
"Dit, lo tadi malem nggak dateng?"
Kedatangan Diana pagi itu disambut Arya yang tiba-tiba berjalan disampingnya.
Diana menoleh. "Enggak, gue males. Eh, ini jaket punya lo, makasih," ujarnya menyerahkan paper bag.
Arya menerima dan mengangguk kecil.
"Hari ini pelajaran di kosongkan."
"Oh, ya? Kenapa?"
"Kelompok osis minta bantuan anak-anak buat beresin acara semalem."
Diana membulatkan bibirnya. Ia menghening saat melihat penampilan Atta pagi itu yang tak sengaja berpapasan dengannya, bukan karena laki-laki itu yang tak menyapanya, tapi luka lebam di wajah Atta yang membuatnya penasaran. Bukankah tadi malam masih baik-baik saja saat Atta mengantarnya pulang?
"Gue nggak lihat Atta juga semalem."
"O-h?" Diana terkejut.
"Gue boleh minta bantuan lo buat beresin, kan, Dit?"
"Em?" Diana kembali terkejut. "B-oleh," jawabnya kemudian.
"Langsung ke ruang osis aja," ajak Arya kemudian.
Diana menoleh ke belakang guna melihat Atta sekilas, kemudian memilih melanjutkan langkah menuju ruang osis bersama Arya.
***
Arya menghampiri Dita yang tak sengaja ia lihat tengah membaca buku di perpustakaan, mengambil duduk di sampingnya. "Gue boleh duduk di sini, kan?" tanyanya.
Diana menoleh saat merasakan kehadiran seseorang. "Boleh, ini punya fasilitas sekolah kok, siapapun boleh duduk di sini," jawabnya.
Sebenarnya Diana tidak sedang membaca, ia hanya suntuk tak ada kegiatan apapun di kelas, acara bersih-bersih sudah selesai beberapa jam yang lalu. Yang ia lakukan adalah menempelkan kepalanya di meja, membolak-balik buku dengan malas.
"Lo kenapa?" tanya Arya heran.
Diana menggeleng pelan.
"Mau dengerin lagu sama gue?" tawar Arya mengeluarkan ponsel juga earphone.
Seharusnya Diana juga membawa barang itu saat ke perpustakaan, sepertinya ia lupa. Diana mengangguk. "Asal elo nggak keberatan."
Arya tersenyum dan memberikan sebelah earphone pada Diana.
Keduanya hanyut dalam buku bacaan masing-masing. Ah, tidak, Diana justru memejamkan matanya menikmati alunan musik, tak lagi memiliki minat dengan buku di depannya.
Merasa tak ada pergerakan dari sampingnya, Arya menoleh, mendapati Dita yang tengah terlelap, ia menyingkirkan buku milik Dita, entah kenapa perasaan ingin menatap gadis itu begitu menarik hatinya, hingga yang ia lakukan adalah menopang kepalanya dan menatap gadis di sampingnya. Menyusuri raur wajah Dita dari jarak dekat, hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, tapi entah kenapa sekarang ia menikmatinya.
"Katanya ia habis berantem."
"Serius? Sama siapa?"
"Nggak tahu, kayaknya preman gitu, deh," gadis itu mengangkat bahunya.
"Atta emang gitu, kasihan wajahnya lebam-lebam."
Arya melirik sekilas dua gadis yang berdiri di belakangnya tengah menghibahkan seorang Atta, ia memilih tak mau tahu. Saat kembali memperhatikan gadis di sampingnya ia terkesiap tiba-tiba Dita terbangun. Sepertinya gadis itu juga merasakan hal yang sama.
Diana menegakkan punggungnya, melepaskan earphone ditelinganya, memberikan pada Arya. "Makasih," ucapnya canggung.
Arya tak kalah canggung, ia mengalihkan tatapannya dan berdehem sebagai tanggapan.
"Gue ketiduran, ya?" tanya Diana setelah beberapa detik berlalu dengan diam.
"Lo bosen?"
Diana menoleh.
"Mau ke kantin?" tawar Arya.
Diana mengangguk kaku, terheran mendapatkan ajakan ketos itu.
Tengah berjalan menyusuri koridor beriringan dengan Arya, tatapan Diana teralihkan pada Atta yang tengah memainkan bola basket seorang diri, sedangkan beberapa temannya saling rebut bola basket pada ring sebelahnya. Diana merasa ada yang aneh dengan laki-laki itu.
"Lo ada hubungan apa sama Atta?"
Diana menoleh. "Maksud lo?"
"Gue pernah lihat lo dari rooftop sama dia."
Diana nampak berfikir kapan pernah berada di rooftop dengan Atta, kemudian ia teringat tentang hari itu, dimana ia berteriak kesal pada saudari kembarnya. "Enggak, hubungan gue sama Atta sama kayak gue ke elo, nggak ada apa-apa," jawabnya. 'Temen juga bukan,' imbuhnya dalam hati.
Arya terhenyak.
"Dia sering berantem kayak gitu?" tanya Diana menoleh. Tidak, ia tidak penasaran, hanya ingin tahu saja.
(Penasaran \= ingin tahu. Sama aja 😒)
"Kenapa?"
"Itu, mukanya," jawab Diana kikuk. Hah! Kenapa ia harus menanyakan hal itu pada Arya.
"Kayaknya gitu."
"Sama siapa?" Diana, please, kurangin kekepo-an lo dari makhluk menyebalkan seperti Atta.
Arya tertegun.
***
Diana yang berjalan di koridor memperhatikan ketiga siswi yang sering membullynya tengah berbisik sesuatu di ujung sana. Ia merasa ketiga siswi populer itu tengah membicarakannya terbukti saling berbisik dan menatap ke arahnya. Kali ini jika mereka membuat oleh, Diana tak akan tinggal diam.
Oh, tapi sepertinya tidak begitu, karena salah satu dari mereka pergi entah kemana. Meninggalkan Silvi bersama entah siapa Diana lupa namanya. Ia mendesah lelah saat Silvi dan temannya menghadang langkahnya dengan melipat tangan.
"Minggir," ucap Diana datar, sebenarnya ia tidak ingin cari masalah dengan siswi bermasalah itu.
"Emangnya ini jalan punya nenek moyang lo?"
Diana melipat tangannya. "Emangnya ini jalan bokap lo yang buat?" balasnya.
Silvi mendengus. "Muter aja sana, lewat mana kek."
"Lo nggak usah cari gara-gara sama gue, ya?"
"Sayangnya gue sukaa banget cari gara-gara sama lo. Gimana dong?" Silvi mencibir.
Diana mengangguk-angguk. "Oke. Asal jangan saling lapor aja ke kepala sekolah, guru, ataupun osis. Gue juga bersedia cari masalah sama lo. Deal?" tantangnya.
Silvi tertawa. "Takut lo?"
"Dalam kamus gue nggak ada tuh yang namanya takut sama lo. Gue cuma nggak mau terlibat urusan nggak penting dan membosankan kalau sampai orang-orang itu tau." Diana memberi tanda kutip dengan jarinya.
Silvi mendengus. "Bullshit, lo."
Diana berlalu meninggalkan keduanya, sebelumnya sengaja ia menyenggol lengan Silvi keras.
"Rese, lo."
Dari arah samping, Rury yang membawa ember berisi air sudah bersiap menyiramkan pads tubuh Diana. Namun justru yang terjadi sebaliknya.
Diana yang menyadari seseorang dibelakangnya segera berbalik, dan menedang ember di tangan Rury kuat, menyebabkan air dari dalam ember itu mengenai Silvi dan Marisa.
Duak!
Byuurrrr!!!
Diana terbahak melihat Silvi dan temannya basah kuyup. "Senjata makan tuan," ledeknya masih tergelak.
Bukan cuma Diana, beberapa siswa siswi yang melihat juga terbahak mendapatkan tontonan gratis.
Silvi dan Marisa terbelalak di tempatnya.
"Rury!"
"Rury!"
"Astaga, sorry, sorry, gue nggak sengaja." Rury menuding Diana yang masih tertawa. "Ini semua gara-gara lo!"
Diana berkacak pinggang. "Heh! Lo yang salah kenapa nyalahin gue. Makan tuh air got!"
"Lo ngambil air got?" hardik Silvi dengan amarah yang siap diledakkan.
Rury menggeleng panik. "Itu cuma air biasa, Sil."
"Dita! Semua ini gara-gara lo!" pekik Silvi keras.
"Ngaca, woi, siapa yang bawa tuh, ember? Siapa yang ngambil tuh air? Salah temen lo sendiri, lah," balas Diana acuh.
"Ihhh...." Silvi menghentak kesal, gegas berbalik diikuti dua temannya.
"Rasain lo."
Diana kembali melanjutkan langkahnya menuju lapangan basket indoor yang sempat terhenti.
Ia pikir lapangan indoor akan sepi, tapi nyatanya banyak siswa yang bermain basket disana. Ada juga siswi yang sepertinya tengah di ajari basket oleh pacarnya. Dilihat dari badge-nya, sepertinya itu anak kelas dua belas.
Diana memilih berbalik, mengurungkan niatnya bermain main. Belum sempat menyadari apa yang terjadi, punggungnya terdorong hingga menyentuh tembok cukup keras. "Shhh.. auw.."
"Eh, sorry, gue nggak sengaja."
Diana mendongak menatap seorang siswa yang tak sengaja mendorongnya. "Ya," hanya itu jawaban yang ia berikan.
"Lo, sih, dorong-dorong gue," siswa itu menunjuk temannya.
"Ya, maaf. Maaf, ya, Dit."
Diana terkesiap. Dia tahu nama gue? Maksudku nama Dita? "O-h, its okay."
"Lo beneran nggak apa-apa, kan?" Siswa itu bertanya lagi.
Diana menggeleng.
"Yo, cabut, Atta udah cabut duluan." Seru sebuah suara dari seorang siswa.
"Lah, kenapa?"
"Biasalah, kalau ada masalah tuh anak suka kabur. Ayo!"
Diana terdiam di tempatnya. Siapa tadi yang mereka bicarakan? Atta? Kenapa dengan Atta? Ia menggeleng pelan. "Kenapa gue harus mikirin itu coba." Ia berdecak kesal.
.
.
.