
Pagi datang mengintip langit di kota Banjarmasin. Suara indah kicauan burung bersahutan satu sama lain, hawa sejuk embun pagi menyapa tubuh orang-orang yang sudah mulai beraktivitas di pagi hari.
Walau sedang mengalami jet lag akibat perjalanannya, Mei Lianshi tetap terbangun setelah Zhao Yu membuka tirai dan membiarkan cahaya matahari masuk dan menusuk ke dalam kamar mereka berdua.
"Selamat pagi nona muda, bagaimana tidurmu apakah nyaman? Yu berujar saat melihat sosok Lianshi yang terbangun.
"Pagi Yu! Seperti biasanya"
Lianshi langsung beranjak dari tempat tidur, ia mengikuti bau sedap yang hinggap di lubang hidungnya. Melihat hal itu hanya bisa membuat Yu menggelengkan kepalanya dan tersenyum, ia melanjutkan tugasnya untuk merapikan tempat tidur.
Lianshi terus berjalan mengikuti aroma yang sangat sedap itu, ia tahu itu adalah aroma roti panggang dan aroma telur goreng yang menggugah selera makan di pagi hari.
Sampai pada akhirnya ia di dapur dan benar saja, sudah ada Ikhsan yang tengah menyiapkan sarapan untuk mereka semua.
Ikhsan membalikkan tubuhnya dan menemukan wajah cantik Lianshi yang masih terlihat kusut karena baru saja bangun tidur, lalu ia tersenyum sambil berkata. "Sebaiknya kau basuh wajahmu dulu sebelum menyantap sarapanmu. Tenang saja, tidak akan kehabisan kok"
"Siapa juga yang ingin makan masakanmu yang tidak enak itu, bweee!" Lianshi menjulurkan lidahnya karena kesal dengan Ikhsan, lalu ia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air dingin.
Ikhsan tersenyum saja, ia sama sekali tidak peduli dengan ucapan Lianshi. Ia hanya fokus menggoreng telur setengah matang dan sosis yang akan dijadikan isian roti panggang.
Tak beberapa lama setelah itu, Zhao Yu juga turun ke bawah. Ia menyapa Ikhsan yang sedang memasak bahkan memuji kemampuan memasak Ikhsan yang cukup bisa dikatakan ahli, apalagi masakan Ikhsan kemarin malam membuatnya teringat dengan masakan ibunya sendiri semasa kecilnya.
"Apa ada yang bisa aku bantu? Setidaknya izinkan aku membantumu, aku akan senang sekali jika kau mengizinkanku membantu mu" Yu memohon
Ikhsan tersenyum. "Kau boleh membantuku membawa makanan ini ke meja makan, aku yakin nona mudamu itu sudah kelaparan haha"
"Kau benar sekali!"
Ikhsan dan Yu tertawa bersamaan karena mereka sama-sama memikirkan hal yang sama, lalu Yu pun membantu Ikhsan membawa sarapan pagi mereka ke meja makan yang ada di ruang makan.
Mereka berdua masih tertawa sambil membawa roti isi itu, sampai pada akhirnya mereka di ruang makan. Di sana sudah ada Lianshi yang menunggu dengan wajah cemberut.
Hal yang membuat Lianshi berwajah seperti itu adalah karena Ikhsan dan Yu yang sedang asik tertawa itu, entah mengapa Lianshi seperti bisa mengetahui kalau dirinya lah yang sedang dijadikan bahan lelucon bagi mereka berdua.
"Sejak kapan kalian sedekat ini?" pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Lianshi, karena ia merasa kesal dengan sikap mereka berdua yang tiba-tiba sedekat itu.
Ikhsan dan Yu menanggapi dengan santai, mereka kembali tertawa karena kali ini mereka kembali sepemikiran dan membuat Lianshi semakin kesal tak karuan dengan mereka berdua.
...****...
Sehabis makan, raut wajah Lianshi masih belum berubah sama sekali. Walaupun perutnya sudah kenyang dan mulutnya merasakan kenikmatan yang tiada tara dari gurihnya telur setengah matang dan empuknya daging sosis bakar, Lianshi masih belum bisa menghilangkan rasa kesalnya pada Ikhsan.
Sebenarnya ia sama sekali tidak merasa kesal ataupun hal yang lain dengan sosok Ikhsan, ia hanya ingin minta perhatian dari sosok laki-laki berambut perak itu.
"Bagaimana rasanya? Apakah ada yang kurang atau apa?" Ikhsan membuka percakapan dengan menanyakan soal rasa masakannya.
Sekarang giliran Lianshi yang ditunggu komentarnya oleh Ikhsan dan juga Yu, namun karena ia yang sedang kesal akhirnya ia memberikan komentar terhadap masakan Ikhsan dengan wajah yang terkesan tidak peduli. "Ini tidak enak!" ucap Lianshi.
Seketika semua orang terdiam, terlebih lagi Zhao Yu yang langsung panik setengah mendengar hal itu keluar dari mulut nona mudanya. Yu langsung memohon maaf pada Ikhsan atas sikap nona mudanya itu, namun reaksi yang ditunjukkan oleh Ikhsan membuat kaget.
Bukannya marah, Ikhsan malah tertawa lepas sampai matanya tertutup. "Tidak apa-apa, aku bahkan merasakan hal yang sama dengan nona mudamu itu, aku rasa masakan ku kali ini kurang memuaskan dari segi penampilan ataupun rasa" ucapnya tanpa berkedip sama sekali.
Ikhsan pun membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke dapur untuk dicuci, cepat-cepat pula Yu mengikuti Ikhsan untuk membantunya, karena ia masih merasa bersalah atas kelakuan nona mudanya.
Dan di saat Lianshi sendirian dan tidak ada yang melihatnya, Lianshi memukul meja makan dengan cukup keras. Ia merasa kesal dengan sikapnya itu, padahal ia tidak bermaksud berkata seperti itu kepada Ikhsan.
"Aku bodoh bodoh bodoh! Kenapa aku tidak bisa jujur kalau rasa masakan itu sungguh enak!" batin Lianshi sambil mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa berkata jujur.
Setelah acara makan-makan, Ikhsan mengajak Lianshi dan Yu untuk pergi berkeliling kota Banjarmasin. Ia ingin mengenalkan kota Banjarmasin kepada mereka berdua, terlebih lagi saat ini mereka berdua akan tinggal di sini untuk waktu yang cukup lama.
Sebenarnya Yu sempat menolak ajakan Ikhsan karena ia tidak ingin menganggu kencan nona mudanya, namun Ikhsan yang sangat tidak peka itu malah mengatakan kalau Yu harus ikut bagaimanapun caranya.
Ikhsan beralasan kalau Yu harus ikut karena ia adalah pengawal pribadi Lianshi, jadi dirinya harus tahu tempat-tempat penting di kota ini agar dia tidak kesusahan saat merawat nona mudanya nanti. Alasan yang masuk akal memang, namun sepertinya Ikhsan terlalu banyak menggunakan akal logisnya, daripada perasaannya sehingga ia melupakan satu hal yang sangat penting.
Lianshi dan Yu tau, percuma untuk berdebat dengan sosok yang tidak pekaan itu. Akhirnya mereka berdua pun terpaksa menuruti apa yang Ikhsan katakan dan pergi bersama-sama.
Mereka bertiga naik sebuah bis wisata yang ada di kota Banjarmasin, dengan bis itu mereka akan berkeliling kota Banjarmasin dan menunjukkan apa saja yang ada di kota itu.
Tidak ada yang spesial di kota Banjarmasin, gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang ke langit? Ucapkan saja selamat tinggal dengan hal itu. Memang ada gedung tinggi di Banjarmasin, namun gedung itu tidaklah setinggi di ibukota Jakarta.
Banjarmasin bukanlah kota metropolitan seperti di Jakarta ataupun di Bandung, namun di kota ini tingkat polusi udara masih rendah sehingga rasa sejuk dan udara yang bersih adalah hal yang paling disyukuri oleh warganya.
Tingkat kemacetan pun tidak terlalu tinggi, walaupun ada beberapa titik kemacetan juga namun tidak separah di ibukota.
"Aku baru melihat ada 2 apartemen mewah di kota ini" Lianshi tiba-tiba berujar setelah melewati apartemen yang terlihat sangat mewah.
"Seperti itulah di sini, tidak banyak memang apartemen. Tidak seperti di ibu kota ataupun di kota-kota lainnya. Mungkin karena kurangnya lahan dan strategi pemetaan kota yang sudah kacau, sehingga sulit untuk membangun gedung-gedung bertingkat seperti itu" ujar Ikhsan mencoba menjelaskan keadaan kota Banjarmasin kepada dua orang asing itu. "Mohon maaf sebelumnya jika kota ini kurang spesial bagi kalian"
"Jangan minta maaf, untuk apa kau melakukan itu. Banyaknya gedung-gedung tinggi juga belum menjadi jaminan kalau masyarakatnya bisa hidup sejahtera dan bahagia. Walaupun kota ini bukan metropolitan, tetapi aku sudah jatuh cinta dengan keindahan sungai-sungai yang membelah kota ini. Aku jadi teringat Thousand River City di Re-Estize Kingdom"
Sebelum membalas perkataan dari Lianshi, Ikhsan sedikit tertawa dan tersenyum.
"Entah kebetulan atau tidak, julukan kota ini adalah Kota Seribu Sungai atau Thousand River City. Sama seperti yang ada di Cyrus Online"
"Mungkin ayahku pernah pergi kesini dan jatuh cinta dengan kota ini, lalu ia buat kota itu seperti halnya Banjarmasin!"
Setelah itu mereka bertiga saling tertawa sambil terus mengikuti kemana bis wisata itu akan membawa mereka bertiga.