Dialanta

Dialanta
30. Telat



Siang itu di bawah terik matahari Diana yang tengah mengendarai motornya merasakan hal aneh terjadi dengan motornya saat benda besi itu tiba-tiba terasa oleng. Diana memilih menepi dan turun, kemudian ia mendesah berat menyadari ban motor belakangnya kempes. Ia mencari tukang tambal ban di sekitar, namun tidak ada, terpaksa ia harus mendorong motor besar yang lebih besar dari tubuhnya itu.


Baru beberapa menit mendorong motornya, sebuah motor lain berhenti tepat di depannya, Diana sudah hafal siapa pemiliknya.


"Biar gue aja, lo bawa motor gue," pertolongan berupa paksaan itu terdengar dari bibir seorang Atta yang segera mengambil alih benda besi tersebut.


Kali ini Diana tak membantah, sejujurnya ia sungguh kesusahan mendorong motor besar tersebut. "Makasih," ucapnya kemudian.


"Kalo lo mau pulang bawa aja motor gue, biar gue tungguin motor lo di bengkel."


Diana menggeleng. "Nggak, kok, gue nggak sedang buru-buru. Biar gue nyari tukang tambal bannya," usulnya kemudian.


"Nggak usah, di tikungan depan belok kanan ada bengkel. Lo tunggu di sana aja."


"Tapi.."


"Sekalian beliin gue minum," ujar Atta lagi.


Diana menurut saja.


*


"Mas sekalian ganti olinya nggak?"


Atta menoleh pada montir yang tengah memperbaiki motor Diana. "Iya, Bang, sekalian aja semuanya yang perlu diperbaiki."


Sang montir memberikan jempolnya sebagai tanggapan.


"Belum pernah di servis ya?" Atta memperhatikan Diana yang duduk di sampingnya.


Diana menggeleng.


"Bang, gue tinggal nggak apa-apa, kan?" Atta berseru pada montir.


"Nggak apa-apa, kayaknya masih lama juga ini, banyak yang kendur."


"Biar gue tungguin nggak apa-apa," Diana berucap.


"Kita cari makan dulu, lo laper, kan?"


Diana menggeleng. "Enggak."


"Udah, nggak perlu jaim, ayo," Atta menarik lengan Diana paksa.


Diana meringis, siapa yang jaim? "Tapi gue beneran nggak laper."


"Tapi gue laper, Sayang~" balas Atta kelewat gemas.


Oke, baiklah, Diana tak ingin berdebat.


Diana terheran saat Atta menghentikan motornya di depan sebuah rumah. Sebenarnya ia cukup penasaran saat di jalan Atta tak juga menghentikan motornya di cafe, restoran, atau apapun penjual makanan. Dan nyatanya Atta membawanya ke sebuah rumah bergaya dua lantai. "Ini rumah siapa?" tanyanya kelewat heran.


"Rumah gue."


"Ha?"


"Iya, gue mau makan di rumah," balas Atta kelewat santai.


"Kenapa gue harus ikut ke rumah lo? Gue bisa nunggu di bengkel aja tadi," Diana mulai kesal.


"Ya, udahlah, itung-itung elo nganterin gue plus tahu alamat rumah gue, keuntungan buat elo, kan?"


Sungguh, Atta memang makhluk paling aneh dan menyebalkan.


"Nggak ada untungnya sama sekali, yang ada gue malah rugi," semprot Diana geram. "Tahu gitu gue ogah ikut lo. Ih, lo nyebelin banget, Atta, sumpah." Wajah Diana sudah tertekuk sempurna.


Atta terkekeh. "Jangan ngambek, ntar gue tambah sayang sama lo," godanya mencubit pipi Diana.


Diana berdesis.


"Lo bawa motor gue buat pulang."


"Ha?" Diana terheran. "Motor gue?"


"Kata Abang montir motor lo bisa diambil besok."


"Darimana lo tahu?"


Atta mengangkat ponselnya. "Dia chat gue barusan. Banyak yang harus diperbaiki katanya, lagian bentar lagi bengkelnya tutup, nggak ada yang mau lembur."


Raut wajah Diana mulai muram, apa iya ia harus menggunakan motor Atta untuk pulang?


"Atau lo mau gue anterin lo pulang, terus besok pagi gue jemput lo ke sekolah?"


Sepertinya itu tidak buruk, besok pagi Diana tinggal berangkat lebih pagi untuk mencari angkot, tidak perlu bersama Atta.


"Gue bakal di rumah lo subuh, kalau perlu sekalian numpang mandi," seperti biasa, Atta memulai ancaman seakan mengetahui isi kepala Diana.


Diana melirik sinis. "Gue bawa motor lo aja. Makasih," putusnya kemudian. Menyebalkan memang.


Atta tersenyum kemenangan. "Dadah, Sayang~, hati-hati di jalan, ya."


Diana ingin muntah mendengarnya.


***


Ponsel dalam saku Diana bergetar saat pagi itu ia tengah memakai sepatu. Ia merasa tak enak menyadari identitas sang penelepon merupakan spesies paling menyebalkan. "Halo," jawabnya malas.


"Jemput gue, Dit."


Benarkan, pemuda itu memang menyebalkan. "Lo sengaja minjemin motor lo ke gue biar lo bisa nyuruh gue jemput lo ke sekolah?" Seharusnya Diana sudah tahu kalau Atta akan mengambil kesempatan ditiap himpitan.


Terdengar kekehan dari seberang. "Jemput pacar sendiri nggak ada salahnya, Dit."


"Nggak, gue nggak mau. Lo minta jemput temen lo aja."


"Ya—"


Tut.


Diana mematikan sambungan sepihak, ia khawatir akan luluh oleh permainan Atta. "Dasar manusia menyebalkan," gerutunya.


Sebenarnya Diana tidak perlu terlalu memikirkan Atta akan berangkat sekolah dengan siapa saat motor pemuda itu ada padanya, teman Atta banyak, pasti banyak yang mau menjemput pemuda itu. Tapi, Diana merasa gusar dan bersalah, pada akhirnya saat hampir tiba di sekolah, Diana berbalik arah untuk ke rumah Atta. "Sial memang, argh."


Tiba di rumah Atta, Diana terdiam menyadari seorang wanita membuka pagar dan menatapnya.


"Teman sekolahnya Atta, ya?" ucap wanita itu.


Diana mengangguk kaku. "Iya, Tante. Attanya ada?"


"Bukannya dia sudah berangkat?" Rima memperhatikan motor di samping Diana. "Loh, bukannya itu motornya? Kok Tante nggak lihat Atta masuk rumah?" Rima nampak heran.


"Em, sebenarnya motor Atta saya yang bawa, Tan. Saya ke sini mau jemput dia karena motor saya di bengkel," Diana terlihat kikuk berbicara dengan ibu Atta.


Rima tersenyum. "Kamu pacarnya Atta, ya?" tebaknya.


Diana terkejut. "B-bukan, Tan. Saya bukan pacarnya," ralatnya cepat.


Rima masih tersenyum, untuk pertama kalinya seorang gadis teman Atta datang ke rumahnya. "Nama kamu siapa?"


"D-diana, eh, Dita, Tante."


Rima mengangguk-angguk. "Sudah coba hubungi Atta?"


Diana mengangguk. "Tapi nggak di angkat."


"Ya, sudah, kamu berangkat sekolah aja, sudah siang. Mungkin Atta sudah berangkat."


Diana mengangguk. "Permisi, Tante."


"Hati-hati, lo, motornya gedhe," Rima tersenyum.


Diana merasa senyuman ibu Atta sangat tulus hingga menembus jantungnya, ia jadi merinding. "Iya, Tante."


Sepanjang jalan, Diana mengutuk tiada henti seorang Atta yang sudah mempermainkannya. Lihat saja, ia pasti akan menendang pemuda itu karena sudah berani membuatnya telat ke sekolah. "Atta sialaann!!"


***


Atta masih memperhatikan deretan motor yang tertata rapi di parkiran. "Gue nyari motor gue."


Dio terheran. "Lah, elo, kan, berangkat bareng gue." Dio tak habis pikir dengan temannya, apakah temannya itu menderita penyakit pelupa akut?


Tak ingin menanggapi, Atta justru membuka ponselnya saat tak ditemukan motornya di parkiran, dugaannya semakin benar saat mendapati panggilan tak terjawab dari Diana, pasti gadis itu menyetujui untuk menjemputnya. Atta tersenyum. "Sok jaim, padahal peduli," kekehnya kemudian.


"Ta, lo mau ke kelas nggak?" Dio tak khawatir jika temannya akan gila karena tersenyum dengan ponsel, hal itu sudah mulai terbiasa saat ponsel jauh lebih mengasyikkan daripada orang hidup, miris memang.


"Lo duluan aja, ada yang harus gue urus," balas Atta gegas berlalu.


"Butuh bantuan gue nggak?!" Dio berseru.


"Nggak perlu!"


Dio tak ingin terlalu tahu dan peduli, ia menaikkan ranselnya kemudian berjalan memasuki gedung sekolah. Sedangkan Atta berlari ke sisi gedung sekolah dan melakukan sesuatu di sana, setelahnya ia berjalan keluar sekolah, memilih menunggu di depan ruko fotocopy.


Beberapa menit menunggu, sebuah motor berwarna merah putih terlihat melintas, Atta gegas mendekat. "Dita!" serunya.


Diana yang sudah berkomat-kamit menyumpah serapahi sang pelaku karena telah membuatnya terlambat mengehentikan motornya. Ia gegas turun dan menendang tulang kering Atta keras.


"Awshhh..." Atta meringis mengusap kakinya.


"Lo mau mempermainkan gue? Kurang kerjaan banget, sih, lo," semprot Diana tak tahan. "Gue telat sekolah gara-gara elo, Atta."


"Kalau kaki gue patah lo harus tanggung jawab," sepertinya tendangan Diana benar-benar keras, sehingga Atta masih mengusapi kakinya.


"Bodo!" Diana bersungut-sungut. "Ngapain lo di sini?" Diana mode judes.


"Gue mau nolongin elo," Atta membawa motornya di depan ruko. "Mas, nitip, ya, nanti siang gue ambil," ucapnya pada mas-mas fotokopi.


"Iya, Mas, boleh."


Tak lupa Atta merebut helm di tangan Diana meletakkan di atas body motornya, kemudian menarik tangan Diana untuk mengikutinya.


"Kita mau kemana?" Diana penasaran saat Atta menariknya bukan ke gerbang sekolah.


"Udah jam tujuh lebih, gerbang udah di tutup, anggota osis bentar lagi mulai keliling nyari tokek," balas Atta kelewat santai.


"Tokek?" Diana membeo.


Atta mengangguk. "Gue bantuin lo naik."


Diana menghindar saat Atta menyentuh pinggangnya. "Mau ngapain lo?" tanyanya was-was.


"Emangnya lo bisa naik tembok ini? Gue cuma bantuin elo, Dita," Atta benar-benar gemas.


"Emangnya nggak ada cara lain buat gue naik, ataupun jalan lain gitu?"


Atta menatap dingin. "Nggak ada," ujarnya datar.


Diana menimang, bisakah ia memanjat tembok? Ia takut ketinggian. Namun tiba-tiba tubuhnya sudah melayang saat Atta benar-benar mengangkat tubuhnya. "Aaa.."


"Buruan, Dit, cari pegangan."


Diana memegang erat pembatas tembok, Atta sengaja menggunakan telapak tangan untuk mengangkat kakinya serta sebagai pijakan sehingga memudahkannya. Saat dilihatnya ke bawah, sebuah tangga sudah tersedia di sana, ia segera turun. "Atta, lo udah naik belum?" tanyanya pelan.


Hap!


Atta berhasil mendaratkan kakinya setelah berhasil melompat dari atas tembok.


"Lo yang nyiapin tangga?" tanya Diana memastikan.


Atta menaik turunkan alisnya. "Pinter, kan, gue?"


Diana menghembuskan nafas jengah.


"Gue udah duga kalau elo bakal telat."


"Gara-gara elo."


Atta terkekeh. "Salah sendiri pake bilang nggak mau jemput," ia mencibir.


"Hei, kalian!" Sebuah suara menyeru menghentikan langkah kaki keduanya.


"Kita ketahuan, ya?" tanya Diana tanpa menoleh.


"Sepertinya begitu," tanggap Atta kelewat santai.


"Terus gimana?" Diana sudah panik, untuk pertama kalinya ia mengalami telat ke sekolah dan ketahuan osis, ia tidak tahu harus bagaimana, apakah harus lari.


"Kabur."


Jantung Diana hampir lepas saat tiba-tiba Atta menarik tangannya dan memintanya lari.


"WOII, BERHENTI KALIAN!"


"Ayo, Dit," Atta menyemangati.


"Kita nyerah aja, deh, gue capek," sepertinya Diana sudah tidak sanggup berlarian menyusuri koridor bahkan menaiki lantai dua dengan kecepatan yang tidak biasa, kakinya benar-benar pegal, apalagi degup jantungnya yang berdebar karena takut dan lelah.


"Rugi, Dit, kita udah lari marathon lima kilometer," Atta bercanda di moment yang tidak tepat.


"Tapi gue ca-pek," Diana terhenyak kala Atta menarik tangannya memasuki ruang laboratorium sains.


"Hsst," Atta menempelkan jari telunjuk pada bibirnya sendiri.


Diana sekuat tenaga menenangkan degupan jantungnya yang berdetak tak normal, berulang kali ia menarik nafas dalam dan sebisa mungkin tak mengeluarkan suara.


Atta mengusap dahi Diana yang berkeringat, membuat sang empu terkesiap kaget. "Duduk dulu, lo pasti capek," ujarnya pelan.


Diana menurut, ia sangat kelelahan. "Berapa lama kita di sini?" tanyanya memecah keheningan.


"Jam tujuh lewat lima belas menit anggota osis seharusnya udah selesai nyari tokek," Atta berdecak kesal memperhatikan jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengah delapan, seharusnya anggota osis sudah masuk kelas.


"Elo tokeknya?" Akhirnya Diana paham siapa yang disebut tokek dalam ucapan Atta.


"Sama elo juga," tanggap Atta tersenyum lebar.


Diana mencibir. Beberapa menit kemudian ia tersenyum mengingat kejadian terlambatnya, belum pernah ia merasakan keseruan dan ketegangan saat harus mengendap-endap memanjat tembok dan dikejar anggota osis, ia mulai menikmatinya.


"Ada yang lucu?" Atta memiringkan kepalanya menatap Diana.


Diana menggeleng. "Nggak apa-apa," balasnya mengulum senyum.


"Gue curiga."


"Apa?" Diana tak nyaman ditatap sedemikian intens oleh Atta.


"Lo udah pada tahap mencintai gue, ya?" Atta selain raja gombal, ia juga sangat-sangat percaya diri, nilai plusnya ia tampan.


Diana memutar bola matanya jengah. "Lo udah sering telat, ya? Sampe hafal jadwal osis keliling?" tanyanya kemudian.


Atta menyenderkan punggungnya di dinding, pikirannya tengah melayang jauh. "Dit."


"Em?" Diana menoleh.


"Meskipun mungkin saat ini lo belum yakin, tapi gue harap lo akan ingat kalau gue beneran sayang sama lo," Atta sungguh serius dengan ucapannya.


Diana terkejut, ia terlihat gusar tak ingin membalas tatapan pemuda di sampingnya, ada yang aneh dengan perasaannya sendiri mendengar kalimat Atta.


"Kalau elo udah mulai nyaman sama gue, kasih tahu gue, ya, Dit. Karena gue ngerasa nyaman sama elo."


Diana mungkin tidak suka dengan Atta yang narsistik dan suka membuatnya kesal, namun ia justru membenci Atta mode serius, hal itu membuat pikiran juga perasaan Diana tak bisa sinkron.


.


.


.