
Setelah Archie dan Dragulin mencapai kata sepakat, Archie pun mulai sedikit tenang karena sudah tidak berurusan dengan kaum pemangsa manusia itu. Tetapi Archie tidak mengendurkan pengamatannya sama sekali, ia masih memiliki beberapa rencana dalam pikirannya jika suatu saat kaum Dragulin akan berpaling arah dan memusuhinya.
Maka dari itu, ia sudah mengamankan satu orang sosok penting dari kaum Dragulin, yaitu Ruksel sang pembantai.
Julukan itu tak main-main melekat begitu saja di nama Ruksel, ia mendapatkan julukan itu karena suatu hal di masa lalu yang membuatnya dikenal dengan sebutan itu. Tidak banyak orang yang tahu pasti seperti apa kejadiannya, hanya segelintir orang saja yang melihat langsung bagaimana buasnya Ruksel saat dulu.
Salah satu orang yang pernah melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri adalah si kepala desa Alger, bahkan saat mengingat hal itu alisnya langsung berdenyut, nafasnya tak karuan, dan bulir-bulir keringat berjatuhan dengan cepat bagai air terjun yang terhempas ke bawah.
Bahkan saat Misphita mencoba untuk meminta Alger agar menceritakan hal itu ia sama sekali tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya terdiam dalam sepi sambil membuang muka agar Misphita tidak melihat betapa suramnya ekspresi wajahnya saat itu.
Dan, hal itu adalah berita bagus untuk Archie. Karena ia merasa sudah memilih mitra yang tepat, ia tidak peduli akan masa lalu Ruksel yang suram atau sehitam tinta itu. Yang ia pedulikan adalah hanya satu, yaitu membawa keamanan untuk dirinya.
Saat ini mereka berada di balai desa Spezia, tempat yang paling luas yang ada di desa itu. Archie sengaja mengumpulkan para warga desa untuk berbaur dan mengambil hati para warga desa. Archie membuatkan makanan untuk seluruh warga desa dengan bahan dasar daging, suatu hal yang begitu disukai Drag Ulin apalagi daging manusia.
Selain memasak, Archie juga memberikan pengobatan untuk Drag Ulin yang terluka saat pertempuran kecil tadi. Cukup besar pengeluaran yang Archie keluarkan untuk acara seperti ini jika dihitung-hitung secara matematika, namun Archie juga memikirkan timbal balik yang akan dirinya terima jika rencananya ini berjalan mulus.
Keluar uang 10-100 gold bukanlah masalah bagi Archie, ia yakin jika ada daun gugur satu maka akan tumbuh sepuluh ribu nantinya.
Dan sepertinya langkah pertamanya bisa dibilang sukses, banyak warga desa yang mulai membuka dirinya pada Archie setelah dirinya menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap mereka. Banyak anak-anak kecil yang mulai mengerumuni dirinya terlepas dari sifatnya yang bisa dibilang tidak suka dengan anak kecil, selain anak kecil gadis-gadis desa juga mulai berdatangan. Mereka terbuai dengan keahlian Archie dalam memasak, ini menjadi harta karun bagi mereka dan mereka ingin dekat dengan Archie agar mereka bisa melakukan hal yang serupa dengan Archie pada saat mereka jadi seorang ibu rumah tangga nanti.
Dan seperti biasanya, sang pahlawan kesiangan ini selalu terjebak kesulitan dalam rencana yang ia buat sendiri. Ia melirik ke arah Momo-chan dan juga Ashiya yang saat ini sedang asik makan untuk membantu dirinya keluar dari situasi ini, namun mereka berdua memalingkan wajah dengan serentak, mereka berdua tidak peduli pada nasib Samurai berambut putih perak itu.
"Hmphhh" Ashiya menghela nafas cukup panjang. "Selalu saja dia seperti ini!" Wajahnya cemberut, namun malah membuat dirinya terlihat semakin manis.
"Kau kenapa tuan putri? Apa kau sedang dilanda masalah yang pelik sampai kau menghela nafas seperti itu" tanya Momo-chan yang sedari tadi memperhatikan sosok tuan putri di samping dirinya itu.
"Ah tidak!" Ashiya langsung mengelak. "Tolong jangan panggil aku tuan putri jika kita lagi bersantai seperti ini, panggil saja aku Ashiya, sama seperti lieve memanggilku"
Momo-chan coba mengikuti arah lirikan bola mata indah Ashiya untuk mencari tahu sebenarnya apa yang membuat gadis cantik itu sedih, di dapatinya sosok Archie yang sedang dikelilingi para gadis dan ibu-ibu rumah tangga desa Spezia. Momo-chan mulai paham apa yang dirasakan oleh gadis itu, dan ia mulai mencoba untuk menghiburnya dengan sedikit candaan.
"Jika kau sedemikian khawatirnya dengan sosok laki-laki itu, pergilah ke sana dan katakan kalau kau seorang putri kerajaan besar dan laki-laki itu adalah tunanganmu! Pastilah mereka akan mulai pergi dan berhenti membuat lingkaran seperti itu" ujar Momo-chan sambil tersenyum licik.
"Tunangan? Apa maksudmu berkata seperti itu? Tentu saja kami bukan tunangan!" Ashiya tiba-tiba panik setelah mendengar perkataan Momo-chan.
Momo-chan tersenyum lebih lebar, ia memang mengharapkan eksepsi itu keluar dari sosok si tuan putri. Ia tidak akan bisa berbicara lagi jika saja Ashiya hanya diam sambil memandangi Archie dari kejauhan, namun umpan sudah diamankan, saatnya mulai menarik joran dan menangkap ikan yang bodoh yang telah terpengaruh oleh umpan itu.
Dengan senyuman yang lebih lebar dan lebih mengerikan, Momo-chan kembali berkata. "Oh benarkah? Tapi mengapa kau selalu memanggil Archie dengan panggilan sayang?"
Seketika, Ashiya terdiam. Otaknya seperti tidak bisa memproses apa-apa lagi, sebuah rahasia yang hanya ia ketahui bisa dengan mudah di temukan oleh orang yang bahkan baru saja ja temui. Ashiya menatap wajah mengesalkan Momo-chan, dirinya akui Momo itu cantik bahkan hampir setara dengan dirinya, namun ia merasa tidak ingin kalah dengan sosok perempuan itu. Ia kembali bersifat tenang, ia yakin Momo-chan hanya bermain-main saja dengan dirinya, tebakannya tadi juga ia anggap hanya kebetulan saja dan memang seharusnya begitu.
"Panggilan sayang? Apa kau sudah mabuk, aku memang menghormati sosok Archie yang merupakan pahlawan di kerajaan kami, makanya aku memberikan sedikit perlakuan khusus padanya. Aku memanggilnya lieve atau sang pahlawan dalam bahasa Elf kuno!" Ucap Ashiya yang tidak ingin kalah dari Momo-chan
Tentu saja apa yang diucapkan oleh Ashiya tadi hanyalah khayalan dirinya belaka, ia hanya ingin Momo-chan tidak tahu apa alasannya sebenarnya dirinya jadi seperti itu. Namun sepertinya Ashiya salah memilih lawan, Momo-chan yang mendengar semua omong kosong itu hanya berekspresi datar, sama sekali tidak percaya satu kata pun yang keluar dari mulut Ashiya.
Momo-chan kembali berujar. "Kau pikir aku bodoh wahai tuan putri yang paling terhormat! Asal kau tahu saja, aku juga seorang Elf sama seperti dirimu jadi kau kira aku tidak tahu arti kata lieve yang sebenarnya! Hohoho aku penasaran bagaimana jika Archie tahu akan hal ini" wajah liciknya kembali terlihat.
Ashiya sendiri sudah tidak bisa lagi berpikir jernih, ia sudah menyerah, kegilaan perempuan di depannya ini jauh melebihi dirinya. Begitu ia menyadari kalau sosok Momo-chan juga seorang Elf, tamatlah sudah riwayat nya, yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah menutup wajah yang sudah jadi merah tomat karena terjebak rasa malu yang hebat.
Sedangkan Momo-chan sendiri menikmati saat dirinya menjahili orang seperti Ashiya ini, ia bahkan tertawa gelak sekali saat sudah mengalahkan Ashiya dengan telak.
Archie yang sedang dikerumuni oleh para perempuan desa Spezia pun keheranan saat ia melirik kebelakang, ia ingin tahu apa yang dilakukan oleh kedua perempuan itu. Begitu ia melihat kalau mereka sudah berteman baik, ia pun sudah tak risau lagi.