyukai sains daripada ilmu sejarah, meskipun dia sering juga membaca buku tentang sejarah. Hanya saja dia menyukai hal yang menantang dan mengasah otak, daripada harus menghafal.


Lihatlah saat dia begitu berminat dengan buku untuk dia baca, waktu berlalu begitu cepat namun Diana masih duduk bersandar pada rak dan serius membaca, mengabaikan matahari yang perlahan meredup.


"Sudah waktunya pulang, Nak."


Seruan dari seseorang membuat Diana mendongak dari bukunya, dia segera berdiri. "Maaf, Bu," sesalnya mengembalikan buku ke dalam rak.


"Pulanglah, hari sudah senja."


Diana mengangguk. "Permisi."


...***...


Sepertinya sudah menjadi rutinitas baru bagi Diana, bangun tidur, bersiap dengan seragam sekolah dan pergi ke sekolah. Dia harus mulai terbiasa dengan hal itu, yang belum pernah dia lakukan sejak empat tahun yang lalu.


Karena saat memasuki sekolah menengah pertama Diana sudah memutuskan untuk home schooling. Dia sudah lelah menghadapi para siswa siswi yang menjilat padanya karena otaknya yang terlalu pintar, dia muak dengan muka dua mereka yang bersikap baik di depannya tapi justru mengolok-olok di belakangnya.


Mungkin di usianya yang masih tiga belas tahun belum sepantasnya dia memikirkan tentang penjilat dan lain sebagainya. Tapi, memang itulah yang dia pikirkan tentang cara pikir orang lain, mungkin karena dirinya berbeda.


Diana masih sedikit heran dengan apa yang terjadi dengan saudari kembarnya sehingga tidak ada satupun murid yang mau berteman dengannya, pernah Dita mengatakan karena dia terlalu bodoh, tapi sepertinya itu bukan alasan yang utama.


Dita bukanlah gadis kutu buku dengan kaca mata besar dan rambut kepang dua. Dita gadis yang cantik dengan postur tubuh yang ramping, sering menggerai rambutnya, juga penampilannya sangat modis meskipun hanya untuk bersekolah. Tapi, kenapa tidak ada yang mau berteman dengannya?


Gumaman di sekitarnya membuat Diana sedikit terganggu, dia menoleh pada beberapa gerumunan siswi yang berbisik-bisik dan menatap padanya. Memilih mengabaikan, Diana beranjak untuk ke kantin, dia butuh tenaga untuk berfikir.


Suasana ramai riuh menyambut kedatangan di kantin siang itu, lihatlah dia, hanya seorang diri memasuki kantin, tidak ada seorangpun yang bisa dia ajak bicara, sebenarnya itu tidak masalah bagi Diana. Tapi, entah bagaimana Dita yang sering cerewet terhadapnya menghadapi semua ini.


Melewati deretan kursi yang di duduki para murid, tiba-tiba seseorang menyiram seragamnya dengan jus jeruk.


Byur!


Suasana kantin seketika sunyi.


"Itu balasan buat lo yang udah bikin gue pingsan," sentak sebuah suara dari gadis di hadapannya, siapa lagi kalau bukan Silfi.


Diana mengusap pelan seragamnya yang basah seraya menghembuskan nafas untuk meredakan emosinya. "Menurut lo perbuatan lo selama ini sama gue bakal gue diemin gitu? Ya kali lo terus-terusan menang sedangkan gue harus jadi pihak yang kalah dan di salahkan. Sorry, gue udah muak sama ulah lo yang selalu ngebully gue. Lalu setelah gue berusaha membalas apa yang lo lakuin sama gue, lo ngerasa bahwa gue menindas lo?" Dia tersenyum kecil. "Sakit jiwa," desisnya tajam.


Silfi melotot. "Oh, jadi sekarang lo ngebales gue?" tantangnya. "Lo itu Cinderella yang selamanya nggak akan pernah jadi Putri. Babu, babu aja, udah. Lo nggak punya siapa-siapa di sini, nggak akan ada yang mau temenan sama cewek menyedihkan kayak lo," ejeknya menuding.


"Sorry, gue nggak level berteman sama kalian. Level gue temenan sama orang yang otaknya di atas rata-rata, bukan kayak lo semua yang mempunyai IQ di bawah rata-rata," balas Diana pongah. "Nggak perlu gue dapet pujian dari lo semua, kalo pada akhirnya lo semua menggunjing gue di belakang," imbuhnya.


Silfi menyipit tajam. "Mau jadi sok lo di sini?"


Byuurr!!


Silfi ternganga. Begitu juga pengunjung kantin hari itu.


"Jangan katakan kalo gue yang nyiram lo lebih dulu, karena sebenarnya gue membalas apa yang lo lakuin lebih dulu sama gue," ujar Diana. "Nggak perlu saksi, karena gue yakin lo bakal membungkam mulut mereka semua agar tidak mengatakan yang sebenarnya. Lo lihat itu," tunjuknya ada satu sudut. "Itu udah membuat lo kalah telak dari gue," tukasnya.


Diana mendekat, kedua netranya berkilat seraya menatap lekat gadis di hadapannya. "Lo salah cari lawan, *****," desisnya berbisik pelan. Ia berbalik. "Gue bakal ganti minuman lo," ujarnya pada siswa yang ia ambil minumannya tadi. Diana melenggang pergi dari kantin, meninggalkan Silfi yang mematung di tempatnya.


"Itu bukan minuman gue, tapi punya Atta," teriak siswa itu yang tidak didengar oleh Diana.


'Gue bakal bales perbuatan lo, Dita, gue bersumpah.'


Sekali lagi, Arya yang melihat apa yang terjadi di kantin terdiam menatap tubuh ramping gadis yang menyukainya melenggang pergi. Entah mengapa dia merasa ada yang janggal dengan Dita, tapi entah apa.


...***...


Bunyi bola basket yang beradu dengan lantai menggema, seorang gadis dengan lincahnya melemparkan bola keras itu ke dalam ring yang lebih tinggi dari tubuhnya.


Seorang siswa yang melihatnya bermaksud menghampiri. Merebut bola basket dari sang siswi dan melemparkannya ke dalam ring.


Diana menatap dingin pada siswa yang datang dan merebut bolanya itu.


"Lo hutang minuman sama gue."


Sebelah alis Diana terangkat, masih terlihat nametag siswa di hadapannya dengan seragam yang dilepas kancingnya dengan kaos berwarna hitam sebagai **********. Atta?


Diana bergeming, beberapa detik kemudian ia berbalik meninggalkan Atta yang terheran di tempatnya.


"Dingin banget tuh cewek," gumam Atta menggelengkan kepalanya, memilih memainkan bola basket seorang diri.


Namun tak berapa lama, terlihat gadis yang Atta ketahui bernama Dita itu kembali lagi dengan segelas minuman di tangannya.


"Hutang gue lunas," ujar Diana menyerahkan jus pada Atta yang kebingungan.


Atta tertawa kecil, merasa tergelitik dengan apa yang Dita lakukan. "Thanks," hanya itu yang dapat dia ucapkan.


"Gue lihat skill lo lumayan," ujar Atta setelah menyeruput minumannya.


Kedua alis Diana terangkat.


"Basket, gue tahu lo bisa main basket."


"Terus?"


"Lo mau main sama gue?" tawar Atta.


"Nggak," jawab Diana kelewat datar.


Atta terkesiap, sebegitu dinginnya gadis di hadapannya, hingga menolak tawarannya.


"Nggak perlu cari cara buat ngajak gue main basket. Gue nggak berminat," ujar Diana memperingati. "Dan jangan minta tagihan ke gue, karena hutang gue udah lunas," imbuhnya lagi, kemudian ia berbalik dan pergi.


Atta memperhatikan Dita yang perlahan menjauh, kedua sudut bibirnya terangkat. "Menarik."


.


.


.


...Perkenalan sabi lah update dua part sekaligus. 😉...


...Nunggu respon kalian, kalau rame bakal lanjut....


...Jangan lupa tinggalkan jejak, zeyeng~...


...See u next chapter. 😘...


...Saskavirby...