
Rapat dadakan kembali diadakan oleh para eksekutif Negara Serikat Silverland. Hal ini menyangkut tentang suatu kaum yang dicari oleh Archie, yaitu kaum Hobbit.
Hobbit, merupakan salah satu ras yang ada di dunia Cyrus Online. Perawakannya hampir mirip dengan bangsa Dwarf, namun mereka tidak memiliki bakat di bidang penempaan ataupun pembuatan barang-barang yang lainnya.
Hobbit memiliki kemampuan yang berbeda, mereka semua dikenal sebagai kaum yang begitu lihai dalam ilmu rune sihir. Selain itu mereka juga sangat lihai dalam merangkai kata hingga membuat syair-syair yang indah. Dahulu kala mereka merupakan salah satu tamu wajib dalam acara istana, sebagai seorang penghibur.
Tetapi Archie tidak peduli dengan kemampuan mereka yang satu itu, Archie hanya peduli dengan kelihaian mereka dalam menggunakan rune sihir. Archie mulai bisa memikirkan apa saja teknologi baru yang akan tercipta dari kemampuan itu.
"Hobbit kah? Rasanya sudah sangat lama semenjak terakhir kali aku melihat mereka semua" Scareye mengingat lagi saat dimana dirinya masih hidup bersama dengan kaum Hobbit.
"Hobbit memang dikenal dengan kehebatan rune sihir mereka. Tetapi mereka juga dikenal dengan kesombongan mereka, hal ini pasti akan sangat mengganggu operasi kali ini Archie!" Komandan Lusirele memperingatkan Archie.
Apa yang disampaikan oleh Komandan Lusirele tadi diamini oleh yang lainnya, Elf dan Dwarf memang pernah hidup bersama di masa lampau sehingga mereka benar-benar tahu seperti apa sifat kaum satu itu.
"Sekarang bagaimana Archie?" Kali ini Diane yang bertanya pada Archie.
Archie sendiri masih bisa mengeluarkan senyuman khasnya walaupun ia mendengar hal-hal yang kurang bagus dari Hobbit. Karena itulah teman-temannya yang lain pun ikut tersenyum pula, karena mereka sudah tau apa yang ada di dalam kepala Archie.
"Meskipun mereka sombong, aku rasa kita masih memiliki suatu keuntungan" ucap Archie sambil tersenyum puas dan menatap ke arah semua peserta rapat dadakan kali ini.
"Apa yang kau maksud Archie? Jelaskan kepada kami semua apa yang kau ketahui atas situasi kali ini!" Elondil sebagai Raja Narannas juga merasa bingung dengan rasa percaya diri Archie itu.
Karena diminta untuk menjelaskan, Archie pun berdiri dan menjelaskan rencananya kali ini.
"Jadi, sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Putri Ashiya yang sudah memberitahuku tentang Hobbit. Karena Putri Ashiya aku akhirnya tau dimana dan apa yang sedang terjadi dengan mereka semua"
Tentu saja mereka semua dibuat terkejut dengan kenyataan itu, terlebih lagi Elondil yang bahkan tidak mengetahui informasi seperti itu. Namun Elondil tidak terganggu sama sekali akan hal itu, ia yakin jika Ashiya akan selalu berpihak kepada dirinya.
Ashiya pun juga ikut tersenyum penuh arti, lalu ia menyuruh Archie untuk kembali melanjutkan penjelasan rencananya kali ini.
Archie mengeluarkan sebuah peta dari tas penyimpanannya, peta itu adalah peta sebuah wilayah yang ada di Kekaisaran Suci Naga Merah, yang ada di peta itu adalah Kota Auberbéliard.
Auberbéliard, merupakan satu kota kecil yang ada di Kekaisaran Suci Naga Merah. Di kota itulah para Hobbit hidup dengan menjadi budak para bangsawan yang mengelola kota yang cukup kecil namun memiliki kekayaan yang banyak.
"Jadi situasi mereka di sana sekarang ini, menjadi budak bangsawan dengan upah yang sangat-sangat rendah. Hak-hak mereka juga dicabut, dan banyak hal-hal buruk yang mereka terima semenjak nafas pertama mereka di dunia ini!"
Archie sengaja berdiam sejenak untuk melihat reaksi dari orang-orang yang mendengarnya. Berbagai reaksi Archie lihat, tetapi kebanyakan dari mereka terlihat kesal dan marah dengan apa yang menimpa kaum Hobbit di Auberbéliard.
Cukup puas Archie melihat reaksi mereka, lalu Archie kembali melanjutkan penjelasannya.
"Maka dari itu aku berniat membantu para Hobbit itu, tentu saja pertama-tama kita akan mendapatkan beberapa informasi terlebih dahulu tentang situasi di sana yang lebih lengkap
Untuk itulah, hari ini juga akan menjadi terbentuknya suatu Squad yang memiliki tugas sebagai pasukan pengintai dan melakukan misi-misi rahasia" setelah bicara, Archie mempersilahkan Diane untuk memperkenalkan Squad yang dimaksudkan itu.
Lalu beberapa orang beberapa orang memasuki ruangan rapat, mereka memakai setelan pakaian berwarna hitam gelap dengan lanbang segitiga dan tengkorak di bahu mereka. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Dark Elf seperti Nightborne dan Blood-Elf, tetapi ada juga dari manusia serta beberapa Elf biasa.
Lalu seseorang yang memiliki penampilan seperti seorang Ninja di juga terlihat di tengah-tengah barisan orang-orang yang berpakaian serba hitam itu. Sosok itu mengenakan topeng tengkorak yang merupakan item buatan Vonarlug. Saat ia melepaskan topeng itu, barulah wajah tampannya terlihat dan memancarkan aura yang indah, ia adalah Seth.
"Aku perkenalkan kepada kalian semua, satuan khusus untuk melakukan misi khusus. Mereka adalah Death Triangle!
Satuan ini akan dikomandoi oleh Seth yang akan memiliki tanggung jawab penuh, dan untuk misi pertama mereka kali ini adalah operasi penyelamatan kaum Hobbit dari kekejaman para bangsawan di Kekaisaran Suci Naga Merah" ucap Diane yang meresmikan satuan khusus Death Triangle alias Segitiga Kematian.
"Saya akan menyelesaikan misi-misi dan menanggung semua beban tanggung jawab itu, Ratu Diane!" ujar Seth sambil membungkuk rendah dihadapan sang Ratu Silverland.
Melihat momen peresmian itu, semua orang memberikan tepuk tangan yang meriah dan menantikan sepak terjangnya Death Triangle. Dengan hal itu juga maka Squad Death Triangle resmi beroperasi dan bersiap untuk memberikan teror kepada orang-orang yang mengancam Kedaulatan Negara Serikat Silverland.
...***...
Kota Auberbéliard, Kekaisaran Suci Naga Merah.
Ia sedikit tertawa membaca apa yang tertulis di buku itu, lalu ia pun menutup bukunya karena mulai merasa tulisan di buku itu hanyalah hal yang konyol. Matanya sedikit melirik ke balik jendela, nampak jelas pemandangan kebun teh dan yang lainnya yang sangat lebat dan sedang memasuki masa panennya.
Melihat hal itu membuatnya kembali tersenyum, namun kali ini senyumannya menandakan kepuasaan bukan untuk menghina, karena sebentar lagi ia akan bermandikan kekayaan sekali lagi.
Setelah itu barulah ia melirik ke arah para buruh yang sedang bekerja di kebunnya itu, dan pada saat itulah ia tersenyum namun untuk menghina mereka semua. Ia merasa memiliki derajat yang lebih tinggi dari mereka semua, dan ia akan membuktikan sekali lagi kepada orang-orang yang bertubuh pendek itu.
Berbeda dengan sosok bangsawan yang begitu tenang menikmati waktu menghinanya dengan meminum teh mewah, sosok buruh itu malah terlihat sangat lelah dan menderita.
Tubuh mereka yang pendek dan daya tahan tubuh mereka yang lemah terkesan dipaksakan untuk menguat karena tuntutan pemilik tanah, dan mereka semua hanya bisa pasrah menerimanya.
Sebenarnya jauh di dalam hati mereka, mereka ingin sekali melawan semua tindak ketidakadilan ini, namun mereka saat ini tidak punya apa-apa untuk melakukan hal sebesar pemberontakan. Jangankan untuk melakukan pemberontakan, saat mereka menolak untuk bekerja saja mereka akan dihukum dengan sangat berat bahkan banyak diantara mereka yang sudah menjadi korban.
Orang tua, dewasa hingga anak-anak kecil tidak lepas dari hukum rimba yang berlaku di tempat itu, dan setiap hari bagi mereka adalah neraka yang tiada akhir. Mereka bahkan menganggap mati lebih baik daripada hidup mereka sekarang ini.
Namun walaupun dengan kondisi yang sedemikian itu, ada satu orang yang masih memiliki api membara di sorot matanya. Ia tidak mau menyerah dan menerima nasib seperti ini, ia sadar betul betapa agungnya kaumnya dan ia tetap menyanjung tinggi nilai-nilai dari leluhurnya.
"Ingat saja! Suatu saat aku pasti akan pergi jauh meninggalkan tempat terkutuk ini!" sosok itu tiba-tiba berteriak.
Sontak semua orang mulai memperhatikan dirinya dan itu membuatnya malu dan mulai menundukkan wajahnya, ia sama sekali tak memperkirakan hal itu akan terjadi.
Hanya ada satu orang yang tidak melakukan hal itu, namun ia menertawakan perkataan sosok tadi dan membuat sosok itu malah tambah jengkel.
"Aku serius tau!" ujarnya lagi dengan wajah yang agak cemberut.
"Hahaha, maafkan aku. Tetapi candaan mu tadi cukup lucu Sancho Whitfoot" ujar sosok perempuan berwajah cantik yang sedang memetik daun teh berkualitas tinggi di samping sosok yang berteriak tadi.
Nama perempuan itu adalah Iliana Gardner, ia merupakan sosok cantik dan indah, setidaknya di mata Sancho Whitfoot. Rambutnya berwarna kemerahan, berwajah bulat sempurna dengan sedikit bintik di sekitar hidungnya, matanya indah berwarna merah, walaupun ia bekerja di kebun namun aura kecantikannya masih bisa terlihat.
"Jika kau ingin pergi dari sini, setidaknya selesaikan dulu pekerjaan mu ya Sancho!' ucap Iliana lalu ia kembali fokus untuk bekerja.
Kali ini wajah Sancho tambah merah, bukan karena malu karena perkataannya yang mengundang atensi sebelumnya, namun karena sikap perhatian Iliana yang semakin membuatnya terlihat cantik itu. Untuk menutupi rasa gugupnya itu, Sancho pun berpura-pura kembali kerja sambil sedikit melirik ke arah Iliana.
Di saat itulah Sancho menyadari hal yang aneh dari sosok Iliana. Wajahnya yang tadi terlihat tegar dan sehat, kini terlihat pucat pasi dan lesu diiringi batuk berkali-kali.
"Hei Iliana! Apa kau baik-baik saja?" tanya Sancho yang khawatir dengan keadaan Iliana itu.
"Aku baik-baik saja Sancho, aku hanya merasa sedikit pusing saja" balas Iliana.
Namun walaupun Iliana sudah berucap seperti itu, tetap saja Sancho khawatir.
"Kau yakin?" tanya Sancho sekali lagi.
Iliana mengangguk pelan sambil tersenyum, lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Sebelumnya pada akhirnya, Iliana tiba-tiba terjatuh saat hendak memetik daun teh.
Sancho langsung bergerak cepat ke arah Iliana, dan mencoba untuk menanyakan kondisi Iliana.
"Hei Iliana! Hei Iliana! Astaga suhu tubuhmu panas sekali!" Sancho berteriak-teriak gelisah.
Karena keributan yang dibuat oleh Sancho, para penjaga pun datang dan melihat apa yang sedang terjadi. Melihat kedatangan penjaga membuat Sancho sedikit tenang, namun perasaannya berubah saat melihat penjaga itu mulai mencambuk tubuh Iliana yang terjatuh ke tanah itu.
"Hoi! Apa yang kalian lakukan haaa? Iliana saat ini sedang sakit kau tahu!" ucap Sancho yang marah dan kesal, ia hendak memberikan satu pukulan ke penjaga itu.
Namun sang penjaga sudah tahu akan hal itu, sebelum Sancho melayangkan pukulan, si penjaga sudah lebih dulu memukul kepala Sancho dengan sebuah tongkat tangan dan membuat kesadaran Sancho mulai perlahan-lahan menghilang.
Dari balik matanya yang hampir kehilangan cahaya itu, ia melihat Iliana yang diseret oleh penjaga sambil dicambuk.
"I-i-liana!" ucap Sancho lirih sebelum akhirnya kesadarannya hilang sepenuhnya.