
Malam hari datang begitu saja tanpa peduli dengan pendapat orang-orang yang hidup di desa Spezia. Suasana sore yang masih ramai langsung berganti sunyi dan senyap, bagai sedang berdiri di tengah-tengah pemakaman gelap.
Ashiya, sang putri kerajaan Narannas yang mengikuti petualangan dan perjalanan Archie, kini dibuat gelisah oleh suatu hal.
Saat ini, Ashiya sedang duduk di ujung kamar yang ia pesan dengan Archie sore tadi. Dia tidak bisa duduk tenang atau bahkan menikmati indahnya pemandangan sore hari tadi di Spezia, ia saat ini tengah mencemaskan sosok Archie yang sedang termenung di sudut ruangan dengan tatapan dan ekspresi yang begitu kosong.
Sebelumnya dirinya sudah mendapat pesan dari Archie soal hal ini, kata Archie ia akan kembali ke dunianya untuk sementara waktu dan hal itu membuat Ashiya khawatir karena sampai saat ini Archie masih belum kembali juga.
Melihat tubuh Archie yang kaku dan memiliki tatapan kosong melompong itu membuat Ashiya takut, namun untuk beberapa saat akhirnya ia pun kembali lega setelah ia melihat cahaya kehidupan yang melingkupi Archie.
Baru setengah terbuka mata Archie, tubuhnya sudah terasa berat bagai diterjang oleh pemain rugby yang menghalau dirinya untuk mencetak angka. Di dapatinya, sosok Ashiya yang tengah memeluk erat tubuhnya itu. Pelukan itu bukanlah pelukan rasa sayang, namun Archie merasa lebih ke perasaan lega saat melihat teman seperjuangan yang kembali dengan selamat.
"Sepertinya aku membuatmu terlalu khawatir ya" ucap Archie lirih sambil memainkan rambut indah sang putri yang masih mendekap tubuh Archie entah sampai kapan.
Dengan cepat bibir kecil Ashiya menepis ucapan Archie tadi. "Tentu saja!" marah bercampur dengan lega suaranya. "Ku pikir kau tak akan kembali lagi, lain kali jika kau ingin kembali ke dunia asalmu ajak aku juga.
Wajah Archie jadi sulit untuk dijelaskan setelah mendengar ucapan Ashiya, bukan dalam konotasi yang jelek namun lebih kebingungan yang melanda Archie, harus bagaimana ia menjawab ucapan Ashiya tadi.
Mereka berdua makhluk yang berbeda sejak awal, bukan hanya ras saja namun juga entitas pun berbeda. Jika Archie adalah manusia yang memiliki akal budi luhur yang tercipta atas kejadian sebab akibat yang melibatkan Tuhan, Ashiya sendiri adalah makhluk tiruan manusia yang terdiri dari rangkaian angka dan data serta perintah rumit yang diciptakan oleh seseorang. Perbedaan itu jelas terlalu lebar.
Archie ingin menjelaskannya secara panjang lebar seperti itu jelas tidak akan dimengerti oleh Ashiya, akhirnya ia pun hanya bisa terdiam dalam senyuman mengambang setengah sadar di mulutnya.
Masih larut dalam kesunyian, tiba-tiba saja Archie bisa mendengar suara yang aneh dari arah luar penginapan mereka. Archie sudah mengira akan terjadi hal ini, ia pun menatap mata Ashiya dengan mantap dan dibalas oleh tatapan mantap pula oleh perempuan itu, seakan ia sudah tahu apa yang dimaksud oleh Archie.
Ashiya dan Archie langsung bergerak ke sudut-sudut ruangan, mencoba bersiap akan hal paling terburuk yang akan terjadi nanti. Persiapan melakukan ini juga lah alasan mengapa Archie sempat kembali ke dunia asalnya, ia ingin mencari tahu apakah kegelisahannya itu benar adanya atau hanya sekadar pemikiran berlebihnya saja.
Suara langkah kaki berat semakin terdengar jelas di telinga mereka berdua, apalagi telinga Ashiya yang merupakan sosok Elf yang memiliki tingkat kepekaan lebih tinggi dari manusia biasa seperti Archie. Ashiya bersiap dengan panah miliknya dan membidik ke arah pintu masuk sesuai dengan yang diperintahkan Archie, sedangkan Archie bersiap untuk membuka pintu dan menyerang setelah Ashiya mendaratkan anak panah itu entah tepat mengenai dada musuhnya nanti.
Srashhh….
Pintu yang ingin dibuka oleh Archie tadi langsung hancur setelah terkena sebuah sayatan dari kuku-kuku yang tajamnya bukan main, kuku itu bagaikan kuku beruang yang bersiap untuk menyerang musuhnya. Akibat hal itu Archie sedikit terkejut dan kehilangan keseimbangannya, namun untungnya ia berhasil menghindari sayatan kuku itu.
"Lieve!" Ashiya berteriak cemas melihat Archie.
"Jangan pikirkan aku, tembak saja makhluk itu!" Archie balas berteriak.
Ashiya langsung ingat dengan tugasnya, ia kembali meluruskan tubuhnya dan mendapatkan ketenangan. Ia melihat ada sosok hitam dengan kuku panjang dari balik pintu yang sudah koyak karena cakaran. Tanpa takut setelah melihat sosok hitam yang mengerikan itu, Ashiya melepaskan anak panahnya yang melesat cepat dan benar-benar tepat mengenai dada dari sosok hitam itu.
Sosok itu meraung kesakitan karena panah Ashiya, sosok itu tidak memperhitungkan hal itu sebelumnya. Archie melihat kesempatan dan tidak akan melepaskannya begitu saja, ia langsung mendobrak pintu dan melompat sambil menghunuskan pedangnya ke sosok itu.
Archie mengarahkan pedangnya ke arah dada dari sosok monster yang terlihat seperti harimau berwarna hitam dengan kuku yang sangat panjang dan terlihat seperti manusia karena mempunyai dua pasang kaki dan dua pasang tangan.
Archie yang menusuk dada sosok monster itu merasa heran sambil kebingungan dengan sosok itu, sistem Cyrus Online memberitahukannya kalau makhluk itu adalah Dragulin namun ia masih bingung dengannya.
[Dragulin]
[Level: 80+]
"Sebenarnya makhluk apa Dragulin ini? Apakah orang-orang di desa ini punya kemampuan supernatural untuk merubah diri menjadi binatang buas seperti ini?" Archie bertanya pada dirinya sendiri sambil terus menusukkan pedangnya ke dada dari dragulin yang sudah jatuh itu.
Suara lolongan kesakitan Dragulin itu diabaikan saja oleh Archie, malah semakin Dragulin itu meraung keras karena kesakitan akibat tusukan itu Archie akan semakin dalam menancapkan pedangnya sampai akhirnya Dragulin itu terkulai lemas namun masih jauh dari kata terbunuh oleh apa yang dilakukan oleh Archie tadi.
"Apakah makhluk itu sudah mati Archie?" ujar Ashiya memastikan keadaan monster itu.
"Tidak" jawab Archie singkat. "Makhluk ini belum mati, aku takut jika perkiraan ku benar"
"Tentang apa?"
"Makhluk ini, sepertinya warga desa sini yang punya kemampuan untuk berubah wujud menjadi makhluk buas pada saat malam bulan penuh"
"Malam bulan penuh?" tanya Ashiya penuh keheranan, lalu ia menatap bulan lewat jendela penginapan dan benar saja malam itu sedang bulan penuh.
Ashiya lalu teringat tentang makhluk yang hanya muncul saat bulan penuh atau bulan purnama, dan biasanya orang yang memiliki kekuatan itu adalah manusia biasa. "Maksudmu werewolf kah Archie?" Ashiya langsung berceletuk.
Ashiya menganggukkan kepalanya dengan cepat, lalu mereka berdua pun bergerak dengan cepat untuk pergi dari tempat itu secepatnya.
Selama pelarian mereka, Archie dan Ashiya terus menerus bertarung dengan para Dragulin itu. Macam-macam makhluk yang Archie lihat, mulai dari harimau, beruang, singa atau binatang buas lainnya.
Karena banyaknya musuh dan situasi yang kurang menguntungkan bagi mereka berdua, Ashiya dan Archie pun kesusahan menghadapi mereka semua. Ashiya hampir mencapai batasnya, sedangkan Archie semakin kesusahan karena harus melindungi putri kerajaan itu.
"Maafkan aku Lieve, aku malah menjadi beban untukmu" ucap Ashiya dengan penyesalan yang dalam.
"Tidak perlu minta maaf! Pokoknya aku akan berusaha menyelamatkan dirimu dari sini dengan aman.
Walaupun sudah berlagak hebat bagaikan kesatria, nyatanya Archie sendiri sudah terpojok dan sudah kehabisan cara untuk selamat dari situasi seperti ini. Tidak ada cara lagi terpikir oleh Archie untuk lepas dari situasi ini, hanya ada satu cara namun cukup berbahaya bagi dirinya dan juga Ashiya. Hanya itu yang paling bisa menyelamatkan mereka berdua, walaupun banyak resikonya.
"Ashiya!" Archie berteriak sangat kencang yang membuat semua mata tertuju padanya, bukan hanya Ashiya saja yang teralihkan pandangannya.
Ashiya yang sedang kesusahan memanah para kawanan Dragulin itu langsung menoleh kebelakang saat mendengar Archie meneriakkan namanya, ia bisa melihat dalam mata Archie tentang ketulusan dan pengorbanan. Akhirnya Ashiya pun mulai memikirkan hal-hal buruk yang akan dilakukan oleh Archie.
Ashiya langsung berlari cepat kembali ke arah Archie, namun sepertinya dirinya terlambat melakukan hal itu karena Archie sudah bersiap untuk melakukan langkah terakhirnya.
"Archie lieve! Jangan lakukan itu aku mohon!" tetapi nampaknya Archie tidak mendengarkan perkataan ini.
Archie mengangkat pedang yang memiliki aura hitam pekat dan penuh hal negatif itu. Perlahan-lahan tubuhnya mulai terbungkus oleh aura hitam pekat yang menyelubungi pedangnya tadi, sebelum sampai semuanya menyelubungi dirinya Archie pun berujar pada Ashiya yang berlari ke arahnya itu. "Tolong hentikan aku jika aku pergi terlalu jauh!" ucap Archie dengan senyuman.
Ashiya mulai tak karuan, ia berteriak-teriak untuk menghentikan Archie namun tidak juga sampai suaranya. Rasa frustasi mulai memenuhi dadanya, rasanya begitu sesak sekali dan membuatnya mulai ingin menyerah saja.
"Taka! Tolong mereka berdua" suara merdu nan indah bagai suara bidadari tiba-tiba terdengar di daun telinga Archie dan Ashiya.
Mereka berdua yang tadi sudah diujung batas mereka tiba-tiba terkejut dan melupakan hal yang mereka lakukan untuk beberapa saat, mereka melihat ada beberapa ekor elang yang terbang melintasi mereka berdua dengan cepat dan menyerang para Dragulin itu.
Lalu sosok bidadari itu muncul dihadapan Archie dan juga Ashiya, sosok indahnya seperti bersaing dengan indahnya bulan purnama saat malam itu.
Archie bahkan mengira perempuan itu adalah jelmaan dari putri bulan yang datang menyelamatkan dirinya, namun bayangannya tadi langsung buyar setelah ia melihat ada sesosok perempuan lagi yang datang bersama dengan sosok bidadari tadi.
Jika orang yang menyelamatkan dirinya tadi Archie anggap sebagai sosok bidadari, sosok yang satunya lagi berlainan dengan anggapan yang sebelumnya. Sosok itu malah lebih mirip sebagai iblis penggoda alias succubus karena pakaian terbuka yang menonjolkan aset miliknya itu, serta perawakannya yang mirip gitar Spanyol.
"Kalian berdua tidak baik-baik saja?" ujar sosok yang mirip bidadari, ia menatap sosok Archie penuh selidik karena pernah merasa bertemu dengan sosok itu sebelumnya.
"Misphita mengapa kalian menganggu kami lagi, mereka berdua adalah mangsa kami!" ucap Alger si kepala desa Spezia yang juga Dragulin berbentuk singa hitam dengan penuh luka.
"Kau pikir aku bodoh? Anak buahmu dengan berani melanggar perjanjian kita dan aku harus memberikannya pelajaran karena sudah berani mengacau di kediaman ku" balas si sosok iblis penggoda yang ternyata bernama Misphita.
Alger yang merupakan pemimpin dari kelompok Dragulin itu membuat wajah sulit, rencananya untuk melenyapkan para kutu yang ada di desanya mulai kacau dan gagal.
Alger langsung menyuruh para Dragulin untuk kembali bersiap menyerang mereka semua, ia sudah tidak peduli lagi dengan perjanjian atau rencana dirinya sebelumnya. Yang jelas di matanya saat ini, ia ingin sekali membunuh dan memangsa wanita yang selalu membuatnya kesal itu.
Melihat hal itu, Misphita pun ikut bersiap dan menyuruh sosok gadis bidadari tadi untuk ikut bersiap. "Momo bersiaplah untuk menyerang"
"Siap guru!" ujar gadis yang bernama Momo tadi. Ia lalu memanggil elang dan harimau dari ketiadaan, itulah kekuatannya yaitu seorang Summoner.
Archie yang sedari tadi terdiam mencoba memahami semua hal yang terjadi tiba-tiba mulai terkejut. Ia mulai ingat kalau dirinya pernah bertemu dengan sosok perempuan yang mirip seperti bidadari itu di suatu tempat, namun bukan di Cyrus Online melainkan di dunia nyata.
Sosok itu begitu ia kenal, sosok yang hadir di dalam hidupnya dengan ketidaksengajaan. Sosok perempuan yang mencoba menaklukkan dunia dengan tangannya sendiri, namun ia sendiri canggung bukan main saat harus berinteraksi dengan orang lain.
Lalu mulut Archie tiba-tiba bergetar sendirinya dan mengucapkan nama perempuan itu, bukan nama di Cyrus Online melainkan nama di dunia nyata.
"Monica!" ucap Archie seakan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat tadi.
Sosok perempuan yang seperti bidadari itu tadi pun bereaksi, ia heran dengan sosok berambut putih perak yang memanggil nama aslinya itu. Ia pikir dari mana pria itu tahu namanya bahkan ini baru pertemuan pertama mereka, akan tetapi Momo mulai ingat saat melihat rambut putih perak yang mengingatkannya pada seseorang.
"Ikhsan!" ucap Momo terkejut sambil memandang tidak percaya pada sosok berambut putih perak itu.
Pertemuan mereka memang singkat, namun terasa begitu lama bagi mereka berdua. Dunia seakan terhenti saat mereka saling menyadari jati diri mereka, bahka para Dragulin yang hendak menyerang itu pun mereka hiraukan hanya karena perasaan senang setelah mereka berdua bertemu.