
Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok.
Terlihat sesosok perempuan muda yang baru saja terbangun dari mimpi indahnya, ia melepaskan suatu penutup mata yang berbentuk seperti kacamata teropong yang sangat besar itu. Animusgear, itulah nama benda itu.
Animusgear adalah suatu alat yang digunakan oleh pengembang game ESSET CORP untuk dapat memainkan game yang sedang ramai jadi pembicaraan orang-orang pada masa kini, Cyrus Online.
Animusgear yang digunakan oleh perempuan itu bukanlah Animusgear yang sama dengan yang ada di pasaran, Animusgear miliknya adalah Animusgear edisi terbatas yang hanya dijual ke pasaran dengan kurang dari 100pcs.
Tentunya fitur-fitur di Animusgear versi edisi terbatas, sedikit berbeda dengan versi yang ada di pasaran. Salahsatunya adalah fitur akselerasi. Fitur itu berfungsi untuk membuat tubuh dan pikiran akan tetap stabil dalam waktu yang cukup panjang dan dalam pemakaian yang tidak terlalu berlebihan, dan tentu saja fitur itu akan sangat membantu para pemain pro yang harus cukup lama di dalam dunia virtual untuk sekedar menaikkan level ataupun menyelesaikan misi yang sulit.
Kita ke kembali ke perempuan cantik berwajah oriental tadi.
Walaupun ia cukup lama masuk ke dunia virtual, namun aura kecantikannya masih terasa kuat biarpun kondisinya yang sedikit urakan itu.
Sesaat setelah ia bangun tadi, ia sempat memijit keningnya yang terasa sedikit pusing. Hal itu ia dapatkan dari dunia virtual, karena ia tengah sibuk dalam mengurus suatu negara yang baru saja terbentuk. Kini perempuan itu sadar betapa susahnya mengatur sebuah negara.
"Nyonya muda Lianshi. Semua berkas-berkas yang Anda perlukan sudah Saya siapkan!" ucap seseorang dari balik pintu kamar si tuan putri itu.
"Ya, taruh saja di meja depan!"
Si tuan putri yang bernama Mei Lianshi itu berdiri dengan malas, ia berjalan ke arah pintu untuk keluar dan mengambil berkas-berkas yang disampaikan oleh pelayannya tadi.
Lianshi mengenakan kacamata baca sebelum mengecek semua berkas itu, serasa semuanya sudah beres ia menaruhnya kembali ke atas meja dan pergi meninggalkannya begitu saja.
"Anda yakin ingin pergi ke Indonesia dan meninggalkan ayah Anda. Nyonya muda Lianshi?" pertanyaan si pelayan membuat langkah Lianshi terhenti.
Lianshi memikirkan pertanyaan dari pelayannya itu, namun hatinya sudah kuat untuk pergi meninggalkan istananya ini. Tanpa menjawab pertanyaan itu, Lianshi kembali melanjutkan langkahnya.
"Jika benar itu keinginan Anda, saya siap menemani Anda kemanapun. Tetapi setidaknya bicarakan dulu hal ini pada Tuan Lei agar beliau tidak khawatir dengan Anda" ucap si pelayan sekali lagi, dan membuat Lianshi kembali terdiam.
Lianshi memikirkan apa yang diucapkan oleh pelayannya itu, dan menurutnya tidak ada salahnya dengan hal itu.
"Baiklah aku akan bicara pada Ayahku, tetapi apapun jawabannya aku tetap akan pergi dari sini!"
"Terima kasih nyonya muda! Terima kasih sudah mau mendengarkan ke-egoisan Saya!" si pelayan mengucapkan rasa terima kasihnya yang sangat besar dengan cara membungkukkan badannya hingga sangat turun kebawah.
"Bukan masalah yang besar!"
Lianshi lalu pergi meninggalkannya untuk menemui ayahnya, namun sebelum itu ia harus melakukan sesuatu hal yang harus dilakukan oleh perempuan seperti dirinya, yaitu membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Selepas membersihkan diri, Lianshi sekarang sedang berjalan menuju ke ruangan di mana biasanya ayahnya bekerja.
Walaupun mereka satu rumah, namun entah kenapa ruangan yang selalu digunakan oleh ayahnya itu terasa sangat terasing dan terisolasi.
Sepanjang ruangan tidak ada cahaya sama sekali yang masuk, lampu-lampu tembok dan lain juga tidak dinyalakan sama sekali. Tempat itu lebih terasa mirip kastil raja iblis daripada rumah orang biasa.
Lianshi saja harus mengenakan alat bantu penerangan saat menyusuri koridor ruangan ayahnya itu, sambil menggerutu pelan ia menyusuri koridor.
"Sudah lama aku tidak kesini, benar-benar seperti kastil raja terakhir!" ucapnya.
Lama Lianshi berjalan dalam kegelapan, akhirnya dia sampai di depan pintu kediaman raja terakhir. Hawa yang dikeluarkan oleh pintu itu, sama menyeramkannya dengan hawa saat di koridor tadi.
Lianshi bahkan sempat menelan ludahnya saat hendak masuk ke pintu itu, namun ia tetap memberanikan dirinya walaupun ia tahu akan ada sosok raja terakhir yang bersemayam di ruangan di balik pintu itu.
Perlahan Lianshi membuka pintu raja terakhir, suara deritan pintu bergeser seperti menyakiti telinga Lianshi. Sesuai dengan semua hal yang dilewati oleh Lianshi tadi, ia pun kembali melihat kegelapan yang menyelimuti seluruh ruangan.
"Siapa disana? Mei kecilku kah?" terdengar suara seseorang dari balik kegelapan itu.
Melihat semua kegelapan yang menyelimuti ruangan itu membuat Lianshi tidak tahan, ia pun berjalan mencari saklar agar tempat itu kembali bercahaya kembali.
klik....
Lianshi menekan tombol saklar yang ada di tembok, dan ruangan itu kini terbebas dari kutukan raja kegelapan dan mulai diisi dengan cahaya terang dari dewi.
"Aw...aw... sangat silau disini" Sosok laki-laki bertubuh kurus seperti kurang gizi terlihat sedang duduk di depan komputernya canggih.
"Sampai kapan papa mau bekerja? Bukankah sudah waktunya untuk papa beristirahat dan menyerahkan semuanya kepada Staff dan Super-Komputer Miranda" ucap Lianshi sambil berkacak pinggang di depan sosok yang ia panggil papa itu.
Ya, sosok laki-laki bertubuh kurus seperti orang yang kurang gizi itu adalah ayahnya Lianshi. Sosok itu juga adalah orang yang sudah membuat game legendaris Calcalas Online dan Cyrus Online yang sekarang digandrungi banyak orang. Sosok itu juga yang memiliki pemikiran membuat dunia kedua dengan menggunakan sistem dari Animusgear.
Ia adalah Lei Huang.
"Papa hanya ingin tidak ketinggalan berita yang terjadi di dunia yang papa ciptakan. Ah, lagipula ada apa sampai Mei-kecil datang ke tempat papa?"
"Bisakah papa berhenti memanggilku Mei-kecil? Sekarang aku sudah berumur 20 tahun tau!" Lianshi menghela nafas berat.
"Hahaha baiklah maafkan papa, jadi ada apa Mei?"
Lianshi lalu menjelaskan maksud kedatangannya ke tempat ayahnya, karena memang Lianshi tidak pernah ke tempat ini selama lebih dari 10 tahun semenjak terakhir kali ia kesini.
Lei Huang mendengarkan dengan cermat keinginan dari anak semata wayangnya itu, sambil sesekali ia menganggukkan kepala dan tidak pernah memalingkan wajahnya dari layar komputer yang ada di hadapannya.
"Emmm.... Indonesia kah? Apakah Mei sudah sangat yakin akan keputusan Mei?" Tanya Lei sekali lagi.
"Ya, Mei sudah yakin 100 persen untuk pergi dari sini. Lagipula Mei juga sudah membeli sebuah gedung di Indonesia yang akan Mei gunakan untuk melakukan berbagai kegiatan nantinya
Papa lihat saja, Mei akan membuat kehebohan di dunia yang papa ciptakan dan akan membuat papa mengakui Mei. Papa ingat itu!" ucap Mei Lianshi dengan ekspresi wajah yang sangat bersemangat dan penuh keyakinan.
Lei Huang sedikit tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh anaknya itu, ia tidak menduga akan anak semata wayangnya itu bisa berkata seperti itu di depan dirinya sendiri.
"Baiklah papa izinkan Mei pergi ke Indonesia dan tunjukkan kepada papa seberapa besar tekadmu itu!"
Setelah mendapatkan izin dari ayahnya, Lianshi sudah tidak ada kepentingan lagi di tempat itu. Ia pun mengucapkan salam perpisahan pada ayahnya, namun saat Lianshi hendak melangkah untuk pergi ayahnya kembali bertanya satu hal padanya dan membuatnya menghentikan langkah Lianshi.
"Mei bisakah papa bertanya satu hal lagi sebelum Mei pergi?" ucap ayahnya.
"Iya, apa itu papa?"
"Apakah Mei pergi ke-tempat si pendekar samurai berambut putih itu? Lei coba menebak-nebak kemana anaknya itu akan pergi.
Dan tebakannya sepertinya tepat sekali. Saat Lei menebak tempat tujuan Mei, Mei langsung salah tingkah dan mulai menghujani ayahnya dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan anak perempuan yang seperti baru saja mengalami pubertas dalam hidupnya.
"Hahaha jadi benar ya, baiklah kalau begitu tidak ada lagi yang papa khawatirkan" ucap Lei sambil tertawa puas sekali.
"Aku benci papa!"
...***...
Sekitaran Auberbéliard....
Sunyi senyap dan gelap menyelimuti tempat itu, semua warga yang tinggal di tempat itu sudah mulai terlelap kedalam pulau mimpi indah yang tak berujung.
Mereka semua tidak menyadari ada bahaya yang tengah mengintai dari sunyi dan gelapnya malam.
Penjaga malam yang harusnya berjaga juga sudah mulai bosan dan melupakan tugas mereka untuk ikut mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah lelah seharian bekerja sehingga mereka juga tidak menyadari adanya bahaya itu.
10 orang terlatih sedang mengawasi seluruh tempat itu. Mereka semua berpencar dan membagi 5 kelompok yang berjaga di tiap titik yang sudah ditentukan sebelumnya.
Diantara 10 orang itu, terdapat sesosok orang yang terlihat seperti pemimpin dari kelompok itu. Ia terlihat lebih kuat dari yang lain, serta kemampuannya juga sedikit lebih tinggi.
Sosok itu adalah Seth yang merupakan ketua dari Squad yang dibentuk oleh Negeri Silverland, yaitu Death Triangle.
Seth bersama satu rekannya yang berasal dari Bloodelf, tengah sibuk memantau situasi di sebuah mansion yang sangat besar. Mansion itulah tempat tinggal target mereka, seorang bangsawan korup yang berbuat semena-mena dan menindas kaum Hobbit.
"Semua regu laporkan situasi!" ucap Seth dengan menggunakan alat bantu sihir yang diciptakan oleh kaum Dwarf.
"Situasi aman, kami semua siap menerima perintah!"
Begitulah pesan yang didengar oleh Seth. Seth pun tersenyum, lalu ia mengenakan topeng khusus sebelum dirinya memulai misi pertama dari Death Triangle.
"Death Triangle saatnya beraksi!"
Setelah komando dari Seth diterima oleh semua regu, mereka semua langsung bergerak sesuai perintah sebelumnya.
Bahkan para penjaga itu mati sebelum mereka menyadari siapa yang sudah menyerang mereka, dan kini mansion sudah sepenuhnya bersih dari penjagaan.
"Lemah sekali para penjaga itu, apa tuan tanah disini terlalu sombong dengan kemampuannya?" si Blood-Elf berkomentar.
"Ah mungkin saja ia sudah besar kepala karena menganggap remeh orang-orang disini. Oke sekarang kau cek ruangan bawah tanah, biar aku yang menghabisi bangsawan itu" ujar Seth lalu mereka berpisah.
Si Blood-Elf pergi ke ruangan bawah tanah untuk mengecek apakah ada para Hobbit yang dijadikan tahanan oleh sang bangsawan.
Perjalanannya cukup mudah karena sudah tidak ada lagi penjaga, namun saat ia sampai di ruangan bawah tanah ia melihat ada dua orang penjaga yang sepertinya sedang menjaga para tahanan sampai tertidur dengan pulas.
Di situ juga ada Hobbit yang terluka cukup parah namun ia masih mencoba untuk bertahan semampunya, lukanya ia dapatkan dari pukulan tongkat penjaga yang menghantam keras kepalanya.
Selain dirinya juga ada Hobbit perempuan berwajah cantik yang sedang merawat luka-luka yang ada di tubuh laki-laki tadi, karena dirinya lah si Hobbit laki-laki itu terluka hingga seperti itu, sehingga membuat si Hobbit perempuan tidak enak hati.
Mereka berdua adalah Sancho Whitfoot dan Iliana Gardner.
"Maafkan aku Sancho, karena diriku kau terluka hingga seperti ini" ucap Iliana lirih dan hampir menangis melihat keadaan Sancho.
"Berhentilah menangis, sebentar lagi nasib kalian akan berubah!" suara garang dan parau membuat Iliana dan Sancho terkejut dan mencari sumber suara itu.
Penjaga yang menjaga Sancho dan Iliana juga langsung bangun dan bersiap bertarung, namun setelah beberapa menit tidak ada tanda-tanda kemunculan siapapun disitu.
Semua orang bingung, mereka yakin sekali mendengar suara yang sangat jelas beberapa saat yang lalu, namun entah kenapa tidak ada tanda-tanda kemunculannya sama sekali.
Si penjaga pun masih bersiaga, ia mencoba untuk berkeliling namun tidak juga menemukan apapun.
"Apa perasaan ku saja ya? ujar si penjaga.
Lalu, suara tertawa diiringi hinaan yang jelas terdengar. "Hahaha tidak, aku disini dasar bodoh!"
Penjaga itu terkejut saat melihat ada sosok orang yang merayap di atas tembok dan turun dengan sangat cepat menuju arahnya.
Saat itulah si penjaga baru menyadari kalau hidupnya sudah tamat saat dimalam sial itu, ia sudah dibunuh oleh si penyusup dengan begitu mudahnya.
Sancho dan Iliana pun terkejut sekaligus takut melihatnya, mereka berpikir kalau sosok itu bukanlah orang yang akan menolong mereka begitu saja. Sehingga Sancho pun berdiri dan mempersiapkan diri untuk apapun yang terjadi nantinya.
"Sancho apa yang kau lakukan?" tegur Iliana
"Tenang saja Iliana, aku akan menghalanginya semampuku dan saat itulah kau segera pergi dari tempat terkutuk ini!" ucap Sancho yang gemetaran melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini.
"Hei-hei, kalian membuatku seperti orang jahat disini. Aku kesini untuk membebaskan kalian berdua" ucap si Blood-Elf.
"Membebaskan kami berdua?"
Tentu saja Sancho dan Iliana tidak bisa percaya begitu saja dengan sosok yang tiba-tiba datang ke tempat mereka itu, dan si Blood-Elf sudah tahu akan menjadi se-menyusahkan ini, ia pun duduk dan mulai menjelaskan situasinya kepada mereka berdua.
...***...
Sedangkan Seth, tengah mengincar sosok bangsawan yang sudah melakukan perbudakan dan penyiksaan di tempat ini.
Sesuai dengan apa yang Seth dapatkan dari berbagai macam cerita orang-orang di sekitaran Auberbéliard, Seth pun menghabisi seluruh keluarga yang ada di dalam mansion ini.
Alasannya sangat sederhana, karena semua keluarga yang ada di mansion ini juga sama jahat dan bejatnya.
Sang bangsawan memiliki 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki berumur 16 tahun, sedangkan yang perempuan berumur 14 tahun.
Anak laki-lakinya memiliki hobi menyimpang, ia senang sekali mengumpulkan para gadis-gadis muda Hobbit yang cantik dan akan ia nikmati satu-satu secara bergantian. Kadang ia juga membaginya kepada para penjaga, atau ia jual ke orang lain jika sudah merasa bosan.
Dan untuk menghormati anak laki-laki dari bangsawan itu, Seth pun menjadikannya target pertama.
Seth dengan sangat mudah masuk kedalam kamar dari sosok laki-laki itu, saat ia tertidur lelap dan pulas. Seth menebas lehernya dengan belati dan membiarkan darah bercucuran deras, sosok itu hanya bisa menatap tajam ke arah Seth karena sudah berani melakukan hal itu kepadanya. Namun sekuat apapun ia mencoba berteriak, suaranya tidak keluar sama sekali dan yang ada hanyalah alunan harpa sunyi kematian.
"Target pertama di-eksekusi" ucap Seth.
Lalu ia menyeret mayat anak laki-laki si bangsawan itu dan menuju tempat target keduanya, yaitu si anak perempuan.
Seth kembali membuka buku catatannya. Dalam catatannya, anak perempuan bangsawan itu juga memiliki sifat yang sangat keji dan buruk.
Sosoknya adalah perempuan yang pencemburu. Setiap kali ia melihat gadis-gadis Hobbit yang cantik dan manis, ia akan berusaha berteman dengannya namun hal itu hanyalah tipuan muslihat yang keji. Sejak saat itu penyiksaan dimulai.
Para gadis-gadis itu akan diserahkan terlebih dahulu kepada kakak laki-lakinya, dan setelah itu ia akan melakukan operasi ilegal kepada korbannya. Entah itu menyayat wajah, menyiramnya dengan air mendidih ataupun membunuhnya.
Dan saat Seth telah selesai membaca semua hal tentang si anak perempuan, ia sudah sampai di hadapan si anak perempuan yang juga sedang tertidur pulas sama seperti kakak laki-lakinya yang malang.
Pertama yang Seth lakukan adalah meletakkan jasad mengerikan kakak laki-lakinya di samping si anak perempuan itu. Seth hadapkan wajah si kakak ke wajah si adik agar terlihat seperti kakak dan adik yang akur.
Lalu setelah itu, Seth menyentuh dengan pelan pundak si adik itu sehingga membuatnya terbangun dari mimpinya yang indah.
"Kakak kau kah itu? Sudah kubilang kita tidak boleh tidur sekamar atau ibu akan marah" ujar si adik yang masih mengusap matanya agar terlihat sedikit lebih terang.
Dan saat pandangannya mulai jelas, ia pun terkejut sampai berteriak karena melihat kakaknya yang sudah terbujur kaku dengan tatapan yang tajam bahkan tak berkedip itu.
Saat itulah Seth muncul dari balik kegelapan dan meminumkan sebotol ramuan ke si adik yang tadi terkejut bukan main itu. Si adik cukup tenang pada awalnya, namun setelah beberapa saat ia mulai merasakan panas di sekujur tubuhnya terutama di wajahnya. Beberapa menit kemudian tanda-tanda kehidupan dari si adik sudah hilang sepenuhnya dan wajahnya sudah tak dapat dikenali lagi karena efek racun yang diminumkan oleh Seth pada dirinya.
"Hei sayang kenapa kau berteriak malam-ma....siapa kau? Oh anak-anakku! Apa yang kau lakukan pada anak-anakku?" ucap seorang wanita paruh baya yang merupakan sang ibu.
"Oh jadi kau ibu mereka? Sepertinya Anda harus lebih mendisiplinkan anak Anda dan juga mengajarinya etika, apalagi anda seorang bangsawan kan?" Seth sedikit berkelakar sebelum pada akhirnya ia menebas dada perempuan itu sebanyak 3 kali dan membuat sang ibu juga meregang nyawa pada malam itu.
"Jadi sekarang tinggal si target utama!" ucap Seth lalu ia kembali melanjutkan perburuannya malam itu.
Sang Ayah tidak mengetahui apa yang sudah terjadi kepada keluarganya, ia masih asik menghitung hasil dari kerja kerasnya hari ini. Ya hasil kerja keras dari duduk sehariannya sambil memperhatikan para Hobbit yang bekerja siang dan malam.
Walaupun begitu, ia tetap memikirkan keluarganya. Karena mendengar suara teriakan si anak perempuannya ia cukup khawatir dan menyuruh istrinya untuk melihat keadaan putri mereka itu. Dalam benaknya ia berpikir mungkin putranya hendak melakukan hal tidak senonoh dengan adiknya sendiri.
Namun kenyataannya jauh lebih buruk dari itu, bahkan lebih buruk dari mimpi buruk yang pernah ia alami hingga saat ini. Ia masih tidak mengetahui bahwa rumah atau mansionnya kali ini sudah menjadi tempat pembantaian.
"Kemana perginya perempuan itu?" si tuan bangsawan mulai gelisah dan menghentakkan kakinya beberapa kali.
Lalu Seth datang secara tiba-tiba dan berkata. "Apa yang kau cari itu mereka ini tuan?" Seth melemparkan tubuh anak laki-laki, anak perempuan dan istri kehadapan si bangsawan tadi.
Melihat hal itu membuat si bangsawan langsung ketakutan setengah mati, ia yang tidak memiliki kekuatan apapun itu hanya bisa berteriak melihat seluruh keluarganya yang sudah terbantai itu.
"Penjaga mana penjaga! Kau...kau...kau jangan harap bisa kabur semudah itu dari tempat ini!" ucapnya.
"Kabur? Aku tidak akan melakukan hal menyedihkan seperti itu. Lagipula semua penjaga yang ada di tempat ini sudah kubereskan semuanya" jawab Seth dengan berlagak seperti bangsawan yang sombong dan angkuh.
Mendengar pernyataan Seth, membuat si bangsawan semakin ketakutan. Apalagi setelah beberapa menit juga tidak ada tanda-tanda kemunculan para penjaga yang seharusnya menjaga tempat itu.
"K-k-katakan a-a-apa m-m-mau mu? Apa kau ingin uang, kekuasaan atau wanita? Kau hanya tinggal ucapkan saja aku pasti akan menyanggupinya!" si bangsawan sudah sangat ketakutan dan kehilangan akal sehatnya, yang ada di kepalanya saat ini hanyalah pikiran agar tidak dibunuh.
Seth ingin bermain-main sejenak dengannya, sehingga ia tak langsung membunuh si bangsawan itu.
"Kau yakin akan memenuhi semua keinginan ku?" ucap Seth
"Ya...ya...ya tuan, aku pasti akan memenuhinya dengan senang hati" jawab si bangsawan.
"Okelah, kalau begitu matilah hari ini ya!"
"E-e-eh?" hanya itu kata-kata terakhir si bangsawan sebelum akhirnya lehernya di tebas oleh Seth dan membunuhnya saat itu juga.
Saat itu lalu muncul sebuah notifikasi yang membuat Seth tersenyum melihatnya. Sebuah notifikasi yang kembali membuat heboh jagad Cyrus Online.
...[Notifikasi Sistem]...
...[Seorang Bangsawan Korup Bernama Viscount Davenport Telah Dibunuh Oleh Seorang Pemain...
...Viscount Davenport Adalah Penguasa Auberbéliard Yang Sudah Menindas dan Memperbudak Ras Hobbit Dengan Sangat Keji...
...Dunia Berterima Kasih Atas Jasa Sosok Yang Membunuh Bangsawan Korup Itu]...