Dialanta

Dialanta
12. Memindai tersangka



Atta tengah berjalan menuju parkiran dengan bersiul riang serta memutar kunci motornya. Suasana sekolah sudah sepi, sengaja ia menghabiskan waktu bermain basket seorang diri karena tak ingin segera pulang.


Ada yang menarik perhatiannya saat melihat sebuah mobil masih terparkir di depan gerbang sekolah, ia mengenali pemilik mobil itu.


Atta menghampiri. "Pak? Bapak sopirnya Dita, kan?"


"Iya, Den. Aden lihat Non Dita nggak? Dari tadi kok belum keluar, ya?" tanya Pak Jamal khawatir.


Atta menoleh ke belakang sebentar. "Bukannya Dita udah pulang, ya, Pak? Lagian kayaknya di dalem udah sepi. Saya yang terakhir."


"Aduh, masak iya, Den? Non Dita pulang sama siapa, Den? Enggak nelepon saya dulu. Biasanya kalau pulang sama ojek ngabarin saya dulu," Pak Jamal kian khawatir.


Atta nampak berfikir. "Udah coba telfon dia?"


"Sudah, Den. Tapi enggak nyambung."


"Ya, udah, saya bantuin nyari di dalem, ya, Pak?"


"Terimakasih banyak, Den."


Atta mengangguk dan berbalik menuju gedung sekolah, pertama ia mencari di ruangan drama, ruang kelas, kantin, dan membuka satu persatu ruang kelas dan ruangan yang ia lewati.


"Dita?"


Tak ada sahutan.


Hari sudah mulai senja, beberapa lampu mulai dinyalakan.


"Lo dimana, sih, Dit?"


"Dita?"


Atta berhenti sejenak, memikirkan kemungkinan dimana gadis itu berada dan tempat mana yang belum ia cek. Beberapa detik kemudian ia mulai menyusur toilet, lokasi yang belum ia kunjungi.


Lantai satu, kosong. Tidak ada seorangpun di sana. Tiba di lantai dua toilet ketiga, suasana cukup seram karena lampu yang berkedip-kedip kemungkinan konslet, bulu kuduk Atta merinding. "Kenapa serem banget, sih," gumamnya mengusap belakang lehernya.


"Dita, lo dimana?! Jawab gue?!"


Diana yang awalnya tak ingin menangis akhirnya menangis juga karena tak ada seorangpun yang bisa menolongnya keluar dari tempat itu. Jujur saja ia amat sangat takut berada di toilet, dimana yang katanya tempatnya para makhluk astral tinggal. Ia meringkuk memeluk lututnya sendiri, berdoa agar seseorang datang untuk menolongnya.


Hingga sebuah suara membuat tangisannya mereda, ia menajamkan pendengarannya. Benar, itu suara seseorang memanggil namanya. Diana berdiri, menggedor pintu. "Tolong.. gue di dalem!"


Atta menghampiri pintu toilet di depannya. "Dit? Lo di dalem?"


"Iya, gue di dalem, tolongin gue."


Atta menarik kain tipis yang tersumpal di lubang kunci, mengintip ke dalam. "Lo mundur, Dit. Gue dobrak pintunya."


Diana menurut, menepikan diri sementara seseorang di luar sana yang ia kenali suaranya tengah berusaha mendobrak pintu.


Awalnya Atta menggunakan lengannya untuk mendobrak pintu, namun tak berhasil, beralih menggunakan kakinya. Pada percobaan yang entah ke berapa kalinya akhirnya pintu itu berhasil terbuka. Ia segera menghampiri Diana yang pucat pasi. "Lo nggak apa-apa, kan?" tanyanya membingkai wajah gadis di depannya.


Diana menggeleng.


Atta mengeluarkan botol air mineral dalam saku tasnya. "Ini minum dulu."


Diana menurut, ia memang kehausan setelah berteriak dan menangis untuk waktu yang tidak sebentar.


"Lebih baik?" tanya Atta setelah Diana menghabiskan setengah air yang tersisa hingga tandas.


Diana mengangguk.


Atta kembali mengeluarkan jaketnya dari dalam tas, menggunakannya pada tubuh Diana. "Pake ini, badan lo dingin."


Kali ini Diana benar-benar menurut dan tak ingin membantah, ia masih sedikit ketakutan karena shock.


"Bisa jalan, kan?" terlihat Atta yang sangat khawatir dengan keadaan Diana.


Diana mengangguk.


Atta berjongkok di depan Diana. "Naik ke punggung gue, biar lebih cepet," ujarnya melihat cara jalan Diana yang seperti siput, dan mungkin mereka akan tiba di depan gedung sekolah besok pagi. Oke itu berlebihan.


"Tapi—"


"Udah, ayok, jangan kelamaan mikir. Mumpung gue belum berubah pikiran," desak Atta tak sabar, ia tidak tega melihat wajah pucat gadis di hadapannya.


Beruntung Dita yang sekarang sangat penurut, sehingga Atta tidak perlu mengeluarkan jurus ocehan seperti yang tadi siang Dita lakukan padanya untuk memaksa gadis itu menurut. Atta membawa tubuh Diana dalam gendongan punggungnya, merasakan suhu tubuh gadis itu yang hangat dari hembusan nafas hangat yang mengenai lehernya.


"Non, Non baik-baik saja?" Pak Jamal segera menghampiri melihat anak majikannya berada dalam gendongan siswa.


"Bawa ke Dokter, Pak," ujar Atta menurunkan Diana dalam mobil.


"Nggak perlu, kita pulang aja, Pak. Aku pengen tidur," tolak Diana.


"Tapi, Dit? Badan lo anget."


Diana mengangkat kelima jarinya. "Makasih, Ta. Gue balik dulu. Pak Jamal ayo, kepalaku pusing."


"Baik, Non. Den terimakasih banyak."


Atta menatap nanar kepergian Diana. 'Siapa yang udah ngunciin dia di toilet?'


...***...


Esok harinya, Atta sengaja menghampiri kelas Diana guna memastikan keadaan gadis itu. Namun nyatanya gadis itu absen dengan alasan sakit. Atta terdiam tengah memikirkan sesuatu. Setelahnya ia berbalik ingin menghampiri seseorang.


"Woi.. Sil?"


Silfi yang tengah duduk di taman beserta Marisa dan Ruri menoleh girang menyadari Atta memanggilnya. "Lo sengaja nyari gue, Ta?"


"Hm," jawab Atta datar.


"Gue nggak suka basa-basi, jadi gue to the point aja. Lo yang ngunciin Dita di toilet kemarin, kan?"


Ketiga gadis itu nampak terkejut. "What?? Lo ke sini cuma mau nanyain itu?"


"Tinggal jawab, ya atau nggak?"


Silfi mendengus kesal. "Nggak. Gue nggak tau."


"Lo jangan bohong!" hardik Atta meninggikan suaranya.


Ketiga siswi itu berjengit, terkejut melihat Atta yang membentak. "Gue nggak tau. Sumpah. Lagipula kemarin kita pulang duluan setelah acara drama selesai. Bahkan sebelum selesai kita udah cabut duluan. Ya, kan? Mar? Ri?"


Marisa dan Ruri mengangguk kompak. "Bener, Ta. Kita nggak tau apa-apa."


"Gue nggak suka aja ada bullying di sekolah ini. Kalau kalian terbukti terlibat, gue sendiri yang bakal ngasih pelajaran sama lo bertiga," ancam Atta sungguh-sungguh.


Ketiganya mengangguk kompak. Silfi bernafas lega setelah kepergian Atta. "Atta kalau marah nyeremin, sumpah."


"Lagian siapa, sih, yang udah ngunciin Dita di toilet?"


"Bukan masalah siapanya, Mar. Tapi, kenapa si Atta kek marah banget gara-gara Dita di kunciin di toilet? Ada hubungan apa dia sama Dita?"


"Jangan-jangan Atta suka sama si Dita?"


Silfi melotot. "Jangan ngaco, deh. Mana mungkin Atta suka sama cewek modelan kek Dita? Jangan bikin mood gue tambah ancur."


Marisa meringis. "Sorry, Sil. Bukan gitu maksud gue. Gue cuma penasaran aja."


"Apa mungkin ini kerjaan Kak Yuna?" ujar Ruri pelan.


"Kak Yuna?"


"Meskipun sebelumnya kita yang minta bantuan dia buat ngunciin Dita di kelas. Bisa jadi, kan, dia yang ngunciin Dita di toilet."


Marisa melotot. "Jangan sampai Atta tau kalau itu kita yang nyuruh."


"Gue nggak minta bantuan Kak Yuna lagi. Lagipula gue cuma minta bantuannya sekali. Untuk yang kemarin gue udah lepas tangan," Silfi bersendekap dada, meskipun perasaannya ketar ketir.


"Selama ini apa iya si Dita terlibat dengan Kak Yuna?"


"Maksud lo?"


Ruri meminta kedua temannya mendekat. "Jangan sampai Atta curiga sama Kak Yuna. Kalau Kak Yuna sampai ngaduin kita, kita bisa dalam bahaya. Mending kalau cuma Atta, kalau udah sampai ketua osis gimana?"


"Emangnya selama ini Arya kek gimana sama kelakuan kita yang suka bully si Dita? Gue nggak pernah lihat dia ngebela Dita."


"Ya, karena selama ini kita bermain cantik, Sil. Kita nggak pernah terlibat sama Kak Yuna, kan?"


Silfi nampak berfikir. "Lo bener juga, Ri. Kayaknya kita harus stop buat libatin Kak Yuna dalam masalah kita deh."


"Gue setuju."


*


"Ta, lo kayak orang bingung deh hari ini? Lo lagi nyari siapa sih, dari tadi liatin anak-anak mulu."


Atta yang tengah menyelidik tiap pasang mata yang hadir di kantin menoleh sekilas. "Gue lagi memindai tersangka."


Dio melongo. "Tersangka apaan?"


"Kemarin ada yang ngunciin Dita di toilet."


"Hah?"


"Menurut lo siapa di antara siswa siswi yang berpotensi mendapatkan julukan tersangka di sekolah ini."


Dio meringis. "Lo ngelakuin ini semua karena Dita? Lo beneran naksir sama dia, Ta?"


Atta menoleh protes. "Kalo gue jawab ya kenapa?"


Dio terkekeh. "Oke, gue paham," balasnya mulai mengikuti apa yang Atta lakukan. "Silfi cs mungkin, selama ini mereka sering ngebully Dita, kan?"


"Gue udah tanya mereka, tapi kayaknya bukan."


"Lo tinggal tanya aja sama Dita, gampang, kan?" usul Dio menyedot minumannya."


Plak!


Atta menggeplak belakang kepala Dio membuat sang empu meringis. "Kalau gue bisa, gue bakal nanya sama Dita. Bego." Atta mengupas biji kuaci dan memakan isinya. "Dia sakit, nggak masuk hari ini," imbuhnya kemudian.


"Jadi ini yang bikin lo kelimpungan?"


Atta tak menyahut.


"Apa mungkin si Yuna?" ujar Dio memperhatikan kehadiran Yuna cs dalam kantin.


Atta mendongak dari kegiatannya. Saling tatap dengan Dio kemudian keduanya saling mengangguk.


.


.


.


Jum'at, 5 November 2021


Saskavirby