
Di ruangan singgasana sang Kaisar Naga Merah Suci, saat ini sedang terjadi sebuah peristiwa penting yang akan mempengaruhi Kekaisaran ini.
Para Kasim kaisar berkumpul mengelilingi ruangan singgasana dengan tatapan tegang, menatap ke arah sang Kaisar di depan mereka yang ditemani oleh Perdana Menteri setianya yang berdiri di samping kanan singgasana sang Kaisar.
Tatapannya seolah merendahkan semua pejabat yang ada, bagi dirinya tidak ada hal yang paling utama selain menguasai Kekaisaran ini, dengan memanfaatkan si Kaisar boneka itu maka kekaisaran ini sudah berada di genggaman tangannya.
Namun si Perdana Menteri juga tidak bisa mengabaikan beberapa hal yang terjadi di kekaisaran saat ini, ia merasa seolah ada sekumpulan orang yang sedang mengusik periuk makannya, tentu saja ini tidak bisa ia biarkan begitu saja.
Begitulah yang ada di pikiran sang Perdana Menteri yang bernama Fernandez Saenz de la Torre, atau yang lebih dikenal dengan nama Saint Torre.
Mengapa ia bisa mendapatkan gelar Saint? Karena ia adalah sosok yang paling dihormati dan dikagumi oleh rakyat Kekaisaran Suci Naga Merah, dan ia juga adalah seorang pemimpin agama yang dianut banyak masyarakat Kekaisaran, yaitu Children of Appostes yang menyembah Dewi Appostes.
Karena itulah Saint Torre mendapatkan gelar Saint atau Santo, atau orang-orang juga memanggilnya dengan Kardinal. Karena reputasi baiknya di mata publik itu ia pun diangkat menjadi salah satu orang paling penting di kekaisaran dan banyak hukum-hukum negara berlandaskan pada ajaran Children of Appostes karena Saint Torre.
Saint Torre masih memandangi para kasim dengan tatapan rendah, sambil sedikit memainkan janggutnya yang panjang ia memukul meja panjang yang ada di hadapannya dengan menggunakan palu kecil, membuat semua orang langsung tertuju ke arahnya dan menghentikan semua aktivitas mereka.
"Kalian semua! Di mana rasa hormat kalian dengan Sang Kaisar Naga Suci, Ferdinandz III yang Agung!" ujar Saint Torre dengan suara yang menggelegar, bagaikan suara seorang panglima yang sedang memberikan pidato kepada seluruh pasukannya.
Lantas semua Kasim istana dan para menteri lainnya langsung bersujud di hadapan Sang Kaisar Agung, si Ferdinandz ke-III.
"Angkat kepala kalian!" suara sang kaisar membuat mereka mengangkat kepala mereka dan memandangi sang kaisar dengan tatapan penuh arti.
Saint Torre tersenyum melihatnya, lalu ia kembali dengan pertanyaan yang mendasari pertemuan yang terjadi hari ini.
"Jadi sebenarnya ada apa sehingga kalian semua berkumpul di sini dan memohon pendapat Sang Kaisar Agung?"
Para Kasim dan Menteri serta Adipati yang ada di istana kaisar saling menatap satu sama lain sebelum menjawab pertanyaan dari Saint Torre, setelah dirasa yakin majulah seorang Menteri yang sudah mengabdi cukup lama pada kekaisaran untuk menyampaikan hal-hal yang sedang terjadi di kekaisaran dan berpotensi untuk menjadi suatu kekacauan.
"Yang Mulia! Saat ini sedang terjadi beberapa pergolakan kecil di berbagai wilayah di Kekaisaran. Pergolakan itu juga terjadi di ibukota, sehingga kami semua khawatir pergelokan kecil ini akan berakhir buruk jika tidak ditangani segera!"
Menteri yang lain ikut menambahkan. "Hal ini juga diperparah oleh kegagalan tentara kita dalam merebut wilayah Kekaisaran Naga Putih, berkat itu banyak sekali pergolakan terjadi di wilayah-wilayah pinggiran kekaisaran. Untungnya, tentara kita masih sanggup untuk menstabilkan beberapa wilayah tadi namun berbeda cerita jika hal ini terjadi di ibukota kekaisaran Yang Mulia!"
Walaupun para kasim, adipati dan menteri itu banyak yang korup, namun bukan berarti mereka tidak peduli dengan negara mereka sendiri. Hal ini juga dikarenakan rasa tamak dan kerakusan mereka sendiri, jika negara yang selalu bisa mereka peras setiap hari, bulan dan tahun tidak stabil bahkan berpotensi hancur begitu saja karena ketidakmampuan seorang pemimpin negara, dari mana lagi mereka bisa mendapatkan begitu banyak keuntungan yang bisa mengenyangkan perut mereka semua hingga tujuh turunan itu?
Namun meskipun sudah dijelaskan dengan detil dan rinci oleh para menteri, kasim dan adipati. Sang Kaisar Agung masih terlihat tidak tertarik, atau bahkan tidak peduli dengan semua laporan itu.
Bagi dirinya yang baru saja berusia 14 tahun itu, sosok kaisar adalah sosok yang memiliki segala hal yang ada di dunia ini. Jika ia ingin Apel emas yang ada di taman Eden, ia akan menyuruh semua pasukannya untuk membawakan apel emas itu entah bagaimanapun caranya, bahkan harus mati tujuh kali pun dia tak peduli selama apel emas itu ada di tangannya.
Karena pemikiran sempit nan bodoh itulah ia tidak peduli dengan semua percakapan yang ia anggap omong kosong itu. Ia menganggap bukankah semua orang yang ada di depannya saat ini begitu bodoh sampai mereka semua bisa dipusingkan dengan masalah sepele seperti itu.
"Itu urusan kalian semua, itu bukan urusanku! Bukannya kalian semua mendapatkan harta yang banyak karena Kekaisaran ini? Jadi buktikan lah kalau kalian itu masih layak ada di sini atau tidak kepala kalian yang akan ku penggal dan kujadikan hiasan di depan pintu masuk istana" ucap si Kaisar dengan perasaan yang bisa dibilang sedikit kesal dengan ulah mereka semua.
"Tetapi Yang Mulia! Jika dibiarkan terus begini bisa-bisa Kekaisaran akan runtuh dan hancur!"
"Aku tidak peduli! Oh iya, menteri strategi dan taktik. Kau berjanji padaku akan menghadiahkan kepada ku tanah yang ada di Kekaisaran Naga Putih kan? Tetapi sudah hampir 1 tahun mengapa kau masih belum bisa menaklukkannya?"
"Itu semua karena orang-orang bodoh itu terlalu gigih Yang Mulia! Berikan hamba sedikit waktu lagi dan hamba janji akan memberikan Yang Mulia kemenangan yang pasti!" ujar si menteri strategi dan taktik dengan tenang, namun sebenarnya ia sudah gugup setengah mati setelah diingatkan tentang janji itu tadi.
"Aku menantikannya! Kalau selama satu tahun tidak ada kemajuan, siap-siap saja kepalamu yang akan ku penggal!" balas si kaisar. "Pengawal! bawakan aku anggur dan minuman segar terbaik di istana, semua omong kosong ini sulit untuk ku telan"
Si kaisar, Ferdinandz III pun pergi meninggalkan tempat itu untuk kembali ke kamarnya dan bermalas-malasan ria, semuanya akan ia serahkan sisanya pada sang Kardinal Saint Torre yang sangat ia percayai itu.
Saint Torre pun kembali tersenyum melihat semua hal yang terjadi tadi, bahkan ia sempat tertawa melihat kebodohan orang-orang yang merasa lebih tinggi daripada dirinya itu. Enggan sebenarnya ia menolong mereka, namun jika dibiarkan maka ia juga akan kehilangan keuntungan yang cukup besar.
Saint Torre masih menganggap hal ini hanyalah hal kecil dan tidak perlu terlalu dipikirkan, namun tidak salahnya juga untuk mengambil tindakan yang perlu dilakukan.
"Baiklah jika memang hal itu yang kalian khawatirkan, maka perintahkan kepada prajurit yang ada di ibukota untuk mengawasi orang-orang dari kota bawah.
Semua hal boleh kalian lakukan pada orang-orang tidak tahu diri dan tidak beragama itu, anggap mereka semua musuh utama yang harus kita lawan! Semoga Dewi Appostes selalu memberikan keberkahannya kepada kita semua!" ucap Saint Torre, lalu diamini oleh semua orang yang ada.
Mereka semua lalu mulai bergerak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Saint Torre tadi, dan di mata mereka sosok Saint Torre benar-benar sosok Saint yang bisa menyelematkan Kekaisaran Suci ini.
Semakin tertawa lepas lah Saint Torre ketika semua orang sudah pergi dari situ, ia tidak sanggup lagi menahan dirinya untuk tidak tertawa melihat semua kebodohan itu.
"Bodoh...bodoh...bodoh! Semoga Dewi Appostes selalu menjaga kebodohan kalian semua, jadi aku akan dengan mudah mengendalikan kalian semua layaknya boneka hahahaha"
Dengan perasaan senang yang mendalam, Saint Torre meminum anggur merah berkualitas tinggi dan mewah yang ia miliki sambil memikirkan hal-hal yang harus ia lakukan selanjutnya.