
Kehidupan tentram, bahagia yang selama ini orang lain lihat dari sosok laki-laki tinggi bernama lengkap Attalanta Angkasa tidaklah seindah kenyataannya.
Wanita yang hampir dua belas tahun merawatnya nyatanya bukanlah ibu yang mengandung dan melahirkannya. Tapi kasih sayang yang diberikan Rima pada Atta tak setengah-setengah. Rima membesarkan dan mendidik Atta layaknya anak sendiri meskipun wanita itu juga memiliki seorang putri.
Atta mendapatkan kasih sayang penuh dari ibu sambungnya itu, sama sekali tak merasa bahwa ia adalah anak tiri. Kehidupannya semula baik-baik saja, bahkan terkesan sangat baik hingga tak pernah sedikitpun mendengar ayahnya bertengkar hebat dengan ibu tirinya.
Tapi, hari itu berbeda. Sore itu, saat Atta hendak keluar rumah ia melihat adiknya yang masih di bangku sekolah menengah pertama terlihat murung di dalam kamar. Ia menghampiri. "Kenapa, El?"
Elisa mendongak. "Mama sama Papa berantem, Kak. Sejak tadi siang ngomel-ngomel mulu, panas telinga aku," adunya.
"Berantem gimana? Mungkin cuma berantem biasa kayak biasanya. Bentar lagi juga baikan."
"Iya, tapi akunya kesel. Mama teriak-teriak sambil nangis, aku takut."
Atta menarik tubuh adiknya ke dalam pelukan. "Kamu dengerin lagu aja pake earphone, jangan dengerin."
Elisa mengangguk. "Kakak mau kemana?"
"Kakak ada acara disekolah."
"Aku nggak boleh ikut, ya?"
"Janganlah, kamu masih di bawah umur," Atta terkekeh. "Udah, tiduran gih, nanti biar Kakak suruh Bi Sumi bangunin kamu pas makan malam," ujarnya mengusap kepala sang adik. Meskipun hanya adik tiri, tapi Atta sangat menyayangi Elisa.
Elisa mengangguk.
Menuruni tangga, langkah kaki Atta terhenti mendengar suara ibunya dipadukan isakan dari daun pintu yang terbuka. Saat ingin mengabaikan, justru langkah kakinya terpaku mendengar satu nama yang wanita itu sebut.
"Kamu mau bikin aku jadi gila kayak Mbak Wiwid, Mas? Kamu jangan egois, Mas. Kamu nggak tahu, kan, gimana rasanya jadi aku. Aku nggak pernah keberatan nganggap Atta anak kandung aku sendiri, bahkan aku lebih mencintainya dibandingkan ibunya yang kini entah dimana. Aku cuma butuh pengertian kamu, Mas."
David meraup wajahnya frustasi. "Pengertian maksud kamu? Pengertian yang seperti apa? Kamu tahu, kan, seluruh keluarganya nyalahin aku atas insiden itu. Mereka menuntut hak atas anak mereka yang kini hilang entah kemana."
"Tapi aku nggak mau kalau kamu sampai main gila sama wanita lain!" pekik Rima histeris.
"Aku tidak main gila dengan wanita lain. Wanita gila itu yang sekarang justru membuatku gila!" hentak David keras.
David menghampiri istrinya yang terisak hebat. "Aku pasti akan menemukan Wiwid, dimanapun dia berada. Aku mohon bersabarlah," ujarnya menenangkan.
"Bagaimana kita menemukannya, Mas. Mbak Wiwid mengidap penyakit gangguan jiwa, selama ini kita sudah mencarinya bukan? Tapi tidak pernah menemukannya."
Jantung Atta seakan ditikam mendengar pernyataan ibu kandungnya yang masih hidup, selama ini, ia pikir ibunya sudah tiada, seperti apa yang Ayah dan ibu tirinya ucapkan padanya. Dan apa itu tadi, gangguan jiwa? Ibunya mengidap penyakit itu? Kenapa? Kenapa mereka menyembunyikan hal itu darinya?
Tak tahan, Atta membuka daun pintu lebar, membuat kedua orang yang berada di dalamnya terkejut. "Apa maksudnya? Ibu kandungku masih hidup?"
Rima tercekat, segera menghampiri. "Tidak, bukan seperti itu, Sayang."
"Sudah sepatutnya dia tahu yang sebenarnya."
"Mas?!"
"Katakan! Katakan apa yang seharusnya aku ketahui," tuntut Atta tak sabar, dadanya luar biasa sesak.
"Seperti yang kamu dengar, Mama kamu masih hidup, dia gila."
"Mas?!" peringat Rima.
"Dia mengidap gangguan jiwa, itu sebabnya Papa meninggalkannya dan menikah dengan Rima."
Rima sudah tak tahan. "Mas, cukup!" hardiknya.
Atta tertawa hambar. "Jadi selama ini aku masih mempunyai ibu? Ibuku masih hidup? Dan Papa meninggalkannya karena Mama gila?" Ia tertawa keras.
"Atta, dengarkan Mama, tidak seperti itu, nak."
Atta mundur beberapa langkah menghindari sentuhan Rima. "Kalian yang sudah membuat Mamaku gila!" hentaknya nyaring. "Kenapa kalian membiarkan aku menganggap ibu kandungku sendiri sudah mati? Yang mungkin saja saat ini dia tengah kesulitan berada di tengah padatnya manusia biadab seperti kalian!" teriaknya dengan kedua mata yang memerah.
"Jaga bicara kamu, Atta!" peringat David.
Atta mengusap airmatanya yang mengalir tanpa bisa dicegah. "Aku tanya sekali lagi, Papa sudah bercerai dengan Mama? Ibu kandungku? Orang yang telah melahirkanku?" tanyanya dengan sesak yang kian menghimpit.
David tak menjawab, ia berbalik badan dan bertolak pinggang, ia juga sangat frustasi.
Atta kembali tersenyum kecut. "Aku akan membuat kesimpulanku sendiri."
Rima menggeleng, tangis wanita itu tak terbendung. "Tidak seperti itu, Atta. Mama akan jelaskan."
"Tidak perlu!" Tepis Atta menyentak tangan Rima kuat.
"Atta! Jaga sopan santun kamu!" David meninggikan suaranya.
"Sopan santun?" Atta tertawa hambar. "Sopan santunku sudah hilang sejak lima menit yang lalu, Pa. Sejak aku mengetahui bahwa Papa menganggap ibu kandungku mati. Sejak Papa menikah dengan wanita ini." Tunjuknya pada Rima. "Disaat Mama masih menjadi istri Papa."
Atta seakan tengah menyusun potongan puzzle yang berserakan tak karuan, ia masih ingat Rima pernah menceritakan kisah pertemuannya dengan David saat masih di bangku kuliah, dan akhirnya bertemu kembali dan menikah. Ia masih terlalu kecil untuk mengetahui bahwa Rima bukanlah ibu kandungnya. Ia mengetahui fakta bahwa Rima bukanlah ibu kandungnya saat ia sudah menginjak bangku SMP, orangtuanya menjelaskan bahwa ibu kandungnya meninggal saat melahirkannya.
Tapi, apa, Ayahnya bahkan tidak menjawab pertanyaannya perihal perceraian dengan ibu kandungnya. Sudah jelas bahwa David menikahi Rima saat masih berstatus sebagai suami Wiwid, -ibunya- Atta juga tahu kalau David dan Rima menikah secara sah, terbukti buku hijau kecil yang pernah tak sengaja ia lihat. Ayahnya melakukan poligami, mungkin itu sebabnya ibunya menjadi gila.
Rima menggeleng. "Tidak, bukan seperti itu."
"Atta," Rima hendak menyentuh tubuh Atta, tapi tubuhnya terdorong keras hingga ia terjatuh.
David terlihat murka. "Atta!" hardiknya hendak memukul sang putra, namun tangannya mengambang saat kakinya di tahan seseorang.
Rima menggeleng tanda tak setuju.
"Apa? Papa mau tampar aku?" Atta menepuk sebelah pipinya. "Tampar, Pa. Tampar!" tantangnya. "Pria bajingan memang pantes dapetin wanita murahan!"
"Anak kurang ajar!"
Rima menahan kian erat kaki David agar tak terpancing amarah dengan memukul putranya. "Jangan, Mas, aku mohon," pintanya pelan, derai air matanya kian menjadi.
"Sekali lagi kamu mengatakan itu, Papa nggak akan segan-segan hukum kamu, Atta!" peringat David, rahangnya mengetat.
"Hukum? Hukum aja, Pa. Kalau perlu bunuh aja aku, sama seperti Papa yang membunuh Mama."
Jemari David terkepal.
"Atta, Mama mohon, pergilah," pinta Rima memohon, ia tidak ingin jika kedua pria itu akan adu otot, terlebih amarah Atta yang masih belum bisa dikendalikan.
"Aku pastikan akan menemukan Mama, dan akan membawanya ke rumah ini. Aku bersumpah!" tekad Atta dengan kilatan tajam di kedua matanya, setelahnya ia berbalik, membanting pintu cukup keras.
"Seharusnya kamu biarin aku jelasin semuanya sama dia?" David berteriak marah.
"Dia masih emosi, Mas. Jangan tambah bikin dia marah, dia masih perlu memenangkan diri."
David meraup wajahnya, membantu istrinya untuk berdiri. "Maafkan aku sudah menempatkan kamu dalam posisi ini."
Rima menggeleng. "Selamanya Atta adalah anak aku, Mas."
David membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Terimakasih," ujarnya mengecup puncak kepala istrinya.
*
Marah, Atta benar-benar marah atas kenyataan yang sebenarnya, hal yang seharusnya ia ketahui sejak dulu, namun tertutup kebusukan dua orang berstatus sebagai orangtuanya itu.
Ibunya, selama ini ia tidak pernah tahu bahwa ibunya masih hidup, yang ia ketahui bahwa ibunya telah tiada sejak melahirkannya.
Entah bagaimana rupa ibunya yang sekarang, ia sendiri tidak tahu, apakah beliau masih ada atau .. Atta tak pernah terbayangkan akan kehidupannya yang benar-benar hancur mengetahui fakta bahwa ibunya kemungkinan masih hidup.
Yang ia lakukan hingga tengah malam adalah mencari ibunya, bahkan keesokan hari dan hari-hari berikutnya yang ia lakukan hanya mencari keberadaan ibunya, sekolah menjadi kepentingan kesekian, bahkan ia sering bolos dan tertidur di kelas sebab kelelahan mencari ibunya.
Dari segala rumah sakit jiwa ia datangi, namun tak ada satupun titik terang akan keberadaan wanita bernama Wiwid yang pernah singgah di sana. Hingga kemudian ia mendapatkan informasi dari seseorang yang ia percayai untuk membantu mencari ibunya dimana keberadaan sang ibu.
Dari jarak jauh Atta memperhatikan seorang wanita yang tengah berbicara seorang diri dengan dinding di depannya, sesekali wanita itu tersenyum dan tertawa keras, jantung Atta seakan ditikam palu godam yang mampu meremukkan seluruh tubuhnya menyaksikan wanita itulah yang pernah mengandung dan melahirkannya ke dunia, tanpa terasa setetes air mata jatuh di pipi Atta menyaksikan keadaan ibu kandungnya yang amat sangat memperihatinkan. Ia menghampiri, mengusap lelehan hangat di pipinya yang terus mengucur tanpa bisa dicegah. Atta berjongkok menyamai wanita itu. "Ma.." lirihnya amat pelan.
Wanita itu menoleh dengan bingung menatap Atta.
"Ma, ini Atta," sekuat tenaga Atta menahan suaranya yang bergetar.
"Atta?" ulang Wiwid memiringkan kepalanya menatap lelaki di hadapannya.
"Mas, cari siapa?" Seorang wanita lain menghampiri Atta.
Atta berdiri. "Saya mencari Mama saya, dan dia adalah Mama saya," akunya.
Wanita itu tampak terkejut. "Bu Wiwid punya anak?" tanyanya tak percaya.
Atta mengangguk. "Ibu kenal dengan Mama saya?"
"Kebetulan saya yang merawat dia, Mas, dia tinggal di sini, ada seorang pria yang menitipkan dia sama saya dulu. Tapi dia tidak pernah bercerita kalau dia punya anak."
"Mungkin dia lupa," jawab Atta sekenanya. "Siapa pria yang membawa Mama saya ke sini?" tanyanya kemudian.
Wanita itu tampak mengingat. "Orangnya sudah tua, postur tubuhnya berisi dan rambutnya sudah beruban."
Atta tak mengenal siapa pria dengan ciri-ciri yang disebut wanita di hadapannya. "Saya akan sering berkunjung ke sini, saya minta tolong jaga Mama saya ya, Bu," pintanya kemudian.
Wanita itu mengangguk. "Bu Wiwid enggak rewel kok, Mas, dia juga bisa mandi sendiri, saya hanya membantu membersihkan rumah dan menyediakan makanan sehat. Dan juga rutin membawanya ke pusat kesehatan tiap bulan," tuturnya.
Atta mengangguk, memperhatikan Ibunya yang tengah berjalan dengan mengoceh sendiri. "Sekali lagi terimakasih, Bu. Oh, iya, dimana rumah Mama saya?"
"Itu, Mas, rumah cat kuning," tunjuk sang wanita pada sebuah bangunan. "Yang disebelahnya itu rumah saya," terangnya.
Atta menghampiri Wiwid yang bermain dengan kucing. "Ma, Atta pamit dulu, ya. Besok Atta ke sini lagi, Mama jaga diri, ya," tuturnya lembut, ia meraih jemari Wiwid dan mencium tangannya, Atta juga mencium kening Wiwid yang seketika membuat Wiwid menatap kepergian Atta dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.
.
.
.
Tbc