
Seorang perempuan muda, kelihatan lebih muda daripada Reina sedang menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Reina.
Sosok perempuan itu adalah adik Reina yang bernama Andini, dengan artian bahwa Andini juga adalah kakak dari Ikhsan.
Andini yang melihat kedatangan mobil milik Reina itu langsung berdiri tegap di depan rumah Ikhsan, saat Reina melihatnya, Andini langsung berlari dan menangis seperti sekarang ini. Kejadian itu membuat Mei Lianshi dan Zhao Yu sedikit keheranan, namun setelah Ikhsan jelaskan sedikit kepada mereka berdua akhirnya mereka bisa memahaminya.
"Jadi perempuan itu juga kakakmu rupanya"
"Ya seperti itulah, mohon maafkan kelakuan kami jika itu dirasa tidak pantas bagi kalian berdua" ujar Ikhsan yang merasa tidak enak dengan dua perempuan asal negeri Tirai Bambu.
Mei Lianshi langsung menggeleng pelan untuk menampik perkataan Ikhsan, ia sama sekali tidak terganggu dengan hal itu, bahkan ia merasa senang melihat keluarga Ikhsan yang terlihat ramai. Berbanding terbalik dengan dirinya yang hanya memiliki seorang ayah yang maniak bekerja.
Setelah Andini mulai tenang, Reina berjalan ke arah Ikhsan dan Mei yang berada beberapa langkah di belakangnya. Ia lalu menatap Ikhsan dengan tatapan yang sangat serius sampai membuat Ikhsan sedikit kebingungan, lalu Reina menatap ke arah Lianshi dan Yu secara bergantian sama seperti caranya menatap Ikhsan. Lalu Reina pun berkata.
"Kakak mau pulang dulu malam ini San. Kata Andini ada ayah di rumah kakak, jadi kakak harap kau tidak berbuat macam-macam!" ucap Reina mencoba memperingatkan adik kecilnya itu.
Mei Lianshi dan Zhao Yu langsung bersikap salah tingkah setelah mendengar ceramah singkat dari Reina. Berbeda dengan Ikhsan yang bahkan tak menjawab sama sekali, Ikhsan seakan tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Reina tadi.
Ekspresinya seketika berubah, Lianshi mengira Ikhsan menghiraukan kakaknya itu namun Reina langsung tersenyum ke arah Lianshi untuk mengisyaratkan kalau tidak terjadi apapun pada dirinya ataupun Ikhsan sendiri.
Tetapi Lianshi masih kebingungan dengan perubahan sikap Ikhsan yang seakan terjadi begitu saja, saat dari bandara sampai perjalanan kemari ia mengaggap Ikhsan sebagai orang yang asik dan baik walaupun ia terkesan tidak peduli.
Lalu Reina dan Andini pun pergi untuk pulang ke rumah mereka, sedangkan Ikhsan masih berdiri di sana beberapa saat sebelum akhirnya ia menghela nafas berat dan mencoba tersenyum ke arah Lianshi dan Yu.
"Ayo kita masuk, kalian pasti sudah lelah kan" ucap Ikhsan sambil tersenyum ke arah mereka berdua.
Lianshi melihat ada hal yang disembunyikan oleh Ikhsan dari senyumannya itu, namun ia tidak bertanya lebih jauh karena takut untuk menyinggung perasaan Ikhsan. Sehingga ia dan Yu mengekor Ikhsan dan masuk ke dalam rumah.
Seketika di dalam rumah, Lianshi sedikit tertegun dengan desain interior rumah Ikhsan. Ia bisa merasakan keindahannya, namun juga terasa cukup sederhana, memang benar seperti menggambarkan keindahan yang hakiki.
Lianshi memuji setinggi langit desain rumah minimalis Ikhsan. Ikhsan hanya tertawa menanggapinya lalu mulai mengarahkan mereka berdua ke kamar yang memang ditujukan oleh Ikhsan kalau ada tamu yang menginap di rumahnya.
"Mohon maaf sebelumnya kalau sedikit berantakan, nanti akan ku rapikan setelah memasak makan malam untuk kalian berdua" Ikhsan meminta maaf, karena ia baru ingat kalau beberapa hari ini, kamar itu dijadikan kamar oleh kakaknya yaitu Reina sehingga sedikit berantakan.
"Tidak perlu, biar aku saja yang merapikan kamarnya. Aku dan Yu bisa kok merapikan kamar. Lagipula kau benar-benar bisa memasak, Ikhsan?"
"Hahaha tidak juga, aku hanya bisa memasak air dan mie rebus saja" ucap Ikhsan setengah bercanda. "Kalau begitu sekali lagi aku minta maaf malah merepotkan kalian berdua"
Lalu Ikhsan turun ke bawah untuk pergi ke dapur, ia bermaksud ingin membuatkan makan malam untuk Lianshi dan Yu.
Dan pada saat Ikhsan turun ke bawah itu, Yu langsung menarik lengan Lianshi dan membisikkannya suatu mantra yang berhasil membuat wajah Lianshi menjadi semerah tomat.
"Apa yang barusan kau katakan Yu!" ucap Lianshi dengan wajah yang semerah tomat.
Zhao Yu menghela nafas. "Anda ini, apakah anda masih tidak mengerti dengan yang saya maksud nona muda? Maksud saya ini kesempatan anda untuk lebih dekat dengan laki-laki bernama Ikhsan itu, kalau saya lihat sepertinya dia sangat cocok dengan anda"
"A-aku tidak pernah memiliki maksud seperti itu Yu!" Lianshi menutup wajahnya karena sangat malu.
Zhao Yu hanya bisa menghela nafas sambil sedikit tersenyum, baru kali ini ia melihat nona mudanya itu bertingkah layaknya seorang perempuan seperti biasanya. Ia yakin sekali kalau nona mudanya itu memiliki sedikit rasa dengan sosok laki-laki itu, entah darimana tumbuhnya ia pun tak tahu.
Lalu sebagai langkah terakhir, Yu langsung mendorong si nona muda keluar dari kamar dan menutup kamar sehingga Lianshi tidak bisa masuk kembali ke dalam kamar.
"Biar saya saja yang membereskan kamar, nona muda bantu saja si Ikhsan dengan masakannya" ucap Yu dari balik kamar.
Lianshi hanya bisa pasrah, ia menuruni tangga dengan pelan dan pikiran yang kacau.
"Bicara memang mudah Yu, aku bahkan tidak bisa memasak sama sekali!" ucapnya dengan kesal dalam hati.
Memang benar Mei Lianshi tidak pernah sama sekali dalam hidupnya untuk memasak. Semua makanan yang ia santap sudah disiapkan sebelumnya oleh si pelayan setia, siapa lagi kalau bukan Zhao Yu. Jadi bagi dirinya, memasak adalah hal yang sangat asing.
Tetapi langkah pelan Lianshi membawanya ke arah dapur, di mana Ikhsan sedang asik dengan acara masak-memasaknya.
Lianshi tidak bersuara sama sekali, bahkan ia langsung terhenti di tempat begitu ia melihat bagaimana Ikhsan menikmati acara masak-memasaknya itu.
Harum rempah yang menyeruak, menyapa lubang hidung halus Lianshi membuatnya kembali melangkah pelan untuk melihat apa yang sedang di buat oleh Ikhsan.
Kedatangan Lianshi itu dapat dirasakan oleh Ikhsan, ia menoleh sejenak ke arah Lianshi sambil tersenyum manis, walaupun tangannya masih sibuk melempar-lempar nasi yang ada di atas wajan cekung.
"Kau bilang kau hanya bisa memasak air, yang aku lihat malah seperti seorang chef pinggir jalan yang sedang bermain dengan masakannya" ujar Lianshi setelah melihat atraksi yang ditunjukkan oleh Ikhsan.
Ikhsan hanya bisa tertawa sambil menggaruk kepalanya, ia masih sedikit sibuk melakukan pekerjaannya. Lalu Ikhsan menambahkan sedikit bumbu ke dalam masakannya, dan sedikit kecap. Beberapa menit kemudian hidangan itu jadi, dengan tampilan indah.
Ikhsan membuat nasi goreng dengan telur setengah matang di atasnya, melihatnya saja sudah bisa membuat Lianshi tidak sabar ingin mencicipinya. Sehingga Lianshi pun langsung bergerak cepat ke atas untuk memanggil Yu.
...****...
Setelah acara makan-makan, Ikhsan dan yang lainnya sedikit bersantai di meja makan. Mereka sedikit berbincang-bincang tentang kehidupan masing-masing, semua orang bercerita tanpa ada yang harus ditutupi.
Bahkan Ikhsan sendiri menceritakan kisah hidupnya saat awal kenal Calcalas Online sampai ia bermain Cyrus Online dengan keadaan yang sangat perlu uang saat itu.
Dari cerita Ikhsan itulah, Lianshi tahu akan apa yang terjadi dengan keluarganya. Dan alasan mengapa Ikhsan berubah sikap saat beberapa saat yang lalu, juga ia ketahui. Hubungannya dengan sosok ayah yang cukup kompleks membuatnya seperti ini, dan sebagai orang yang luar Lianshi pun tidak mau memberikan nasihat-nasihat yang terkesan menggurui pada sosok Ikhsan yang ia anggap sudah begitu baik bagi dirinya dan Yu.
Lianshi bahkan kagum dengan apa yang Ikhsan lakukan selama ini, walaupun ia seorang diri namun ia sama sekali tidak menyerah begitu saja. Perjuangan hidup yang seperti itulah yang tidak bisa dirasakan oleh sosok seperti Lianshi, namun setidaknya ia bisa mengerti bagaimana perasaan Ikhsan saat itu.
"Oh aku ingat, saat di bandara tadi kau sedikit menyinggung tentang Yu yang bermarga Zhao kan San?" Apa kau sedikit mengetahui sosok Yu sebelumnya?"
Pertanyaan dari Lianshi itu membingungkan semua pihak, Yu bahkan menatap nona mudanya itu sambil memiringkan kepalanya. Ia baru saja bertemu dengan Ikhsan jadi tidak mungkin ia tahu sebelumnya, dan juga Ikhsan.
Lalu Ikhsan berkata untuk meluruskan hal itu.
"Ah sebelumnya aku pernah kenal dan dekat dengan sosok laki-laki bernama Zhao. Ia mengenakan nama aslinya saat di Calcalas Online dan juga ia orang yang sama dari negara kalian.
Zhao menganggapku sebagai sosok saudara angkatnya, ia begitu ahli dalam bidang tombak. Lalu ia berhenti bermain Calcalas Online saat dirinya diterima masuk ke salah satu universitas terbaik di negeri kalian. Kalau tidak salah di Zhejiang University" Ikhsan bercerita panjang lebar.
Seakan kenal dengan sosok itu, Yu kembali bertanya pada Ikhsan mengenai sosok itu pada Ikhsan dan langsung saja Ikhsan jawab sesuai dengan apa yang ia ingat.
"Kalau tidak salah ia pernah bercerita punya adik perempuan kecil yang sangat imut, dia ingin sekali mengajaknya pergi ke Disneyland namun saat itu hujan dan terpaksa ia harus membatalkan rencananya itu.
Lalu sebagai gantinya ia membelikan adik perempuannya itu es krim vanilla yang banyak, sampai adiknya itu sakit keesokan harinya" sambil sedikit tertawa Ikhsan mengingat cerita itu.
Zhao Yu langsung terkejut, ia bahkan harus menutupi wajahnya karena saking terkejutnya. Lianshi pun kebingungan dengan sikap Yu, ia merasa khawatir kalau Yu merasakan hal-hal aneh pada dirinya.
"Itu kakakku" ucap Yu dengan sangat pelan
Ikhsan dan Lianshi keheranan, mereka tidak paham dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Yu dan menyuruhnya untuk bicara dengan suara yang cukup keras.
"Itu kakakku! Orang yang ada dicerita tadi adalah kakakku!" ucap Yu sekali lagi, kali ini dengan suara yang sangat nyaring.
Lianshi tidak menyangka akan hal itu, alisnya naik setengah derajat namun setelah melihat ekspresi kesungguhan dari wajah Yu membuatnya benar-benar yakin.
Sedangkan Ikhsan sendiri malah lebih ekstrim. Ia menatap wajah Yu dengan tatapan kosong, bagaikan ia bisa melihat kejadian masa lalunya dari balik bola mata indah yang dimiliki oleh Yu. Namun Ikhsan dengan cepat kembali tersadar, sambil menggeleng pelan.
"Pantas saja aku merasakan hal itu dari sosokmu itu"
Ucapan Ikhsan membuat Lianshi dan Yu kebingungan, namun Ikhsan tidak melanjutkan penjelasannya malahan menyuruh mereka berdua untuk segera tidur dan mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah cukup kelelahan itu.
Sedangkan Ikhsan sendiri langsung pergi ke kamarnya dan mengurung dirinya di dalan kamar, ia kembali memutar kenangan lama di kepalanya dengan sosok Zhao yang memang ia anggap sebagai saudara itu.