Dialanta

Dialanta
24. Rok pendek



Arya berjalan menuju kelas IPS 3, mencari keberadaan Diana yang nyatanya pagi itu belum tiba di kelas, ia memilih menunggunya di depan kelas, bersender pada dinding serta melipat tangannya.


Beberapa menit berlalu, seseorang yang ia tunggu datang. Arya menegakkan punggungnya. "Dit, ada yang perlu gue tanyain sama lo."


Diana menatap bingung kehadiran Arya di kelasnya. "Nanya apa?"


"Lo yakin mau jawab pertanyaan gue di sini?" Arya menatap lekat gadis di hadapannya.


Diana melirik sekitarnya, mungkin memang tidak seharusnya mereka bicara di antara ribuan pasang telinga yang siap menguping. Diana menggeleng sebagai jawaban.


Arya berjalan lebih dulu diikuti Diana, sengaja ia membawanya ke ruangan osis yang tidak sembarang orang bisa masuk.


Untuk pertama kalinya Diana masuk ke ruangan osis, ada meja yang di tata memanjang dengan kursi di tiap sisinya, sepertinya itu untuk rapat anggota osis. Ada juga satu set meja kursi yang berada di sisi kiri. Arya Putra Pratama, Diana membaca papan nama di atas meja tersebut, sepertinya itu adalah meja khusus untuk ketua osis.


"Sorry, Dit. Gue masih ingin memastikan apa yang gue denger kemarin," ujar Arya menarik perhatian Diana.


Diana tak menyahut.


"Kasih gue satu alasan kenapa lo nggak lagi suka sama gue." Arya terlihat sangat serius.


Diana mendesah pelan, apakah ia keterlaluan karena menolak seorang Arya? "Lo pasti tahu, kan? Cinta nggak perlu alasan, dia bisa hadir kapanpun, pada siapapun tanpa bisa dicegah. Begitupun alasan, gue nggak tahu alasan apa yang harus gue berikan. Tapi, maaf, gue bener-bener nggak bisa. Em, maksud gue, rasa suka yang gue maksud sepertinya bukan ci-n-ta," cicitnya di akhir kata. 'Sumpah, Dit, maafin kakak lo yang jahat ini.'


Arya terdiam memperhatikan gadis di hadapannya, hingga kemudian ia menghembuskan nafas dalam. "Lo suka sama orang lain?" tebaknya.


"Hah?" Tidak, bahkan suka-sukaan tidak termasuk dalam daftar tujuan Diana berpura-pura menjadi Dita. Atau jangan-jangan itu adalah tujuan Dita? Diana terkejut menyadari pemikirannya sendiri.


Diana mendesah, kenapa sulit sekali menolak cinta. "Gue cuma nganggep lo temen, please jangan minta lebih. Mungkin akan ada mantan pacar, tapi, nggak akan ada mantan temen." Ia mulai melankolis, berharap agar Arya bisa mengerti.


"Setidaknya beri gue kesempatan." Arya masih keukeh.


Diana hampir tersedak liurnya sendiri. "Enggak, gue nggak bisa," tolaknya.


Arya menyisir rambutnya ke belakang, ia frustasi.


"Gue nggak apa-apa kok kalau setelah ini lo benci sama gue, gue bakal nganggap lo nggak pernah ngomong ini sama gue."


Arya terkejut, detik berikutnya ia tersenyum. "Gue nggak benci kok sama elo. Makasih atas jawabannya, mungkin ini karma untuk gue karena pernah nolak elo," kekehnya.


Diana terdiam.


"Udah mau bel, balik, yuk?" ajak Arya kemudian.


Diana mengangguk kaku.


Tanpa mereka ketahui dan sadari, ada seorang siswi yang bersembunyi di bawah meja, ia membekap mulutnya sendiri selama mendengar percakapan keduanya. "Gila, si, Dita. Dia nolak ketua osis," gumamnya sangat pelan.


***


Siang itu, saat hampir keseluruhan siswa siswi SMA Nusa Bhakti berbondong-bondong untuk pulang, seorang siswi tengah mengobrak-abrik isi loker juga tasnya, mencari keberadaan celana yang sering ia gunakan untuk mengendarai motor.


Diana masih ingat bahwa ia meletakkan celana itu dalam loker pagi tadi, tapi kenapa sekarang tidak ada, kemana perginya. Ia terdiam sejenak mengatur nafas, memejamkan mata mencoba mengingat-ingat, kemudian ia gegas berlari ke toilet guna memastikan apakah tertinggal. Namun nihil tidak ada apapun di dalam toilet.


Diana menggigit bibir bawahnya. "Pasti ada yang ngerjain gue."


Setelah hampir setengah jam mencari dan tidak ditemukan celana miliknya, Diana berjalan gontai keluar sekolah. Menatap bingung bagaimana harus mengendarai motornya sedangkan roknya hanya setengah paha.


Diana membuka tasnya, terpaksa ia harus menggunakan jaket untuk menutupi paha mulusnya yang masih nampak terlihat saat ia mengendarai motor. Membiarkan kulit tangannya terbakar sinar matahari yang hari itu sangat cerah. "Terpaksa," gumamnya pelan.


Tentu saja ia risih dan tak nyaman berkendara dengan rok pendek meskipun sudah ia tutupi dengan jaket, apalagi tatapan lapar para pengguna jalan yang sengaja melihat ke arahnya. Kesal, Diana benar-benar kesal saat entah sengaja atau memang benar pria itu melihat dan berteriak keras menyebutkan warna ********** yang memang benar berwarna coklat.


Tak cuma itu, siulan yang mengarah pada pelecehan harus Diana telan mentah saat rombongan siswa berhenti tepat di kanan kirinya ketika lampu berwarna merah.


"Wuihhh... Mulus benerrr.."


"Neng, kliatan, tuh."


"Ngeces, gue, ngecess.."


Rombongan siswa yang bukan satu sekolah dengan Diana itu saling menyahut dan tertawa keras, seakan Diana adalah tontonan dan hiburan gratis.


Diana bersungut-sungut, bibirnya sudah membiru karena terlalu keras ia gigit, salahkah jika ia menerobos lampu merah? Ia sudah muak dan kesal dengan ulah siswa berandalan itu.


Brumm!!


Sebuah motor sport berwarna merah putih sengaja menarik gasnya, mengalihkan tatapan para siswa berandalan itu. "Minggir lo semua, dia punya gue!" hardiknya turun dari motornya.


Atta menatap tajam satu persatu siswa sekolah lain yang sudah mempermalukan Diana. Ia menarik lengan Diana agar turun dari motornya.


"Eh?"


"Turun," pinta Atta.


"Lo mau ngapain?"


Atta tak menjawab, ia membuka resleting jaket miliknya, melepasnya dan menggunakan pada belakang paha Diana.


"Pahlawan kesiangan! Gue udah liat semua!" seru salah seorang siswa lain mencibir.


"Pacarnya jangan dibiarin naik motor sendiri, Bro! Auto jadi hiburan buat mata gue!"


"Adem benerrr..!!"


"BACOT! LO SEMUA BISA DIEM NGGAK?!" Atta menghentak keras.


Mereka justru tertawa padahal Diana sudah terkejut mendengar bentakan Atta.


"Lampunya udah ijo," ujar Diana memberitahu.


"Biarin aja," tanggap Atta tak menghiraukan bunyi klakson kendaraan di belakangnya, ia masih sibuk membenarkan letak dua jaket yang menutupi paha Diana yang terekspos.


"Atta, udah, mereka udah marah-marah," Diana mulai tak enak mengganggu perjalanan pengendara lain.


Atta menatap Diana dengan tatapan yang tak bisa Diana artikan. Pria itu mendorong motornya ke tepi, tentu Diana ikut menepi. Kemudian mendorong motornya sendiri menuju sebuah toko kelontong di sisi lampu merah. Terlihat Atta yang berbicara dengan pemilik toko, kemudian berjalan menghampirinya.


"Mau ngapain?" tanya Diana tak mengerti saat Atta naik ke motornya.


"Gue anterin lo pulang."


"Hah?"


"Tapi—"


"Nggak usah kebanyakan tapi, buruan, gue nggak ada waktu."


Kening Diana mengerut, ia berdiri di samping Atta. "Permisi, Mas. Ini motor saya, saya bisa bawa sendiri, kalau Masnya nggak ada waktu, Mas bisa naik motor anda sendiri." Diana menunjuk motor Atta. "Itu, motor Mas di situ," ucapnya kesal.


Atta tertawa. "Udah, ayok, gue anterin. Gue lagi baik hati ini."


Diana mencibir. "Baik hati lo pasti ada embel-embelnya."


Atta kembali tertawa. "Lo udah kenal gue luar dalem ya, Dit, ternyata," godanya menopang kepalanya.


"Idihh.." Diana tak menyahut, ia gegas naik ke jok belakang motornya sendiri.


"Rapiin tuh, jangan sampai mata jelalatan ngeliat," tegur Atta melirik paha Diana yang sudah tertutup jaket dari atas dan bawah.


"Udah kok."


"Lagian lo kenapa nggak pake celana panjang, sih? Lo sengaja mau pamer paha?"


Diana menggeplak pundak Atta. "Sembarangan. Gue tiap hari juga bawa celana panjang, hari ini aja gue sial, ada yang nyuri celana gue."


"Emangnya lo pikir sekolah kita isinya anak-anak kismin yang nggak mampu beli celana? Lo tahu sendiri, kan, hampir 90% penghuninya anak sultan semua, ya, kali, nyuri cuma celana doang. Nggak level. Nyuri uang rakyat baru level hehehe.. aduhh.." Atta meringis saat Diana mencubit pinggangnya.


"Punya jiwa koruptor lo?"


"Bercanda, Dit, astaga."


Diana mendengus. "Sekolahan elo isinya emang anak sultan, tapi attitude mereka lebih rendah dari orang miskin. Sama kayak elo."


"Kok gue?"


"Iya, elo juga. Udah, ah, diem. Gue males ngomong sama elo."


"Ya, udah, gue diem."


"Eh, buruan jalan, lampunya udah ijo, Atta."


"Katanya lo nyuruh gue diem?"


"Ya Allah... Nggak gitu juga, Astaghfirullah.. jalan, Atta," Diana mulai kesal.


Atta terkekeh melihat raut wajah kesal gadis di belakangnya, kemudian mulai menarik gasnya dan melesat di jalanan.


Di tengah perjalanan, Atta merasakan ponselnya yang bergetar. "Dit, ambilin ponsel gue dong," pintanya.


"Apa?"


"Ambilin ponsel gue di saku kanan."


"Hah? Kenapa? Nggak mau gue."


"Ya elah.. minta tolong, Dit. Tangan gue lagi nyetir ini, kalau kita berdua jatuh lo nyalahin gue lagi."


"Minggir dulu aja."


"Nanggung. Cepetan."


Diana merogoh saku celana Atta dengan perasaan dongkol luar biasa. "Ini," ujarnya menyerahkan.


"Dari siapa?"


Diana menatap layar ponsel milik Atta. "Nggak tahu, nggak ada namanya."


"Angkat."


"Hah?" Diana mengerucut sebal, kenapa sih ia harus berurusan dengan manusia menyebalkan sejenis Atta. Meskipun begitu, Diana tetap menurut. "Halo? Maaf, orangnya lagi nyetir."


"Penting katanya," ujar Diana mendekat di sisi Atta.


Atta segera menepikan motornya, mengambil alih ponsel dari tangan Diana. "Ya, halo?"


Diana sibuk memperhatikan sekitarnya sementara Atta tengah berbicara dengan seseorang di seberang telepon.


"Dit, ikut gue bentar, ya?" pinta Atta setelah menutup teleponnya.


"Kemana?"


"Bentar doang, gue harus ketemu sama orang."


Diana awalnya ingin menolak, tapi, entah kenapa justru kepalanya mengangguk-angguk.


*


Tiba di pemukiman penduduk, Diana berdiri di samping motornya sementara Atta tengah berbicara serius dengan seorang pria yang beberapa kali menunjuk arah. Entah apa yang mereka bicarakan ia tak tahu dan tak mau tahu.


Hanya saja lokasi pemukiman padat penduduk itu cenderung sepi, mungkin penghuninya sedang bekerja, suasananya sangat sunyi, hanya ada suara hewan saling bersahut. Mungkin Diana tak akan tahu jika itu adalah rumah yang masih di tempati melihat bagaimana sepinya tempat itu. Hanya saja beberapa jemuran yang tergantung di depan rumah membuktikan bahwa rumah-rumah itu mempunyai penghuni, yang pastinya penghuni itu adalah manusia.


"Saya akan terus mengawasi dan mencarinya."


"Terimakasih banyak, Pak."


Diana membalas anggukan dari pria yang sebelumnya berbicara dengan Atta sebelum pria itu berlalu.


"Kalau lo masih ada urusan, gue bisa pulang sendiri," ujar Diana menyadari raut wajah Atta yang berubah sendu, sama seperti yang pernah ia lihat waktu itu.


Atta menggeleng. "Gue anterin lo pulang."


Diana menurut saja.


.


.


.