Dialanta

Dialanta
18. Motor sport



Sudah hampir satu minggu Diana mencoba berlatih mengendarai motor sport milik ayahnya. Hampir tiap sore sepulang sekolah ia akan meminta Pak Jamal untuk mengajarinya. Kini ia sudah cukup mahir menjinakkan kuda besi besar yang lebih besar dari tubuhnya itu, tidak sia-sia ia dulu belajar mengendarai motor sport milik ayahnya dua tahun yang lalu. Setidaknya keinginan gilanya waktu itu berguna untuk sekarang.


Sore itu Diana memutuskan mengendarai motornya untuk sekedar berkeliling kota sendirian, itung-itung melatih otot tangannya agar lebih luwes, dan rencananya senin esok ia akan menggunakan motor untuk ke sekolah. Ia berhenti sejenak ke sebuah minimarket guna membeli minuman. Setelah membayar Diana istirahat sejenak pada kursi yang disediakan di depan minimarket seraya menikmati minuman yang ia beli.


Diana terkesiap melihat seseorang yang baru saja tiba di halaman parkir minimarket. Terlihat seorang pria yang melepas helmnya dan turun dari motornya. Diana sudah menunduk agar tidak dilihat pria itu, niatnya saat pria itu masuk ia akan segera pergi dari sana. Namun yang terjadi justru sebaliknya, pria itu mengambil duduk di hadapannya, tersenyum geli menatap ke arahnya.


Diana yang menyadari seseorang duduk di hadapannya menghembuskan nafas lelah, kepala mendongak. "Lo ngapain di sini?" tanyanya ketus.


"Menurut lo?" goda Atta mengulum senyum


"Masuk sana, lo pasti berniat beli sesuatu, kan?"


"Awalnya niat gue emang mau beli sesuatu, tapi ngelihat lo di sini tujuan gue jadi berubah."


Diana mendengus. "Apa?"


"Elo," jawab Atta tersenyum lebar.


"Jangan senyam-senyum kek orang gila," ketus Diana.


Seketika Atta terdiam, senyum yang sebelumnya terukir di wajahnya seketika lenyap. Ia beranjak. "Gue pergi dulu," pamitnya kemudian.


Kini justru Diana yang terkejut. Ada apa dengan pria itu? Ia merasa ada yang aneh dengan Atta. Bahkan seorang Diana berfikir apakah ucapannya ada yang menyinggung seorang badboy tengil bernama Atta.


Hingga saat Atta keluar dari minimarket, Diana masih terdiam di tempatnya, memperhatikan pria itu yang melewatinya begitu saja. Diana gegas menghampiri. "Atta?"


Pria itu menoleh. "Hm?"


Tidak tahu. Tidak tahu apa yang harus dikatakan, yang pada akhirnya Diana hanya mampu terdiam di posisinya.


Atta memperhatikan gadis di hadapannya yang nampak terdiam kaku dengan kelopak mata yang berkedip. Ia terkekeh. "Apa sayang~? Mau bilang kangen sama gue?" godanya.


Diana berdesis. "Jangan kepedean jadi orang."


"Lebih baik kepedean, kan, daripada nggak tahu malu."


"Lo itu kayaknya lebih pantes disebut nggak tahu malu deh."


"Oh, ya? Kalau gitu lo mau nggak jadi pacar gue?"


"Ha?" Diana terbelalak.


Atta tertawa melihat reaksi dari gadis di hadapannya. "Wajah lo lucu banget, sumpah."


Diana mendengus kesal menyadari telah dikerjai. "Terserah lo, deh," pungkasnya gegas berjalan menuju motornya.


"Eh, Dit? Lo ke sini naik apa? Taksi?" tanya Atta tak melihat semobilpun di halaman parkir minimarket.


"Kenapa?" tanya Diana ketus.


"Gue baik hati. Ayok, gue anterin."


"Nggak usah, nggak perlu, nggak minat, nggak tertarik," tolak Diana lengkap.


Atta terkekeh, namun setelahnya ia terkejut melihat Diana menaiki sebuah motor sport. "Eh? Lo bisa bawa motor?" tanyanya tak yakin.


"Menurut lo? Gue ke sini jalan kaki?" balas Diana acuh, gegas menstarter motornya.


Atta melakukan hal yang sama, menstarter motornya dan mengikuti Diana.


"Gue nggak nyangka lo bisa naik motor gedhe, Dit?" ujar Atta saat keduanya berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah.


Diana menoleh saja tak berminat menyahuti.


"Mau balapan?" tawar Atta lagi.


"Ogah. Nyawa gue cuma satu. Harus gue jaga baik-baik."


"Lo kemaren menikmati banget waktu gue ajak ngebut."


Diana mendengus. "Itu darurat. Lo nggak nyadar udah ngeledek malaikat maut?"


Atta tertawa. "Lo gemesin banget, sih, Dit."


"Heh!" cegah Diana menepis tangan Atta saat pria itu hendak menyentuhnya. Ia melirik ke sekitar guna memastikan bahwa tidak ada yang melihat kelakuan gila pria di sampingnya, walaupun sudah bisa dipastikan bahwa ulah keduanya pasti mendapatkan sorotan. Beruntunglah karena ia menggunakan helm full face. Jadi tidak ada yang mengenalinya.


Atta tahu kalau Diana masih terlalu pemula untuk mengendarai motor sport, untuk itu ia sengaja mengikutinya dari belakang, memastikan bahwa gadis itu akan baik-baik saja. Ia menarik gasnya untuk menyamai Diana. "Ikut gue yuk, Dit?" ajaknya.


"Kemana?"


"Udah, ikut aja, ayok!"


Diana menurut, sebenarnya ia juga penasaran kemana Atta akan mengajaknya.


Atta membawa Diana ke sebuah tanah lapang luas, lebih mirip bukit tapi bukan, hanya saja tempatnya di dataran sedikit tinggi, dengan pemandangan rumput ilalang di bawahnya. Mengambil duduk di bawah pohon rindang dan lesehan di sana.


"Ngapain ke sini?" tanya Diana menatap sekeliling.


"Pengen aja. Duduk," perintah Atta, sedangkan ia sendiri sudah merebahkan diri di atas rumput berbantalkan tangannya.


Angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan mengibarkan rambut Diana yang panjang. "Tanah ini punya lo?"


Sejujurnya Atta juga baru menemukan tempat itu beberapa hari yang lalu saat ia tengah berkeliling. "Bukan," jawabnya tanpa membuka mata. "Dit?"


"Em?" Diana memperhatikan pria di sampingnya yang masih memejamkan matanya.


"Gue tidur bentar, ya? Ntar bangunin gue."


"Hah? Nggak mau, ah. Emangnya nggak ada tempat yang lain buat lo tidur, ngapain tidur di sini, sih?"


Atta membuka matanya, meluruskan kaki Diana menggunakannya sebagai bantal. "Sebentar doang."


"Eh?" Diana terkejut. Tubuhnya mematung saat kepala Atta terlihat nyaman berada di pahanya, bahkan pria itu memejamkan matanya seakan bersiap masuk ke alam mimpi. Berbeda dengan dirinya yang harus menahan perasaan aneh yang masuk di dalam hatinya membuat kerja jantungnya kian cepat.


Tak berapa lama Atta benar-benar tertidur, mulutnya sedikit terbuka dengan nafas yang teratur. Diana sudah tak berani bergerak sama sekali, tatapannya lekat memperhatikan wajah Atta yang lagi-lagi ia lihat nampak gurat kelelahan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan pria itu? Dan kenapa ia harus penasaran?


Mengalihkan tatapannya, Diana memperhatikan luasnya padang rumput di hadapannya, angin yang berhembus menerpa rumput ilalang yang seketika bergoyang. Oh, ternyata ada orang di ujung sana, yang entah melakukan apa tak terlihat dari jarak pandang yang terlalu jauh.


Diana mengambil ponsel secara hati-hati agar tidak membangunkan Atta, mengambil beberapa foto pemandangan di hadapannya dan mengirimkan pada Dita. Hasil yang sama yang ia dapatkan, ponsel Dita masih belum aktif. Saat bertanya pada orangtuanya tentang keadaan Dita, mereka menjawab sudah lebih baik, dan orangtuanya mengatakan saat ini Dita tidak diperbolehkan bermain ponsel karena sinar radiasi yang dipancarkan tidak bagus untuk kesehatannya.


Diana mendesah berat, ingin rasanya ia terbang ke Singapura untuk melihat sendiri kondisi saudari kembarnya itu. Tapi ia tidak bisa dan tidak mungkin melakukannya. Dapat uang darimana dia? Bahkan sekarang orangtuanya harus menjual mobil. Apa ia mencari pekerjaan sampingan saja? Itu tidak mungkin.


Diana menunduk memperhatikan Atta yang masih terlelap, kakinya sudah kesemutan luar biasa, ia hanya bisa menggigit bibirnya guna menahan rasa sakit.


Hal yang Atta lihat pertama kali saat netranya terbuka adalah pemandangan baju seseorang, saat ia mendongak ia melihat mata itu yang juga tengah menatapnya. Kesibukan yang ia lakukan hampir setiap hari hingga malam membuat pola tidurnya tidak teratur, sehingga ia mudah tertidur di sembarang tempat. Hari ini Atta merasa nyaman saat terbangun melihat wajah lain di hadapannya, menempatkan posisi tidurnya bersama orang yang berbeda. Ia tersenyum. "Gue lanjutin tidur gue lagi, ya?" godanya melihat wajah gugup Diana.


Diana melotot. "Nggak bisa," cegahnya. "Bangun lo," ia mendorong pundak Atta agar menyingkir dari pahanya.


"Lo nyaman banget sih, Dit. Gue jadi betah nyandar ke elo."


Diana berdesis, menggerakkan kakinya yang kebas luar biasa.


"Tenaga gue udah terisi kembali. Yuk, cabut," Atta beranjak seraya melebarkan tangannya, melemaskan otot-otot tubuhnya.


Diana mendongak. "Tenaga gue yang terkuras," cibirnya.


Atta berjongkok. "Ya, udah, gimana cara ngisi tenaga lo?"


Diana mengerjap. "Nggak, nggak usah, gue nggak perlu bantuan dari lo."


"Ayo," ajak Atta mengulurkan tangannya.


"Kaki gue kesemutan."


"Yang mana? Ini?"


"Jangan di pegang, Atta!" Diana menepuk tangan Atta agar menjauh dari kakinya.


"Biar gue pijitin."


"Nggak! Jangan sentuh. Atta!" peringat Diana menarik jaket Atta.


Atta terkekeh melihat reaksi Diana, ia semakin gencar menggoda. "Gue gendong, ya?" tuturnya bersiap menyelipkan tangannya di lekukan lutut Diana.


"Jangan!" cegah Diana panik. "Berani lo ngegendong gue, gue nggak bakal ngomong lagi sama lo," ancamnya.


"Dan gue bakal cari cara buat lo ngomong sama gue."


"Atta!"


"Iya, sayang~"


Diana gegas berdiri meskipun kakinya masih terasa kebas. "Jangan panggil gue dengan sebutan itu, orang lain bisa salah paham."


Sebelah alis Atta terangkat. "Bilang aja kalo elo sendiri yang salah paham," balasnya enteng, memasukkan sebelah tangan ke dalam saku jaket.


Diana mendelik, gegas berbalik dan berjalan lebih dulu. Sedangkan Atta terkekeh di belakangnya.


.


.


.