Dialanta

Dialanta
5. Jangan lagi



"Lo Dita, kan?"


Deg!


Aliran darah Diana seakan terhenti untuk beberapa saat. "I-iya, gue, D-Dita," jawabnya gugup.


Kegugupan gadis di hadapannya menepis persepsi Arya bahwa Dita tidak menghindarinya, terbukti bahwa gadis itu tengah gugup berbicara dengannya, sama seperti sebelumnya.


"Ada apa?" tanya Diana melihat keterdiaman Arya.


"Em, nanti pulang sekolah anak drama ngumpul," menguap sudah pertanyaan tentang kenapa Dita ingin mengundurkan diri dari drama.


Diana mengangguk kaku, merasa heran dengan ucapan Arya padanya. "Gue udah tahu, tadi Fadil udah ngasih tahu gue."


"Oh?"


Diana menatap heran. 'Ini orang kenapa, sih?' gumamnya berbathin. "Itu doang, kan? Gue masih ada urusan," ujarnya.


Arya mengangguk. "Ya."


Diana segera berbalik. Sedangkan Arya menghembuskan nafas panjang, kenapa susah sekali mencari topik pembicaraan dengan Dita, dan kenapa sekarang ia ingin berbicara lebih lama dengan Dita? Padahal sebelumnya ia hanya berbicara perihal materi pelajaran atau yang berhubungan dengan sekolah.


...***...


"Eh, Sil, lihat tuh, yang jadi pinter sehari udah sombong banget lagaknya," ujar Marisa menyenggol lengan Silfi saat melihat Dita berjalan di koridor.


Silfi mengikuti arah tunjuk Marisa. "Kesel banget nggak sih, lo, lihat si Dita sekarang? Dulunya polos-polos bego nyebelin, sekarang sok berani makin ngeselin tahu, nggak?" sungutnya. "Gue kerjain deh tuh anak," imbuhnya menyeringai.


Diana yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri tidak menyadari sebuah kaki yang menjulang di depannya, menyebabkan kakinya tersandung dan hampir terjungkal ke depan, beruntung tidak sampai jatuh tersungkur di lantai yang dingin. Ia berbalik melihat yang pelaku yang tengah terbahak-bahak.


"Hei, jalan pakai mata!" hardik Silfi menunjuk matanya sendiri dengan dua jarinya, mengejek ke arah Dita yang hampir terjatuh.


"Sejak kapan jalan pakai mata, jalan itu pakai kaki, mata buat melihat. Atau Allah menciptakan mata lo buat jalan, ya, bukan untuk melihat?" balas Diana meledek.


Pupil Silfi membulat. "Lo ngajak berantem?" hardiknya.


"Siapa yang mulai?" tantang Diana. "Di sini tempatnya cari ilmu, gue nggak punya waktu buat berantem sama lo," imbuhnya.


Silfi tersenyum sinis. "Kenapa? Lo takut sama gue?"


"Anggap saja begitu," balas Diana acuh, ia segera berlalu karena ada hal penting yang harus ia lakukan.


"Sialan, sih, tuh, Dita. Kurang ajar banget dia sama gue," gerutu Silfi geram.


"Dia udah berani ngehina lo, Sil," timpal Marisa. "Gue ada ide," imbuhnya berbisik di telinga Silfi.


*


"Ditaa.. bisa-bisanya lo ikut drama dan lomba puisi tanpa memberitahu gue!" pekik Diana bersungut sesaat setelah sambungan video callnya terhubung. Saat ini ia tengah berada di belakang gedung sekolah, mencari tempat persembunyian yang aman untuk menghubungi saudari kembarnya itu.


Nampak Dita yang terbatuk kecil, lalu ia tersenyum. "Sorry, Di, gue lupa soal itu. Gue pikir gue nggak bakalan lolos," kekehnya.


Diana menghembuskan nafas kasar. "Kalau baca puisi doang, oke, gue bisa, tinggal baca dan menghayati apa susahnya, kan? Tapi, gimana sama drama, Ditaa.. Ya Allah.. dan satu lagi, gue pasangan sama si ketos, Astaghfirullah.." ujarnya mengelus dadanya sendiri. Kalau biasanya Diana jarang mengeluh, tapi, untuk hal yang di luar kendalinya ia akan beristighfar menyebut nama Tuhannya.


Dita terkekeh di seberang sana. "Drama itu sama, kali, Di, sama-sama baca, hafalin dan menghayati, kan? Enggak ada bedanya."


Diana mengerucut sebal. "Tapi, lo yakin nggak apa-apa gue yang ngegantiin lo ngedrama sama ketos?"


Senyumnya mengembang di wajah pucatnya. "Nggak apa-apa, Di, kalaupun elo yang pacaran sama Arya juga nggak apa-apa," godanya.


Diana berdesis. "Ish.. ogah gue pacaran sama batu."


Dita tertawa kecil. "Kalau Arya batu, terus lo apa? Lo nggak sadar sikap lo lebih dari batu?" ledeknya.


"Ya, setidaknya batu nggak akan bersatu dengan batu," tanggap Diana membela diri.


"Jatuh cinta rasain lo."


"Idih.. kenapa jadi bahas gue sih? Ini jadi gimana kelanjutannya? Sumpah ya, Dit, gue takut malu-maluin nama lo ntar."


"Udahlah, lo santai aja, lo kan pinter, Di, latihan dikit juga pasti bisa. Gue bakal bikin puisi deh buat lo baca pas lomba nanti. Acaranya kapan?"


"Dua minggu lagi," jawab Diana lesu.


"Tenang aja, gue bikinin."


Diana menghembuskan nafas pelan. "Gimana keadaan lo?" tanyanya kemudian.


"Gue sehat, lo bisa lihat sendiri, kan?"


Diana tersenyum miris melihat wajahnya dalam tubuh lain yang kini nampak kurus. "Lo harus sembuh, ya, Dit."


Dita tersenyum. "Dan lo harus berjuang, ya, Di," balasnya menyengir.


Diana terlonjak hingga ponselnya terjatuh mendengar seseorang memanggilnya.


"Eh, sorry, gue nggak bermaksud ngagetin elo," sesal Arya memungut ponsel Dita yang terjatuh.


Bola mata Diana membulat menyadari sambungan video callnya dengan Dita masih terhubung, dan sekarang ponselnya ada dalam genggaman Arya.


"Hape lo mati?" tanya Arya memperhatikan layar ponsel Dita yang menghitam.


Sementara Diana menghembuskan nafas lega. "Nggak, kok, nggak apa-apa, habis baterai kayaknya," balasnya.


"Lo ngapain di sini, Dit?"


"Em.. gue.. gue lagi latihan baca puisi."


Sebelah alis Arya terangkat. "Di sini?"


Diana mengangguk. "Iya, gue nyari tempat yang sunyi biar nggak ada yang gangguin gue."


"Em.. gue gangguin lo, ya?" sesal Arya tak enak.


"Eh? Bukan. Em, maksud gue enggak, gue juga udah selesai latihannya."


Keduanya diam untuk beberapa menit berlalu. Hingga suara bel tanda pelajaran di mulai berbunyi. Diana melangkah lebih dulu disusul Arya di belakangnya dan berpisah di koridor karena ruang kelas yang berbeda.


...***...


Diana berjengit saat seorang guru memanggil namanya, ekor matanya menangkap seluruh murid yang juga tengah menatapnya.


"Dita? Kamu tidak mendengarkan Ibu mengajar?" ujar Bu Susan selaku guru Matematika.


"Maaf, Bu," sesal Diana tak enak, dirinya tengah sibuk dengan pikirannya sendiri mengenai drama dan puisi hingga mengabaikan pelajaran, walau sebenarnya hal itu tidaklah terlalu sulit baginya yang sudah mendapatkan lembar ijazah.


"Kamu selesaikan soal nomor delapan," perintah Bu Susan.


Berpuluh pasang mata menatapnya saat Diana beranjak dan berdiri di depan papan tulis menyelesaikan soal. Dan masih seperti sebelumnya, Bu Susan sangat heran dan takjub dengan jawaban Dita yang benar, bahkan siswi itu tidak membawa satupun buku catatan miliknya.


"Darimana kamu belajar, Dita?" tanya Bu Susan.


Diana mengerjap bingung.


"Seharusnya dari dulu kamu seperti ini, rajin belajar, kamu pasti banyak belajar, kan, sejak mendapatkan nilai merah di semester sebelumnya?"


Diana mengangguk saja, tidak mungkin ia menepis tebakan guru di hadapannya yang seratus persen salah, itu sama saja cari mati.


"Usai kelas ada yang ingin Ibu bicarakan sama kamu."


Sekali lagi Diana mengangguk patuh, melihat senyum Bu Susan yang mengembang indah membuat perasaan Diana kian tak tenang, sepertinya ada hal buruk lainnya yang akan ia alami sebentar lagi.


*


"Apa?!! Tidak!! Saya tidak mau!!" tolak Diana hingga berdiri dari kursinya.


Bu Susan nampak terkejut. "Kenapa? Kamu takut? Tidak apa-apa, Dita, ini hanya lomba antar lingkungan sekolah."


Diana menggeleng. "Tidak mau, Bu," tolaknya keukeh.


"Ibu sudah melihat kalau kamu bisa menyelesaikan soal-soal itu, kamu cerdas, Dita. Kamu perlu mengasahnya agar lebih cerdas lagi, dan tidak ada salahnya kamu mengikuti kuis ini."


"Tapi, Bu..." pinta Diana memelas, cukup sudah ia terlibat dalam masalah drama dan puisi, ia tidak mau lagi terlibat dalam lomba kecerdasan.


"Apa kamu tidak percaya diri?" tebak Bu Susan.


'Bukan'. "Iya, Bu, saya belum sepintar itu, lagipula saya harus mengikuti lomba puisi juga pementasan drama dalam acara nanti, terlalu banyak yang harus saya hafalkan, Bu. Saya takut mengecewakan Ibu," terang Diana memelas.


Suasana hening, hingga beberapa detik kemudian Bu Susan menghembuskan nafas pasrah. "Baiklah, Ibu mengerti, tapi kamu harus terus rajin belajar, ya, nilai kamu sudah jauh lebih meningkat," ujarnya tersenyum memperhatikan lembar buku di meja.


Diana mengangguk. "Baik, Bu. Terimakasih, saya permisi," pamitnya undur diri.


Bu Susan memperhatikan Dita yang berjalan keluar ruangan hingga hilang di balik pintu. "Sayang sekali dia masih belum percaya diri mengikuti kuis," ujarnya menggelengkan kepalanya pelan.


.


.


.


^^^Rabu, 22 September 2021^^^


^^^Saskavirby^^^